Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Februari 2017

Jalan Kaki Santai Bersama IKAMAPA

Sudah lama sejak kegiatan Fun Running yang diadakan Forum Wacana IPB beberapa bulan lalu, saya tidak menikmati jalan pagi santai bersama teman-teman lagi. Biasanya saya sering berjalan kaki sendiri setelah shalat subuh mengelilingi kampus IPB. Terkadang saya lebih senang berolahraga sendiri daripada beramai-ramai. Tapi kali ini beda, pada Minggu yang lalu (12/2/2017), saya dan beberapa teman lain dari Ikatan Keluarga Mahasiswa Pascasarjana Aceh (IKAMAPA) melakukan kegiatan jalan santai.
Agenda jalan santai ini adalah kegiatan yang dibuat oleh Divisi Minat dan Olahraga IKAMAPA. Setahu saya sih, hampir setiap kepengurusan membuat agenda jalan kaki santai. Sambil mengisi waktu, tentu saya mengambil kesempatan ini. Berolahraga sambil bersilahturami dengan anggota IKAMAPA yang lain.
Meski cuaca kurang mendukung pagi itu, tapi jalan kaki tetap dilakukan. Kami menikmatinya dengan senang hati. Seru juga ternyata bisa jalan kaki bersama ya. Olahraga dapat, silahturahmi pun dapat. Kebersamaan seperti ini yang seharusnya bisa terus dijaga.


Rabu, 07 Desember 2016

Muslimah Mutiara Generasi

Apa perbedaan antara talenta dan skill?
Ibu Ummu Salamah, seorang Entrepreuner, di acara talkshow Muslimah Day (3/12/2016) menjelaskan perbedaan kata “talenta” dan “skill”. Talenta bermakna sesuatu anugerah yang diberikan oleh Allah yang ada pada diri setiap manusia bahkan sejak kita bangun dari tidur. Kebalikannya, skill adalah sesuatu yang tidak serta merta ada disetiap diri manusia. Skill perlu diasah dan dipelajari agar potensi diri bisa muncul. Nah, beruntungnya, perempuan dianugerahi talenta yang sungguh luar biasa. Sebagai muslimah, saya bersyukur. Alhamdulillah

Perempuan, baiknya jeli dalam melangkah. Ya tentu melangkah menuju masa depan yang baik. Muslimah perlu memperbaiki akhlak dan pendidikan menjadi lebih baik, menyeimbangkan kesehatan fisik dan mental, bahkan perempuan juga perlu cerdas dalam memilih calon pendamping hidup. Naah loh. Hubungannya dengan jodoh apa? Oh jelas ada dong.

Sebelum seorang perempuan menjadi seorang ibu untuk anak-anaknya, tentu perlu pendamping hidup yang bisa mengayomi dan bersama-sama melangkah di masa depan. Jodoh adalah cerminan diri kita sendiri. Maka jika ingin mendapat jodoh yang baik, kita perlu memperbaiki diri menjadi lebih baik. 

“Makna sukses tidak hanya sebatas di dunia tapi juga harus sukses di akhirat”, ujar Bu Agusniar, seorang social worker sekaligus Direktur Yayasan Ruhamaa

Benar,cantik! 
Selama ini kita hampir lupa bahwa masih ada kehidupan setelah di dunia, yaitu kehidupan di akhirat. Mungkin karena itu juga acara talkshow ini tidak hanya mengundang akademisi dan entrepreneur, tapi juga social worker. Tidak hanya berfokus pada peningkatan profit semata atau indeks prestasi. Tapi seorang social worker akan memberikan kontribusinya untuk masyarakat yang pahalanya terus mengalir untuk tabungan amal. Muslimah yang tidak hanya melakukan suatu perubahan untuk dirinya sendiri, tapi juga memberikan manfaat untuk orang lain.

Muslimah sebagai mutiara generasi akan meningglkan banyak hal yang bermanfaat untuk keluarga, bangsa dan negara jika dipahami betul esensinya. Mengikuti acara ini saya~sebagai muslimah, banyak belajar bagaimana seharusnya rasa syukur~yang berlimpah~ ditanamkan dan bagaimana menjadi pribadi yang berakhlakul karimah.

Muslimah Day adalah agenda besar yang dilaksanakan oleh Himmpas (Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana) IPB dengan mengusung tagline “Muslimah Mutiara Generasi”. Saya menyempatkan diri menghadiri acara ini meski hanya duduk dan mendengar selama beberapa jam.

Baidewei, pulang dari talkshow, saya diberi kerudung syar'i cuma-cuma nih dari panitia. Wah, lumayan nambah koleksi kaan. Hehe. Selain membuka wawasan, ada manfaat lain yang didapatkan. Weekend pun menjadi bermanfaat. Alhamdulillah. Trims Himmpas IPB!


Sabtu, 22 Oktober 2016

Change

“If it doesn’t challenge you, it does’t change you”

Ini salah satu quote yang paling saya favoritkan hingga sekarang. Apalagi quote ini relevan dengan keadaan sekarang, yaitu menjadi seorang perantau. Perantau yang kini berjuangan menuntut ilmu agar ada peningkatan kualitas hidup.

Hal yang paling saya khawatirkan adalah ketika saya tidak bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Maka karena itu perlu adanya tantangan hidup agar timbul suatu perubahan. Merantau adalah salah satu cara untuk merasakan sebuah “perubahan”. Jika kita tidak memberi tantangan untuk diri sendiri, tentu tidak akan mengubah suatu apapun dari diri kita.

Dua bulan berlalu sudah dan kini menjadi warga (sementara) di kota Bogor. Saya menjadi mahasiswa pada program studi Agribisnis IPB sejak awal September 2016. Terpilih menjadi penerima beasiswa LPDP juga anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT. Alhamdulillah, suatu syukur yang tak terkira bisa mewujudkan mimpi menuntut ilmu ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Allah memberikan saya peluang untuk bisa melihat lebih kehidupan yang lebih nyata melalui perbedaan adat, kultur, bahasa dan cuaca daerah lain selain di Aceh.

Sejak memperoleh kepastian berkuliah di IPB, saya sengaja tidak ingin mencari tahu deskripsi riil terkait situasi dan kondisi Kota Bogor. Saya membiarkan pengetahuan dan segala sesuatu tentang Bogor berjalan seiring waktu secara natural. Hanya garis besarnya saja yang saya kepoin dari senior yang terlebih dulu tinggal di Bogor. Mengapa demikian? karena menurut saya, itulah yang membuat sebuah tantangan dan petualangan hijrah ke daerah baru menjadi semakin bermakna. Terkadang pun apa  yang kita dengar dari orang lain akan berbeda feel nya dengan apa yang kita lihat dan kita rasakan secara nyata. Eciee. Haha. Let it be to be a wild world! I was really excited to get a new experience.

Rabu, 24 September 2014

Dewi Sandra’s Wise Quote and Library


I love sitting here
I got used to reading some books at library if campus is getting so terrible for my mind. If I got a “hectic-campus-day” and I had finished all of campus duty already, I prefer going to campus library than boosting at canteen. Stay cool over there and enjoy browsing information from internet. Yes of course, staying at library is more complete if my laptop, note book, and a pen had been on my table. Not truly such a fascinating habit, but I love do it.

My favourite part of Unsyiah Library is Journal Corner. I would like to visit this corner because there are many books, journals, magazines, brochures, etc. On Monday (Sept 23th 2014), I went to Unsyiah library by myself. I felt sad because my lecture canceled appointment we made yesterday. Huft, I was very disappointed. Annoyed.


Weekender Magazine was my best alternative to read. Actually, on every chance to visit this corner, I wish I could read all of them. But because of limit time, I just read one or two journal. Well, Weekender Magazine catched my eyes. I looked Dewi Sandra on its cover (yeah, although she hasn’t wore hijab yet). I was interested with all the content in.

Jumat, 23 Agustus 2013

Ospek, Bermanfaatkah?

Nah, mumpung sekarang mahasiswa baru akan mulai kuliah, saya akan bercerita sedikit tentang ospek. Mungkin ada diantara kamu yang sudah pernah merasakan ospek saat baru masuk ke universitas. Ospek itu pada dasarnya sama aja sih. “Perkenalan”. Ya, perkenalan dengan para senior dan teman-teman sesama Maba (Mahasiswa Baru). Hanya caranya saja yang membedakan.

Every campus has different way to orientate their students. Ada yang halus banget, sampai yang betul-betul ekstrim cara nge-ospeknya. Terbukti setiap sudah tahun ajaran baru, pasti ada aja berita di media yang tidak mengenakkan. Ospek yang ter-publish membuat peserta ospeknya jadi malah dirugikan. Seperti pemerkosaan, penganiayaan, bahkan berujung ke kasus pembunuhan. How poor! Sungguh disayangkan kalau esensi ospek malah dijadikan negatif.

Ini wajah pas marah beda loh ya!
Sebagai contoh nih ya, kali ini saya akan sedikit sharing tentang masa-masa ospek saya sendiri di kampus pada zaman dulu. Hwehehe :p
Ini kejadian 3 tahun yang lalu, saat saya masih muda. Haha. Foto-foto di tulisan ini menunjukkan saya menjalani ospek oleh jurusan Agribisnis. Wajah saya masih imuut. Masih mulus, tanpa jerawat dan flak itam.. sama sekali tidak ada perasaan takut sama sekali untuk mengikuti ospek. Biasa saja. Malah saya senang karena bisa berjumpa dengan banyak orang. Terutama senior. Hehe

Sumpek banget. Ketakutan
Nama cantik saya waktu itu adalah “Inovasi”. Nama yang tidak terlalu jelek juga Alhamdulillah. Alhasil tidak ada masalah dengan nama. Tapi masalahnya, entah karena saya terlalu berani atau apa, para senior semakin sering menjahili saya. Mulai dari disuruh nanyi, lari-lari keliling barak sampai 5 kali, dan bahkan juga di lelang! Oh.. *tutupmuka*

Banyak sekali hal seru yang saya dapatkan selama di ospek. Jujur saja, saya bahkan jatuh hati pertama kali dengan salah seorang mentor (senior) saat itu. Quite handsome, kind man, friendly, love to smile and he was my mentor! Wah wah. Saya kegirangan sekali saat tahu kalau dia adalah mentor saya. Hehe

Wajah saya ikut bete
Yaah, malah kena hukuman
Di ospek ini lah saya mendapatkan hal baru. Mulai dari kejujuran, kedisplinan, kebersamaan. Saat opek ini juga saya pernah berikrar untuk mulai kuliah dengan sebaik-baiknya. Mendapatkan nilai baik, teman baik, dan prestasi yang baik. alhamdulillah itu terbukti diawal-awal tahun kuliah di kampus hijau, pertanian Unsyiah.

Tak ketinggalan juga pengalaman saat jurik malam. Wah, benar-benar menakutkan. Saya dan tim berjalan ditengahnya malam di hutan belantara entah dimana hanya dengan seutas tali dan sebatang lilin. Disetiap pos ada pertanyaan yang diajukan oleh para senior. Ya harus di jawab! Bisa atau tidak bisa, ya terima saja. Mereka sangar, cerewet minta ampun! Bisa dihitung saya menangis 3 kali di situasi yang berbeda. Huft


Terakhir, ada sesi peusijuk. Disini MaBa akan di peusijuk (di dinginkan). Ini bukan arti sesungguhnya. Peusijuk itu adalah salah satu budaya daerah Aceh. dengan menggunakan nasi kuning (pulot) dan beberapa macam dedaunan. Upacara ini dilakukan untuk meresmikan sesuatu atau memberkati sesuatu. Saya dengan nama cantik inovasi terpilih sebagai peserta yang dipeusijuk. Saya sih santai saja. Bahkan saya menggunakan moment ini untuk berdoa sebaik-baiknya. *kalem*

Saat di peusijuk dengan bang dedek (senior), saya niatkan untuk menjadi orang sukses dimasa depan. Dimulai dengan belajar sebaik mungkin di kampus, berprestasi dan membanggakan orang-orang yang sayangi.  Hasilnya? Mungkin sangat lama hasil dari tekad ini. Tapi saya yakin, saya sedang menjalani proses itu. InsyaAllah. *kepaltangan*

Di peusijuk sama senior



Ini lah mungkin sekelumit flash back pengalaman saya saat di ospek. Ospek itu tidak selamanya buruk kok. Asal kita pintar dan tahu membawa diri. Perkenalan dan berbaur dengan orang-orang baru itu sangat penting. OSpek penting untuk membentuk pribadi kita yang ekstrovert dan supel. Ingat Berbaur lah. Tapi jangan membaur kalau itu tidak baik. That’s the meaning of ospek to me. How about you?

Rabu, 31 Juli 2013

Kembali Untuk Pergi

Finally, I am coming back to Banda Aceh! 
Mungkin semuanya pada heran kenapa saya harus kembali kesini padahal seminggu lagi sudah lebaran. Yah, bukan untuk main-main sih. Tapi balik ke Banda disaat liburan ini karena perlu mempersiapkan sesuatu dan bertemu dengan beberapa orang “penting”. Kembali ke Banda Aceh, untuk persiapan pergi sesaat ^_^

Ternyata persiapan road to ILC UI tidak gampang. Tidak hanya dalam pengurusan proposal kegiatan ke pihak kampus dan instansi tertentu saja, tapi juga berpikir persiapan lain dari panitia pusat tentang kepengurusan proposal sosial project dan video budaya.

Pembuatan video yang bertemakan “Nusantara Berbudaya, Negeri Pemimpin Beridentitas Indonesia” sebenarnya tidak susah. At the first time, it’s just rather difficult to get ideas. But, after I had met with Aula who also become ILC delegate from Unsyiah, we create the idea!

Yap yap. Dengan membawakan kesenian khas Aceh, kami akan menampilkan sesuatu. InsyaAllah juga akan kami modifikasikan menjadi lebih menarik sehingga video terlihat lebih  yang mengagumkan.

Mau bagaimana pun, kami yang menjadi wakil Aceh harus tetap bisa menampilkan yang terbaik . Mulai dari tidak menghilangkan marwah aneuk muda Aceh yang pantang putus asa, dan sikap “dimana bumi dipijak, disitu langit di junjung”.

Audiensi dengan pihak biro juga sudah fix. Audiensi ke pihak rektorat akan kami lakukan esok hari. InsyaAllah saya dan Aula akan mendapatkan kabar baik sehingga perjalanan menuju Jakarta sukses. Sungguh, ini semua memerlukan pengorbanan. Tidak mudah sebenarnya saya seorang mahasiswa biasa yang masih belum berprestasi ini mempersiapkan sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan nasional. Disini lah lagi-lagi dibutuhkan relasi yang banyak.

Hidup itu seperti jaring laba-laba. Dia akan selalu terkait satu dengan yang lain. Jika sudah baik disatu sisi, maka akan ada sisi lain yang mengikuti. InsyaAllaih itu juga akan baik. tapi jika sebaliknya ada sisi yang tidak baik, maka akan ada sisi yang tidak baik juga. Menjadi tugas kita lagi karena butuh kesungguhan untuk mengubah semua jaring yang ada.

Semoga saja perjalanan ke-3 ke tanah jawa ku ini menjadi lebih berarti. Semoga selalu ada yang mendoakan. Seperti kamu, ya, kamu. Yang sedang membaca tulisan ini :D
mohon doanyaa...

Senin, 29 Juli 2013

ILC UI 2013, Tunggulah Aku di Jakartamu

Tiba-tiba HP berdering pertanda sms masuk..
“Selamat ya dek jadi peserta ILC 2013. I am so proud of you!”
Deg! aku jelas saja tersentak. Ada apa gerangan. Apa benar aku terpilih menjadi delegasi ILC (Indonesia Leadership Camp) tahun ini?

Sms itu dibaca baik-baik lagi. Semuanya terasa antara sadar dan tidak! Sambil bergegas membuka internet dengan jantung yang berdetak kencang, tersirat sedikit pengharapan untuk benar-benar lulus seleksi. Ah tapi, mana mungkin lulus. Toh, saat pengumuman 50 besar saja namaku tidak tertera disana. Meskipun demikian, rasa khawatir itu mengalahkan rasa penasaranku. Aku segera membuka website www.ildp.ui.ac.id.

Perlahan ku baca satu-satu nama yang diawali dengan huruf K. Wah ternyata nama-nama peserta yang lulus diurut secara acak. Seperti ada bunga-bunga yang beterbangan disekitar kepala, Alhamdulillah namaku berada di nomor urut 58.

Aku langsung membalas sms tadi dan mengucapkan terima kasih. Dia sudah menjadi orang pertama yang menyampaikan berita gembira ini. Aku girang sekali. Akhirnya ke Jakarta!


Ada Apa Dengan Jakarta?

Mungkin menjadi hal yang bodoh karena “maruk” bisa ke Jakarta. Orang lain juga malah sudah sangat sering ke Jakarta kan? Keluar kota dan pergi ke pulau lain bukan lah hal yang aneh lagi sekarang. Orang dengan mudah bisa kemana saja.

Tapi ada hal yang beda. Aku bisa berkesempatan mengunjungi UI karena ILC diadakan disana. Senang rasanya karena bisa mengikuti jejak orang-orang yang menginspirasi untuk lulus di program ini.

Jakarta memang bukan kota yang asing lagi. Tapi, bagiku kota ini menjadi tempat dimana bisa merajut impian. Ya, saat SMA, aku juga pernah mewakili Aceh untuk mengikuti perlombaan disana. Tapi sayang, kurang beruntung. Tim dari Aceh gagal meraih juara. Dari kisah kekalahan ini lah membuatku termotivasi lagi untuk kembali ke Jakarta. Seakan tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dan berharap bisa memperbaiki kesalahan yang dulu pernah terjadi.

Mungkin juga menjadi hal yang muluk karena bisa mengunjungi UI. UI adalah Universitas yang paling aku kagumi sebelum UGM dan IPB. Jadi, jangan heran aku kegirangan saat mendengar kelulusan seleksi. Ya, bahkan senangnya tidak habis sampai tulisan ini dibuat.

ILC (Indonesia Leadership Camp) 2013


ILDP memiliki program yang hendak dijalankan, yakni: Indonesia Leadership Camp. Indonesia Leadership Camp (ILC) 2013 merupakan program yang berskala nasional yang ditujukan untuk mengoptimalkan dan mengakselerasi potensi bibit-bibit unggul muda Indonesia yang memiliki beragam latar belakang, peminatan, dan keahlian. Program ini diharapkan dapat menjadi tools bagi para pemimpin muda Indonesia yang memiliki kemampuan dan wawasan yang luas dan komprehensif untuk menjawab berbagai tantangan nasional maupun global

Program ini pertama kali ku kenal sejak berkenalan dengan salah seorang senior di kampus. Dia adalah Mapres 2010 dari Fakultas Pertanian Unsyiah yang berkesempatan mengikuti ILC di tahun 2010. Dahulu, di tahun 2010, peserta yang mengikuti ILC adalah mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi di kampusnya. Jadi, mahasiswa yang berpotensi di tingkat fakultas atau universitas selanjutnya akan dikirim ke Jakarta.

Dengan sigap, aku pun sering bertanya tentang apa itu ILC. Aku tertarik karena serangkaian acaranya sangat bermanfaat dan bisa mendapatkan kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat.

Sabtu, 25 Mei 2013

Istimewakan Aceh dengan Pemuda Kreatif


Saya adalah mahasiswi semester 6 Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Unsyiah. Beberapa hari yang lalu saya mewakili Aceh untuk mengikuti salah satu forum kepemudaan pada tanggal 23-26 Mei di Bandung, Jawa Barat. Dari 1013 aplikan, saya dan Alyani Akramah Basar, partner dari Fakultas Kedokteran berhasil menjadi delegasi Aceh dari 200 peserta yang terpilih. IYF (Indonesia Youth Forum) memberikan pengalaman yang tak tergantikan karena saya dapat bertemu dengan orang-orang kreatif di seluruh Indonesia.

IYF merupakan forum yang mempertemukan para pemimpin muda Indonesia yang akan membahas peran pemuda dalam mengimplementasikan berbagai macam aktivitas untuk pencapaian MDGs, isu global dan lain-lain.  Di Forum ini saya banyak bertemu dengan tokoh inspirasi yang tentu saja membangkitkan semangat saya sebagai pemuda. Mulai dari pertemuan dengan Bupati Belitung Timur Basuri Tjahja Purnama, Dubes Indonesia, deputi Kemenkes, para CEO muda, bahkan bertemu langsung dengan Menpora RI, Roy Suryo.

Menjadi peserta untuk forum ini sama halnya dengan forum lainnya. Ada tahap seleksi esai dan wawancara. Namun, yang membuat forum ini berbeda dengan forum lainnya adalah masing-masing peserta harus sudah melakuan social project baik itu dibidang kesehatan, pendidikan, budaya, dan lain-lain di daerahnya masing-masing.

 Kegitan yang dilaksanakan oleh ISYF (Indonesia Student and Youth Forum) dan didukung oleh Menpora RI ini secara resmi dibuka di Gendung Merdeka Asia Afrika, Bandung. Pada acara pembukaan ini setiap delegasi dari masing-masing daerah diharuskan memakai pakaian adat. Saya sangat bangga bisa mewakili Nanggroe Aceh, menjadi provinsi paling barat Indonesia ternyata banyak menarik perhatian delegasi dari daerah lain.


Ternyata benar. Aceh adalah daerah yang istimewa di mata delegasi lain. Hal ini mulai terlihat karena saya memakain baju adat yang berbeda. Mereka sangat tertarik dengan motif baju adat yang unik. Selain itu, saya juga sering mendapatkan pertanyaan yang bertubi-tubi tentang tsunami, masjid Raya Baiturrahman, GAM, Bendera Aceh dan Syariat Islam. Banyak diantara mereka yang tidak tahu tentang fakta sebenarnya. Saya hanya bisa menjelaskan apa yang saya tahu agar mereka tidak salah paham. Terutama masalah Bendera.

Selama 4 hari di Bandung, kami lebih sering berdiskusi membahas tentang isu MDGs. Baik kesehatan, lingkungan, teknologi, globalisasi, dan pendidikan. Pada saat coaching clinic, saya memilih bidang social movement. Nah, di coaching clinic ini, saya berkesempatan bertemu langsung dengan Irfan Amalee, yang merupakan seorang penulis kreatif dan social entrepreneur. Diskusi bersama Irfan Amalee membahas bagaimana social project dilakukan dengan efisien dan efektif. Beliau juga menekankan bahwa pemuda zaman sekarang harus bisa menjadi penggerak. Hal ini salah satunya bisa dilakukan dengan menjadi seorang social entrepreneur.


Yang paling mengesankan adalah saat saya juga diberi kesempatan untuk bertemu dengan CEO muda yang sukses di Gedung Bank Indonesia, Bandung. Saya bertemu dengan Microsoft Community Affair Manager, President AIESEC Indonesia, penulis kreatif Founder AICT Indonesia dan Bapak Imam Gunawan sebagai Asdep Peningkatan SDM Pemuda dari Menpora RI. Melalui mereka, saya banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman baru. Ini membangkitkan saya untuk harus melakukan sesuatu untuk daerah saya sendiri, Aceh tercinta. Pemuda harus bergerak, pemuda harus beraksi!

Tidak hanya diskusi, saya dan delegasi lainnya juga berkesempatan ke Hutan Kota Bandung, Babakan Siliwangi. Kami menanam pohon untuk menjaga kelestarian hutan. Banyak wawasan yang tidak pernah saya dapatkan saat memasuki hutan kota ini. Hutannya masih  terlindungi, asri dan terlihat alami. Saya berpikir, bagaimana dengan Hutan Kota di Banda Aceh? kita tidak harus berpangku tangan menunggu tindakan dari pemerintah. Kita, para pemuda seharus lebih peka menjaga kelestarian.

Usai Car Free Day di Dago, deputi Kemenkes juga sangat senang saat saya menyinggung tentang Aceh didepan beliau. Pada saat Talk Show yang ditonton oleh seluruh masyarakat sepanjang jalan Dago, beliau membahas masalah pentingnya minum susu. Beliau berharap masyarakat Aceh juga tetap bisa menjaga kesehatan agar pemuda Aceh sehat dan siap menjadi pemimpin kelak.
Penutupan diadakan di Hotel Savoy Homann, Bandung. Lokasinya tidak jauh dari Gedung Merdeka Asia Afrika. Roy Suryo, selaku Menpora RI juga datang untuk memberikan motivasi yang sangat besar untuk semua delegasi. Kutipan beliau yang sangat saya tersentuh adalah “Think globally with local content”. Beliau memberitahukankepada seluruh generasi muda diseluruh penjuru Indonesia bahwa kita perlu  berpikir luas namun jangan meninggalkan nilai-nilai daerah. Seperti hal nya adat dan kesenian daerah. Globalisasi seharusnya tetap bisa menjaga nilai tradisional.

 Dari 200 perserta, terpilih lah Guntur Yanuar Astono, delegasi dari Malang yang programnyaa didukung penuh oleh Menpora. Social project guntur berhasil mendapatkan perhatian dari panitia dan Menpora. Ia akan mengikuti konferensi di Filipina beberapa waktu yang akan datang.

Pengalaman selama 4 hari sangat berkesan. Banyak hal baru yang saya dapatkan selama IYF. Tidak hanya sampai 4 hari saja, kami juga akan terus melaporkan social selama 6 bulan ke depan. Saya berharap, dengan adanya forum seperti ini, semangat perubahan untuk para pemuda, Aceh khususnya akan semakin meningkat. Tentu saja bukan untuk kepentingan pribadi, tapi juga untuk kepentingan kita bersama. Saya bangga bisa mewakili Aceh. Mulai sekarang, mari istimewakan Aceh dengan pemuda yang kreatif dan inovatif! Stand Up, Speak Up, Take Action!

Minggu, 14 April 2013

Praktikum Itu Bukan Sekedar Jalan-jalan


Kuliah di tingkat 3 ini memang tidak semudah yang dibayangkan. Banyak perjuangan yang harus dilalui menuju penelitian akhir. Masih banyak tantanggan praktikum yang terselip dibeberapa semester. 

Selain beternak ayam broiler, aku juga harus meneliti tentang budidaya perikanan dibeberapa tempat yang sudah direkomendasikan oleh dosen. Tambak ikan nila di Lampineung Aceh Besar, ya.. disana kami berkesempatan untuk mengunjungi lokasi dan bertanya pada petani tentang budidaya serta analisa usahanya. Nantinya kami akan membuat laporan karena menjadi salah satu kewajiban di dalam 3 sks.

Pada dasarnya kuliah itu hanya belajar teori. Saat praktikum dan terjun kelapangan lah pengetahuan itu akan diuji. Terkadang teori yang kita dapati di kelas tidak sama dengan realisasi saat berhadapan langsung dengan masyarakat. Itu lah pentingnya bersosialisasi. Ilmu itu akan terus berkembang.


Sekitar 4 kali pertemuan, aku dan teman lainnya banyak berdiskusi dengan Pak Jufri. Beliau adalah pemilik ikan nila yang juga kebetulan kenal dengan dosenku. Awalnya  aku merasa ragu dengan tempat praktikumnya. Tempatnya sunyi, dan tidak seperti lokasi usaha lainnya. Tapi, setelah disambut dengan antusias, baru aku sadar, ternyata suasana lokasi usaha ikan nila memang lengang. Ada puluhan tambak disana. Setelah beberapa kali pertemuan, ada banyak sekali ikan nila didalamnya.

Tidak hanya berdiskusi tentang manajemen berwirausaha ikan nila, produksi, tapi kami juga harus bertanya langsung dengan petani tentang analisa usahanya. Baik itu modal, biaya pekerja, sewa, harga pupuk, harga jual dan lain-lain. Kami juga berkesempatan untuk bisa menyaksikan langsung bagaimana proses pemanenan yang nantinya ikan-ikan itu akan dijual dibeberapa pasar.

“Beda alam, beda juga manajemennya. Baik itu menyangkut tanah, air, pupuk, penyakit dan sebagainya”, jelas pemilik usaha, Pak Jufri, di sela-sela diskusi.

Pak Jufri, Pemilik Usaha Ikan Nila

Kamis, 27 Desember 2012

Diskusi Umum Mahasiswa Unsyiah “Pemira untuk Siapa?”



Tempat dan Waktu
Aula Fakultas Hukum Unsyiah, Kamis (29 November 2012), 09.00 s/d 10.00 WIB

Notulen
Keumala Fadhiela. ND

Peserta
1.       Ketua/perwakilan BEM seluruh fakultas di lingkungan Unsyiah
2.       Ketua/perwakilan UKM di lingkungan Unsyiah
3.       Ketua/perwakilan DPM seluruh fakultas di lingkungan Unsyiah
4.       Ketua/perwakilan DPM Universitas
5.       Mahasiswa Unsyiah

Narasumber
1.       Fauzi (Ketua KPR Unsyiah 2012)
2.       Syafrizal (Ketua MPM Unsyiah)
3.       Hermanto (Ketua BEM FH)
4.       Effendi Hasan (Pakar politik, dosen Ilmu Politik Fisip Unsyiah)


Pemilihan raya adalah pesta demokrasi mahasiswa di Unsyiah yang digelar tiap tahunnya. Seluruh elemen mahasiswa selayaknya mendapatkan informasi dan mengungkapkan pendapatnya agar terciptanya komunikasi yang bersinergi antar semua pihak yang terlibat di Pemira.
Menurut jadwal yang telah ditentukan oleh KPR (Komisi Pemilihan Raya), pemilihanan akan berlangsung 5 Desember 2012. Jadwal ini dinilai terlalu mendesak sebagian kalangan. Pemira terkesan terburu-buru dan dipaksakan dalam pelaksanaannya.

Sosialisasi dan publikasi pemira baru dilakukan pada akhir November. Rentang waktu itu dianggap tidak ideal untuk mempersiapkan pemilihan pemimpin organisasi mahasiswa tertinggi di Unsyiah.
Namun demikian, KPR telah menentukan jadwal pemilihan dalam Sidang Umum Keluarga Besar Mahasiswa beberapa waktu lalu sehingga tidak ada alasan lain untuk memundurkan atau membatalkan waktu pemilihan.

Bpk. Effendi Hasan :
                Gerakan mahasiswa dulu dan sekarang sudah berbeda. Pada tahun 1998, gerakan mahasiswa sangat banyak melakukan perubahan. Namun gerakan mahasiswa kini terkesan bertindak sendiri tanpa adanya isu bersama. Mahasiswa kini terlalu ego sektoral, memunculkan ide yang sama dan lebih bersifat sosial.
                Kuncinya sekarang ada pada persoalan pemira. Pemira merupakan bagian dari partisipasi politik. Oleh karena itu, pemira harus dipersiapkan dengan matang, tanpa ada paksaan. Karena jika tidak, maka pemira hanya akan menjadi kepentingan tertentu. Bukan untuk kepentingan seluruh mahasiswa Unsyiah. Presma yang terpilih nantinya harus bersifat demokratis dan inspiratif sehingga ada rasa memiliki antara fakultas dan Pema.

Penanya :
1.       DPM FKIP (Fakhrurrazi)
-          Kenapa bentrok selalu saja terjadi tiap pemira?
-          Di PGSD, kebanyakan mahasiswa akan golput akibat ketidakpastian pada kampus, kenapa hal ini bisa terjadi?
2.       BEM Fisip (Akmaal Faraas)
-          Kenapa sosialisasi pemira terburu-buru?
-          Kenapa pemira tidak berpasangan?
-          Kenapa mahasiswa banyak yang tidak tahu siapa calon presma?
Pernyataan DPM Unsyiah (M. Reza Maulana)
-          DPM tidak pernah terlibat pada setiap kegiatan.
-          Pada saat SU, fakultas Teknik tidak diijinkan mengikuti SU dengan alasan tidak melengkapi surat rekomendasi dari PD III. DPM menganggap hal ini adalah cara untuk mempersulit keadaan dan Pema bisa mengambil keputusan sepihak.
Tanggapan Pak Effendi
-          Demokrasi di Unsyiah sudah sangat menurun dibandingkan tahun sebelumnnya. Seharusnya kampus menjadi sebuah katalisator.
-          Seharusnya pemira menjadi kepentingan untuk seluruh mahasiswa unsyiah. Bukan untuk kepentingan kelompok tertentu.
-           Persoalan mahasiswa sekarang adalah saat mahasiswa menjadi undergo dari suatu partai politik tertentu.
-          Solusinya tergantung dengan PR III yang menentukan pemira tetap dijalankan atau dibatalkan. Audiensi dengan PR III harus mendapat sebuah kesepakatan
-          Pemillihan harus tetap dijalankan secara demokratis, terbuka, jurdil dan hanya untuk kepentingan mahasiswa.
Tanggapan BEM Hukum
-          BEM Hukum berharap pemira tidak dilaksanakan karena dianggap hanya untuk kepentingan tertentu. Selain itu juga sosialisasinya tidak efektif dan terkesan terburu-buru sehingga mencederai demokrasi di Unsyiah
-          BEM Hukum menghimbau BEM fakultas lain menghentikan pemira agar tidak hanya untuk kepentingan golongan tertentu.




SESI KEDUA

Tanggapan :
1.       Mahasiswa
-          Seharusnya Pema, KPR dan MPR dipisahkan dan diharapkan dapat saling kontrol
-          Karena Pema, MPM itu dikuasai LDK, maka itu juga dianggap salah satu cara untuk mempertahankan golongan mereka. Contoh lainnya dengan kegiatan UP3AI. Jika Pema dipimpin selain LDK, maka kemungkinan program UP3AI akan hilang. Sedangkan UP3AI adalah program dari pusat.

1.       Mahasiswa Fisip
-          Untuk menjadi kampus yang baik, maka kita juga harus membenahi tataran mahasiswa yang baik. Untuk memilih presma, berarti kita harus mengikuti jajaran tingkat fakultas. Namun kenyataannya, hanya ada dua fakultas yang menyetujui adanya presma, yaitu FK dan FMIPA.
-          Setiap golongan pasti mempunyai kepentingan dan program kerja tersendiri sehingga bisa saja baik atau buruk untuk pihak lain. Oleh karena itu, ada baiknya dibentuk adanya MK sehingga tidak ada bentrok dan sistem pemerintahan menjadi sistem desentralisasi
-          KPR sebaiknnya mengangkat anggota-anggotanya dari tiap fakultas yang berbeda.
-          Pemilihan presma sebaiknya dipasangkan dengan wakilnya
2.       Mahasiswa FH (M. Reza)
-          Menyetujui bahwa persoalan Pemira harus diaudiensi dengan PR III terlebih dahulu.
-          Banyak mahasiswaa yang tidak mau memilih karena mereka sudah lebih dahulu siapa dibalik kandidat sehingga akhirnya mereka tidak tahu lagi siapa yang harus dipilih. Mahasiswa pun tidak ingin peduli lagi dengan adanya Pemira
-          Banyak mahasiswa lupa dengan tujuan awalnya, yaitu demi kepentingan mahasiswa itu sendiri.
3.       BEM FT (Ryan)
-          Pemira menimbulkan kesan hanya untuk kepentingan tertentu
-          BEM FT sepakat untuk memboikot Pemira
-          DPM fakultas tidak terlibat pada Sidang Umum.
4.       BEM Fkip (Edi Gusman)
-          Menyetujui bahwa persoalan Pemira harus diaudiensi dengan PR III terlebih dahulu, tidak langsung diboikot
5.       BEM FK
-          Menyetujui pemira diboikot
6.       BEM Fisip
-          Audiensi ke PR III sudah biasa. Bukan diboikot, tapi ditunda terlebih dahulu. Jangan saling menyalahkan antara beberapa golongan tertentu.
-          Sebaiknya dilakukan intervensi sehingga mahasiswa terlihat lebih bermatabat
-          Pendidikan demokrasi dari dosen juga tidak baik, sehingga mahasiswa lebih memilih golput daripada membakar kotak suara.
7.       BEM FH Non Reg
-          Menyetujui dengan BEM Fkip, yaitu harus diaudiensi dengan PR III. Jika tidak ada tanggapan, maka pemira akan diboikot.
Pendapat salah satu audiens : jika memang audiensi dengan PR III tidak membuahkan hasil, maka lebih baik dilakukan pedekatan dengan pihak dekanan masing-masing fakultas dan melibatkan HMJ dan BEM.

Kamis, 22 November 2012

Indonesia Tak Butuh Fakultas Pertanian



“Anda tahu tidak mengapa lulusan Fakultas Pertanian tidak mau menjadi petani setelah lulus?.” Tanya Bob Sadino pada salah seorang peserta seminar PTPN 7 (12/0) di Gedung Saburai PKOR, Way Halim.
“Karena di ainigin mengaembangkan ilmunya dibidang pendidikan, Om,” jawab Sugeng (54) yang berprofesi sebagai guru.
“Salah! Lulusan Fakultas Pertanian tidak ada yang mau menjadi petani karena gurunya, dosennya itu bukan petani,” jawab laki-laki yang 9 Maret lalu merayakan ulang tahunnya itu.
Jawaban yang tegas itu mengundang tepuk tangan dari hampir seluruh peserta seminar.
Bob yang sempat keliling dunia itu menjelaskan, kondisi di Indonesia berbeda dengan Jepang dan Jerman. Jika di Negara Jepang dan Jerman, Dosen FP adalah seorang petani, tapi di Indonesia, pengajar FP bergelar doktor atau insinyur, bukanlah petani.
Inilah yang menyebabkan banyak lulusan Fakultas Pertanian yang ogah menjadi Petan. Tak ada guru yang mengajarkan indahnya menjadi seorang petani, karena gurunya tak pernah menjadi petani.
Menurutnya, pola pembelajaran di Jepang dan di Jerman soal pertanian sangat mengedepankan praktek dan pengalaman. Ia menyimpukan, sebenarnya Indonesia tak butuh Fakultas Pertanian. “Tak ada petani yang dihasilkan dari Fakultas Pertanian, jadi untuk apa Fakultas Pertanian dibuar?” ujar Bob yang disusul gelak tawa oleh para peserta seminar.
Bob melanjutkan , jika lulusan Fakultas Kedokteran setelah lulus menjadi dokter  seharusnya lulusan Fakultas Pertanian juga sama. Namun, kenyataannya sangat jarang mahasiswa yang menyandang gelar Sarjana Pertanian bersedia terjun langsung menjadi petani.
Dalam seminar yang berlangsung selama dua jam itum Bob juga mengkritisi orang-orang yang bergelar namun tidak berhasil menjadi seorang wirausahawan. Kata “goblok” yang mulai menjadi ciri khas Bob setelah ‘celana pendek’-nya sering membahana di ruang seminar. Ia tak segan melontarkan kata itu kepada peserta seminar yang bertanya soal kunci sukses berwirausaha, ini karena ia tak mengenal istilah sukses.
Menurutnya, jika ingin berwirausaha setiap orang hanya perlu kemauan, komitmen, pandai mencari peluan, serta pantang menyerah. Yang terpenting menurut Bob adalah ‘lakukan saja’.
Ia juga tak mengenal istilah analisis. Ia menilai, saat ini orang justru sibuk mengurusi masalah analisis untung dan rugi. Hal itu justru membuat bnayak orang takut untuk memulai sebuah usaha.
Kegagalan adalah pelajaran untuk menjadi seorang pengusaha kaya. “jika tak pernah gagal, tak akan pernah berhasil,” ujar Bob saat menjawab pertanyaan di akhir seminar.


Sumber : Teknokra, Tabloid Mahasiswa Universitas Lampung
No. 120 Tahun XII Edisi 01-21 Maret 2012
                

Lulus S2-bukan Jaminan Gampang Dapat Kerja


Jumlah mahasiswa pascasarjana sejak 10 tahun terkahir mengalami lonjakan 78 persen dari sekira 100 ribu menjadi lebih 180 ribu. Padahal, gelar master ini ternyata sering tidak menjadi kriteria pertama yang dipertimbangkan oleh perushaan saat berburu karyawan baru.
            Menurut Job Bank, sebesar 66 persen dari perusahaan yang disurvei menyatakan, gelar master tidak akan secara signifikan menguntungkan pencari kerja. “Tingkat gelar seseorang biasanya bukan sesuatu yang paling dipedulikan oleh perusahaan. Kami lebih suka memiliki seseorang yang memiliki kepemimpinan yang baik sejalan dengan visi perusahaan kami.” Kata Publi Affairs Officer Carrefour Manajer Margery Ho, seperti dikutip dari China Post, Minggu (21/10)
            Namun, menurut Job Bank, masih ada cukup banyak industri yang memberikan bobot tinggi untuk gelar master terutama di sektor-sektor yang memerlukan keahlian profesional, seperti teknologi informasi dan biokimia. “Apakah suatu industri membutuhkan karyawan bergelar master atau tidak, itu tergantung pada jenis industri tersebut,” ujar Ho.

            Deputy General Manager Job Bank mengungkapkan, banyak lulusan perguruan tinggi memutuskan untuk mencoba meraih gelar master karena takut manjadi pengangguran segera setelah lulus. Hal ini terjadi akibat adanya laporan pada Agustus lalu bahwa sebesar 4,4 persen pengangguran adalah bergelar sarjana.
            “sebuah gelar master memang bernilai dan diakui. Namun yang lebih penting, kita harus mencari tahu apa jenis kemampuan yang akan membuat industri tertarik pada kita sebelum akhirnya terjun ke pendidikan tinggi, “ papar Ho.
            Untuk beberapa industri seperti komunikasi dan pelayanan, Hor menyarankan agar para luluasan untuk masuk ke lingkungan kerja sebelum kembali melanjutkan gelar master. Sebab, pada bidang ini, pengalaman kerja sangat dibutuhkan. “Setelah beberapa tahun, Anda dapat kembali dan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi untuk kesempatan gaji yang lebih tinggi pula,” tukasnya.
            Berdasarkan survei tersebut, rata-rata gaji awal untuk lulusan bergelar master adalah TWD35.132 atau sekira Rp 11,5 juta (Rp 328 per New Taiwan Dollar). Namun, sebesar 26,9 persen perusahaan mengatakan, mereka diminta untuk menghindari mempekerjakan para lulusan S-2 untuk mengurangi biaya. Selain itu, sejumlah perusahaan ini mengaku, tugas-tugas yang diberikan kepada karyawan tidak membutuhkan pendidikan tinggi dan mereka mengkhawatirkan jika para lulusan S-2 memiliki sifat arogan.
            “kami pernah memiliki orang-orang dengan glar master yang ingin melewati bagian dasar sebuah pekerjaan dan ingin langsung melompat ke tingkat manajer. Mereka tidak mengerti jika level dasar adalah tempat untuk memulai bagi setiap orang. Apalagi jika dibandingkan dengan mereka yang langsung mulai bekerja setelah lulus, maka para lulusan S-2 ini sudah dua tahun tertinggal mengenai pengalaman pekerjaan.” Kata Margery Ho.

Sumber : Serambi News        










                                                            

Sabtu, 03 November 2012

Fakultas Pertanian Unsyiah Selenggarakan Workshop Peningkatan Skill Mahasiswa


Fakultas Pertanian Unsyiah menyelenggarakan workshop kewirausahaan dengan tema “Peningkatan Softskill Mahasiswa Pertanian di ruang MPR FP, Sabtu (3/11/2012). Workshop yang berlangsung hingga sore hari dibuka oleh PD3, Ir. Edy Marsudi selaku ketua pelaksana acara.

Worshop tersebut mengundang beberapa narasumber pengusaha sukses seperti H.Abubakar Usman (CEO dan Founder PT.Pante Pirak Sejahtera), Idrus Usman (Personal Staff PT.Pante Pirak), dan Sampirlan S.Ag (Direktur CA. LA Garden). Para narasumber tersebut memberikan pembekalan kepada para mahasiswa agar mampu menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan mengubah mindset bahwa menjadi PNS bukan satu-satunya cara untuk sukses setelah menyelesaikan kuliah.


“Berwirausaha itu tidak sulit, tinggal bagaimana kita berani mengambil resiko. Tanpa keberanian, semua tidak akan ada artinya apa-apa”, ujar Abubakar Usman. Abubakar Usman sebagai CEO PT.Pante Pirak Sejahtera mengaku bahwa dulu usahanya masih kecil dan banyak tantangan. Namun, berkat pengembangan usaha dan pelayanan yang baik, sekarang Pante Pirak mampu membuka 40 titik usaha dibeberapa kota dengan omset yang besar.



Selain itu, narasumber juga menambahkan bahwa sebenarnya sektor pertanian di Aceh memiliki peluang besar untuk merintis usaha. Tenaga kerja yang melimpah, dan masih banyaknya lahan marginal adalah faktor yang sangat mendukung. Oleh karena itu, diharapkan jiwa usaha terbentuk sejak masih kuliah sehingga tidak susah mencari pekerjaan lagi setelah menyelesaikan kuliah.

Panitia Wokshop

Sindiran Heboh: Yang Gaji Kamu Siapa?

Sejak video seorang Menteri Kominfo Rudiantara, beberapa waktu lalu beredar dan menghebohkan sejagat dunia maya dan dunia nyata, saya pun t...