Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Agustus 2017

Fun, Faith, Fight Thesis!


Kewajban saya untuk melakukan sebuah riset demi mendapatkan gelar Magister Sains (M.Si) sepertinya akan perlu perjuangan yang kuat. Disaat banyak orang-orang berbondong-bondong meneliti pemasaran komoditi kopi, saya menantang diri sendiri untuk lebih berani mengambil fokus penelitian terkait pembiayaan yang ada pada Sistem Resi Gudang (SRG) kopi. Sistem Resi Gudang beberapa tahun terakhir ini menjadi hal yang menarik bagi saya karena dapat memberikan manfaat untuk petani. Hanya saja memang tidak banyak penelitian SRG di Indonesia ini dilakukan, terutama pada SRG wilayah Aceh. Kopi Arabika Gayo, menjadi komoditi yang mudah-mudahan membawa saya untuk menyelesaikan tesis dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. And my research pathway begins from the coldest town in Aceh, Takengon.


Saya berupaya memanfaatkan waktu liburan semester dengan menggarap proposal penelitian perlahan-lahan. Salah satu yang saya lakukan adalah dengan mengunjungi kota Takengon dan melakukan silahturahmi dengan beberapa narasumber untuk menunjang penelitian nanti. Setelah mengumpulkan informasi dengan bantuan kenalan asli Takengon, saya pun mengunjungi Koperasi Ketiara. Sebagai Koperasi Perdagangan Kopi (Kopepi) yang  terpercaya di Tanah Gayo, koperasi ini telah menghasilkan kopi arabika organik yang telah disertifikasi oleh Control Union dan Fairtrade Internasional (FLO). Koperasi ini juga memberdayakan petani kopi dengan memberikan pelatihan untuk menigkatkan SDM petani kopi dalam sistem agribisnis.

Selain mengunjungi Koperasi Ketiara di Umang, saya juga mengunjungi Gudang Sistem Resi Gudang (SRG) Kopi Arabika Gayo di Paya Ilang. Sayangnya, pada waktu itu tidak aktivitas dapat saya amati karena gudang tersebut sedang dalam kondisi kosong. Pak Rahman, ketua pengawas SRG mengatakan bahwa kopi yang disimpan di gudang tersebut berasal dari petani yang tergabung pada kelompok tani. Bergabungnya petani dalam kelompok tani akan lebih mempermudah proses transaksi SRG baik dari mulai proses keanggotaan, hingga pencairan kredit yang diajukan menggunakan resi gudang. Resi gudang sendiri merupakan sebuah dokumen resmi yang berisi detail komoditi kopi yang disimpan sehingga dapat dijadikan angunan kredit bank.


Perjalanan pertama saya ke Kota Takengon ini semoga menjadi awal yang baik untuk menyelesaikan tesis. Usai liburan semester, saya harus lebih serius dan giat agar harapan untuk mendapatkan gelar secepatnya tercapai. Perjalanan dan pengalaman saya menggarap tesis setahun kedepan akan saya awali dengan tulisan ini. Tag #funfaithfighthesis akan menjadi tag khusus menuju gelar M.Si. Semangat!

Senin, 10 Juli 2017

Potensi Wisata Pasar Tradisional


Dikenal sebagai The Kitchen of The World, hingga kini Thailand masih bertahan menjadi negara eksportir beras terbesar di dunia terutama untuk kawasan Asia. Perhatian lebih yang diberikan sejak masa Raja Bhumibol Adulyadej pada sektor pertanian menjadikan potensi pertanian berpengaruh positif pada perekonomian, menyerap 38,2% tenaga kerja serta memberikan kontribusi GDP sebesar 12,2%. Sedangkan World Travel & Tourism Council (WTTC) menyatakan bahwa sebesar 10% GDP sektor pertanian berpengaruh positif pada perekonomian. Sektor travel and tourism Thailand pun menjadi sektor kedua paling banyak menyerap tenaga kerja. Hal ini dikarenakan banyak lokasi wisata Thailand yang berbasis pertanian. Tercatat bahwa pada tahun 2016 wisatawan yang datang ke Thailand hampir mencapai 32 juta orang dan mayoritas wisatawan yang berasal dari China, Malaysia, Rusia dan Jepang. Angka ini masih terlalu tinggi dibandingkan Indonesia yang tahun 2017 ini baru menargetkan jumlah wisatawan mencapai 15 juta orang.


Melihat kesuksesan Thailand mengembangkan wisata berbasis produk pertanian, Indonesia sebenarnya memiliki peluang yang sama. Hanya saja pengeloaannya masih kalah cerdas dibandingkan Thailand. Pemerintah selama ini hanya berfokus pada satu titik, bukan pada keseluruhan sistem disektor pertanian. Pemberian subsidi benih dan pupuk masih terus berjalan sementara dari sisi penjualan produk pertanian belum optimal. Pemerintah terkesan setengah hati menangani permasalah pertanian dan tidak mempertimbangkan subsistem agribisnis keseluruhan.

Ada Apa dengan Pasar Tradisional?
  
Berbicara tentang sistem agribisnis, maka juga berbicara tentang proses dari hulu ke hilir. Maka faktor pendorong naiknya permintaan masyarakat kini tak hanya berorientasi pada kualitas produk, tapi juga daya tarik faktor lain, misalnya jenis pasar. Oleh karena itu keberadaan pasar sebagai tempat proses pertukaran barang, jasa dan informasi menjadi hal penting dalam manajemen pemasaran.
Baik pasar tradisional maupun pasar modern memiliki daya tarik yang berbeda. Sayangnya, masyarakat lebih memilih berbelanja di pasar modern dibanding di pasar tradisional. Padahal keberadaan pasar tradisional tidak hanya menjadi tempat untuk menjaga stabilitas pangan tapi juga sekaligus tempat memamerkan komoditi unggulan pertanian daerah dengan nuansa budaya sosial yang khas.
Thailand misalnya, pasar tradisional menjadi lokasi wisata yang diincar para wisatawan. Hal ini terbukti dari banyaknya lokasi yang “disulap” menjadi lokasi wisata, bahkan pasar tradisional sekali pun. Pasar Or Tor Kor yang berlokasi di Bangkok, tak jauh dari pasar mingguan Chatuchak, terkenal sebagai pasar segar peringkat keempat di dunia versi CNN Travel setelah pasar La Boqueria di Barcelona, Pasar Tsukiji di Tokyo dan Pasar Union Square di New York. Pasar ini menjadi surga berbagai macam buah eksotis tropis di seantero Thailand bahkan diseluruh Asia.
Pasar Or Tor Kor adalah contoh wisata pasar tradisional di Asia Tenggara yang patut dicontoh, terutama dari segi manajemen pemasaran agribisnis yang dirancang sangat strategis melalui sebuah pasar tradisonal. Pasar ini memperhatikan kebersihan dan kerapian lokasi, kualitas produk jual yang berstandar tinggi serta kuantitas produk domestik dan impor yang tak diragukan lagi. Pasar ini menjalankan sistem agribisnis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir dan memadukan potensi wisata yang prospektif. Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

Potensi Wisata Pasar Tradisional
            Pemerintahan Presiden Jokowi dalam program nawacitanya di tahun 2017 ini berencana untuk membangun 1.003 pasar tradisional hampir disetiap di Indonesia. Pasar-pasar tradisional dibangun dan dibenahi dan ditargetkan pemerintah menjadi pasar pariwisata dan tradisional terpadu yang berdaya saing. Pemerintah memastikan tidak hanya berfokus pada  pembangunan fisik, tapi juga pembenahan dari sisi manajemen pedagang, seperti manajemen stok, keuangan, tata letak barang dll.
Namun kini muncul tantangan lain. Keberadaan pasar modern yang semakin menjamur  mengurangi minat masyarakat untuk berbelanja di pasar tradisional. Maka kini Menko Perekonomian mengeluarkan kebijakan pembatasan zonasi minimarket yang kini berjumlah 14 ribu unit agar tidak merajalela di permukiman masyarakat. Regulasi terbaru ini dilakukan untuk melindungi pasar tradisional yang tergerus zaman. Tak hanya itu, pemerintah juga seharusnya perlu memastikan hubungan yang jelas antara petani atau pedagang dengan pasar tradisional. Memutuskan rantai pemasaran yang terlalu panjang serta mendorong petani untuk memperkuat bargaining position melalui collective action berupa kelompok tani.
Pasar tradisional dikatakan berhasil jika pasar tidak hanya menjadi tempat berbelanja tapi juga menjadi tempat wisata. Oleh karena itu, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah bersama-sama menjadikan pasar tradisional tak hanya untuk meningkatkan omset pedagang, tapi juga meningkatkan suasana ekonomi pasar yang kompetitif, berdaya saing, dan berpotensi wisata.


*Penulis adalah Mahasiswa Magister Sains Agribisnis IPB, Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP RI dan tergabung di Organisasi Mata Garuda Daerah Aceh (Saleum)
*Tulisan ini dimuat pada Rubrik Opini di Media Surat Kabar Republika Edisi 8 Juli 2017

Sabtu, 18 Februari 2017

Primadona Nasional yang Terlupakan

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Tak ayal Lirik lagu Koes Plus tetap populer membingkai Indonesia sebagai “tanah surga”. Namun kini agaknya julukan itu terkikis seiring waktu. Kekayaan sumber daya alam suatu negara belum menjamin kesejahteraan rakyatnya.
Melihat pergerakan bisnis, komoditas perkebunan seperti sawit, kopi dan karet memberikan angin segar pertumbuhan ekonomi hingga di tingkat perdagangan internasional. Tapi sayangnya, jika Indonesia hanya bertompang pada CPO di segi kuantitas, maka Indonesia akan tertinggal dari negara jiran yang berfokus di segi kualitas. Begitu juga halnya dengan kopi yang masih menimbulkan dilema bagi para petani kopi lokal. Pendapatan petani kopi masih belum bisa dikatakan seutuhnya sejahtera. Belum lagi pergolakan harga yang fluktuatif dan tingkat produksi yang tak menentu. Akan kah Indonesia akan terus mengandalkan komoditas perkebunan tersebut? Lalu apa komoditas potensial “tanah surga” lainnya?

Nasib Buah Tropis Indonesia
Dilalui oleh garis ekuator menjadikan Indonesia berada di daerah yang memiliki intensitas cahaya yang stabil disepanjang tahun dan bercurah hujan ideal. Biodeversiti bunga, sayur, obat-obatan, termasuk buah-buahan tropis tumbuh subur. Namun tak banyak yang mengetahui bahwa sebenarnya buah tropis Indonesia adalah aset nasional yang berdaya saing tinggi. Keanekaragaman buah tropis Indonesia sepantasnya menjadi primadona nusantara yang terlupakan eksistensinya.
Dari segi peluang, produksi buah-buahan lokal justru tak kalah berjaya di pasar global. Di tambah lagi volume eskpor buah Indonesia menurut data BPS 2015 terus mengalami peningkatan setiap tahun. Pisang misalnya, mencapai 7008 ton produksi. Kemudian disusul Mangga sebanyak 2464 ton dan Jeruk sebanyak 1999 ton. Pada kenyataannya melimpah-ruahnya produksi buah tropis ternyata tak sebanding dengan keadaan perekonomian dalam negeri. Indonesia justru dibanjiri oleh buah-buahan impor. 


Fakta lain menunjukkan bahwa masih banyak buah-buah di pasar tradisional yang berkualitas kurang baik. Ini tentu menurunkan minat pembeli. Pemupukan yang tidak tepat, packaging yang tidak sesuai standar serta mutu yang rendah menjadi kendala di pasar domestik. Konsumen yang cerdas tentu akan lebih memilih buah segar dan harganya juga terjangkau. Produk impor yang murah dan dikemas menarik menjadi pilihan yang menggiurkan. Ini salah satu faktor mengapa komoditas hortikultura masih jalan ditempat dan belum bisa aman melejit ke pasar global. Dibandingkan dengan dengan importir buah terbesar seperti Cina, Indonesia masih kalah dalam hal efisiensi produksi.
Pada 17-20 November lalu di Senayan, Jakarta, Kementerian Pertanian bersama IPB menggelar pameran buah Indonesia. Pesta buah bertaraf internasional ini memunculkan beragam buah eksotis Indonesia yang langka ditemukan. Kegiatan ini  memperkenalkan buah nusantara di pasar global, meningkatkan ekspor dan mengurangi ketergantungan buah impor. Selain itu juga diharapkan mampu memancing masyarakat lokal untuk menyadari kekayaan SDA dalam negeri. Pemerintah berperan penting untuk meningkatkan kesadaran dan membuka mindset masyarakat terkait peluang agribisnis dari komoditas holtikultura. Selebihnya tentu perlu sinergi beberapa pihak lain untuk mencapai peluang agribisnis yang oke punya.

Mendukung Agribisnis Buah Tropis
Menurut data FAO, Indonesia berada diperingkat 20 besar eksportir buah di dunia. Ini membuktikan bahwa Agribisnis komoditas hortikultura tak kalah menggoda. Terdapat 12 macam buah tropis asli Indonesia yang sudah diakui dunia yaitu Jeruk Bali Keprok, Durian, Mangga, Manggis, Alpukat, Nanas, Rambutan, Salak, Pisang, Pepaya, Melon dan Semangka. Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman varietas buah tropis yang tak ditemukan di negara lain.
Komoditas pertanian perlu dikembangkan  melalui  agribisnis yang terintegrasi. Kita perlu memperbaiki keseluruhan proses mulai dari tahapan di hulu hingga hingga hilir. Optimisme pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pengeskpor buah utama dan terbesar di dunia akan mendekati titik cerah jika dijalankan dengan baik. Potensi agribisnis buah tropis diyakini tak hanya meningkatkan perekonomian lewat perdagangan internasional, tapi juga diharapkan mampu menumbuhkan potensi agrowisata. Sejak dulu buah-buahan sudah menjadi bagian dari kultur Indonesia karena hampir semua acara budaya menggunakan buah, baik untuk suguhan maupun bagian dari ritual peribadatan. Indonesia seharusnya menjadi peluang besar dalam agribisnis buah tropis global.
Mewujudkan hal tersebut tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu sinergi dari banyak pihak untuk mewujudkannya. Pemerintah diharapkan memberikan dukungan penuh pada perkembangan pasar buah domestik. Pemberian subsidi bagi para petani, penyediaan bibit unggul dan gencar melakukan promosi pada komoditas unggulan. Masyarakat umum pun perlu memahami potensi daerahnya sendiri. Para akademisi juga dapat memberikan kontribusinya lewat keterampilannya dalam hal genetika untuk menciptakan bibit-bibit unggul. Sudah saatnya kita membuktikan penggalan lirik Koes Plus tak hanya sekedar lirik dan menobatkan buah tropis sebagi komoditas primadona baru Indonesia. Semoga. 



-------------
*Tulisan ini di publish di Majalah Warta Unsyiah Edisi 502 Januari 2017

Sabtu, 22 Oktober 2016

Change

“If it doesn’t challenge you, it does’t change you”

Ini salah satu quote yang paling saya favoritkan hingga sekarang. Apalagi quote ini relevan dengan keadaan sekarang, yaitu menjadi seorang perantau. Perantau yang kini berjuangan menuntut ilmu agar ada peningkatan kualitas hidup.

Hal yang paling saya khawatirkan adalah ketika saya tidak bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Maka karena itu perlu adanya tantangan hidup agar timbul suatu perubahan. Merantau adalah salah satu cara untuk merasakan sebuah “perubahan”. Jika kita tidak memberi tantangan untuk diri sendiri, tentu tidak akan mengubah suatu apapun dari diri kita.

Dua bulan berlalu sudah dan kini menjadi warga (sementara) di kota Bogor. Saya menjadi mahasiswa pada program studi Agribisnis IPB sejak awal September 2016. Terpilih menjadi penerima beasiswa LPDP juga anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT. Alhamdulillah, suatu syukur yang tak terkira bisa mewujudkan mimpi menuntut ilmu ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Allah memberikan saya peluang untuk bisa melihat lebih kehidupan yang lebih nyata melalui perbedaan adat, kultur, bahasa dan cuaca daerah lain selain di Aceh.

Sejak memperoleh kepastian berkuliah di IPB, saya sengaja tidak ingin mencari tahu deskripsi riil terkait situasi dan kondisi Kota Bogor. Saya membiarkan pengetahuan dan segala sesuatu tentang Bogor berjalan seiring waktu secara natural. Hanya garis besarnya saja yang saya kepoin dari senior yang terlebih dulu tinggal di Bogor. Mengapa demikian? karena menurut saya, itulah yang membuat sebuah tantangan dan petualangan hijrah ke daerah baru menjadi semakin bermakna. Terkadang pun apa  yang kita dengar dari orang lain akan berbeda feel nya dengan apa yang kita lihat dan kita rasakan secara nyata. Eciee. Haha. Let it be to be a wild world! I was really excited to get a new experience.

Sabtu, 20 Desember 2014

Cerita dibalik Indrapuri


Pada masa kesultanan Sultan Ali Mughayat Syah, diawal masa pemerintahan kesultanan, Aceh Besar berasal dari tiga daerah bekas kekuasaan kerajaan hindu yaitu Indrapuri, Indrapatra, dan Indrapurwa yang kemudian dikenal dengan istilah Aceh Lhe Sagoe. Sebagai salah satu daerah yang termasuk dalam Aceh Lhe Sagoe, Indrapuri menjadi daerah yang tidak hanya menarik dalam segi sejarah, tapi juga disetiap lini kehidupan didalamnya.

Indrapuri adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Aceh Besar yang memproduksi padi terbesar setelah Kecamatan Montasik dan Kecamatan Seulimum. Hasil produksi padi di Kecamatan Indrapuri pada tahun 2012 adalah 28.188 ton (BPS). Hasil yang sangat fantastis, bukan? Ditambah lagi, menurut data dari Badan Ketahanan Pangan Aceh tahun 2011 menunjukkan bahwa Aceh mampu mencapai surplus beras hingga 497.457 ton. Kecamatan Indrapuri menjadi daerah yang memberikan kontribusi dalam hal produksi beras di Aceh.
Sekelumit cerita inspirasi muncul dari sebuah perkampungan kecil di Indrapuri. Daerah yang terkenal dengan hamparan sawah hijau ini ternyata menyimpan nilai kehidupan yang tak banyak diketahui orang. Dibalik panorama beludru padi hijau yang indah, banyak raut wajah berpeluh yang sedang berjuang hidup demi sesuap nasi. Aku, seorang mahasiswa pertanian merasa beruntung karena menemukan the real life dari tiap canda tawa dan kesedihan mereka, para petani padi.

Kata orang, skripsi memberikan “ruh” yang berbeda disetiap prosesnya. Memang benar. Skripsi hanyalah secuil dari tantangan besar yang akan muncul dimasa depan. Mengapa? Karena skripsi sebenarnya menyimpan pesan moral yang luar biasa jika prosesnya benar-benar dinikmati. Selama lebih dari satu bulan, akhirnya aku menyelesaikan tahap pengumpulan data primer disana. Penelitian akhir yang menguras waktu, biaya, dan tenaga ini memberiku pengalaman yang sangat berkesan.

Terdapat tiga kampung yang menjadi daerah penelitian. Kampung Cureh, Kampung Cot Kareung dan Kampung Mureu Bueng Ue. Kampung tersebut adalah kampung yang dinobatkan menjadi kampung dengan program Demapan (Desa Mandiri Pangan) oleh Kementerian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan provinsi. Mayoritas penduduk di daerah tersebut bisa dikatakan masih tergolong miskin.

Banyak sekali lika-liku berpeluh lelah ketika menjelajahi kampung-kampung ini. Proses pertama yang harus aku lalui sebelum berani memasuki perkampungan adalah mempersiapkan berkas seperti surat keterangan penelitian, kuesioner dan note book. Persiapan yang tak kalah pentingnya adalah persiapan finansial. Tentu saja dengan jarak daerah penelitian yang lumayan jauh dari Banda Aceh, aku tetap harus mempertimbangkan isi dompet. Untungnya aku selalu mencatat semua pengeluaran sehingga segala kebutuhan bisa aku pertimbangkan dengan baik.

Minggu, 06 April 2014

Dilema Industri Kelapa Sawit

Ketika Fakta Berbicara
            Tak dipungkiri lagi, kini kelapa sawit menjadi tanaman yang memiliki prospek tinggi dalam hal ekonomi. Indonesia adalah salah satu negara penghasil minyak kelapa sawit dan menjadikan minyak kelapa sawit sebagai penyumbang devisa terbesar.
           Meskipun perkebunan kelapa sawit menyerap 2,5 juta tenaga kerja sedangkan bisnisnya menyerap 3,06 juta tenaga kerja, pendapat pro dan kontra terhadap industri kelapa sawit ini tetap timbul. Ada yang pro dengan alasan dapat meningkatkan perekonomian, ada juga yang kontra karena kelapa sawit membawa isu lingkungan yang negatif. Berikut beberapa fakta yang memaparkan bahwa kelapa sawit tidak selamanya memberikan dampak negatif dan “mengerikan” bagi lingkungan.
1.      Sebagai Bahan Baku Diesel
Emisi gas rumah kaca dar minyak kelapa sawit lebih rendah dibandingkan dengan komoditas lain. Emisi rumah kaca kedelai adalah 1387 kg karbon sedangkan kelapa  sawit hanya setara dengan 835 kg karbon
2.      Menyerap Karbon Lebih Banyak
Kelapa sawit memiliki daur hidup 25-30 tahun yang mampu menyerap karbon lebih banyak seperti hutan alam. Oleh karena itu kelapa sawit sangat ramah lingkungan karena menjadi kanopi alami.
3.      Sebagai Bahan Baku Energi yang Ramah Lingkungan
Penggunaan minyak kelapa sawit dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sehingga mengurangi emisi gas rumah kaca
4.      Limbah Kelapa Sawit dapat Dimanfaatkan
Selain produk utama CPO (Crude Palm Oil) yang dapat diolah menjadi beberapa produk, limbah kelapa sawit juga dapat digunakan untuk pupuk cair dan pupuk padat (kompos), mulsa pakan ternak, arang aktif, dsb. Pemanfaatan limbah ini menjadikan industri kelapa sawit menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan.


Fakta yang disebutkan diatas hanya beberapa dari fakta-fakta yang bersumber dari Ditjen Perkebunan dan Dinas Kehutanan. Meskipun kenyataan ini sudah terbukti, namun masih ada pihak yang menganggap bahwa perencanaan industri sawit adalah suatu bencana, terutama jika industri kelapa sawit di optimalkan di Aceh. Mengapa? Seorang alumni Fakultas Pertanian Unsyiah berpendapat, “Kelapa sawit di Aceh tidak perlu intensif. Masih ada industri olahan tanaman perkebunan yang bisa diintensifikasikan seperti industri olahan kopi, kakao, dan karet. Selain itu, perkebunan di Aceh juga sulit dilakukan karena belum ditetapkan sistem kebun plasma sehingga berefek pada bahan baku dan olahan” (Suryadi, 3/4/2014).

Pendapat lain mengatakan, “Dampak negatif dari kebun sawit itu ada 5 hal, yaitu : penyorobotan lahan penduduk, tergusurnya plasma nutfah, persaingan sumber pangan, pengurasan air tanah, dan pemanasan global” (Heri Djuned, 3/4/2014)

Baik, saya tidak mengatakan pendapat ini salah, tapi pendapat ini adalah pendapat yang timbul dari perspektif individu yang berbeda. Jika Aceh menjadi contoh yang spesifik, wajar saja, karena banyak hal yang dapat dijadikan bukti. Seperi kasus rawa tripa dan perebutan hak tanah antara warga dengan salah satu perusahaan kelapa sawit di Aceh.

Lalu, Industri Kelapa Sawit Intensif di Aceh, Amankah?
Menurut Sekjen Apkasindo (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) dalam Lokakarya “Industri Perkebunan Kelapa Sawit yang Berkelanjutan dan Menyejahterakan” di Banda Aceh, Asmar Arsjad mengatakan bahwa industri perkebunan kelapa sawit sangat strategis diusahakan karena penghasilannya cukup besar, baik untuk PAD (Pendapatan Hasil Daerah) maupun untuk menyejahterakan masyarakat.
Ya, saya setuju dengan pendapat ini. Tapi, lagi-lagi , isu terhadap lingkungan tidak akan reda. Bagi saya ini juga diakibatkan karena komunikasi. Ada media dan jurnalis yang terlalu “lebay” memberitakan isu kelapa sawit sehingga memberikan respon yang signifikan terhadap aktivis maupun komunitas lingkungan. Seharusnya, jika memang kelapa sawit bersifat merusak karena menyerap banyak air tanah, maka menurut Asmar Asjad, wartawan harus langsung ke lapangan dan jangan terlalu ekstrim memberitakan sesuatu. Lalu, amankah? Bagi saya semuanya akan aman jika perusahan, masyarakat, dan pemerintah satu pikiran. Dan tentu saja ada yang harus dikorbankan demi suatu tujuan. Namun perlu dipikirkan lagi bagaimana pengorbanan tersebut tidak sebelah pihak dan resiko yang diperoleh adalah resiko yang paling kecil.

3P, Implementasi Industri Kelapa Sawit Berkelanjutan
            Nah, apa yang harus diperhatikan agar tercipta “Principle Of Sustainable Development” untuk industri kelapa sawit? Kita perlu mengingat prinsip 3P (People, Planet, Profit). People (Socially Acceptable), disini maksudnya suatu pembangunan industri yang ideal itu harus bisa menjaga hubungan sosial dengan masyarakat. Caranya   yaitu dengan menghargai hak-hak penduduk setempat, tidak menentang hukum adat, dan memanfaatkan sumber daya sehingga muncul agribinis yang diterima oleh masyarkat. Kemudian Planet (Environtmentally Friendly), disini industri dituntut untuk bisa menjadi Eco-Industry yaitu dengan cara optimum penggunaan pupuk, pengendalian hayati hama dan penyakit, konservasi energi (bisa dijadikan biodiesel), dan meminimalisir limbah. Dan yang terakhir adalah Profit (Economically Viable), yaitu perbaikan produktivitas, peningkatan efisiensi SDA/SDM dan pemasaran. Pemasaran yang dimaksud adalah perluasan pasar dan diversifikasi produk.
Jika 3 ini sudah bisa kita optimalkan, tidak ada masalah kan? Masalahnya sekarang adalah kita sebagai masyarakat terlalu banyak beropini dan selalu menyalahkan pemerintah. Pemerintah memang pihak yang mempunyai andil dalam suatu peraturan. Tapi yang menjalankannya adalah masyarakat dan perusahaan tertentu. Jika 3 stakeholder ini saling beradu pendapat dan menyalahkan, tentu tidak ada untungnya. Malaysia dengan SDM yang lebih baik dari Indonesia akan tetap merajai produksi CPO dan mensejahterakan bangsanya. Kita? Tentu juga bisa.
Saya hanya menyatukan perbedaan pendapat yang sering saya dengar. Mudah-mudahan negeri kita ini terus terjaga dengan bangsanya yang mau membangun negeri. Yaitu bangsanya yang mau berpikir positif dan bijak menyelesaikan suatu permasalahan. Dilema perkebunan dan industri sawit ini mungkin memang tidak akan habisnya sampai dimasa depan. Tapi setidaknya kita tahu apa yang terjadi dan berharap kita lebih optimis menyikapi ini. Bagaimana? Siap membangun industri yang suistainable?




Kamis, 05 Desember 2013

Blue Gold

Kemarin saya mengikuti mata kuliah Ekonomi Pengairan di kampus. Terasa sangat menarik pembahasan kali ini. Dosen membahas tentang Sumber Daya Air dan hubungannya dengan ketahanan pangan suatu negara.

Istilah lain air adalah Blue Gold. Si biru yang berharga. Berharga karena memang tanpa air kita tidak akan dapat hidup. Namun kita sering acuh tak acuh denga SDA satu ini. Kita sering boros pemakaian air, tidak menyadari akan penting kebersihan air, tidak menjaga setiap sumber mata air, dan mengganggu saluran air.


Air adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan. Sekarang ini, air menjadi sumber daya alam yang lambat laun akan semakin langka. Ini terbukti persedian air bersih dibeberapa belahan bumi lain masih sangat kurang. Seperti di Sudan dan Somalia. Masyarakat di negera tersebut rela berjalan berkilo-kilo untuk sekedar mendapatkan hanya sekitar 1 liter air. Sedangkan kita? Indonesia merupakan negara yang termasuk mempunyai sumber daya air yang berlimpah.

Tapi kawan, pernahkah kita sadari nikmat yang Tuhan berikan itu? Justru dengan semakin berlimpah, banyak dari kita yang malah boros menggunakan air, mencemari air. Kita sama sekali tidak menyadari bahwa air adalah sesuatu yang penting!


Sama seperti halnya udara. Udara yang sedang kita hirup sekarang ini masih gratis. Tapi ada beberapa negara lain yang terpaksa melakukan perdagangan karbon akibat suplai oksigen yang semakin kurang. Pernah menonton film Wall-e? Terlihat secara animasi bagaimana keadaan bumi tanpa sebatang pohon. Saya rasa film ini sangat mendidik para generasi muda untuk bisa melestarikan lingkungan lewat menanam pohon.

Air pada dasarnya mempunyai siklus hidrologi yang sama sekali tidak merugikan manusia. Mulai dari evaporasi, kondensasi, dan presipitasi. Namun jika setiap siklus tersebut menjadi macet dan prosesnya menjadi lebih cepat terjadi, maka air justru akan menjadi suatu bencana. Misalnya banjir, erosi, dan bencana lain. Hal ini akibat ulah manusia yang tidak dapat mengendalikan secara balance.

Sekarang ini, permintaan air bersih semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi dan ekonomi. Selama 10 tahun, maka akan tumbuh 3 Milyar penduduk. Bayangkan saja, apa yang terjadi beberapa puluh tahun yang akan datang? Di Banda Aceh saja penduduk semakin banyak. Namun suplai air berkurang.

Seperti yang kita rasakan sekarang, pertumbuhan ekonomi masyarakat juga semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan adanya perubahan pendapatan. Perubahan pendapatan yang ada pada masyarakat akhirnya akan mempengaruhi  tingkat konsumsi masyarakat juga. Berdasarkan hukum Maslow, bahwa semakin tinggi pendapatan seseorang, maka akan semakin tinggi dan bervariasi konsumsi orang tersebut.

Populasi dan ekonomi masyarakat yang semakin meningkat mengakibatkan air semakin berkurang. Apa jadinya jika air terus berkurang? Mungkin kita bisa mengambil analogi lebay seperti salah satu iklan di televisi. Untuk minum kopi saja, malah kopinya yang menempel di gigi.

Nah, menjadi hal yang mengerikan bukan? Untuk mencuci baju tidak ada air, untuk mandi tidak ada air, dan yang paling parah kita tidak bisa minum air bersih! Bersyukurlah bahwa sebenarnya Indonesia memiliki SDA air yang melimpah. Hanya saja sayangnya kita tidak menjaga salah satu free goods tersebut. Di jawa, banyak sekali tempat yang tidak memiliki air bersih, mereka mencuci baju di sungai bahkan juga menjadikan sungai sebagai MCK mereka. Sangat menyedihkan.

Senin, 08 April 2013

Peluang Peningkatan Pengembangan Agribisnis Jagung Indonesia



Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi jagung selama pada 2011 mencapai 17,23 juta ton pipilan kering atau turun 5,99% dibandingkan dengan 2010. Jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan. Daerah-daerah penghasil utama tanaman jagung di Indonesia adalah, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, D.I. Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Khususnya di Daerah Jawa Timur dan Madura, budidaya tanaman jagung dilakukan secara intensif karena kondisi tanah dan iklimnya sangat mendukung untuk pertumbuhannya. Di Indonesia pada tahun 2004 produksinya baru 11,225 juta ton, pada 2005 meningkat menjadi 12,52 juta ton. Dan prediksi untuk tahun 2006 diperkirakan 12,13 Juta ton.

Pada kesempatan ini didalam mewujudkan suatu sistem pertanian yang terpadu, bahwa perlunya peningkatan produksi agribinis jagung untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan apabila memungkinkan dengan kapasitas produksi yang besar dapat membuka jaringan pasar ekspor Internasional. Apabila dilihat dari kondisi lahan, iklim serta kapasitas produksinya Indonesia cukup mampu didalam peningkatan agribisnis jagung untuk memenuhi permintaan daripada konsumen domestik dan Internasional. Dalam hal ini bagaimana sttrategi dan pelaksanaan pertanian yang digalakkan dengan integritas dan pemanfaatan lahan serta budidaya dan pertumbuhannya. Menurut survey dan pencatatan USDA, Departemen Pertanian, USA tahun 2005 stoknya masih 122,6 juta ton. Namun, sampai Oktober 2006 yang lalu tinggal 88,1 juta ton.


Menurut analisa ternyata produksi jagung dalam negeri memang belum mampu mencukupi kebutuhan bahan baku industri pakan ternak, untuk itulah dengan berbagai upaya dalam memenuhi permintaan konsumen agribisnis jagung ini, Pemerintah Indonesia telah mencanangkan swasembada jagung pada 2007, dengan target produksi 15 juta ton dikarenakan kebutuhan konsumsi dan industri pakan ternak yang melonjak. Diharapkan dalam pencanangan swasembada agribisnis jagung 2007 dapat berjalan dengan baik sesuai dengan mutu bibit tanaman jagung yang berkualitas didalam pengembangannya.

Rabu, 15 Februari 2012

Peran Generasi Muda Dalam Pembangunan Pertanian

Peran generasi muda untuk sektor pertanian memang sangat penting. Karena dengan hadirnya generasi muda tersebut diharapkan dapat meningkatkan sektor pertanian.Tentunya dengan begituIndonesiamakin makmur dan sejahtera.

Namun yang terjadi sekarang sektor  petanian mengalami penuaan. Hal tersebut tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Jika ini terus terjadi tentu akan menghambat sektor pertanian,penuaan pada sektor pertanian diIndonesiasudah terjadi dimana-mana.Apa yang akan terjadi nantinya jikalau tidak ada peremajaan atau pembenahan pertanian di Indonesia ini.
Tapi apa yang dilakukan para pemuda-pemudaIndonesia?.Saat ini generasi muda lebih memilih jurusan lain selain pertanian, karena pola fikir yang menganggap bahwa petani itu pekerjaan kasar dan identik dengan kemiskinan. Jurusan lain yang dianggap lebih menjanjikan untuk masa depan dan lebih bergengsi yang saat ini diminati. Padahal jika dilogika kita bisa makan karena panennya petani. Tanpa mereka kita kekurangan bahan makanan pokok. Jangan sampai kita sebagai bangsaIndonesiayang memiliki lahan yang subur dan luas ini.Dijadikan lahan pertanian malah mengimpor beras dari Negara lain.

Selain lahan yang terus menyempit, infrastruktur yang rusak, pertanian diIndonesiajuga punya masalah serius dalam perkara sumber daya manusia. Di Jawa tengah 40 persen petani berusia diatas 50 tahun. Usia yang tidak lagi produktif untuk melakukan pekerjaan-pekarjaan di bidang pertanian ini tentu saja menuntut adanya regenerasi sehingga bisa menjamin tetap bergulirnya aktivitas pertanian yang merupakan sumber utama penghidupan sebagian besar rakyatIndonesia, terutama di Jawa barat.

Namun demikian, generasi muda, yang semestinya menjadi generasi penerus, sangat jarang yang memilih pertanian sebagai mata pencaharian mereka. Di desa, kaum muda yang umumnya lahir dan dibesarkan di keluarga petani, sebagian besar enggan untuk melanjutkan profesi orang tua mereka untuk menjadi petani. Mereka lebih memilih pekerjaan ‘non tanah’ sebagai sumber penghidupan. Misalnya menjadi buruh pabrik, kuli bangunan, atau tukang ojek. Sebagian dari mereka tergoda untuk pergi mengadu nasib di kota-kota besar sepertiJakarta. Hal ini bisa dilihat diantaranya dari fenomena urbanisasi tahunan pasca lebaran. Puluhan ribu orang dari desa berbondong-bondong kekotaJakarta. Dikotamereka biasanya bekerja di sektor informal seperti pedagang kakilima, pembantu rumah tangga, menjadi buruh bangunan, adapula yang terpaksa menjadi pengamen jalanan.

Peran pemuda dalam pengembangan pertanian sangat berpengaruh sekali, peningkatan taraf rakyat desa yang sebagaian pekerjaannya sebagai petani juga sangat berpengaruh. Peran pemuda juga sangat berpengaruh dalam penyebaran informasi bagi para petani. Selain itu pemuda juga harus dibekali cara-cara pertanian yang baik dan benar, sehingga sewaktu-waktu mereka dibutuhkan, mereka telah siap.

Untuk meningkatkan peran pemuda dalam perkembangan pertanian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1.       Peningkatan sumber daya manusia terutama pemuda dalam peran aktif di sektor pertanian.
2.       Merubah pola fikir tentang petani itu kasar dan identik dengan kemiskinan dengan tanpa petani kita tidak bisa makan.
3.       Peningkatan taraf hidup masyarakat desa sehingga dapat bersaing dengan masyarakatkota.
4.       Mengembangkan system pertanian masyarakat desa dengan teknologi modern.
5.       Pemuda yang harus lebih aktif dan selektif dalam memilih jurusan di Universitas.
6.       Mengembangkan akses informasi tentang pertanian.
7.       Pemuda harus bisa lebih giat dalam peningkatan pertanianIndonesia.
8.       Pemuda juga harus sadar bahwa kita tidak bisa hidup tanpa adanya petani.

http://blog.umy.ac.id

Persoalan Pokok Pembangunan Pertanian

Pembangunan pertanian menjadi topik yang selalu menjadi permasalahan yang tidak berujung. Terutama untuk sektor pertanian yang ada di Indonesia. Sebagai negara berkembang, Indonesia masih memiliki banyak kelemahan dalam hal menciptakan pembangunan yang baik di bidang pertanian. Ada beberapa persoalan pokok yang menjadi alasan konkrit dalam pembangunan pertanian, yaitu sebagai berikut :
1. Pencapaian kecukupan pangan yang dihasilkan dari produksi domestik dan tidak mengandalkan kepada impor

2. Menghasilkan bahan baku industri guna mendukung berkembangnya agro-industri yang berdaya saing. Seperti volume, kualitas, kontinuitas dan harga.
3. Peningkatan pendapatan petani dan pengentasan kemiskianan. Peningkatan produksi tidak sama dengan peningkatan pendapatan petani. Rendahnya harga yang diterima petani karena struktur pasar komoditi pertanian dan rendahnya daya tawar petani.


4. Peningkatan produktivitas tenaga kerja pertanian.
5. Peningkatan investasi pertanian. Maksudnya adalah agribisnis membutuhkan modal atau investasi dalam membuka usaha.
6. Optimalisasi sumber daya pertanian.
Dituntut mempunyai kemampuan yang didukung oleh teknologi untuk memanfaatkan lahan-lahan kurang subur, marjinal dan berskala kecil.
7. Pembangunan pertanian berkelanjutan.
Yaitu upaya pengelolaan sumber daya dan usaha pertanian melalui penerapan teknologi dan kelembagaan secara berkesinambunugan.


Selasa, 26 April 2011

Alat dan Mesin Pertanian Pascapanen

Nah, ini dia beberapa gambar alat dan mesin pascapanen yang biasa digunakan dalam bidang pertanian. gambar-gambar berikut diambil saat praktikum di laboratorium mekanisasi pertanian fakultas pertanian Universitas Syiah Kuala. Terima kasih pada para asisten, yang udah memberi izin untuk jeprat-jepret di lab..hehhe...so, Check these out! ^^

Reaper
Reaper ini berfungsi utnuk memotong padi atau rumput. Dapat dilihat pada gambar diatas bahwa arah potongannya ke arah kanan. hal ini sengaja didesain sedemikian rupa agar mempermudah operator agar dapat memungut hasil tumpukan potongan menjadi lebih mudah.


Combine
Nah, kalau yang diatas ini, namanya adalah Combine, combine ini mempunyai fungsi yang komplit..komplit..dan komplit!hheehee..mulai dari memotong padi, merontokkan sampai mengarungkan padi lhoo!operatornya juga bisa santai..tinggal duduk aja di depannya..toh, bisa sampai proses pengarungan beras..^^.

Threser


Threser
Wah, ada dua threser?yang benar mana?mmm..sama saja...dua gambar diatas adalah Threser. Hanya bahan bakarnya saja yang berbeda. Threser ini dipergunakan untuk merontokkan padi.

Integrated Thresing Grading Machine
Bentuknya besar...seperti mesin waktu yaa?hehhee...bukan, itu adalah ITGM. Nah, ITGM ini fungsinya untuk merontokkan padi, menyeleksi beras yaitu antara beras yang baik dan beras yang berkualitas tidak baik sekaligus dapat mengupas gabah. namun perlu diperhatikan, kadar air pada beras tidak boleh kurang dari 14 persen. Jika kurang, maka akan mengakibatkan beras menjadi patah. See?^^

begitulah gambar-gambar alat dan mesin pada pascapanen. Fungsi alat dan mesin pasca panen itu sendiri digunakan agar mempercepat proses penanganan pasca panen, mengurangi jerih payah petani, menekakan ongkos kerja petani dan untuk meningkatkan produksi pangan dan mempertahankan mutu.


Oke, Heeem, kalau tadi gambar beberapa alat dan mesin, maka berikut adalah beberapa fotoku dan teman-teman yang lain saat praktikum..hehe, kebetulan saat itu asistennya keluar, jadi kami ambil kesempatan untuk sedikit berpose ria bersama alat-alat pasca panen..Enjoy these!






Those all guys!^^ ..... stay cool.....





Sindiran Heboh: Yang Gaji Kamu Siapa?

Sejak video seorang Menteri Kominfo Rudiantara, beberapa waktu lalu beredar dan menghebohkan sejagat dunia maya dan dunia nyata, saya pun t...