Tampilkan postingan dengan label Sekitar Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekitar Kita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Desember 2014

Tsunami : Bukan Sekedar Kenangan

Sudah sepuluh tahun kisah sedih di hari minggu berlalu. Ratusan ribu orang tewas meninggalkan harta benda dan sanak saudara. Tak ada yang tersisa kecuali puing-puing sisa gelombang air dan kepiluan disanubari. Tragedi Tsunami sungguh menjadi suatu valuable lesson yang masih kami rasakan sampai sekarang. Ya, bagi kami, orang Aceh.

Hari ini, bertepatan pada hari yang penuh berkah, Jumat (26 Desember 2014), seluruh masyarakat Aceh mengenang peristiwa tragedi Tsunami. Bencana alam yang fenomenal ini mampu menyedot perhatian dunia. Seperti yang kita ketahui bahwa dulu ketika Aceh terpuruk, begitu banyak warga negara asing yang berasal dari suku, ras, dan agama yang berbeda ikut memberikan bantuan berupa materi maupun semangat spiritual. Sehingga seiringnya waktu, Aceh kini menjadi provinsi yang dikenal oleh dunia luar.

Namun pertanyaannya, apa yang pantas untuk dikenang? Tak semua orang tahu. Ingatlah, bahwa ini bukan seremonial belaka. Ya, aku mengerti mengapa semua orang menjadi “mehmoh” ketika  masuk ke bulan Desember. Bukan karena hari ibu, hari ayah, hari natal atau hari semacamnya. Tapi karena pada 26 Desember 2004 Aceh pernah ditimpa musibah besar. Sungguhpun hari ini menjadi hari yang bersejarah untuk Aceh dan dunia, tapi hakikatnya dampak kesedihan bagi orang Aceh tidak hanya selesai dalam satu hari. Tapi melekat kuat hingga hari ini. Sepuluh tahun lamanya. And now, It is really our appropriate  time to contemplete.

Aku adalah seorang gadis yang berasal dari daerah pantai barat selatan. Alhamdulillah kami sekeluarga selamat dari ganasnya Tsunami. Masih terbekas erat dibenakku, dipagi hari itu aku masih saja bisa bersantai setelah gempa 9 SR merobohkan menara masjid. Aku masih saja melalang buana berkeliling kota. Padalah mungkin jika lalai sedikit lagi, tak tahu lah, mungkin aku tak ada lagi di dunia ini.

Waktu itu aku masih berumur 12 tahun. Masih berjiwa ABG dan sering acuh tak acuh dengan dunia luar. Tapi ketika Tsunami terjadi, aku merasakan rasa syukur yang tiada tara. Adikku, Dita yang berumur 7 tahun kebetulan pada hari itu tidak tinggal bersama kami. Ia tinggal bersama pengasuhnya jauh dari rumah dan dekat dengan bibir pantai. Aku masih jelas teringat, ayah dan ibu begitu resah gelisah dan sempat menangis karena anaknya yang ketiga tak tahu lagi nasibnya. Ternyata Allah masih sayang pada kami. Ketakutanku kehilangan adik perempuan akhirnya mereda ketika ayah berhasil menemukan Dita bersama pengasuhnya sedang melewati air tsunami yang saat itu sedang surut.

Beberapa hari pasca Tsunami banyak sekali mayat yang hitam legam menggembung disepanjang pinggir jalan. Bau busuk begitu menyengat hidungku. Begitu menyedihkan. Aku membayangkan betapa sedihnya keluarga yang ditinggalkan. Mungkin ia meninggal ketika asik lari pagi di hari minggu, sedang asik menonton film kartun favorit, atau bahkan masih dalam keadaan tertidur. Aku juga masih ingat, ketika ketersediaan bahan pangan sangat terbatas, aku rela berlari-lari mengejar helikopter. Helikopter tersebut memberikan bantuan dengan cara melempar beberapa kotak mie. Apa daya, beberapa bungkus mie berserakan dan hancur ketika sampai ditanah. Tapi tetap aku ambil dan aku  bawa pulang untuk dimakan.

Minggu, 31 Agustus 2014

Refresh Your Brain!

What is your feeling when you are depressed? Do have high appetite? Singing by yourself or watching some movies?  Alright, I am used to having exercise like jogging to make my brain to be fresh again. Browsing and writing will make me better than before.

In fact, we will be depressed if we do not get what we want. Hopeless is the crucial thing that can make us to be unstable facing on all the problems. Some people do not take the positive side of depression. They make many negative things that very unuseful for their body and soul. Eating to much is one of the easiest example. And eventually their weight will increase. What then? They will be regret, they will feel guilty why they do not take care for their weight.

My special adviced me that if I am getting depressed for something, I have to make my brain to be fresh with jogging, going around and doing all my hobbies. I absolutely realize it. So that if I get some problems, I will solve it one by one and take a break to refresh my brain. Actually it is not all about my brain but also for my body and soul. I think having a simple exercise such as jogging or walking around is  the best way to refresh my brain. it is better than eat soft drink or fast food, isn’t it? Thanks my special.

Well, this amazing photos was taken at Krueng Aceh. I stopped riding motorcycle and immadiatelly took this landscape. My friend said, the blue sky is always relaxing. Exactly! I hope I can face on all my problems soon. Do the best!


Jumat, 16 Mei 2014

Nasibku Malang, Ginjalku Lelang

Sugiyanto adalah satu dari sekian orang dinegeri ini yang terjepit dalam gemelut ekonomi sehingga bergantung pada keberuntungan menjual organ vital. Mendapatkan rupiah berpuluh juta dinegeri ini ternyata memutar pikiran dan perasaan masyarakat ekonomi kebawah untuk menjual salah satu ginjalnya. Suginyato, menjadi sosok yang kian dilirik media semenjak kasusnya menyinggung ekonomi dan pendidikan di negeri Zamrud Khatulistiwa.

Kenekatan menjual ginjal adalah jalan keluar terakhir untuk menebus ijazah anaknya yang ditahan oleh pihak Pasantren Al Asyiriah, Bogor. Biaya yang harus ia bayar untuk membayar ijazah SMP dan SMA anaknya adalah 17 juta ditambah biaya adminstrasi Rp 20.000,-/hari. Sungguh biaya yang sangat mahal, terutama untuk seorang ayah yang hanya berprofesi sebagai tukang jahit.


Mungkin kita semua juga tidak asing lagi dengan berita yang sempat melejit di pertengahan tahun lalu ini (Juni 2013). Kasus yang dengan sangat cepat dibeberkan oleh media ini diawali persoalan yang cukup simpel, “ijazah”. Rasanya kok ada sih kasus seperti ini terjadi di Negeri Meutuah)* kita? Negeri yang digadang-gadang dengan semboyan Gemah Ripah Loh Jinawi)*. Negeri yang punya sumber daya alam yang sungguh luar biasa melimpah.

Kasus penjualan ginjal ini mulai “menyenggol” saya lagi ketika mendengar update berita terbaru disalah satu stasiun televisi swasta (16/5/2014). Shara Meilanda Ayu, yang akrab disapa Ayu hilang dari rumah selama 1 bulan. Ada apa gerangan?  Pasalnya Ayu hilang bersama pacarnya dan tidak mengikuti kuliah beberapa kali. Ini sungguh mengecewakan ayahnya yang berjuang hingga rela hampir menjual ginjal berharganya.


Ayu mendapatkan sorotan dari media dan berhasil menggugah Moh. Nuh, Menteri Pendidikan RI, untuk membantu keluarga malang ini. Diterima sebagai salah satu mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta meski nilai tidak mencapai standar merupakan hal yang sangat disyukuri oleh Sugiyanto. Tapi kini ia hanya bisa menanggung malu karena merasa masih punya tanggung jawab moral pada Pak Menteri. Anak yang dulunya membuatnya rela berpanas-panasan mencari pembeli ginjal akhirnya hilang bersama pacar yang tidak jelas. Niat ikhlas yang ia abadikan di hati akhirnya sirna semenjak anaknya mulai menunjukkan keinginan tidak ingin melanjutkan sekolah.

Jual Ginjal adalah Life Style?
 Ya, bisa jadi. Karena pada dasarnya menjual ginjal terjadi akibat desakan tuntutan ekonomi. Sehingga masyarakat mencari jalan pintas untuk mendapatkan solusi permasalahan hidup. Menjual ginjal sebenarnya tidak hanya terjadi masyarakat kalangan bawah maupun menengah ke bawah. Ini bisa juga terjadi pada masyarakat kalangan atas yang prinsip “punya segalanya”. Tapi melihat tuntutan ekonomi dan zaman modern sekarang ini, masyarakat menjual ginjalnya karena life style yang penuh dengan gengsi semu. Demi membeli tas bermerek, baju mahal, dan perhiasan, tentu saja tidak menutup kemungkinan menjual ginjal untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Untungnya Indonesia masih tergolong negara yang masyarakatnya tidak terlalu nekat dibanding negara-negara lain. Persentasenya bisa dikira jika menjual ginjal dikarenakan faktor ekonomi. Meski merupakan organ yang paling vital, ternyata banyak orang yang mengorbankannya. Lalu, patutkah ini dijadikan suatu life style di negara kita? Think again.


Saya kira, banyak orang yang menjadikan ginjal sebagai pelarian karena mereka tidak tahu persis apa fungsi penting dari sebuah ginjal. Meskipun kita semua memiliki dua ginjal, rasanya akan berbeda hanya hidup dengan satu ginjal. Two is better than one.

Faktor tendensi ekonomi dan ketidaktahuan dalam masyarakat adalah penyebab mengapa seseorang memutuskan untuk menjual ginjal. Menjual ginjal dengan alasan faktor ekonomi jelas hanya jalan keluar jangka pendek. Beda halnya jika ginjal dibutuhkan untuk transplantasi untuk mereka yang membutuhkan.

Apa Rasanya Hidup dengan Satu Ginjal?
Setiap manusia memiliki 2 ginjal, dikanan dan dikiri tulang belakang. Sebagai organ vital ekskresi, ginjal berfungsi penting untuk menyeimbangkan cairan dan zat. Jika ginjal sudah tidak berfungsi normal dan dalam keadaan kronis stadium akhir, maka diperlukan transplantasi ginjal sehingga nantinya dapat meningkatkan kualitas hidup.

Hidup dengan satu ginjal, tentu ada yang berbeda. Jika seorang pendonor ginjal tidak sehat, maka sudah bisa dipastikan ginjalnya juga tidak sehat sehingga hidup dengan satu ginjal bisa membuat kesehatannya semakin memburuk. Seorang pendonor harus dipastikan kesehatannya terlebih dahulu jauh dari penyakit hipertensi dan diabetes.


Memang ada sebagian orang yang bisa hidup normal dengan satu ginjal. Tapi tetap saja ia harus bisa menjaga kesehatannya dengan baik karena jika terlalu lelah dan daya tahan tubuh melemah, justru ginjal tersebut akan ‘memberontak“. Jadi, sebelum sakit, mari kita jaga ginjal berharga ini dengan baik. Menjaga kadar gula, darah dan tentu saja menghindari rokok.

Relasi Kesehatan, Ekonomi dan Pendidikan
Apa benang merah yang bisa kita ambil dari semua kasus penjualan ginjal? Kasus Sugiyanto yang seakan-akan dipersulit hanya karena ijazah mengindikasikan bahwa ada yang tidak beres dalam sistem pendidikan. Sembari demikian, ini juga membuktikan bahwa ekonomi masyarakat tidak lah diatas rata-rata. Dan akhirnya memilih jalan  mengorbankan kesehatan demi sejumlah rupiah. Sungguh miris.

Setidaknya saya juga bisa menarik kesimpulan bahwa negara berperan penting dalam masalah ini. Negara juga harus berperan untuk memajukan demokrasi ekonomi. Jangan sampai alasan ekonomi dijadikan embel-embel untuk mengorbankan kesehatan dan memihak pada pendidikan yang serba riweuh)*.

Sungguh sangat disayangkan jika terlalu banyak anak seperti Ayu yang tidak bersyukur sudah diberikan ayah yang begitu bersemangat menyekolahkan anaknya, rela mengorbankan ginjal berharganya dan bahkan sudah mendapatkan perhatian dari kementerian pendidikan. Kecewa rasanya kok ada sih anak yang malah memilih lari ke pacarnya dan mengabaikan tanggung jawab moral pada ayahnya? Dapat beasiswa dari Pak Menteri pula untuk masuk kuliah.

Tapi ayah tetap lah ayah.

“Bapak rela jika kamu tidak mau kuliah lagi. Mungkin kamu malas untuk berpikir dengan kuliah. Bapak hanya ingin membahagiakan kamu. Jika kamu lebih bahagia dengan tidak kuliah, Bapak rela. Pulang lah, nak“. Ujar Sugiyanto, dengan nada tegar di stasiun televisi malam itu.

Tak lama kemudian Ayu menelepon ayahnya secara live. Ternyata ia sudah pulang kerumah saat tahu ayahnya diwawancarai. Ia mengaku malu jika ayahnya harus membeberan semuanya di media. Sangat disayangkan, niat ikhlas orang tua tidak dihargai pada anaknya.

Saya banyak belajar dari kasus ini. Hingga menggerakkan jari-jari saya untuk beropini lewat tulisan. Semoga kita semua bisa belajar dari pengalaman orang lain. Terutama hikmah bagaimana menghargai usaha dan niat ikhlas dari orang tua. Sungguh, orang tua memberikan terbaik untuk anaknya meski harus mengorbankan nyawa [].



Note :
Gemah Ripah Loh Jinawi : Tentram dan makmur serta subur tanahnya
Meutuah : (Bahasa Aceh) : Baik, damai, ten
Riweuh : (Bahasa Sunda), Ribet, Rumit, Repot

Sabtu, 05 Oktober 2013

Ditegur. “Kenapa kamu jauh dari-Ku?”

Allah memberikan teguran kepada hambanya dengan berbagai cara. Dan saya mendapatkan teguran lewat kecelakaan kecil hari ini. Ini mungkin menjadi teguran agar saya lebih berhati-hati di jalan dan juga lebih bisa menjaga hati.

Pagi tadi, sekitar pukul 08.30, saya keluar dari rumah menuju AAC Dayan Dawood. Sebenarnya hari ini memang tidak ada jadwal kuliah. Tapi karena saya sudah bertekad mengikuti seminar AMYLC, saya pun bersiap diri.

Hari ini memang terasa beda dari hari sebelumnya. Hati menjadi tidak nyaman dan gelisah terus-menerus. Saya tahu ini tidak baik terus dibiarkan. Saya pun menyempatkan diri untuk shalat Dhuha sebelum keluar rumah. Sebelum ke AAC, saya juga terlebih dahulu membeli nasi bungkus di tempat biasanya. Mungkin karena keluar dari rumah dengan perut kosong, saya menjadi tidak konsentrasi membawa motor. Naas pun menimpa.

Saat berbelok ke arah kampus (Pertanian), saya terkejut dengan klakson keras sebuah mobil yang sedang melaju kencang. Mungkin saya akan langsung terseret jika tidak mengerem. Tapi disini lah kesalahannya. Sambil berbelok, saya terlalu kuat mengerem. Alhasil saya pun terjatuh. Mobil hitam melewati saya tanpa rasa berdosa. Ya, saya tertabrak dengan aspal!


Astagfirullah. Saya mengucap berulang kali. Apa yang salah dengan saya hari ini? Sepintas saya berpikir. Bukankah tadi sudah shalat sunat Dhuha? Bukankah seharusnya saya sudah tenang? Saya berhusnuzan pada Allah. Ternyata ini teguran. Teguran untuk tidak hanya mengingat Allah pada saat duka. Kemana saya saat suka?

Sambil meringis kesakitan dan mengeluarkan kaki yang terhimpit motor, saya melihat sekeliling. Tidak ada yang peduli. Saya sudah pasrah. Di hari Sabtu tidak terlalu banyak mahasiswa di kampus.

Perlahan saya mencoba mengeluarkan kaki yang terhimpit dan berdiri. Tapi tidak bisa. Akhirnya satpam di kampus pertanian berlari menghampiri dan diikuti teman-teman saya yang lain. Saya menjadi lebih bingung saat teman-teman ikut meramaikan dan semua bertanya, “kenapa Del?”, “Apa yang sakit?”, “Coba duduk dulu”, “Buka dulu tasnya”.. ya Allah, saya bahkan tidak sanggup merespon pertanyaan dan saran mereka. Yang saya tahu, saya merasa sakit seluruh badan. Melemah.

Alhamdulillah, banyak teman-teman yang menghampiri dan membawa saya ke RS terdekat. Jujur saja, saya tidak sanggup menahan tangis. Sedih, sakit, malu, lemah... terasa sangat sakit sekali saat dokter membersihkan luka saya dengan alkohol dan memoleskan salap. Air mata terus jatuh. Sakit.

Apalagi luka ditangan harus dibersihkan sebelum infeksi. Ada banyak pasir yang masuk ke dalam luka. Saya harus menahan sakit yang lumayan itu tanpa berani melihat apa yang sedang dikerjakan dokter. Ah, kaki, tangan, badan, kepala, semuanya lemas.

 Saya berterima kasih sekali atas bantuan teman-teman yang sudah mau membantu. Si kembar Lena Leni, Kak Julaini, Iin, Azwar, Muri, dan Zainuddin. Alhamdulillah masih punya teman-teman yang baik hatinya. Saya pun tidak lupa memberi tahu berita kecelakaan ini pada ayah dan ibu di rumah. Sabar, karena harus dimarahi akibat tidak hati-hati di jalan.

Sekarang betul-betul harus istirahat total di rumah. Rapat di UKM Pers DETaK terpaksa tidak saya hadiri mengingat kondisi badan yang masih terasa nyeri. But, the wounded is not too seriously, I can typing. Alhamdulilllah, I can share this terrible story for you all.

Koleksi obat juga semakin bertambah. Padahal baru saja kemarin 2 kali ke pukesmas. Hah, memang badan ini sudah tidak fit. Bahkan sampai sekarang kata-kata ibu ditelepon masih teringat, 
“kalau ada ibu disamping, gak akan ibu kasih ijin kemana-mana. Seminar lah, rapat lah, ikut ini lah itu lah. Ini karena gak ada ibu, jadi dela suka-suka aja kemana-mana”..
huhu.. ibu memang yang paling perhatian. Merasa bersalah karena tidak bisa menjaga kesehatan diri sendiri dengan baik. Wah, saya harus ekstra perhatian dengan luka-luka ini. Berpikir tentang bekasnya. Oh no..


Apa yang bisa menjadi hikmah dari kisah ini?
Tetap berhati-hati saat berkendara. Tidak ada yang tahu kapan kecelakaan itu terjadi. Tapi setidaknya kita bisa menjaga diri dengan baik. Selalu gunakan helm!
Dan bagi perempuan, memakai kaos kaki itu penting. Ini terbukti saat kecelakaan, saya tidak terluka tidak terlalu parah. Ada kaos kaki yang melindungi. Selain itu kaos kaki juga melindungi kaki dari sengatan matahari yang terik kan? J

Yang terpenting, jangan lupa untuk membaca doa ketika hendak berpergian. Shalat sunat Dhuha lah jika ada waktu. Tetap berhusnuzan pada Allah. saya mengganggap ini adalah teguran. Mungkin selama ini saya sibuk dengan diri sendiri. Mungkin juga karena kurang sabar.

Jangan lupakan Allah sedikit pun.Allah selalu dekat dengan kita. Jika kita kurang beribadah, mungkin Allah akan berkata, “Kenapa kau jauh dari-Ku?”....
Semoga saya, kamu dan mereka selalu mendekatkan diri pada Allah dan dilindungi oleh Allah. Amin.






Kamis, 18 Juli 2013

Si Bungong Ceudah

Wahe bungong ceudah hana ban. Tamse nyak dara nyang canden rupa. Diteuka bana dijak peuayang. Uroe ngon malam bungong didoda (Seulanga, Rafly)




Bunga Kamboja yang ternyata bukan berasal dari Negara Kamboja ini diam-diam bersemi di depan rumah beberapa minggu terakhir ^_^
It looks beautiful, doesn't it?

Bunga yang berasal dari Amerika ini mampu menepis anggapanku bahwa Kamboja adalah bunga yang angker. Tapi yaa, mau bunga secantik apa pun, kalau sudah ada di kuburan, pasti terkesan mengerikan! hehe

Padahal kesan angker itu 'kan relatif. Setiap bagian tumbuhan ini banyak gunanya untuk menyembuhkan penyakit. 
Batangnya bisa menyembuhkan pecah-pecah pada tumit dan dapat menurunkan panas badan. Tapi hati-hati dengan getahnya karena jika terkena mata, maka mata akan sakit.
Tak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia bukan?


Trims yang di Banda Aceh sudah mengirimkan bunga merahnya yang mempesona :D





Selasa, 25 Juni 2013

Nyan Kah Troh Linto!

Perjalanan Panjang
Kemarin, aku bersama Munzir dan ibu pergi ke kampung Meugat Meh, Nagan Raya, untuk menghadiri pesta pernikahan anak-ayah-istri-adik-ayahku (haha. Ribet). Meskipun kekerabatannya agak jauh, tapi hubungan kami antar keluarga sangat erat. Sekitar pukul 15.00 WIB, kami pun menuju kesana.
Untuk menuju sampai ke lokasi pernikahan, orang awam yang sudah biasa kesana hanya membutuhkan sekitar 30 menit. Tapi karena aku dibawah orang awam biasanya, hehe, perjalanan habis selama 100 menit! Waduh..
Perjalanan dari Meulaboh-Nagan Raya sebenarnya mulus-mulus saja. Tapi karena membonceng ibu dibelakang, jadi ada tuntutan untuk tidak boleh terlalu ngebut. Yah, alhasil, sampai disana pun kelamaan.
Sesampai disana, aku mencari tante dan memberitahu bahwa kami baru saja tiba. Wah, ternyata disana tante sibuk sekali! Sampai-sampai wajahku pun tak dikenali lagi :D
Suasana saat rombongan pengantin datang
         “Nyan kah troh linto!” seruan ini yang kudengar sampai berulang kali saat mencicipi es buah yang dihidangkan. Sejurus langsung kupalingkan wajah kearah jalan. Ternyata benar, “Pengantin  sudah tiba!”. Banyak sekali orang tua, anak-anak yang menyaksikan kedatangan pengantin baru ini. Seakan ikut tak ingin melepas moment penting ini, aku pun sigap dengan kamera ditangan.

Aceh dan Keragaman Budaya
                Aceh memiliki banyak suku. Ada suku asli Aceh, Gayo, Alas, Jamu, dan lain sebagainya. Adat dan budaya pun sedikit berbeda diantara beberapa daerah. Saat aku menghadiri resepsi pernikahan saudara, jelas terlihat bahwa mereka memakai adat yang biasa mereka lakukan. Sebelum rombongan linto (pengantin pria) memasuki rumah pengantin perempuan, sebelumnya tuan rumah dan rombongan saling berbalas pantun berbahasa daerah. Rombongan juga disambut dengan tarian tradisional Ranup Lampuan oleh penari-penari cilik.
Penari cilik kompromi sebelum tampil
Mereka menari dengan hari senang

Dan yang uniknya, saat sang linto masuk ke dalam rumah, linto tersebut digendong oleh 2 orang laki-laki dari kerabatnya. Entah apa artinya itu, tapi yang jelas, ini kejadian yang pertama sekali yang aku saksikan secara langsung. Hehe, maklum lah. Aku selalu malas untuk pergi ke resepsi pernikahan kecuali pernikahan kerabat dekat sendiri.
Sekitar hampir 1 jam berbincang-bincang dengan tante, aku mendengar semua curhatan tentang anaknya yang sekarang fokus dengan sepak bola. Yah, walau bagaimana pun, bakat itu tidak bisa dipaksa, dan sepertinya sekolah bola memang cocok untuk sepupuku, Khalil.



Waktu pun berjalan. Aku mengendarai si Vicky (Motorku) hati-hati, akhirnya kami pun tiba dirumah dengan selamat. Meskipun memakan waktu yang lama, setidaknya perjalanan ini sangat menyenangkan. Ada sisi positifnya. Salah satunya, menjadikan kita lebih peka dengan adat dan budaya daerah sendiri J
 Nah, sampai tulisan ini diketik pun, aku sedang membayangkan ada orang-orang yang berseru di depan rumahku nanti, “Nyan, kah troh linto!”. hehehe

Sabtu, 25 Mei 2013

Istimewakan Aceh dengan Pemuda Kreatif


Saya adalah mahasiswi semester 6 Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Unsyiah. Beberapa hari yang lalu saya mewakili Aceh untuk mengikuti salah satu forum kepemudaan pada tanggal 23-26 Mei di Bandung, Jawa Barat. Dari 1013 aplikan, saya dan Alyani Akramah Basar, partner dari Fakultas Kedokteran berhasil menjadi delegasi Aceh dari 200 peserta yang terpilih. IYF (Indonesia Youth Forum) memberikan pengalaman yang tak tergantikan karena saya dapat bertemu dengan orang-orang kreatif di seluruh Indonesia.

IYF merupakan forum yang mempertemukan para pemimpin muda Indonesia yang akan membahas peran pemuda dalam mengimplementasikan berbagai macam aktivitas untuk pencapaian MDGs, isu global dan lain-lain.  Di Forum ini saya banyak bertemu dengan tokoh inspirasi yang tentu saja membangkitkan semangat saya sebagai pemuda. Mulai dari pertemuan dengan Bupati Belitung Timur Basuri Tjahja Purnama, Dubes Indonesia, deputi Kemenkes, para CEO muda, bahkan bertemu langsung dengan Menpora RI, Roy Suryo.

Menjadi peserta untuk forum ini sama halnya dengan forum lainnya. Ada tahap seleksi esai dan wawancara. Namun, yang membuat forum ini berbeda dengan forum lainnya adalah masing-masing peserta harus sudah melakuan social project baik itu dibidang kesehatan, pendidikan, budaya, dan lain-lain di daerahnya masing-masing.

 Kegitan yang dilaksanakan oleh ISYF (Indonesia Student and Youth Forum) dan didukung oleh Menpora RI ini secara resmi dibuka di Gendung Merdeka Asia Afrika, Bandung. Pada acara pembukaan ini setiap delegasi dari masing-masing daerah diharuskan memakai pakaian adat. Saya sangat bangga bisa mewakili Nanggroe Aceh, menjadi provinsi paling barat Indonesia ternyata banyak menarik perhatian delegasi dari daerah lain.


Ternyata benar. Aceh adalah daerah yang istimewa di mata delegasi lain. Hal ini mulai terlihat karena saya memakain baju adat yang berbeda. Mereka sangat tertarik dengan motif baju adat yang unik. Selain itu, saya juga sering mendapatkan pertanyaan yang bertubi-tubi tentang tsunami, masjid Raya Baiturrahman, GAM, Bendera Aceh dan Syariat Islam. Banyak diantara mereka yang tidak tahu tentang fakta sebenarnya. Saya hanya bisa menjelaskan apa yang saya tahu agar mereka tidak salah paham. Terutama masalah Bendera.

Selama 4 hari di Bandung, kami lebih sering berdiskusi membahas tentang isu MDGs. Baik kesehatan, lingkungan, teknologi, globalisasi, dan pendidikan. Pada saat coaching clinic, saya memilih bidang social movement. Nah, di coaching clinic ini, saya berkesempatan bertemu langsung dengan Irfan Amalee, yang merupakan seorang penulis kreatif dan social entrepreneur. Diskusi bersama Irfan Amalee membahas bagaimana social project dilakukan dengan efisien dan efektif. Beliau juga menekankan bahwa pemuda zaman sekarang harus bisa menjadi penggerak. Hal ini salah satunya bisa dilakukan dengan menjadi seorang social entrepreneur.


Yang paling mengesankan adalah saat saya juga diberi kesempatan untuk bertemu dengan CEO muda yang sukses di Gedung Bank Indonesia, Bandung. Saya bertemu dengan Microsoft Community Affair Manager, President AIESEC Indonesia, penulis kreatif Founder AICT Indonesia dan Bapak Imam Gunawan sebagai Asdep Peningkatan SDM Pemuda dari Menpora RI. Melalui mereka, saya banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman baru. Ini membangkitkan saya untuk harus melakukan sesuatu untuk daerah saya sendiri, Aceh tercinta. Pemuda harus bergerak, pemuda harus beraksi!

Tidak hanya diskusi, saya dan delegasi lainnya juga berkesempatan ke Hutan Kota Bandung, Babakan Siliwangi. Kami menanam pohon untuk menjaga kelestarian hutan. Banyak wawasan yang tidak pernah saya dapatkan saat memasuki hutan kota ini. Hutannya masih  terlindungi, asri dan terlihat alami. Saya berpikir, bagaimana dengan Hutan Kota di Banda Aceh? kita tidak harus berpangku tangan menunggu tindakan dari pemerintah. Kita, para pemuda seharus lebih peka menjaga kelestarian.

Usai Car Free Day di Dago, deputi Kemenkes juga sangat senang saat saya menyinggung tentang Aceh didepan beliau. Pada saat Talk Show yang ditonton oleh seluruh masyarakat sepanjang jalan Dago, beliau membahas masalah pentingnya minum susu. Beliau berharap masyarakat Aceh juga tetap bisa menjaga kesehatan agar pemuda Aceh sehat dan siap menjadi pemimpin kelak.
Penutupan diadakan di Hotel Savoy Homann, Bandung. Lokasinya tidak jauh dari Gedung Merdeka Asia Afrika. Roy Suryo, selaku Menpora RI juga datang untuk memberikan motivasi yang sangat besar untuk semua delegasi. Kutipan beliau yang sangat saya tersentuh adalah “Think globally with local content”. Beliau memberitahukankepada seluruh generasi muda diseluruh penjuru Indonesia bahwa kita perlu  berpikir luas namun jangan meninggalkan nilai-nilai daerah. Seperti hal nya adat dan kesenian daerah. Globalisasi seharusnya tetap bisa menjaga nilai tradisional.

 Dari 200 perserta, terpilih lah Guntur Yanuar Astono, delegasi dari Malang yang programnyaa didukung penuh oleh Menpora. Social project guntur berhasil mendapatkan perhatian dari panitia dan Menpora. Ia akan mengikuti konferensi di Filipina beberapa waktu yang akan datang.

Pengalaman selama 4 hari sangat berkesan. Banyak hal baru yang saya dapatkan selama IYF. Tidak hanya sampai 4 hari saja, kami juga akan terus melaporkan social selama 6 bulan ke depan. Saya berharap, dengan adanya forum seperti ini, semangat perubahan untuk para pemuda, Aceh khususnya akan semakin meningkat. Tentu saja bukan untuk kepentingan pribadi, tapi juga untuk kepentingan kita bersama. Saya bangga bisa mewakili Aceh. Mulai sekarang, mari istimewakan Aceh dengan pemuda yang kreatif dan inovatif! Stand Up, Speak Up, Take Action!

Minggu, 06 Januari 2013

Minggu Ceria di Rumah Sakit Jiwa


Pengalaman ini bermula dari undangan Himakagi (Himpunan Mahasiswa Kedokteran Gigi) Departemen Keputrian yang akan mengadakan kunjungan khusus ke Rumah Sakit Jiwa. Saat itu aku dan beberapa teman lainnya sedang duduk santai di sekret DetaK sambil menunggu tiba waktu rapat LPJ Milad yang beberapa bulan lalu dilaksanakan.

Rombongan mereka akan tiba di RSJ sekitar pukul 10.00. Jadi mereka berharap ada perwakilan DETaK yang bisa meliput kegiatannya. Awalnya aku agak berat, tapi setelah dipikir-pikir, aku menerima undangan itu dengan syarat harus ada yang menemani. Maklum, aku tidak pernah berkunjung ke RSJ. Aku mulai membayangkan bagaimana keadaan RSJ seperti yang ada di televisi. Cukup mengerikan. Yaa, tapi ini adalah kesempatan yang bagus. Aku menyukai pengalaman dan tantangan yang baru. Selain itu, aku juga bisa mengisi waktu libur dengan kegiatan yang lebih bermanfaat ^_^

Berdasarkan pernyataan Vivi, ketua Departemen Keputrian Himakagi yang aku wawancarai, mereka memang sengaja melakukan kunjungan ke RSJ. Sebelumnya mereka sudah sering mengunjungi panti asuhan. Selain dana yang memang mencukupi, mereka ingin ke RSJ agar dapat mengibur para pasien yang sangat jarang dikunjungi oleh keluarganya. Mereka memberikan sejumlah bantuan yaitu 55 pasang baju tidur, 21 pasang sandal, dan beberapa kue.

Langkah Pertama yang Deg-degan


Memasuki gerbang, terpampang tulisan besar “Rumah Sakit Jiwa”. Timbul rasa takutku. Betapa tidak? Aku tidak menyangka berkesempatan untuk meliput berita ditempat seperti ini. Biasanya hanya disekitar kampus. Ini RSJ loh! Haduh, aku mulai deg-degan. Terbayang adegan seperti yang biasanya ada di sinetron. Mengerikan.

Rumah sakitnya cukup gersang. Mungkin karena ada rekontruksi baru. Ini terlihat dari beberapa bangunan yang dihancurkan. Tidak banyak pohon yang tumbuh disekitanya. Keadaan ini semakin membuat kesan mengerikan.


Awal cerita bermula saat aku kebingungan mencari teman-teman dari Himakagi. Entah dimana mereka. Kebingungan , aku bertanya pada kakak-kakak di IGD. Ternyata mereka sedang menuju bangsal yang perempuan. Wah, dari IGD ke bangsal itu cukup lumayan jauh juga. Aku dan temannku berjalan berhati-hati. Harus tahan saat pasien yang laki-laki mulai iseng suit-suitan, menyapa tidak jelas, dan menyanyi keras untuk menarik perhatian kami. Aku mempercepat langkah. Takut! >.<

Eww! Beginikah kehidupan Rumah Sakit Jiwa?
Sampai di bangsal, kesan pertama adalah bau yang tidak sedap! Aku kurang tahu darimana bau ini berasal. Entah dari obat-obatan,  entahdari kotoran hewan. Tapi akhirnya aku sadar, ini bau pesing. Eww.

Selasa, 01 Januari 2013

Kepompong Menjadi Kupu-Kupu


Seseorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Suatu hari sebuah lubang kecil muncul pada kepompong itu. Orang itu  duduk dan mengamati kupu-kupu itu selama beberapa jam ketika ia berjuang memaksa dirinya melewati lubang kecil itu.
Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk  membantunya, dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.

Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil dan sayap-sayap yang mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya dan berharap bahwa, pada suatu saat , sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

Tetapi semuanya tak pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap yang mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa ‘kepompong yang menghambat’ dan ‘perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu itu untuk melewati lubangan kecil’ adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebesan dari kepompong tersebut.

Senin, 22 Oktober 2012

Manusia



Manusia mempunyai mimpi-mimpi yang luar biasa
Selalu ingin hebat dan dapat mengalahkan orang lain
Berusaha agar mendapatkan apa yang diinginkan
Terkadang terlalu memperturutkan nafsu dan emosi yang berlebihan
Selalu memandang ke atas tanpa memperhatikan kelemahan sendiri
Manusia tidak pernah ingin tahu apa akibat yang akan terjadi
Manusia terus berjalan, bahkan berlari mengejar impian
Menyingkirkan lawan yang menggangu,
Bahkan kawan yang dianggap menjengkelkan
Itulah manusia, manusia yang egois

Ketika Tuhan berkendak lain, manusia terjatuh dari keobsesiannya
Manusia merintih kesakitan, meneteskan air mata kekecewaan, dan
Penyesalan karena gagal dalam meraih cita-cita
Semuanya hilang,
Waktu mengejek manusia
Manusia yang lalai mempergunakan waktu setiap detik
Egois dan angkuh dalam bertindak
Itulah manusia, manusia yang lemah

Manusia memohon pertolongan,
Barulah manusia menyadari kesalahan
Namun semua telah berlalu,
Manusia kini hanya meratap, dan terkadang menyalahi takdir
Itulah manusia, manusia yang khilaf

Keberhasilan adalah mimpi manusia
Manusia yang sadar akan merajut kembali kegagalan dan
Menghasilkan keberhasilan dengan kesabaran dan keikhlasan
Manusia mengharap dapat menggenggam mimpi dan mengubahnya menjadi kenyataan
Tak peduli malu pada ejekan
Itulah manusia,
Itulah aku..

Manusia harus berikhtiar
Manusia harus berdoa
Manusia harus bertawakal
demi mencapai keberhasilan

Rabu, 17 Oktober 2012

Teknologi Pengolahan Kedelai Menjadi Tempe (THP Lab - Chapter II)


Haloha! Seminggu lebih vakum tidak blogging, I am multitasking! Halah. Alasan sebenarnya sih karena blog ini ada sedikit masalah, jadi ada beberapa postingan yang tertunda.


Oke, kita lanjut membahas praktikum yang sangat berkesan. Laboratorium THP (Teknologi Hasil Pertanian)! Nah, kalau minggu lalu kita sudah membahas sedikit tentang susu kedelai, maka kali ini, saya akan sedikit berbagi cerita tentang pengalaman di lab saat mengolah kedelai menjadi tempe ^_^

Tahap awal  pengolahan tempe sama saja dengan tahap awal pada pengolahan susu kedelai. Kacang kedelai harus terlebih dahulu dibersihkan, direbus dan direndam dahulu. Namun, yang membedakan adalah lama waktu perebusan dan perendamannya. Perebusan untuk tempe, kacang kedelainya harus direbus sampai empuk mungkin sekitar hampir satu jam lamanya. Setelah itu, kacang kedelai harus di rendam selama 24 jam, bukan 12 jam seperti pada pembuatan susu kedelai.

Sindiran Heboh: Yang Gaji Kamu Siapa?

Sejak video seorang Menteri Kominfo Rudiantara, beberapa waktu lalu beredar dan menghebohkan sejagat dunia maya dan dunia nyata, saya pun t...