Tampilkan postingan dengan label Cerita Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Hati. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Maret 2017

The Art of Cooking


Sudah beberapa bulan ini, sejak merantau di Bogor, saya mulai iseng-iseng mencoba memasak. Pada awalnya masih segan sama diri sendiri. Mikirnya apapun masakannya pasti gak jadi dan pasti rasanya jadi gak enak. Tapi akhirnya ada satu alasan yang membuat saya tergerak untuk mulai belanja dan mengolah makanan sendiri. Yaitu karena diremehkan oleh beberapa teman. Ternyata diremehkan itu memberikan dua efek. Pertama minder, karena harus menerima kekurangan diri. Kedua menjadi lebih terbakar semangat. Diremehkan memang membuat diri pada awalnya minder, tapi dengan niat perubahan, maka remehan itu bisa jadi bahan bakar semangat yang paling mujarab.
Diremehkan membuat saya jadi “geram” untuk berubah. Beh, jangan dipikir ini hal yang biasa. Justru ini hal yang luar biasa bagi saya karena sudah mau berubah dan beraksi. Ya meskipunnya mungkin masakan saya tidak seenak dibanding masakan mereka yang sudah ahli dan yang sudah banyak dapat predikat pujian. Masakan yang saya buat masih bukan apa-apanya. Bayangkan saja, saat masih kuliah sarjana di Banda Aceh, mungkin memasak di kosan bisa dihitung pakai jari. Jika pun saya memasak, paling masaknya cuma mie instan, telur dadar, tempe goreng dan nasi goreng. Haha. Jadi jelas kalau banyak yang bilang saya ini tidak pandai memasak, that’s real.  
Hanya satu alasan saya dulu yang membuat saya jarang memasak, yaitu LAMA. Bagi saya memasak itu membuang waktu karena prosesnya cukup lama. Pulang kuliah saya jadi malas ngapa-ngapain. Keinginan memasak ada, tapi terkadang perut sudah keburu lapar duluan sebelum mulai memasak. Because I thought it wasted time, maka saya lebih memilih makanan diluar. Alasan inilah yang membuat saya tidak meneruskan bakat memasak yang “gak jadi” ini sejak masa-masa kuliah S1 dulu. Heuheu

Rabu, 16 November 2016

Hari Lahir

Keumala dalam bahasa Aceh berarti batu yang indah dan bercahaya. Sedangkan Fadhiela berasal dari bahasa arab “fadhilah” yang berarti keutamaan. Keumala Fadhiela, nama seorang gadis yang kembali berada di hari kelahirannya 24 tahun silam. Kedua orang tuanya memberikan nama dengan harapan agar ia tumbuh menjadi seseorang yang senantiasa bersinar dan memberikan manfaat pada orang lain. Tak banyak hal yang terlalu spesial darinya. Tapi semoga nama ini menjadi sebuah doa. Semoga.


Seperti hal nya orang lain ketika berada di hari kelahirannya, selalu ada doa yang terselip. Ada target yang diharap dan ada mimpi yang di rancang. Tapi itu semua akan menguap bebas di udara ketika tak ada niat yang tertanam kuat. Keumala hari ini meyakinkan dirinya bahwa apapun yang diberikan olehNya merupakan sebuah rahmat, rezeki, dan proses yang perlu diambil hikmahnya. Mudah saja jika Allah mengatakan “Kun Fa Yakun”. Tapi Allah memberikan sebuah proses. Sehingga tak semua yang diinginkan terkabul. Ada proses yang membuat diri harus punya fight dan improvement.

Kebahagiaan bukan dari seberapa banyak yang mengucapkan selamat. Bukan lilin yang menyala dan kado bercorak warna. Bahagia adalah ketika mampu memberikan kebahagian pada orang lain, membuat orang lain tersenyum dan senang hatinya. Semoga selalu ada syukur yang kita panjatkan disetiap helaan napas. Karena kita tak pernah tahu kapan ajal menjemput. “Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam: 15)


Rabu, 09 September 2015

Terbelenggu di Dunia lain

Zaman ini; zaman canggih. Zaman yang semakin melampaui batas kekurangan. Manusia semakin pintar mengolah, memprediksi, dan bahkan mengakses. Dahulu jarak adalah hal yang paling dicemaskan oleh orang-orang karena keterbatasan akses. Teknologi masih menjadi hal yang “mahal” dan sulit dijangkau. Tapi sekarang? Koneksi dan relasi kini tak ada lagi pembatas. Apa saja, siapa saja, dimana saja, kapan saja, semua orang bisa saling berbagi informasi. Penggunaan media sosial contohnya. Saking pesatnya pengguna media sosial,  timbul lah sindirian bagi mereka yang terlanjur kudet (kurang update), “hari gini gak punya media sosial?” helooow…
Saya salah satu dari sekian juta ribu pengguna media sosial di dunia ini. Saya tidak lagi seperti semut kecil semenjak adanya kemudahan menggunakan media sosial. Meski tak pernah berjumpa atau tak saling mengenal, media sosial menjadi alat “mendekatkan”. Baik anak, anak-anak, remaja bahkan orang dewasa sudah sangat familiar dengan media sosial. Media sosial menjadi wadah sharing. Tapi sayangnya, banyak orang sulit membedakan lagi mana yang sharing, mana yang showing off (pamer). Perbedaannya sangat tipis.
Dulu saya maniak dengan media sosial. Terutama saat jamannya friendster dan facebook. Karena ngebetnya dengan kedua akun ini, saya selalu update dan rela kerajingan ke warnet demi melihat notifikasi dari teman. Paraaah! Nah, sekarang sudah ada yang lebih kekinian lagi seperti twitter, instagram dan path. Coba Tanya deh, siapa yang belum punya ketiga akun terbaru ini? Rasanya kudet banget kalau belum ada. Fufufu..
Kalau segi positifnya medsos, kamu tau sendiri lah ya. Pertukaran informasi menjadi lebih cepat dan setiap orang bisa menunjukkan eksistensinya. Laluuu, jika kita tidak dapat mengontrol dampak positif ini, justru kita yang bakal terkena dampak negatifnya. Seperti apa? Terkesan pamer dan tidak ada lagi yang namanya privacy.
Path, misalnya. Saya bergabung di path lebih kurang baru satu bulan. Asik sih, tapi terlalu terkesan pamer. Ah gimana enggak? Tempat dan musik aja perlu di share. Buat apa coba? Okee, kalau untuk gaya-gayaan. Tapi kepikiran gak, kalau ada orang yang sedang mematai dengan cara terus memantau path kita? Kemudian si penjahat mengikuti kemana pun tempat yang sudah kita update. Iiih. Ngerii. Itulah mengapa saya tidak terlalu update di path. Kecuali memang ada hal-hal menarik yang ingin saya bagikan. Ya agar banyak teman yang tahu. Bukan sekedar pamer. Hmm, kadang pas galau juga ada sih (sedikit). haha
Begitu juga dengan instagram. Saya lebih suka ngeshare foto bersama teman-teman, keluarga, tempat bersejarah dan keindahan alam. Walau bagaimana pun, karena instagram adalah medsos yang bersifat pribadi, otomatis saya juga akan memasukkan foto saya dan keluarga saya sendiri. Itupun tidak terlalu banyak. Keindahan alam juga bagus untuk dipost. Bagus untuk pariwisata kan? Mana tau daerah kita menjadi terkenal karena foto yang kita ambil. #iloveAceh
Kasus yang menimpa beberapa artis seperti Ruben Onsu dan Ayu Ting-Ting juga karena instagram. Foto anak mereka kedapatan menjadi target anak yang diperjualbelikan melalui instagram. Mereka pun harus melaporkan kejadian ini ke kepolisian. Menurut saya itu karena si artis ini terlalu heboh publish keluarganya. Pamer. Maaf ya Om Ruben dan Kak Ayu..
Dan yang baru-baru ini terjadi adalah kasus KD dan anaknya, Aurel. Masak iya apa-apa curhatnya di medsos? Kenapa gak selesaikan masalah dengan cara bertatap muka? Ini nih yang salah kaprah dari medsos. Ternyata medsos justru memperpendek silahturami.
Menggunakan medsos jangan sampai membuat kita jadi lupa diri ya kawan. Tetap humble. Jangan deh terlalu pamer dan curhat kelewatan. Agak susah memang bedain yang mana pamer mana yang gak. Karena kalau dibilang jangan pamer, pasti jawabannya “Cuma ngeshare aja kok”. Haha. Iya iya deeh.
Kalau curhat, mending ke orangnya langsung. Kalau galau, juga ke orangnya langsung aja. Mau kode-kodean? Saya udah pengalaman. Dan kodenya nyangkut, ilang dan akhirnya gak kesampean. Miris kaaan?
Jangan sampai teknologi memperdayakan kita. Jangan sampai kita terbelenggu di dunia maya sehingga lupa bagaimana kelanjutan hidup di dunia nyata. Kalau di dunia nyata saja kita sudah hilang arah, bagaimana kita mempersiapkan di dunia akhir (akhirat) nanti. Hati-hati :)

*Tulisan ini juga di post di tumblr : http://keumaladedelala.tumblr.com/

Kamis, 12 Juni 2014

It’s The Climb

It’s The Climb
There’s always gonna be another mountain.
I’m always gonna wanna make it move.
Always gonna be an uphill battle
Sometimes you’re gonna have to lose.
Ain’t about how fast I get there.
Ain’t about what’s waitin on the other side.
It’s the climb

Lagu ini terus ku putar. Ku besarkan volume suaranya agar tidak kalah dengan suara angin kencang pagi ini. Derasnya hujan diluar rumah dan hembusan angin yang masuk disetiap celah kamar sedikit pun tidak mampu mengalihkan pendengaranku. Aku terus fokus ke arah handphone Nokia merah yang sedang berlagu. Setidaknya selain bisa menikmati irama musiknya, aku juga bisa menangkap kata dan gaya pronounciation-nya si Miley. Meski sedikit.

Aku terlena. Penggalan lirik lagu Miley Cyrus ini sungguh membakar semangat. Lagu ini terus ku putar sampai beberapa kalimat terhafal diluar kepala. Ah, ternyata tidak mudah ya mengumpulkan energi positif. Butuh waktu. Butuh katalisator agar energi positif itu bisa masuk ke dalam sel-sel darah dan menyelinap masuk ke saraf otak. Pagi ini kupakai cara mendengarkan musik barat. Yeah, It really works!

Benar kata Miley Cyrus di dalam lirik lagunya, It’s The Climb. Bahwa hidup ini seperti pendakian, suatu proses perjalanan menuju puncak. Tentu saja puncak ini hanya terlihat bagi mereka yang punya visi dalam hidup. Kalau kita tidak menjalani proses hidup ini, ya kita akan berjalan di tempat itu-itu saja. Aku merenung, dalam suatu pencapaian, terkadang aku cepat sekali putus asa dan berhenti ditengah jalan.

Hembusan angin menyambar wajahku…

Aku beralih fokus ke arah layar laptop. Ku buka folder-folder masa lalu yang berisi foto-foto masa SMA dan kuliah. Banyak sekali foto yang tersimpan di laptopku. Dulu aku terbiasa mengabadikan setiap event di kampus lewat foto. Jadi tak heran kalau semua foto dari semester 1 sampai 7 terpisah di masing-masing folder. Alhamdulillah, semua masih tersusun rapi. Mulai dari foto berkebun, foto saat eksplorasi di lab, bahkan sampai foto-foto selfie narsis bersama teman-teman kampus. Aku hanya mampu mengulum senyum saat melihat foto-foto itu. Sungguh, tak ada yang lebih indah selain senyum ceria orang-orang terdekat.

Lembaran Berdebu

Beberapa hari ini cuaca di Banda Aceh begitu labil. Angin kencang menyambar jendela kamarku yang tak bertirai. Aku masih disini, di kamar sederhana berukuran persegi sama sisi. Sejurus mataku kearah tumpukan kertas di bawah meja belajar. Karena terlihat tidak enak dipandang, aku pun merapikannya.

Permukaan tumpukan itu berdebu. Aku bersihkan satu persatu. Ternyata ada banyak buku paduan dan brosur belajar ke luar negeri di tumpukan itu. Huf. Huuf. Wah iya, ini memang kumpulan informasi beasiswa yang dulu aku kumpulkan!, aku berseru sendiri di dalam hati. Ada brosur Fulbright, AAS (Australia Awards Scholarship), Monbukagakusho dari JASSO (Japan Student Services Organization), ESIT (Elit Study In Taiwan), LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), dan beberapa brosur universitas di Australia. Jangan tanya darimana brosur ini didapat. Yang aku ingat, ini semua aku dapatkan dari seminar pendidikan luar negeri dan dari perpustakaan mini tempat kursus TOEFL-ku. 

Brosur yang sempat berdebu
Aku terbiasa memisah buku-buku penting, buku yang sering di baca, novel bahkan tumpukan skripsi di kamarku. Jadi aku paham betul tumpukan informasi beasiswa itu memang sengaja aku pisahkan di bawah meja belajar. Karena meja belajarnya tidak ada kursi, jadi aku anggap meletakkannya di bawah meja lebih aman dan mudah di cari. Tapi seakan dimakan waktu, justru tumpukan kertas itu berdebu, tersembunyi, dan hampir lenyap di pelupuk mata.

Lembar demi lembar kubuka perlahan. Membaca setiap persyaratan dan daftar jurusan yang sesuai dengan bidangku. Tapi rasanya kok beda ya? Rasanya seperti tidak ada yang tidak mungkin. Ah, ngayal! aku kan bertoga saja belum. Agak gamang jika harus membayangkan impian ke luar negeri lagi.

Have Faith!

Tiba-tiba aku jadi teringat kegiatan kemarin. Saat aku dan teman-teman yang lain berkumpul dan berbagi cerita bersama kak Fairuz, kakak inspirasiku. Karena dulu kami hanya berkomunikasi via message facebook, aku ingin sekali bisa berjumpa dan mengenal lebih banyak tentangnya. Tapi takdir siapa yang tahu. Akhirnya takdir mempertemukan kami di Gerakan Turun Tangan. Dari beliau lah aku pernah tertarik mengikuti YLI (Young Leader for Indonesia) dan sempat melirik PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara).

Sore lalu, beliau bercerita bagaimana perjuangannya mendapatkan Beasiswa Aceh untuk melanjutkan sekolah di Massachusetts, US. Ternyata penuh liku dan pengorbanan. Banyak juga universitas yang menolaknya. Singkat cerita, karena ayah beliau -yang juga dosen dikampusku- dan orang-orang terdekat (termasuk pacarnya) selalu mendukung, akhirnya ia berhasil mendapatkan kesempatan ke Negeri Paman Sam beberapa bulan lagi.

Aku bersama Kak Fairuz
 Dalam penyampaiannya, kak Fairuz menekankan bahwa yang mengetahui arti kesuksesan sesungguhnya adalah kita sendiri, bukan orang lain. Bisa jadi kesuksesan orang lain bukanlah arti kesuksesan untuk diri kita.

Ah, pikiranku jadi melambung ke salah satu tokoh di Novel Rantau 1 Menara, Alif. Tentang kegigihannya menjalani hidup di jalannya sendiri. Karena usaha, kesabaran, akhirnya ia bisa mencapai cita-citanya, ke Amerika dan mendapatkan istri idaman. Ini juga persis seperi lagu Miley Cyrus tadi, “The struggles I’m facing. The chances I’m taking. Sometimes might knock me down but I’m not breaking. I may not know it but these are the moments that I’m gonna remember most. I just gotta keep going and I just gotta be strong. Just keep pushing on”. Kena banget!

Semua perjalanan itu punya tujuan, punya puncak, punya muara. Tapi masalahnya bisakah kita tetap keep faith? Aku kembali mengingat orang-orang terdekatku yang sudah dan akan berangkat ke luar negeri. Kalau ditanya tentang perjuangan, tentu mereka berjuang. Mereka juga pasti banyak berusaha, banyak bersabar dan fokus pada tujuan. Mereka berusaha menjadi Outstanding Person, going the extra miles!, kata Alif.

Melihat orang terdekat kita bisa menggapai apa yang dicita-citakannya, apa aku tidak punya kesempatan? Mungkin selama ini aku masuk ke dalam unlimited room sehingga tidak berlapang dada. Mungkin juga aku hanya panas sehari-dua hari kemudian dingin lagi selama sebulan. Wajar dong kalau jalanku selama ini tersendat dan tidak jelas?

Tapi benar jurus hidup “Man Saara ala darbi Washala“. Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan. Aku harus kukuh dan harus tahu kemana tujuan akhir. Dan aku tidak sendiri. Ada Tuhan yang menjadi tempatku bertumpu. Ini bukan seberapa cepat aku sampai pada puncak atau muara, bukan seberapa besar yang ada di ujung jalan. Tapi seberapa besar rintangan yang mampu aku lalui dan seberapa jauh aku berjalan. It’s the climb. I just gotta keep going.

Coretan pagi ini
Dan aku harusnya menyadari bahwa going abroad bukanlah satu-satunya cara untuk belajar. Aku bisa belajar oleh siapa saja, dimana saja dan kapan saja. 

Ah, sepertinya aku terlalu lama termenung di kamar ini. Hembusan angin semakin kencang, dan jendela kamar harus segera ditutup sebelum semua kertas di kamarku ini terbang seperti daun kering jatuh berserakan.  Semoga purnama malam nanti menjadi saksi bahwa mulai hari ini aku berikrar untuk selalu menjagai impian di dalam hati terdalam.

Kamis, 29 Mei 2014

Selamat Ulang Tahun, Ayah

Keluarga kami sejak dulu bukanlah keluarga “gaul” yang menggangap Hari Ulang Tahun adalah hari yang spesial dan perlu dirayakan besar-besaran. Tapi juga bukan keluarga yang terlalu fanatik dengan istilah “Hari Ulang Tahun”. Perayaan ulang tahun di keluarga kami hanya sebatas makan bersama dengan menu kesukaan. Not really a special day. We’d like to celebrate it with spending time together and going somewhere.

Masih teringat jelas di memori ini, ketika berumur 7 tahun akhirnya saya bisa merasakan bagaimana pesta ulang tahun. Dengan gaun jahitan berwarna perak, saya merasa sangat senang di hari itu. Teman-teman sepermainan (tetangga) dan teman-teman sekolah berdatangan sambil membawa kado. Mereka semua memakai gaun yang indah sambil menenteng kado masing-masing.

Tapi jujur saja, dulu saya masih sangat lugu. Merayakan ulang tahun itu hanya semata-mata ingin mendapatkan kado dari teman-teman. Hehe, asik ya, membayangkan masa kecil. Kita berpikir seperti tidak ada beban.

Nah pada akhirnya, 25 Mei yang lalu, ayah tercinta pun tiba giliran berulang tahun. Awalnya saya lupa dengan tanggal spesial itu. Tapi setelah adik saya, Dita, mengabari bahwa hari itu adalah hari spesial, saya pun kemudian segera mengabari ayah.

“Ayah tahu hari ini hari apa? Hari ini ulang tahun Ayah“, sambil cengengesan. haha
“Iya, Dita bilang seperti itu“ jawab ayah kalem.
(wah ini ayah santai aja ya. Gak ada yang spesial-spesialnya)
“Selamat ulang tahun ya yah. Panjang umur ayah, sehat juga“
“Iya, Amin, yang penting anak ayah semuanya sukses nanti" doa ayah.

Saya pun langsung terharu mendengar doa ayah ini. Karena meskipun ayah tidak terlalu menggangap hari itu adalah hari yang spesial. Tapi ayah mendoakan kami anak-anaknya agar sukses kedepan. Ya Rabb, semoga Engkau senantiasa menjaga kedua orang tuaku

Ayah, Sosok Orang Tua Yang Perhatian
Saya bersyukur karena ditakdirkan mempunyai seorang ayah yang (meskipun) hanya seorang guru. Ibu juga seperti itu. Jadi, selain mengajar di kelas, mereka masih mempunyai waktu yang cukup buat kami anak-anaknya. Bayangkan jika orang tua saya adalah orang tua karir yang terlalu sibuk dengan pekerjaan kantor, mana mungkin saya tahu cara berwudhu yang benar, bagaimana saya harus mengerti melihat jam, mengerti tajwid saat mengaji. Saya bersyukur karena orang tua menjadi guru terbaik dalam hidup. Yah, saya benar-benar bersyukur.

Ayah bukan lah sosok sangar yang ditakuti oleh orang banyak. Ayah terbiasa bergaul dan ramah dengan orang lain. Hal ini terlihat karena ayah punya relasi yang bagus dengna orang lain.Perhatian yang ia berikan tercurah pada anak-anaknya. Terutama saya, sebagai anak pertama. Saya banyak diajari oleh ayah tentang agama, dan wawasan umum selama dirumah. Meskipun Matematika bukanlah menjadi bidang andalan ayah, tapi saya sangat bisa mengerti perkalian dan mengenal cara baca jam analog.

Memang Ayah dan Ibu dulu tidak terlalu banyak mengajari saya tentang ini dan itu. Saya lebih senang belajar otodidak dan segera menanyakannya pada ayah dan ibu jika ada hal yang tidak saya mengerti. Lambat laun kemandirian saya pun tumbuh dari masa-masa ini.

Tidak Merokok Dan Senang Dengan Kebersihan
Ayah pernah bilang kalau Ayah bukan salah satu anak muda “gaul“ di masa mudanya. Istilah “gaul“ identik dengan perokok. Lah Ayah? Sampai sekarang ayah bukan perokok. Ini lah yang saya banggakan dari seorang Ayah.Beliau mampu memberikan contoh yang baik hingga tua pada anak-anaknya.
Ayah Saat Mengajar

dan Ibu Saat Mengajar
Pekerjaan rumah pada dasarnya sangat wajar jika dilakukan oleh perempuan. Tapi di keluarga kami, Ayah adalah satu-satu orang yang sangat responsive terhadap kebersihan. Dalam satu hari, setiap pagi dan sore jika tidak ada jadwal mengajar, ayah sering membersihkan rumah. Menyapu, menyiram bunga, dsb. Ini pekerjaan yag biasa dikerjakaan perempuan. Tapi ayah dan ibu seperti bisa membagi pekerjaan rumah. Sebaliknya, Ibu selalu dan hanya mengerti tentang seluk beluk di dapur. Masalah bikin kue, es krim, mie, dsb, wah itu jagonya ibu deh! hehe

Banyaknya peralatan dan perkakas pecah belah di rumah membuat ayah selalu overprotecting menjaganya. Ayah rajin membersihkannya dan sangat gamang tiap kali banyak sepupu dan keponakan yang berlari-lari dirumah. Saya sendiri jadi was-was. Huft.

Selamat Ulang Tahun , Yah
Bahkan ketika tulisan ini ditulis pun, ayah tidak pernah membacanya. Ya, ayah bukanlah orang yang melek teknologi. Hingga saat tulisan ini dipublish pun, saya masih memberitahukan pada ayah bagaiman membuka keumala-goldenwings.blogspot.com. hehe

Tapi tulisan ini tidak harus dibaca, saya ikhlas menuliskannya.


Perasaan sayang, gembira, dan respek pada orang tua jauh dari sekedar menulis kata-kata sederhana di blog ini. Meskipun demikian, saya merasa lega, karena meskipun jarak jauh, saya bisa berbuat sesuatu meski hanya dengan kata-kata.

Selamat hari lahir Yah, semoga keinginan Ayah agar anak-anaknya sukses terkabul. Panjang umur dan sehat selalu. Toga yang akan aku pakai tidak lama lagi kau lihat. Membanggakanmu sekarang dan masa depan. Amin


Selasa, 13 Mei 2014

Layang-layang dan Benangnya

Aku tidak pernah tahu makna dari sebuah layang-layang. Ya, yang aku tahu ia hanya sebuah permainan yang sering dimainkan adikku saat masih kecil. Tidak lebih. Pada saat itu adikku sibuk membuat layangan sederhana yang terbuat dari plastik dan lidi. Setelah selesai ia berlari sambil mencari angin yang tepat agar layang-layangnya bisa terbang tinggi. Hanya sebatas itu. Layang-layang tidak lah begitu spesial untukku.

Hingga akhirnya memori membawaku untuk berpikir lebih dalam tentang makna sebuah layang-layang. Pikiran tentang layang-layang membuatku melayang semenjak ibu menjelaskan mengapa perempuan harus menjaga hati dan kehormatannya. Lalu sepintas aku merasa malu. Aku mungkin belum sepenuhnya menjadi apa yang ia harapkan.

Sebuah layang-layang pastilah mempunyai benang yang berkualitas. Sangat mustahil jika layang-layang dapat terbang tinggi jika benangnya tidak kuat. Layang-layang membutuhkan benang untuk dapat terbang, tanpa benang ia hanya akan menjadi barang yang tak berguna dan menjadi sampah.


Benang berkualitas tentu saja berharga lebih mahal dari benang biasa, tak akan kalah meski diadu dengan benang yang lain. Tak ada benang lain yang memutuskannya. Layang-layang dan benang adalah sepasang jodoh yang dari sana telah ditakdirkan berpasangan.

Tapi ada juga layang-layang yang hanya mampu terbang rendah, benangnya tak cukup bagus untuk menahannya terbang lebih tinggi. Ada pula layang-layang yang kemudian putus, tak mampu benang menahan layang-layang itu untuk tetap terikat, kalah oleh kuatnya angin.

Ada juga yang bermain adu layangan, saling bergesekan benang dengan benang yang lain. Akhirnya lagi-lagi salah satunya putus, benang dan layang-layang terpisah. Layang-layang yang kalah tak akan lagi berharga, benang yang kalah tak akan lagi dipakai. Disimpan, menjadi usang, dan mungkin saja dibuang.

Namun, ada pula layang-layang yang mampu terbang tinggi. Benang mampu menjaganya terbang dengan tenang. Angin yang menerpa tidak lah seberapa selama layang-layang masih bisa dikendalikan dan benang masih bisa dipertahankan. Layang-layang ini lah yang tentu saja diharapkan.


Laki-laki adalah layang-layang dan perempuan adalah benang. Tanpa perempuan, laki-laki tak akan menjadi apa-apa. Dibalik ketinggian (kesuksesan) laki-laki, ada perempuan dibaliknya. Oleh karena itu, bagi perempuan, jadilah seperti benang yang berkualitas terbaik. Buatlah layang-layang kelak terbang setinggi-tingginya, karena setinggi apapun ia terbang, ia selalu terikat dan akan bergantung dengan perempuan. Jagalah layang-layang agar dia tidak putus dan hilang arah, ingatlah bahwa layang-layang selalu ingin terbang tinggi. Perempuan memang mengikat, tapi ia senantiasa tahu manakala harus bersikap (memanjang dan memendekkan sulurnya).

Begitulah analogi dari sebuah layang-layang. Mengagumkan bukan? Sungguh setiap hal yang ada didunia ini punya makna. Tergantung kita menilainya. Tergantung bagaimana kita bisa belajar dari setiap celah kehidupan ini. Baik benang, layang-layang, dan angin adalah tiga hal yang saling berhubungan. 

Ini bukan hanya dari cerita Ibunda, tapi juga dari tiap kata-kata yang pernah kubaca. Aku ingin menjadi sebaik-baiknya benang untuk layang-layangku. Menjadi perempuan yang kuat, sabar dan selalu bisa memotivasi sang terkasih mencapai kesuksesannya. Lalu kau mau jadi benang yang seperti apa? Layang-layang yang seperti apa?





Minggu, 04 Mei 2014

Benarkah Orang Tua adalah Guru Terbaik?

Tentu saja tiap orang akan memberikan respon yang berbeda dengan pertanyaan ini. Mereka akan menjawab berbeda berdasarkan dari karakter, emosional dan latar belakang pendidikan mereka masing-masing. Tapi, jika pertanyaan ini ditujukan kepada saya, maka saya akan menjawab - Iya,  benar, orang tua adalah guru terbaik.

Pada satu sisi, orang tua adalah orang terdekat dan paling mengerti tentang apa yang kita butuhkan. Oleh karena itu, orang tua adalah orang yang paling tahu disetiap perkembangan fisik maupun mental. Sebagai orang tua, mereka akan membagikan setiap kesulitan dan kebahagiannya pada kita. Mereka lah yang lebih tahu disetiap gerak-gerik yang kita miliki.

Orang tua akan mengajari semua hal tentang apa yang kita sukai dan apa yang kita tidak sukai. Misalnya, jika orang tua sering membelikan anaknya buku tentang binatang laut, maka perlahan anak tersebut akan lebih menyukai hal-hal yang berkaitan dengan laut. Mereka akan senantiasa menjelaskan semua hal yang berkaitan dengan binatang laut. Seperti bagaimana mereka berkembangbiak, dimana habitatnya, apa makanannya dll. Selain itu, secara langsung maupun tidak langsung, anak akan meniru orang tua selama memberikan didikan dirumah. Orang tua juga akan menurunkan sifat yang tidak baik pada anaknya jika orang tua tidak memberikan contoh perilaku yang terpuji.

Di sisi yang lain, di sekolah, kita akan di ajari oleh guru yang berpengalaman dalam hal ilmu pengetahuan. Tapi apakah seorang guru bisa seutuhnya bisa mengajarkan kita bagaimana berkomunikasi yang baik antar sesama? bagaimana menghadapi orang yang tidak dikenal? bagaimana berperilaku sopan, dan bagaimana membuat keputusan yang tepat untuk hidup kita? Hanya orang tua yang akan menghabiskan hidup mereka untuk bisa mencintai kita. Kepedulian yang mereka berikan adalah suatu cara agar kita bisa mengarungi hidup tanpa pertimbangan egois semata.

Meskipun orang tua tidak specialized di pendidikan, tapi peran mereka untuk menunjang pengetahuan anak-anak sangat lah besar. Orang tua mungkin tidak bisa mengajari kita Matematika, Kimia atau Biologi, tapi mereka sangat bisa memberikan kita pelajaran hidup tentang bagaimana harus mandiri, kuat dan percaya pada diri sendiri.

Tak Hanya Karena Orang Tua

Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri. Namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991). 

Lingkungan adalah faktor penting untuk membentuk kepribadian anak/remaja. Menjadi remaja berarti menjalani masa penemuan jati diri yang membuat psikologis menjadi lebih terlihat secara signifikan. Selain perubahan fisik, lambat laun akan terjadi perubahan psikologis  sehingga kepribadian dan sosial remaja juga akan terbentuk.

Oleh karena itu, peran teman dan guru disekolah juga ikut terlibat dalam perkembangan anak. Bagaimana anak terlibat dalam pergaulan teman sebaya, mandiri dengan peraturan sekolah dll. Perkembangan perilaku anak/remaja lambat laun akan terbentuk dari tiap interaksi yang terjalin.

Dengan adanya nasihat dari teman maupun guru di sekolah, kita bisa jadi akan lebih mudah menerima dan mengikuti saran dari mereka. Tapi itu semua tidak akan menggantikan sosok dari orang tua. Bagi saya, hanya orang tua yang akan menghabiskan waktunya untuk kita. Mereka yang akan menjadi guru hidup terbaik kita. Tidak hanya untuk sekarang, tapi juga untuk seluruh hidup kita nanti.


I believe that parents are the best teachers because their lessons last forever. My parents have the most role in my education during my life and I will always be grateful for everything they have taught me.
Saya bersama ayah dan ibu saat masih balita
Ayah dan Ibu saat saya berumur 20 tahun
Lihat, sofa yang ayah dan ibu duduki itu masih awet sampai sekarang. Semoga cinta adinda pada ayah dan ibu lebih dari awetnya sofa itu. Sepanjang masa :)

Rabu, 21 Agustus 2013

Kemanjaan Pugu


Si Pugu memang kucing yang manja. Saking manjanya, setiap ada tamu yang datang, dia pasti suka mendekat dan menyundul kepalanya di kaki-kaki orang. Tidak ketinggalan juga sambil mengibas ekor imutnya. Meski suka risih karena kemanjaannya ini, tapi dia cukup baik kok. Ya, baik. Sampe pup diatas tempat tidur! #ups -_-
really annoyed...
Ini nih, lihat saja gaya tidurnya yang sok manis. Sampe lidahnya juga ikutan melet. hihi. Pugu ini kuncing jantan. Tapi kalau manja, ampun deh manjaanya! Kalah sama yang betina :D

My cute sleeping cat

kalau di gendong, dia juga gak akan menolak. Paling pewe tuh dia dipangku. Saya sih sebenarnya jarang pengang kucing. Kadang-kadang saja. Suka kepikiran aneh-aneh kalau lagi dekat kucing. Terutama dengan penyakit yang bisa aja dibawa kucing. "Bisa mandul nanti!". Beeuuh. Jangan deh
Makanya, kalau ada yang bilang saya ini maniak kucing, tidak juga. Kalau ada yang bilang saya takut kucing, ah tidak juga. Biasa-biasa saja. Saya suka semua binatang, kecuali yang melata dan merayap. Hwuidiih! 

What are you looking,huh?



Minggu, 07 Oktober 2012

KPMB Agribisnis 2012

Huwaaa! akhirnya foto-foto ini ter-upload juga. Masa-masa bakti sosial di daerah Jantho memang tidak pernah bisa terlupa. Meskipun foto-foto baksos tidak ter-ekspos semuanya, tapi ini lah bukti Jantho berbicara. Lho? haha

Istirahat di Bawah Tenda
Pemandangan di Salah Satu Sisi Sungai, Jantho

Gaya dulu dipinggir sungai

Sabtu, 06 Oktober 2012

Akhir Minggu dan Ladang Timun


Akhir minggu terisi dengan hal-hal yang bermanfaat semenjak memegang status menjadi jomblowati. hehe
ah, tidak juga sebenarnya. Jomblo atau tidak jomblo ya sama saja. Tanggung jawab berkebun untuk semester ini ya tetap harus dilaksanakan ^_^

Tentu saja tahun lalu berbeda dengan tahun ini. Tahun lalu saat aku sedang mengambil mata kuliah Agronomi, semua mahasiswanya diharuskan untuk praktik menanam jagung, kacang tanah, dan ubi. Tapi tahun ini dengan mata kuliah yang berbeda yaitu Budi Daya Tanaman Tahunan dan Semusim, kami diharuskan menanam Timun dan beberapa tanaman semusim lainnya. Sedangkan untuk tanaman tahunan, kemungkinan kami akan langsung ke kebun kakao di Pidie atau di Aceh Tengah.

Tahun ini, dengan koordiator praktikum yang berbeda, maka sistemnya juga berbeda. Ada beberapa kelompok dengan komoditi yang berbeda. Tapi dua-dua kelompok akan mendapatkan komoditi tanam yang sama. Nah, kami harus bersaing dengan kelompok yang komoditinya sama demi mendapatkan hasil dan penilaian akhir yang baik. Agak menantang memang. Kami harus mencari senditi luas lahan yang harus digarap, takaran pupuk per lubang, bibit dan segala perlengkapan berkebun lainnya. Tapi semuanya aku ambil dengan pikiran positif. Mungkin ini adalah cara agar kami mandiri dan mampu mengatur semua hal yan berhubungan dengan penanaman, penyiraman, dll. Aneh kan kalau mahasiswa pertanian tidak bisa mencangkul dan tidak bisa berkebun sama sekali? hehe

Penampakan kebun Jagung dari kampus lantai 3

Ini adalah foto kebun jagung adik-adik kelas. Mereka sedang mengambil mata kuliah Dasar-Dasar Agronomi. Karena 3 sks, jadi untuk praktikumnya mereka diharuskan menanam jagung, ubi kayu, dan kacang tanah. Foto ini mungkiin umur jagungnya masih menuju minggu ke-2. Terlihat masih banyak rumput dan tanaman jagung memerlukan suplai air yang banyak.


Lahan Jagung adik kelas yang praktik matakuliah Agronomi
Nah,sedangkan yang dibawah ini, adalah kebun kami! kebun yang akan ditanami gambas, timun, dan kacang panjang! hehe. Terlihat beberapa teman sedang serius mengukur lahan, mencabut rumput dan yang lain asik bercengkrama dengan teman yang lain. peace~

Jumat, 05 Oktober 2012

Inovasi Si Ulat Bulu


Saat aku bernostalgia lagi dengan catatan di facebook, terlihat lah salah satu postingan terpanjang saat masih kuliah semester pertama. hehe
Ini kisah saat aku mengikuti ospek di Indra Puri, Aceh Besar. Setiap pengalaman yang aku dapat adalah hal yang tak akan terlupa. Setiap moment, setiap detik. Karena itulah aku repost di blog. Siapa tau bisa jadi hiburan dan tambahan pengalaman untuk orang lain ^_^


Judulnya mungkin terlihat aneh dan lucu, tapi sebenarnya judul catatan ini tidak asal-asalan. Banyak kenangan pahit dan manis terjadi sehingga timbul judul ‘inovasi si ulat bulu’. Jika tidak segera dirangkai dengan kata-kata, pengalaman yang sangat menarik ini rasanya akan terlupakan dan sia-sia. Oleh karena itu, saya minta maaf pada pihak tertentu, terutama untuk para senior di fakultas pertanian yang mungkin tidak sengaja membaca catatan saya ini.

Ini adalah kisah masa-masa pertama saya saat saya resmi menjadi mahasiswi fakultas pertanian. Kisah kedua yang tak akan terlupakan setelah kisah saya berkompetisi di Jakarta mewakili Aceh beberapa tahun lalu. Mungkin kata ‘ospek’ adalah kata yang sangat menakutkan di perguruan tinggi. Tapi inilah adanya… meski kata ‘ospek’ sudah diganti dengan kata-kata yang lebih halus, tapi bagi saya, ‘ospek’ tetaplah ‘ospek’ yang sudah menjadi tradisi untuk meresmikan mahasiswa baru.

Dimulai dengan si Ulat Bulu

Ulat Bulu yang siap metamorfosis

Awalnya aku diharuskan untuk mengikuti kegiatan ASAP (Ajang Silahturahmi Awak Pertanian). 
Aku sih enjoy-enjoy aja…toh pertama aku berpikir ini adalah kegiatan yang juga mendatangkan manfaat. Kami, mahasiswa baru di anjurkan untuk ikut berpartisipasi. Selain untuk lebih mengenal mahasiswa-mahasiswa lain diseluruh jurusan se-fakultas pertanian dan bertemu dengan para senior, tapi juga untuk kegiatan baksos (Bakti Sosial).

Sehari sebelum kegiatan dimulai, kami diharuskan membawa karton warna hijau, tali raffia, kacang hijau, bawang putih 8 siung, alat tulis, berpakaian putih hitam dan membawa sebotol air mineral merek ‘rencong’. Aku sibuk mencari semua bahan pada malam sebelum kegiatan. Sangat susah mencarinya!! Aku sempat putus asa dan dilema untuk ikut ASAP atau tidak. Padahal jadwal kuliah umum besok harus aku ikuti. Hari itu bersamaan dengan hari dimulainya ASAP. Disamping itu, kios-kios kecil untuk membeli segala perlengkapan untuk ASAP juga sangat jauh dari kos baruku. Aku bahkan sempat menangis putus asa. Akhirnya dengan segenap kemantapan hati dan ikhlas menjalaninya, aku pun siap mengikuti ASAP. Pada pukul 7.30 WIB, sambil membawa sebatang tumbuhan ( bunga rosella yang gak jelas didapatkan darimana..hehe ;D), aku pergi melangkahkan kaki menuju gedung fakultas pertanian.

Teman-temanku yang mengendarai sepeda motor ke kampus, tiba-tiba dicegat oleh abang-abang panitia ber-badge name. mereka dipaksa untuk berjalan kaki ke kampus tanpa ada kendaraan. Kendaraan mereka disita(Huuft, untung saja aku jalan kaki, jadi kan gak terlalu ribet!hohoo…)sesampai disana, aku mulai merasakan aura buruk di kegiatan ASAP itu. Ada salah seorang panitia (sampai sekarang aku tidak tahu namanya-_-) memukul salah seorang temanku. Pasalnya, kami semua harus memakai kaos oblong putih. Nah, temanku itu tidak melepaskan jaket yang dia pakai. padahal mungkin dia masih kedinginan karena harus datang pagi-pagi sekali. kasihan..

Setelah berapa lama menunggu, akhirnya dibuka juga kegiatan ASAP. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci AlQur-an yang dibacakan salah seorang panitia ASAP sendiri. awalnya aku sempat heran  mengapa abang yang bergaya nyentrik dan gaul itu mau membacakan ayat suci AlQur-an. Aneh juga sih…biasanya kan banyak anak muda sekarang apalagi yang metal-metal itu enggan membaca AlQur-an. Benar kata orang, don’t judge book by its cover! 

Kemudian ketua BEM, menyampaikan sepatah dua patah katanya. Setelah itu, barulah kata sambutan dari dekan III, Pak Muhammad Hatta. Kata beliau, kegiatan ini sama sekali tanpa ada unsur paksaan dan kekerasan. Beliau juga mengatakan, jika ada diantara kami yang jadwal kegiatan ASAP bersamaan dengan jadwal kuliah, lebih baik kami segera kuliah. Tapi dalam hatiku berkata lain, “ini bukan seperti yang bapak pikirkan!”.

Rabu, 03 Oktober 2012

Penggugah Hati Untuk Para Perantau




Orang berilmu dan beradap tidak akan diam di kampung halaman
tinggalkan negerimu & merantaulah ke negeri orang
merantaulah,kau akn dapatkan pengganti dari kerabat & kawan
berlelah-lelahlah,manis hidup terasa setelah lelah berjuang..
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
jika mengalir menjadi jernih,jika tidak,kan keruh menggenang..
Singa jika tidak tinggalkan sarang tak akn mendapat mangsa
anak panah jika tidak tinggalkn busur tak akan kena sasaran.
Jika matahari di orbitnya tidak bgerak & terus diam
tentu manusia bosan padanya & enggan mamandang
bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
jika didalam hutan.. 



Imam Syafii,
(refensi dari novel 'Negeri 5 Menara')

Kamis, 13 September 2012

DETaK dan Kewirausahaan



Tabloid DETaK Edisi 33


Finally, tabloid DETaK edisi 33 terbit juga!
Dengan segenap tenaga yang ada dan setelah berkeliling Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan, sekitar 26 tabloid terjual! Hehe. Alhamdulillah. Meskipun ada beberapa kendala yang membuat hati ini sedikit terjungkat-jangkit. Eh, salah. Serasa kacau deh. Tapi tetap saja. Semua aktivitas itu harus tetap dijalani dengan ikhlas ^_^

Tugas mendistribusikan detak ini bermula saat aku mengikuti rapat Open Recruitment anggota baru DETaK. Aku bertanggung jawab dengan tugas distribusi tabloid di Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Kedokteran Hewan. Yaa, sengaja aku bersedia ditempatkan di ketiga lokasi ini karena lokasinya memang tidak terlalu jauh.

Rabu, 29 Agustus 2012

Yogjakarta dan Impian

Zehir, adik pertamaku, sudah memantapkan hati untuk melanjutkan sekolah di Jogyakarta. Tanggal 28 ia sudah harus meninggalkan Aceh dan merantau di negeri orang. Oleh karena itu, aku dan keluarga bergegas menuju Banda Aceh untuk mengantarkan kepergiannya. Syukurlah, perjalanan lancar meskipun ada sedikit hambatan saat menuju kota Calang.

Ada jalan yang hampir saja diblokir oleh warga. Aku juga sempat heran. Ternyata warga disekitar daerah tersebut protes akibat jalan tersebut sudah 8 tahun tidak ditangani oleh pemerintah. Akibatnya, selama ini masyarakat sekitra hanya makan debu. Padahal, jalan tersebut satu-satunya jalan penghubung dari Meulaboh ke Calang atau Banda Aceh.

Pukul 22.00, kami sekeluarga sampai di rumah. Begitu melelahkan. Keesokan harinya, Sekitar pukul 9.00, kami menuju Ulee Kareng untuk membeli sedikit oleh-oleh buat bang Popon. Bang Popon adalah anak kawan ayah yang juga berangkat bersama dengan adikku. Setelah berkeliling sekitar 1 jam, akhirnya sekilo bubuk kopi Ulee Kareng dan 2 buah pashmina cantik ditemukan juga.

Rabu, 22 Agustus 2012

Happy Eid Mubarak 1433 H!

Hari raya idul fitri 1433 H sudah terlewati 4 hari. Sayangnya baru bisa kembali curcol sekarang. Hehe. Banyak kejadian selama 4 hari ini yang menarik, tapi akibat koneksi internet yang terbatas, modem bermasalah, baru sekarang berani untuk blogging lagi..

Well, hari raya kali ini tidak ada yang berbeda. Sama seperti tahun lalu. Ada ketupat, tape, opor ayam, dan kue yang bervariasi di ruang tamu dan tengah. Yang berbeda hanya dekorasi dalam rumah. Gorden yang biasanya berwarna merah, lebaran ini diganti dengan warna hijau. Alasannya sih supaya lebih fresh dan lebih match dengan plafon rumah yang berwarna hijau. Betul juga ya, rumah yang bersih, rapi dan indah akan membuat tamu yang datang lebih terasa comfortable.

Kamis, 16 Agustus 2012

KRS Online Unsyiah Bermasalah (lagi)



Hari ini adalah hari ke-4 pengisian KRS Online menurut  kalender akademik Unsyiah. Berdasarkan pengalamanku selama 4 semester belakangan, pengurusan KRS Online ini tidak akan jelas kalau bukan kita sendiri yang mengurusnya. Apa-boleh-buat, akibatnya, aku kembali ke Banda Aceh selama 3 hari. Semua demi kejelasan KRS Online. Yah, namanya juga online. Sebenarnya bisa dimana saja mengisinya. Tapi karena onlinenya ini “online haw haw”, maka pengisiannya harus disekitar kampus. Alasannya karena jaringan kadang lelet. Hu uuh. Ribet ‘kan?

Minggu, 12 Agustus 2012

BUBAR SILET 2010


Pertama dengar nama ini, semacam ada keanehan. Silet? Seperti nama salah satu acara infotainment di tv ya? hehe. Silet itu sebenarnya adalah akronim dari Silahturahmi Leting 2010. Ini (mungkin) semacam organisasi silahturahmi. Jadi, seluruh anak Meulaboh yang lulus SMP/MTsN tahun 2010, entah kuliahnya udah kemana-kemana, silet ini suatu wadah untuk kami saling berkumpul dan berbagi cerita. Asik kan? Awal cerita sih, aku tahu silet ini saat ada salah satu teman mengajakku untuk ikut berpartisipasi di acara bubar di Meulaboh. Setelah semuanya clear, akhirnya kami membayar segala keperluan untuk keperluan bubar.

Jumat, 10 Agustus 2012

Pelatihan Mubaligh Muhammadiyah (Part II)

    Pelatihan ini diikuti oleh para pemuda Muhammadiyah, NA (Nasyiatul Aisyiah), dan Aisyiah dari kab. Aceh Barat, Aceh Jaya dan Nagan Raya. Memang  pesertanya tidak terlalu banyak. Hanya sekitar 26 orang.  Perserta ikhwannya lebih banyak banyak dari akhwatnya.

    Saat pelatihan, kami banyak mendapat ilmu dari para ustadz. Beliau mengajarkan kami tentang bagaimana beribadah, shalat yang benar menurut Muhammadiyah, game yang mengasah wawasan, pengajian, khutbah dan bahkan kultum bagi para akhwatnya.

Rabu, 08 Agustus 2012

Pelatihan Mubaligh Muhammadiyah

Mubaligh? coba apa yang pertama sekali terbayang mendengar kata ini? Da'i, muslimah, memakai sorban, alim dan sebagainya. ya, betul juga sih. Tapi Mubaligh itu secara harfiahnya adalah 'orang yang menyampaikan'. Menyampaikan apa? Dakwah..

Siddiq, Amanah, Tablig dan Fatanah adalah sifat Rasul. Oleh karena itu, jangan heran jika ada orang yang menjadi seorang mubaligh. Karena pada dasarnya, ada hal-hal yang disampaikan demi kepentingan umat. Nah, apa hubungannya tulisan ini dengan Muhammadiyah?

Minggu, 05 Agustus 2012

(Previous Story) Aku dan Selempang Duta Mahasiswa Aceh 2012

Moshi-moshi minna! Ini cerita lama loh. Udah sekitar 4 bulan yang lalu. Haha. Cukup aneh. Padahal cerita ini adalah cerita yang paling seru setelah cerita ‘Jakarta In Love’. Tapi setelah dipikir-pikir, untuk bisa menyalurkan ide, semoga cerita ini bisa berguna bagi yang membaca, ya so what? Late is better than none, is not it? ^_^

Saya yang ditunjuk panah merah! hehe
Well, ini adalah ceritaku yang paling aku acungi jempol karena pengalamannya. Aku mampu meraih mimpi (yang dulu bukan mimpi) menjadi sebuah kenyataan yang luar biasa. Kenapa? Karena aku sendiri pun tidak menyangka mampu berdiri disebuah panggung yang penuh sorotan lampu dan ratusan mata yang memandang. Loh,  How is that story?

Sindiran Heboh: Yang Gaji Kamu Siapa?

Sejak video seorang Menteri Kominfo Rudiantara, beberapa waktu lalu beredar dan menghebohkan sejagat dunia maya dan dunia nyata, saya pun t...