Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 September 2017

Benang Merah Isi Khutbah Shalat Ied Idul Adha 1438 H


Apa yang akan kamu lakukan ketika mendengarkan khutbah shalat Ied? Mendengarkan isi khutbah dengan seksama, termenung mengingat dosa, merindukan keluarga yang jauh, atau hanya sibuk berselfi ria? Hehe, saya pun saya begitu. Pada awalnya sangat antusias mendengar isi khutbah. Tapi jika tidak menarik, saya mulai bosan dan memilih membuka aplikasi dihandphone meski hanya sekedar melihat postingan terbaru teman-teman atau mengecek chat ucapan “Selamat Hari Raya Idul Adha, Mohon Maaf Lahir dan Batin”.

Kali ini saya diberi kesempatan untuk merayakan hari raya di kampung halaman, tepatnya di Masjid Agung Al Makmur, Meulaboh, Kabuptaen Aceh Barat. Hanya kurang satu anggota keluarga lebaran kali ini yaitu adik pertama saya. Ia masih harus berjuang menyelasaikan kuliah S1 nya di Yogyakarta. Jadi tahun ini kami hanya merayakan hari raya berlima.


Jujur saja, seringnya, khutbah shalat Ied terasa sangat flat. Isinya itu-itu aja. Namun ada yang menarik dari isi khutbah. Isi khutbahnya terdengar berbeda dari biasanya. Greget. Bikin haru. Ada dua poin menarik yang bisa saya ambil.

Ibu, Wanita Tercantik di Dunia
Penceramah tahun ini memang tetap menyinggung kisah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Tapi menariknya penceramah juga menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan keluarga. Terutama sosok perempuan yang akan menjadi seorang ibu. Penceramah bilang, “Mencari istri mudah. Tinggal ke Korea Selatan satu hari untuk operasi plastik. Tapi mencari sosok ibu sangat susah. Tergantung pada hati dan akhlaknya untuk mendidik anak-anak”.

Sungguh, kedudukan perempuan dalam Islam sangat dihargai dan tinggi. Bagaimana pun paras wajahnya, setiap ibu memiliki wajah tercantik menurut anaknya masing-masing. Kecantikan ibu bagi seorang anak tak akan hilang dimakan zaman meski harus disandingkan dengan miss universe sekalipun.

Untuk menjadi istri yang baik dan ibu yang berhasil mendidik anaknya kelak, seorang laki-laki perlu mencari perempuan yang berakhlak baik dan bisa menjaga harkat martabatnya. Karena jika seorang perempuan sudah baik akhlaknya terlebih dahulu karena didikan keluarganya, maka ketika sudah menjadi istri, sang suami tidak terlalu banyak lagi memperbaiki akhlaknya. Seorang istri akan menjadi tanggungan suami. Bukan lagi keluarga, terutama ayahnya.

Perbedaan dan Persamaan Kisah Nabi Ibrahim as dan Nabi Nuh as
Kisah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as menjadi inti adanya ibadah berkurban pada Hari Raya Idul Adha. Kisah Nabi Ibrahim as juga menjadi bagian dari serangkaian ibadah yang diwajibkan oleh Jemaah haji. Lalu apa hubugannya dengan Nabi Nuh as?

Nabi Nuh as ingin menyelamatkan anaknya yang kafir dan mengajaknya naik ke kapal besar. Namun anaknya tidak menurutinya. Hingga akhirnya ia mati karena azab Allah. Sebaliknya, Nabi Ibrahim as justru merelakan anaknya yang diidam-idamkan sejak lama untuk disembelih. Namun Nabi Ismail as begitu ikhlas dan mempercayai bahwa itu adalah perintah Allah SWT. Kisah ini memperlihatkan kondisi keluarga yang berbeda antara hubungan ayah dan anak. Penceramah sangat cerdas menceritakan kisah ini hingga saya pun sangat mengerti akan maknanya.

Oleh karena itu, agar kita mendapatkan keturunan yang sholeh, kita dianjurkan berdoa sebagaimana doa Nabi Ibrahim as. “Rabbi habbli minash sholihin” Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh,” (QS. Ash-Shaffaat: 100).

Kedua poin yang menari diatas menjadi benang merah untuk isi khutbah Hari Raya Idul Adha tahun ini. Sama-sama membahas tentang keadaan keluarga kedua nabi yang anaknya berbeda sifatnya. Dapat kita simpulkan bahwa keluarga menjadi bagian penting untuk membentuk kepribadian anak. Banyak hal yang perlu diperhatikan. Mulai dari persiapan seorang perempuan menjadi seorang istri sekaligus ibu. Juga hikmah cerita untuk menjadi sosok ayah yang dapat membimbing dan mendoakan anaknya agar menjadi anak yang sholeh.

Isi khutbah kali ini sukses membuat saya terharu dan sedikit meneteskan air mata yang cepat diusap. Semoga shalat Ied yang akan datang kita bisa lebih menghayati apapun isi khutbah yang disampaikan oleh penceramah. Amin


Kamis, 31 Agustus 2017

Makna Dibalik Ibadah di Padang Arafah


Bulan Dzulhijjah adalah bulan terakhir menurut kalender Hijriah. Bulan ini menjadi istimewa karena menjadi waktu umat muslim diseluruh dunia melaksanakan ibadah haji dan merayakan Hari Raya Idul Adha. Umat muslim diseluruh dunia berkumpul di Mekkah untuk melaksanakan serangkaian ibadah haji dengan mentaati segala aturan dan meninggalkan larangan selama beribadah.
Menjelang Hari Raya Idul Adha, umat muslim diseluruh dunia berbondong-bondong untuk memberikan yang terbaik. Pakaian terbaik, dekorasi rumah terindah, hingga menu makanan terlezat saat hari raya nanti. Namun dibalik euphoria itu, tak banyak yang diketahui oleh umat muslim bahwa 2 hari sebelum Hari Raya Idul Adha adalah hari yang begitu disarankan untuk berpuasa. Puasa tersebut yaitu Puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah dan Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Puasa Arafah pada tahun ini jatuh pada Kamis, 31 Agustus 2017. Puasa ini sangat dianjurkan agar umat muslim diseluruh dunia yang tidak sedang berhaji ikut merasakan nikmatnya beribadah wukuf di padang Arafah. Meskipun demikian, puasa ini hukumnya sunnah. Jadi jika tidak dikerjakan, juga tidak berdosa. Namun karena banyaknya hadits yang menguatkan bahwa puasa Arafah ini shahih benar berpahala, lalu apa salahnya jika kita tidak ikut berpuasa sunnah ini? Sungguh, berpuasa itu banyak manfaatnya secara spiritual, kesehatan jasmani dan rohani.

Menurut hadits, keutamaan melaksanakan ibadah puasa Arafah bagi umat muslim yang sedang tidak melaksankaan ibadah haji adalah dihapuskan dosa selama dua tahun. Yaitu tahun lalu dan tahun yang akan datang. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada hari ketika Allah SWT membebaskan hambanya dari api neraka dibandingkan hari lain kecuali pada hari Arafah.” (HR Muslim).

Mengapa Padang Arafah begitu Istimewa?
Ibadah yang dilakukan oleh Jemaah haji di Padang Padang Arafah yang berlokasi sejauh 25 km dari kota Mekkah yaitu Wukuf. Wukuf bermakna hibernasi. Yakni, proses mengistirahatkan diri untuk mengoptimalkan kembali fungsi rohani dan ragawi. Wukuf merupakan ibadah haji yang dilakukan dengan cara seperti berdiam diri, shalat berdoa dan berzikir.
Ibadah ini dilakukan di Padang Arafah sebagai “miniature” dari Padang Mahsyar” yaitu tempat seluruh manusia di bumi di hisap menurut amal ibadahnya. Keadaan lokasi padang pasir yang panas menyengat mengingatkan diri tiap Jemaah haji untuk suatu kebenaran ilahi dan semakin mendekatkan diri pada Allah SWT. Wukuf menjadi puncak pelaksanaan ibadah haji. Namun, ibadah haji tidak berakhir di Arafah ini.
Hal istimewa lainnya di Padang Arafah adalah terdapatnya sebuah Bukit Jabal Rahmah dimana bukit tersebut menjadi lokasi pertemuan yang sangat mengharukan Nabi Adam as dan istrinya Siti Hawa. Nabi Adam as dan Siti Hawa telah terpisah sekian lama (200 tahun) akibat melakukan dosa di Surga. Sejak saat itu momen bertemunya kedua nenek moyan manusia ini kemudian diabadikan oleh Nabi Adam as sendiri hingga diteruskan oleh keturunannya hingga sekarang. Padang Arafah juga menjadi tempat dimaan Allah SWT menurunkan wahyu Surat Al Maidah ayat 3, yaitu Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu’.
Hari Arafah juga diartikan sebagai hari disaat Nabi Ibrahim as telah paham kebenaran dan tujuan dari mimpinya untuk menyembelih anak yang telah ia dambakan. Ketiga moment tersebut menyiratkan bahwa Padang Arafah adalah tempat untuk mendekatkan diri pada Allah SWT dan memohon ampun atas dosa-dosa yang telah diperbuat. Ibadah haji di Padang Arafah menjadi tempat untuk mengingat adanya hari hisab dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang terbaik.

Hikmah Berpuasa Arafah
            Saking bermaknanya ibadah di Padang Arafah menjadikan puasa Arafah sangat dianjurkan bagi yang sedang tidak melaksanakan ibadah haji. Pada saat berpuasa, dianjurkan untuk memperbanyak doa untuk diri sendiri, orang tua, istri atau suami, anak-anak dan kerabat. Selain itu juga sangat baik jika memperbanyak doa untuk saudara-saudara yang sedang berjihad untuk mendapatkan hak nya di Palestian, Syuria dan belahan bumi lainnya.
            Siapa tahu, doa yang kita panjatkan adalah doa yang akan mengubah sejarah umat Islam dengan kemenangan, kegembiraan dan rasa aman dengan ijin Allah SWT. Oleh karena itu sangat baik jika puasa Arafah ini dilakukan. Bagi yang sedang menjalankan ibadah Puasa Arafah, semoga dilancarkan dan diberi pahala yang banyak oleh Allah SWT. Jangan lupa juga menahan diri dari segala yang membatalkan puasa. Selamat Hari Raya Idul Adha 1437 H!

                

Senin, 03 April 2017

Membuka Tabir Sebuah Dunia Pelarian

Rasanya aneh dizaman sekarang ini masih ada yang belum familiar dengan istilah entrepreunership. Ada banyak keywords yang terlintas saat mendengar kata ini. Mandiri, modal, usaha, keputusan, bisnis, peluang, kaya, profit, bangkrut, dan… pelarian. Iya, sebuah pelarian. Sebuah dunia abu-abu yang hingga sekarang menjadi momok dan rasa ngeri untuk sebagian orang. Mulai dari rasa tidak mampu, tidak mempunyai modal dan bahkan ketakutan akan gagal (bangkrut).
Mungkin karena saya tidak mendapatkan Mata Kuliah Kewirausahaan saat berkuliah S1 dan karena saya bukan berasal dari keluarga pebisnis, pandangan tentang dunia kewirausahaan juga masih asing dipikiran saya. Kedua orang tua yang notabene seorang pendidik di sekolah menengah menjadikan saya justru terbiasa dengan profesi pengajar. Bukan berwiraswasta. Namun paradigma tentang esensi dari sebuah makna kewirausahaan menjadi semakin jelas sejak mengeyam pendidikan di Master Sains Agribisnis IPB. Saya mengenal banyak istilah dalam pendekatan teoritis entrepreneurship.
Kampus yang terkenal dengan karakter kewirausahaannya ini, IPB mendorong minat mahasiswa dengan adanya Mata Kuliah Kewirausahaan. Sejak mengikuti perkuliahan inilah, saya menyadari ternyata jika makna dari kewirausahaan dipisah-pisahkan menjadi lebih detil, esensi “kewirausahaan” menjadi hal yang semakin menimbulkan rasa penasaran. Mulai dari bagaimana hubungan kewirausahaan terhadap labor market, labor supply dan demand, human capital, hingga bagaimana hubungannya dengan unemployment rate dll. Berwiraswasta bukan semata-mata menjual sesuatu dan mengharapkan keuntungan. Banyak hal-hal lain yang patut dipertimbangkan.

Senin, 27 Februari 2017

1000 Kata yang Tak Sekedar “Kata”

Kau tahu mengapa aku menyayangimu lebih dari apapun? Karena kau menulis. Suaramu tak akan pernah padam ditelan angin. Akan abadi. Sampai jauh, jauh dikemudian hari” (Pramoedya Ananta Toer).
            Banyak orang begitu lancar dan mengalir mengemukakan ide ketika berbicara. Namun susah menyampaikannya dalam sebuah tulisan. Begitu juga sebaliknya. Menulis adalah sebuah skill yang tak semua orang menguasainya. Susah, tapi bisa dipelajari. Menulis seperti sebuah seni yang membutuhkan keterampilan yang tak bisa mengandalkan satu panca indera. Bagi saya, menulis laksana kekayaan kreativitas yang elegan. Lebih dari sekedar menyusun rangkaian kata, menantang dan begitu seru.
            Beberapa hari lalu, Sabtu (25 Februari 2017), saya dan beberapa teman dari awardee LPDP IPB mengikuti kegiatan sharing tentang strategi dan trik menulis menembus media oleh Mata Garuda Institute di Gedung LPDP Kementerian Keuangan RI, Jakarta. Mata Garuda adalah Keluarga Besar para penerima beasiswa LPDP baik yang masih berstatus awardee maupun yang sudah berstatus alumni. Meski harus membatalkan agenda lain, saya menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan “mahal” ini.
            Bhima Yudistira, alumni LPDP yang kini bekerja sebagai Ekonomi di INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) berbagi wawasan dan pengalaman tentang tips dan trik menulis pada semua peserta yang hadir. Bhima menjelaskan bahwa hal terpenting ketika menulis di suatu media (baik media cetak atau media online) adalah mengetahui dengan jelas arah penulisan. Apakah tulisan yang dibuat menunjukkan sebuah positioning (keberpihakan) ataukah mengandung sebuah gagasan baru.


             Terdapat 7 tips utama agar tulisan menembus media. Pertama, tanggap isu.  Seseorang yang ingin menulis opini di media disarankan untuk tanggap isu yang sedang hot di media cetak atau media online. Caranya yaitu dengan rutin membaca editorial surat kabar maupun headline berita online. Kedua, Tema yang ditulis baiknya sesuai dengan bidang keahlian. Biasanya redaktur dari media kredibel akan memperhatikan CV dari penulis. Oleh karena itu, sangat penting untuk memperbaharui profil diri dan menyesuaikan dengan tema tulisan yang dikirimkan. Tulisan yang sesuai dengan bidang keahlian berpeluang besar untuk diterima oleh redaktur. Ketiga, menggunakan bahasa yang to the point. Generasi yang serba instan akan mempengaruhi minat pembaca dalam memilih tulisan yang sensasional, singat tapi lugas. Keempat, perbanyak data. Data kredibel menjadi hal yang sebaiknya tetap diperhatikan dalam menulis. Fakta dari data yang ada akan memperkuat agrumen tapi data yang disajikan tersebut jangan overload. Kalau overload, bukan opini dong namanya. Tapi jurnal ilmiah. Hehe. Kelima, aware terhadap pembaca. Seorang penulis yang ingin tulisannya dibaca oleh banyak orang, maka penulis tersebut harus lebih peka terhadap karakteristik pembaca. Biasanya masing-masing media punya karakteristik pembaca yang berbeda pula. Keenam, proofread. Ini juga menjadi tahap yang tak kalah pentingnya agar tulisan dapat menembus media. Proofread baiknya dilakukan oleh senior, yang lebih mengerti tentang konten dan berpengalaman dalam tulis-menulis. Ketujuh, follow up. Jika hampir seminggu jika tulisan yang sudah dikirimkan tidak juga dipublish, maka perlu ditanyakan dengan sopan kepada redaktur. Ini berguna agar tulisan yang dikirimkan mendapatkan kepastian diterima atau tidak di media tersebut. And the last but not the least, adalah gaya bahasa yang sopan dan jelas ketika mengirimkan tulisan disurel. Pada badan surat, ada baiknya mencantumkan CV, foto, KTP dan nomor rekening. Data pribadi ini diperlukan agar redaktur dapat dengan mudah menelisik latar belakang penulis. Tentu media yang sudah terkenal tidak akan asal-asal menerbitkan sebuah tulisan.
Menulis akan menjadi aktivitas yang berat jika jarang membaca. Bima Yudistira menyarankan untuk lebih sering membaca buku dan mengurangi sumber-sumber informasi yang bersifat instan. Mengapa? Karena informasi yang disajikan lewat media online biasanya terputus-putus sedangkan menulis untuk menembus media perlu pemahaman yang mendalam untuk membentuk sebuah ide baru.



Menjadi awardee LPDP mempunyai tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi terbaiknya untuk Indonesia. Oleh karena itu menulis dan memberikan gagasan baru untuk perubahan daerahnya atau Indonesia secara umum adalah hal yang sangat dianjurkan. Bhima, yang juga lulusan gelar magister Finance di Bradford University saat memberikan materi saat itu juga menambahkan, “Ketika menulis, harus ada yang menarik, yang berbeda. Jangan mau tulisannya biasa-biasa saja”. Benar sekali.  Tulisan yang menarik dan unik akan berpeluang lebih besar untuk diterbitkan. Dan menulis yang menarik itu sebenarnya susah-susah gampang. Bagaimana, Berani mencoba? [KF/270217]

Rabu, 04 Januari 2017

Jadi Orang Baik

Tahun 2017 mungkin menjadi tahun yang ditunggu-tunggu oleh sebagian orang karena menjadi momen yang tepat untuk saling berbagi resolusi pribadi tahun baru. Ada banyak macamnya sih. Mulai dari pencapaian yang biasa-biasa saja, sampai pada pencapaian yang luar biasa masuk list poin-poin resolusi impian. Saya juga termasuk tipe yang senang mematok target pada momen tertentu. Baik saat hari ulang tahun maupun ditahun baru. Bukan ikut-ikutan, tapi rasa semangat masih membara panas ketika berada pada embel-embel “baru”. Wajar. hehe
Lalu, ada berapa banyak poin-poin yang sudah terceklis done diantara puluhan bahkan ratusan target tahunan yang kita buat? Oke, saya percaya ada beberapa yang terceklis, ada juga yang sampai detik ini belum terealisasi. Kekecewaan dan penyesalan akan terasa jelas saat kembali flashback. Ah, saya pun merasakan ini kawan! Tentang peluang yang disia-siakan dan tentang masa lampau yang terbuang begitu saja. Tapi ada juga beberapa hal yang patut saya syukuri dan saya percayai bahwa ada hikmah dibalik kegagalan. Let’s positif thinking.


            Menargetkan sesuatu dan merancang impian adalah sifat naluriah manusia. Pada dasarnya manusia hanya bisa merencanakan sesuatu namun segala urusan sukses atau tidaknya tetap ditentukan oleh Tuhan. Saya tipe seorang planner, sekaligus perusak plan itu sendiri. Untuk beberapa kondisi, sifat malas dan acuh tak acuh begitu besar sehingga ada beberapa poin target yang sirna entah kemana.
Menuliskan impian secara jelas disecarik kertas bagi saya merupakan cara mainstream yang dilakukan oleh orang banyak. Tapi (lagi-lagi) saya percaya bahwa dengan menuliskan mimpi, maka itu berarti menjaga mimpi terus awet dan tak hilang menguap di angan-angan belaka. Namun masalahnya, tak semua orang mampu mempertahankan dan mewujudkan impian-impian tersebut. Mau tidak mau, ada hal-hal diluar batas kemampuan manusia meskipun usaha sudah begitu maksimal dilakukan.
“Jadi orang baik” adalah resolusi terbesar saya tahun ini. Tak hanya untuk tahun ini, bulan ini atau hari ini, tapi “jadi orang baik” keinginan yang kontinu yang ingin saya realisasi disetiap sendi kehidupan. Rasanya benar juga pernyataan Tompi di surat kabar KOMPAS (5/1/2017) yang lalu, “Tak banyak orang baik di zaman sekarang ini. Yang bawel banyak”. Ya, kini begitu banyak orang yang berkoar-koar memamerkan kesuksesannya tapi akhirnya lupa akan daratan.
Bagi saya, “jadi orang baik” bisa dilakukan dengan cara 3 hal yaitu pertama: Jadi orang baik untuk diri sendiri. “Baik” dalam artian pengertian dengan diri sendiri yaitu mengetahui dengan jelas karakter diri dan tahu bagaimana berdamai dengan diri sendiri. Tidak memaksakan kehendak jika dirasa tidak baik dan tidak berbohong pada diri sendiri. Kedua: Jadi orang baik untuk orang lain. Hal kedua ini bisa dilakukan dengan cara pintar dalam menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Mengapa harus pintar? Karena masing-masing dari kita mempunyai kepribadian yang berbeda. Tinggal bagaimana  aman dan nyamannya ketika berinteraksi dengan orang lain. Faktanya, di zaman era digital seperti sekarang ini banyak orang hanya menjalin silahturahmi via media maya tapi lupa betapa besarnya pengaruh interaksi di dunia nyata. Ini juga berlaku bagaimana menjadi baik pada orang tua kita sendiri. Nah lalu yang ketiga yaitu Jadi orang baik dihadapan Allah. Caranya bisa dilakukan dengan cara meningkatkan ibadah. Seharusnya tahun baru ini menjadi tahun untuk sungguh-sungguh meningkatkan ketakwaan kita pada Allah SWT.
Jadi orang baik akan tergantung pada perspektif masing-masing orang. Namun output “jadi orang baik” tentu diharapkan mampu memberikan manfaat untuk orang lain. “A change in behavior begins with a change in heart”. Suatu perubahan tak akan jadi apa-apa jika tidak dilakukan dengan komitmen, konsistensi dan konsekuen. Semoga kita semua menjadi orang-orang yang baik, yang senantiasa menyebarkan manfaat untuk orang lain. Amin. Semangat!

Sabtu, 10 Desember 2016

Aceh di “Mata” Garuda

           Tanah rencong lagi-lagi menjadi fokus perhatian seluruh penjuru negeri ketika digemparkan dengan berita bencana alam. Gempa di Pidie Jaya membuat masyarakat berbondong-bondong memberikan doa dan bantuan. Sejak dulu musibah menguji mental orang-orang Aceh. Ternyata Allah tak berhenti memberi cobaan setelah tragedi Tsunami 26 Desember. 

Sebagai awardee LPDP yang berasal dari Aceh, sudah sepantasnya saya dan beberapa teman lainnya melakukan sesuatu untuk Aceh. Saleum (Solidaritas Awardee LPDP Aceh Darussalam) menggalang dana untuk korban gempa di Pidie Jaya. Kami mencoba berkontribusi meski hanya lewat lembaran-lembaran rupiah yang terkumpul dari para awardee. Hingga Sabtu (10/12/2016), dana yang terkumpul melalui rekening Saleum mencapai Rp20.953.360. Alhamdulillah. Mudah-mudahan ini meringankan beban korban gempa disana.

Selain melakukan sesuatu untuk Aceh melalui penggalangan dana, saya dan beberapa teman lainnya dari Saleum juga melakukan “sesuatu” untuk Aceh dalam hal advokasi daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar). Ada beberapa daerah yang secara logika seharusnya masuk sebagai daerah terluar namun hanya 3 daerah di Provinsi Aceh yang tercatat sebagai daerah 3T versi LPDP yaitu Singkil, Aceh Besar dan Sabang.

Bagi kami, ini patut dikomunikasikan lagi dengan pemerintah karena SDM di daerah perkotaan dan pedesaan dibeberapa kabupaten di Aceh tidaklah merata. Tentu ini bukan lah sebuah harapan bahwa banyak kabupaten di Aceh masuk ke dalam daerah 3T. Bukan! Tapi ini sebuah aksi memperjuangan sebuah kata “pemerataan”.

Peran Mata Garuda Daerah

Mungkin sebagian orang masih belum familiar dengan nama ini. Terdengar masih asing bagi beberapa orang. Tapi banyak juga yang sudah melihat karya nyata dari sebuah  Mata Garuda. Lalu apa Mata Garuda?

Mata Garuda adalah ikatan penerima beasiswa LPDP dan berfungsi sebagai pusat kontribusi para anggotanya dalam pembangunan Indonesia sebagai wujud dharma bakti atas ilmu dan jiwa kepemimpinannya untuk Indonesia. Saleum sebagai wadah berkumpulnya para awardee asal Aceh adalah bagian dari Mata Garuda Daerah yang akan melebarkan sayapnya di kancah nasional.

Saya dan beberapa orang pengurus dari Saleum bertolak ke Bappenas (9/12/2016), Jakarta, untuk mendiskusikan solusi penentuan daerah 3T Kabupaten Simeulue dan penyampaian update informasi nominal dana yang terkumpul untuk korban gempa di Pidie Jaya. Mas Danang Rizki Ginanjar selaku ketua Mata Garuda Pusat yang juga bertugas sebagai Special Advisor Minister di Bappenas meluangkan waktunya untuk membahas hal ini secara face to face dengan kami.


Pembahasan intensif bersama Mas Danang Rizki berlangsung lancar dengan suasana serius tapi renyah santai. Siapa kira sosok yang selalu mendampingi menteri ini ternyata masih berperawakan muda, berkarisma dan gerak geriknya seakan memancarkan energi positif ketika berbicara. Sebagai awardee LPDP jebolan MBA Cambridge, ia banyak memberikan saran-saran positif, termasuk ide-ide untuk meningkatkan SDM awardee (terutama) yang sudah menyelesaikan studinya.

Terkait dengan status daerah terluar Kabupaten Simeulue, beliau mengatakan bahwa perlu waktu yang panjang untuk meluruskan hal ini karena harus berkomunikasi lagi dengan beberapa kementerian. Tapi syukurlah, salah satu awardee yang kini sedang berada di Simeulue sudah melakukan audiensi secara langsung dengan pihak Pemerintah Daerah Simeulue. Pemerintah Daerah Kabupaten Simeulue merespon dengan baik dan berharap akan ada kerja sama dengan pihak LPDP yang diikat dengan sebuah MoU. Hal ini akan terus diproses dengan bantuan beberapa pihak-termasuk Mata Garuda, sehingga percepatan Pengembangan SDM di Kabupaten Simeulue terwujud. Ini yang saya dan teman-teman Saleum sangat harapkan.

LPDP memberikan kesempatan untuk kawula muda mejadi pemimpin yang berintergritas dan profesional melalui penyaluran dana beasiswa pendidikan. Tentu sebagai awardee, saya mensyukuri kesempatan ini. Sebagai sebuah wadah, Mata Garuda mengumpulkan potensi-potensi yang ada pada awardee yang terpencar diseluruh dunia agar bermanfaat untuk bangsa dan negara. Oleh karena itu, adanya Mata Garuda di tingkat Daerah sangat diharapkan bisa aktif merangkul dan membangun daerahnya sendiri. Saleum menjadi promotor yang mengawali harapan ini.

Aceh Bangkit melalui Cendikia Muda

Pendidikan yang tinggi tidak lah berarti apa-apa tanpa memberikan manfaat bagi orang lain. Sukses bukanlah tentang seberapa tinggi prestise dan prestasi yang dicapai. Tapi sukses adalah ketika bisa memberikan kontribusi yang kontinu meski hanya berupa langkah-langkah kecil. Para cendikiawan Aceh mestinya mampu menjadikan Aceh lebih baik. Saya percaya, banyak potensi dalam diri generasi muda Aceh yang kini masih “malu-malu” untuk muncul. Salah satu cara memberikan manfaat pada masyarakat dapat dimulai dengan cara menulis. Kata Mas Rizki, “Buktikan dengan karya nyata. Misal, dengan menulis ide-ide tentang bidang keilmuan yang kamu tekuni. Mata Garuda akan menfasilitasi itu”.

Jika Aceh di “mata” Garuda sedang berduka karena  musibah Gempa Pidie Jaya, maka disisi lain sudah saatnya Aceh bangkit. Dilihat dari sejarah jauh sebelum Indonesia lahir, Pidie Jaya (Meureudu) menjadi basis heroik para panglima perang di zaman Sultan Iskandar Muda. Meureudu menjadi daerah penting pada masa itu karena merupakan pusat lumbung  beras bahkan  menjadi pusat akademi militer kerajaan

Berawal dari Meuredu, Kuta Raja, Samudera Pasai, atau sampai di bumi Teuku Umar, Aceh sejak dulu memiliki potensi yang luar biasa. Spirit ini yang seharusnya melekat pada diri insan Aceh agar bisa bangkit, berkarya dan optimis membangun masa depan yang lebih baik. Bersama Mata Garuda, potensi cendikiawan yang ada pada diri awardee LPDP diharapkan mampu menjadi modal penting dalam membangun daerah. Aceh di “mata” Garuda yang berkarya dan bermental kuat meski banyak ujian yang melanda.

Rabu, 07 Desember 2016

Muslimah Mutiara Generasi

Apa perbedaan antara talenta dan skill?
Ibu Ummu Salamah, seorang Entrepreuner, di acara talkshow Muslimah Day (3/12/2016) menjelaskan perbedaan kata “talenta” dan “skill”. Talenta bermakna sesuatu anugerah yang diberikan oleh Allah yang ada pada diri setiap manusia bahkan sejak kita bangun dari tidur. Kebalikannya, skill adalah sesuatu yang tidak serta merta ada disetiap diri manusia. Skill perlu diasah dan dipelajari agar potensi diri bisa muncul. Nah, beruntungnya, perempuan dianugerahi talenta yang sungguh luar biasa. Sebagai muslimah, saya bersyukur. Alhamdulillah

Perempuan, baiknya jeli dalam melangkah. Ya tentu melangkah menuju masa depan yang baik. Muslimah perlu memperbaiki akhlak dan pendidikan menjadi lebih baik, menyeimbangkan kesehatan fisik dan mental, bahkan perempuan juga perlu cerdas dalam memilih calon pendamping hidup. Naah loh. Hubungannya dengan jodoh apa? Oh jelas ada dong.

Sebelum seorang perempuan menjadi seorang ibu untuk anak-anaknya, tentu perlu pendamping hidup yang bisa mengayomi dan bersama-sama melangkah di masa depan. Jodoh adalah cerminan diri kita sendiri. Maka jika ingin mendapat jodoh yang baik, kita perlu memperbaiki diri menjadi lebih baik. 

“Makna sukses tidak hanya sebatas di dunia tapi juga harus sukses di akhirat”, ujar Bu Agusniar, seorang social worker sekaligus Direktur Yayasan Ruhamaa

Benar,cantik! 
Selama ini kita hampir lupa bahwa masih ada kehidupan setelah di dunia, yaitu kehidupan di akhirat. Mungkin karena itu juga acara talkshow ini tidak hanya mengundang akademisi dan entrepreneur, tapi juga social worker. Tidak hanya berfokus pada peningkatan profit semata atau indeks prestasi. Tapi seorang social worker akan memberikan kontribusinya untuk masyarakat yang pahalanya terus mengalir untuk tabungan amal. Muslimah yang tidak hanya melakukan suatu perubahan untuk dirinya sendiri, tapi juga memberikan manfaat untuk orang lain.

Muslimah sebagai mutiara generasi akan meningglkan banyak hal yang bermanfaat untuk keluarga, bangsa dan negara jika dipahami betul esensinya. Mengikuti acara ini saya~sebagai muslimah, banyak belajar bagaimana seharusnya rasa syukur~yang berlimpah~ ditanamkan dan bagaimana menjadi pribadi yang berakhlakul karimah.

Muslimah Day adalah agenda besar yang dilaksanakan oleh Himmpas (Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana) IPB dengan mengusung tagline “Muslimah Mutiara Generasi”. Saya menyempatkan diri menghadiri acara ini meski hanya duduk dan mendengar selama beberapa jam.

Baidewei, pulang dari talkshow, saya diberi kerudung syar'i cuma-cuma nih dari panitia. Wah, lumayan nambah koleksi kaan. Hehe. Selain membuka wawasan, ada manfaat lain yang didapatkan. Weekend pun menjadi bermanfaat. Alhamdulillah. Trims Himmpas IPB!


Minggu, 27 November 2016

Balindroponik, Menyapa Indonesia Lebih Baik

You’ve never know before you try. TRY, sebuah kata yang sekarang nongkrong dipikiran sehingga saya menunda tidur untuk menulis ini. Pengalaman hari ini begitu menggugah saya agar lebih believe. Ya, The Power of Mindset.

Hari ini, Minggu, 27 November 2016, saya dan beberapa teman seangkatan PK-69 LPDP melaksanakan kegiatan perdana Menyapa Indonesia “BalinDroponik” di kampung Bojong, Dusun Pasir Madang, Kecamatan Tenjo, Bogor. Program Menyapa Indonesia bisa dikatakan adalah kegiatan wajib yang diserahkan pada setiap PK (Persiapan Keberangkatan) untuk melakukan pengabdian masyarakat. Kecamatan Tenjo, adalah target daerah pengabdian masyarakat yang menjadi bagian dari program PK-69.
Kampung Piknik, begitu kami menyebutnya, berlokasi lumayan jauh jika ditempuh dari Kota Bogor. Jika menggunakan transportasi commuter line, waktu tempuh menuju Dusun Pasir Madang justru tidak terlalu lama. Saya dan bersama 2 orang dosen dari IPB dan 4 orang teman menggunakan mobil menuju kesana. Sedangkan sebagian teman lainnya menggunakan commuter line dan jasa angkot.


Pak Agus dan Pak Zul adalah 2 orang dosen IPB yang bersedia menjadi mentor kami selama melakukan program. Kami memilih hidroponik sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat disana. Tentu peningkatan kesejahteraan tersebut dimulai dari peningkatan pendapatan. Pendapatan yang ditingkatkan melalui usaha mandiri masing-masing keluarga. Hidroponik menjadi pilihan terbaik karena cara aplikasinya mudah dan ramah lingkungan.
Saya sendiri sangat tertarik dengan inovasi hidroponik. Memang hidroponik sudah sering terdengar, tapi sampai sekarang saya belum pernah melihat langsung aplikasinya. Alhamdulillah bersama Menyapa Indonesia saya dan beberapa teman lainnya berkesempatan untuk banyak belajar dan bahkan memberikan pengaruh pada masyarakat untuk maju bersama meningkatkan kemandirian.

 

“Kalau kita mau, tentu kita akan bisa”. Kata-kata Pak Agus ini terus terngiang ditelinga saya. Beliau memberikan motivasi pada ibu-ibu desa agar mengubah mindset “bodoh”, “tidak bisa” dan “malas”. Sungguh, beliau sangat banyak menyuntik motivasi, termasuk juga saya. Sebelum melakukan satu perubahan, motivasi dan mindset harus bisa terbentuk dari awal. Ini yang kami lakukan untuk memperkenalkan sesuatu yang baru pada suatu masyarakat.
Ibu-ibu yang mayoritas berprofesi rumah tangga mendengarkan motivasi dari beliau dengan antusias. Beberapa dari mereka semakin penasaran dengan hidroponik. Ini tentu feedback yang baik karena keinginan untuk lebih banyak tahu menjadi pintu membuka mindset. Kepolosan mereka pada sebuah inovasi baru terkadang membuat saya tertawa geli sekaligus kagum. Ternyata masih banyak orang-orang yang menginginkan sebuah perubahan.


Pertemuan perdana bertatap muka secara langsung dengan masyarakat berlangsung lancar. Meski sumber daya baik alam maupun manusia Dusun Pasir Madang ini kurang memadai, tapi kami yakin perubahan mindset akan mengubah nasib mereka agar lebih mandiri dan terbuka akan inovasi baru. Mencoba sesuatu hal yang baru perlu praktik, perlu dikerjakan langsung. Semoga program yang akan berjalan selama 2 tahun ini benar-benar memberikan efek positif pada masyarakat. Amin

Rabu, 16 November 2016

Hari Lahir

Keumala dalam bahasa Aceh berarti batu yang indah dan bercahaya. Sedangkan Fadhiela berasal dari bahasa arab “fadhilah” yang berarti keutamaan. Keumala Fadhiela, nama seorang gadis yang kembali berada di hari kelahirannya 24 tahun silam. Kedua orang tuanya memberikan nama dengan harapan agar ia tumbuh menjadi seseorang yang senantiasa bersinar dan memberikan manfaat pada orang lain. Tak banyak hal yang terlalu spesial darinya. Tapi semoga nama ini menjadi sebuah doa. Semoga.


Seperti hal nya orang lain ketika berada di hari kelahirannya, selalu ada doa yang terselip. Ada target yang diharap dan ada mimpi yang di rancang. Tapi itu semua akan menguap bebas di udara ketika tak ada niat yang tertanam kuat. Keumala hari ini meyakinkan dirinya bahwa apapun yang diberikan olehNya merupakan sebuah rahmat, rezeki, dan proses yang perlu diambil hikmahnya. Mudah saja jika Allah mengatakan “Kun Fa Yakun”. Tapi Allah memberikan sebuah proses. Sehingga tak semua yang diinginkan terkabul. Ada proses yang membuat diri harus punya fight dan improvement.

Kebahagiaan bukan dari seberapa banyak yang mengucapkan selamat. Bukan lilin yang menyala dan kado bercorak warna. Bahagia adalah ketika mampu memberikan kebahagian pada orang lain, membuat orang lain tersenyum dan senang hatinya. Semoga selalu ada syukur yang kita panjatkan disetiap helaan napas. Karena kita tak pernah tahu kapan ajal menjemput. “Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam: 15)


Sabtu, 22 Oktober 2016

Change

“If it doesn’t challenge you, it does’t change you”

Ini salah satu quote yang paling saya favoritkan hingga sekarang. Apalagi quote ini relevan dengan keadaan sekarang, yaitu menjadi seorang perantau. Perantau yang kini berjuangan menuntut ilmu agar ada peningkatan kualitas hidup.

Hal yang paling saya khawatirkan adalah ketika saya tidak bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Maka karena itu perlu adanya tantangan hidup agar timbul suatu perubahan. Merantau adalah salah satu cara untuk merasakan sebuah “perubahan”. Jika kita tidak memberi tantangan untuk diri sendiri, tentu tidak akan mengubah suatu apapun dari diri kita.

Dua bulan berlalu sudah dan kini menjadi warga (sementara) di kota Bogor. Saya menjadi mahasiswa pada program studi Agribisnis IPB sejak awal September 2016. Terpilih menjadi penerima beasiswa LPDP juga anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT. Alhamdulillah, suatu syukur yang tak terkira bisa mewujudkan mimpi menuntut ilmu ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Allah memberikan saya peluang untuk bisa melihat lebih kehidupan yang lebih nyata melalui perbedaan adat, kultur, bahasa dan cuaca daerah lain selain di Aceh.

Sejak memperoleh kepastian berkuliah di IPB, saya sengaja tidak ingin mencari tahu deskripsi riil terkait situasi dan kondisi Kota Bogor. Saya membiarkan pengetahuan dan segala sesuatu tentang Bogor berjalan seiring waktu secara natural. Hanya garis besarnya saja yang saya kepoin dari senior yang terlebih dulu tinggal di Bogor. Mengapa demikian? karena menurut saya, itulah yang membuat sebuah tantangan dan petualangan hijrah ke daerah baru menjadi semakin bermakna. Terkadang pun apa  yang kita dengar dari orang lain akan berbeda feel nya dengan apa yang kita lihat dan kita rasakan secara nyata. Eciee. Haha. Let it be to be a wild world! I was really excited to get a new experience.

Minggu, 01 November 2015

Ketika JENESYS Kembali Memberi Harapan

Saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman mengikuti seleksi JENESYS (Japan-East Asia of Exchange for Youth and Student) minggu lalu.  Agar jejak perjuangan ke Jepang tak hanya tersimpan di pikiran, tergerak lah hati dan jemari saya untuk menuliskan pengalaman ini di blog (setelah sekian lama vakum. Hehe). Bukan untuk niatan untuk showing-off, tapi saya berharap dengan pengalaman yang saya bagikan ini akan bermanfaat bagi siapa saja yang membaca. Terutama bagi yang berminat keluar negeri, especially going to Japan.

Sambil menulis ini, ya saya sebenarnya harap-harap cemas, karena pengumuman hasil interview JENESYS belum keluar. Hehe. Semoga dengan menulis ini, bisa mengalihkan kegelisahan hati saya menunggu hasil akhinya..

Well, informasi ini sebenarnya saya dapati pertama kali dari senior Fakultas Pertanian Unsyiah. Yang saya tahu, beliau adalah mahasiswa berprestasi di kampus dan pernah mengikuti exchange student di Jepang. Jadi, saya memang sudah tahu tentang program ini dari dulu. Hanya saja saya belum tergerak hati untuk mengetahui lebih lanjut.

Cerita ini bermula dari informasi yang tersebar dari salah satu group whatsapp. Karena JENESYS mengingatkan saya akan kenangan yang berhubungan Jepang (cieehh), makanya saya langsung mencari tahu dan bertanya lebih lanjut dengan beliau. Huwoo, ternyata deadline pendaftaran program ini hanya SATU HARI! Persyaratannya memang tidak susah. 3 buah esai dengan pertanyaan yang berbeda, scan paspor, dan CV. Awalnya saya masih bimbang untuk apply. Alasannya karena saya harus menulis esai dalam bahasa inggris dalam waktu sehari. OMG! Tahu diri sih sebenarnya. Karena saya paling tidak bisa bekerja dikejar waktu apalagi dalam keadaan mepet. Biasanya ide menulis saya hilang. Menguap entah kemana. Tapi setelah berkonsultasi dengan orangtua (ibu saya sangat menyemangati), akhirnya saya bertekad keras untuk segera menulis. Paspor sudah ada ditangan, tinggal menulis saja kan? Bisa. Pasti bisa! Motivasi dari orangtua saya lah yang semakin menguatkan niat saya. Senior saya juga bilang kalau “kepepet itu indah”. Haha.

Kepepet itu Indah
Setelah berkonsultasi dengan dua orang senior DETaK, dan mempertimbangkan ide menulis dari ayah saya, akhirnya ide datang juga. Tahun ini JENESYS memberikan tema program “Peace Building” (awalnya saya gak ngerti maksud tema ini apa). Saya pun memutar keras ide dikepala untuk mendapatkan ide tulisan yang cemerlang dan cerdas.

Dengan bantuan editor sekaligus translator terbaik saya (senior di kampus), akhirnya semua berkas berhasil dibereskan pada menit-menit terakhir, pukul 00.00 WIB. Benar-benar mepet! Setelah mengalami kesusahan dan kepanikan saat submit aplikasi, akhirnya semua berkas berhasil terkirim. Submitted! Lega, senang dan bersyukur. Akhirnya jadi submit juga.

Keesokan harinya saya mendapatkan informasi kalau deadline program ini berlangsung dua hari. Wah, berarti saya salah informasi dong ya. Bukan salah, tapi saya tidak mencari informasi lebih lanjut. Disatu sisi saya senang sudah submit, tapi disatu sisi lainnya, saya takut esai yang dikirim tidak bagus. Merasa tidak optimal karena dibuat dalam keadaan kepepet.

Rabu, 09 September 2015

Terbelenggu di Dunia lain

Zaman ini; zaman canggih. Zaman yang semakin melampaui batas kekurangan. Manusia semakin pintar mengolah, memprediksi, dan bahkan mengakses. Dahulu jarak adalah hal yang paling dicemaskan oleh orang-orang karena keterbatasan akses. Teknologi masih menjadi hal yang “mahal” dan sulit dijangkau. Tapi sekarang? Koneksi dan relasi kini tak ada lagi pembatas. Apa saja, siapa saja, dimana saja, kapan saja, semua orang bisa saling berbagi informasi. Penggunaan media sosial contohnya. Saking pesatnya pengguna media sosial,  timbul lah sindirian bagi mereka yang terlanjur kudet (kurang update), “hari gini gak punya media sosial?” helooow…
Saya salah satu dari sekian juta ribu pengguna media sosial di dunia ini. Saya tidak lagi seperti semut kecil semenjak adanya kemudahan menggunakan media sosial. Meski tak pernah berjumpa atau tak saling mengenal, media sosial menjadi alat “mendekatkan”. Baik anak, anak-anak, remaja bahkan orang dewasa sudah sangat familiar dengan media sosial. Media sosial menjadi wadah sharing. Tapi sayangnya, banyak orang sulit membedakan lagi mana yang sharing, mana yang showing off (pamer). Perbedaannya sangat tipis.
Dulu saya maniak dengan media sosial. Terutama saat jamannya friendster dan facebook. Karena ngebetnya dengan kedua akun ini, saya selalu update dan rela kerajingan ke warnet demi melihat notifikasi dari teman. Paraaah! Nah, sekarang sudah ada yang lebih kekinian lagi seperti twitter, instagram dan path. Coba Tanya deh, siapa yang belum punya ketiga akun terbaru ini? Rasanya kudet banget kalau belum ada. Fufufu..
Kalau segi positifnya medsos, kamu tau sendiri lah ya. Pertukaran informasi menjadi lebih cepat dan setiap orang bisa menunjukkan eksistensinya. Laluuu, jika kita tidak dapat mengontrol dampak positif ini, justru kita yang bakal terkena dampak negatifnya. Seperti apa? Terkesan pamer dan tidak ada lagi yang namanya privacy.
Path, misalnya. Saya bergabung di path lebih kurang baru satu bulan. Asik sih, tapi terlalu terkesan pamer. Ah gimana enggak? Tempat dan musik aja perlu di share. Buat apa coba? Okee, kalau untuk gaya-gayaan. Tapi kepikiran gak, kalau ada orang yang sedang mematai dengan cara terus memantau path kita? Kemudian si penjahat mengikuti kemana pun tempat yang sudah kita update. Iiih. Ngerii. Itulah mengapa saya tidak terlalu update di path. Kecuali memang ada hal-hal menarik yang ingin saya bagikan. Ya agar banyak teman yang tahu. Bukan sekedar pamer. Hmm, kadang pas galau juga ada sih (sedikit). haha
Begitu juga dengan instagram. Saya lebih suka ngeshare foto bersama teman-teman, keluarga, tempat bersejarah dan keindahan alam. Walau bagaimana pun, karena instagram adalah medsos yang bersifat pribadi, otomatis saya juga akan memasukkan foto saya dan keluarga saya sendiri. Itupun tidak terlalu banyak. Keindahan alam juga bagus untuk dipost. Bagus untuk pariwisata kan? Mana tau daerah kita menjadi terkenal karena foto yang kita ambil. #iloveAceh
Kasus yang menimpa beberapa artis seperti Ruben Onsu dan Ayu Ting-Ting juga karena instagram. Foto anak mereka kedapatan menjadi target anak yang diperjualbelikan melalui instagram. Mereka pun harus melaporkan kejadian ini ke kepolisian. Menurut saya itu karena si artis ini terlalu heboh publish keluarganya. Pamer. Maaf ya Om Ruben dan Kak Ayu..
Dan yang baru-baru ini terjadi adalah kasus KD dan anaknya, Aurel. Masak iya apa-apa curhatnya di medsos? Kenapa gak selesaikan masalah dengan cara bertatap muka? Ini nih yang salah kaprah dari medsos. Ternyata medsos justru memperpendek silahturami.
Menggunakan medsos jangan sampai membuat kita jadi lupa diri ya kawan. Tetap humble. Jangan deh terlalu pamer dan curhat kelewatan. Agak susah memang bedain yang mana pamer mana yang gak. Karena kalau dibilang jangan pamer, pasti jawabannya “Cuma ngeshare aja kok”. Haha. Iya iya deeh.
Kalau curhat, mending ke orangnya langsung. Kalau galau, juga ke orangnya langsung aja. Mau kode-kodean? Saya udah pengalaman. Dan kodenya nyangkut, ilang dan akhirnya gak kesampean. Miris kaaan?
Jangan sampai teknologi memperdayakan kita. Jangan sampai kita terbelenggu di dunia maya sehingga lupa bagaimana kelanjutan hidup di dunia nyata. Kalau di dunia nyata saja kita sudah hilang arah, bagaimana kita mempersiapkan di dunia akhir (akhirat) nanti. Hati-hati :)

*Tulisan ini juga di post di tumblr : http://keumaladedelala.tumblr.com/

Selasa, 22 Juli 2014

Optimize The Third Asharah of Ramadhan

Now we have been in the last 10 day of Ramadhan. The last 10 day of Ramadhan or the third asharah is usually called The Days of freedom From The Hellfire. Allah is so fond toward humans because He divided 10 days of Ramadhan with its each advantages. This is a notice that Allah gave "gifts" to anyone who truly understand and perform the essence of Ramadhan. If it is a gift, so who does not want to?

For several days, I am fasting in Banda Aceh. I habitually do shalat tarawih at Masjid Al-Makmur Masjid or commonly called Masjid Oman. There is a "feel" when shalat in that masjid. Not only because of the beautiful architecture style of masjid, but also the atmosphere when we do pray. It was very soothing! Imam who was directly brought from  Arab read the letters of AlQur-an softly. I felt more peaceful  and calm when heard it.

Masjid Al-Makmur Lamprit, Banda Aceh
Along with my dearest, after tarawih prayers, we usually read AlQur-an despite of only just about 30 minutes. I had planned about ODOJ (One Day One Juz), but it is still very far behind the reading target. The "natural" period of woman turns to leave my Reading AlQur-an habitual. But I'm sure, where there is will, there must be a way. Even if my target during Ramadan is far from the fact, but I still do it as I can. The target has to stay awake.


Sharing is Caring
Of course we’ve all known about The Third Asharah of Ramadan’s virtue. It is to be a gift of Allah which have to be fought because not all of us can survive it.

Phenomena in society seen that closer to Eid time, the more they enjoy shopping center. They are being busy with mode and prestige. Masjid is becoming forgotten by them. How poor..

While gifts Allah has clear meaning, many people do not pay it attention. Actually time keeps rolling all the time. Time constantly keeps running without being able to go back again. This is what I feel in Ramadan this year. I wasted Ramadan last year. That is why I want to maximize my fast and hope in Allah ridha.

Sindiran Heboh: Yang Gaji Kamu Siapa?

Sejak video seorang Menteri Kominfo Rudiantara, beberapa waktu lalu beredar dan menghebohkan sejagat dunia maya dan dunia nyata, saya pun t...