Tampilkan postingan dengan label LPDP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LPDP. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Februari 2017

1000 Kata yang Tak Sekedar “Kata”

Kau tahu mengapa aku menyayangimu lebih dari apapun? Karena kau menulis. Suaramu tak akan pernah padam ditelan angin. Akan abadi. Sampai jauh, jauh dikemudian hari” (Pramoedya Ananta Toer).
            Banyak orang begitu lancar dan mengalir mengemukakan ide ketika berbicara. Namun susah menyampaikannya dalam sebuah tulisan. Begitu juga sebaliknya. Menulis adalah sebuah skill yang tak semua orang menguasainya. Susah, tapi bisa dipelajari. Menulis seperti sebuah seni yang membutuhkan keterampilan yang tak bisa mengandalkan satu panca indera. Bagi saya, menulis laksana kekayaan kreativitas yang elegan. Lebih dari sekedar menyusun rangkaian kata, menantang dan begitu seru.
            Beberapa hari lalu, Sabtu (25 Februari 2017), saya dan beberapa teman dari awardee LPDP IPB mengikuti kegiatan sharing tentang strategi dan trik menulis menembus media oleh Mata Garuda Institute di Gedung LPDP Kementerian Keuangan RI, Jakarta. Mata Garuda adalah Keluarga Besar para penerima beasiswa LPDP baik yang masih berstatus awardee maupun yang sudah berstatus alumni. Meski harus membatalkan agenda lain, saya menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan “mahal” ini.
            Bhima Yudistira, alumni LPDP yang kini bekerja sebagai Ekonomi di INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) berbagi wawasan dan pengalaman tentang tips dan trik menulis pada semua peserta yang hadir. Bhima menjelaskan bahwa hal terpenting ketika menulis di suatu media (baik media cetak atau media online) adalah mengetahui dengan jelas arah penulisan. Apakah tulisan yang dibuat menunjukkan sebuah positioning (keberpihakan) ataukah mengandung sebuah gagasan baru.


             Terdapat 7 tips utama agar tulisan menembus media. Pertama, tanggap isu.  Seseorang yang ingin menulis opini di media disarankan untuk tanggap isu yang sedang hot di media cetak atau media online. Caranya yaitu dengan rutin membaca editorial surat kabar maupun headline berita online. Kedua, Tema yang ditulis baiknya sesuai dengan bidang keahlian. Biasanya redaktur dari media kredibel akan memperhatikan CV dari penulis. Oleh karena itu, sangat penting untuk memperbaharui profil diri dan menyesuaikan dengan tema tulisan yang dikirimkan. Tulisan yang sesuai dengan bidang keahlian berpeluang besar untuk diterima oleh redaktur. Ketiga, menggunakan bahasa yang to the point. Generasi yang serba instan akan mempengaruhi minat pembaca dalam memilih tulisan yang sensasional, singat tapi lugas. Keempat, perbanyak data. Data kredibel menjadi hal yang sebaiknya tetap diperhatikan dalam menulis. Fakta dari data yang ada akan memperkuat agrumen tapi data yang disajikan tersebut jangan overload. Kalau overload, bukan opini dong namanya. Tapi jurnal ilmiah. Hehe. Kelima, aware terhadap pembaca. Seorang penulis yang ingin tulisannya dibaca oleh banyak orang, maka penulis tersebut harus lebih peka terhadap karakteristik pembaca. Biasanya masing-masing media punya karakteristik pembaca yang berbeda pula. Keenam, proofread. Ini juga menjadi tahap yang tak kalah pentingnya agar tulisan dapat menembus media. Proofread baiknya dilakukan oleh senior, yang lebih mengerti tentang konten dan berpengalaman dalam tulis-menulis. Ketujuh, follow up. Jika hampir seminggu jika tulisan yang sudah dikirimkan tidak juga dipublish, maka perlu ditanyakan dengan sopan kepada redaktur. Ini berguna agar tulisan yang dikirimkan mendapatkan kepastian diterima atau tidak di media tersebut. And the last but not the least, adalah gaya bahasa yang sopan dan jelas ketika mengirimkan tulisan disurel. Pada badan surat, ada baiknya mencantumkan CV, foto, KTP dan nomor rekening. Data pribadi ini diperlukan agar redaktur dapat dengan mudah menelisik latar belakang penulis. Tentu media yang sudah terkenal tidak akan asal-asal menerbitkan sebuah tulisan.
Menulis akan menjadi aktivitas yang berat jika jarang membaca. Bima Yudistira menyarankan untuk lebih sering membaca buku dan mengurangi sumber-sumber informasi yang bersifat instan. Mengapa? Karena informasi yang disajikan lewat media online biasanya terputus-putus sedangkan menulis untuk menembus media perlu pemahaman yang mendalam untuk membentuk sebuah ide baru.



Menjadi awardee LPDP mempunyai tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi terbaiknya untuk Indonesia. Oleh karena itu menulis dan memberikan gagasan baru untuk perubahan daerahnya atau Indonesia secara umum adalah hal yang sangat dianjurkan. Bhima, yang juga lulusan gelar magister Finance di Bradford University saat memberikan materi saat itu juga menambahkan, “Ketika menulis, harus ada yang menarik, yang berbeda. Jangan mau tulisannya biasa-biasa saja”. Benar sekali.  Tulisan yang menarik dan unik akan berpeluang lebih besar untuk diterbitkan. Dan menulis yang menarik itu sebenarnya susah-susah gampang. Bagaimana, Berani mencoba? [KF/270217]

Kamis, 09 Februari 2017

Menjadi Seorang Awardee


Tidak terasa. Tepat diawal Maret nanti, saya resmi setahun menyandang predikat “awardee” LPDP. Alhamdulillah, dengan beasiswa tersebut, kini saya sedang menjalani studi semester kedua di Program Master Sains Agribisnis di IPB.  Beruntungnya lagi, saya memperoleh IP diawal semester yang cukup bagus. Sungguh ini merupakan rezeki yang dilancarkan oleh-Nya, juga berkat usaha dan doa dari orang tua  yang tak putus-putusnya.

Saya seorang anak sulung dari kedua orang tua yang berprofesi guru, meyakini bahwa pendidikan adalah segalanya dan perubahan nasib berawal dari pendidikan yang lebih baik. Terlebih lagi untuk seorang perempuan, patutnya perempuan menjadi cerdas dan berwawasan luas agar kelak mampu memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Mungkin itu juga yang menjadi alasan ayah dan ibu begitu keukeuh mendorong saya untuk mempersiapkan diri mengikuti seleksi beasiswa S2 tahun lalu. Tak hanya ingin berkuliah di dalam negeri, bahkan sebelum wisuda sarjana pun saya bermimpi mengenyam pendidikan ke luar negeri. Tapi takdir berkata lain. Kota Bogor akhirnya menjadi kota pendidikan saya untuk studi master dengan target selama 2 tahun.

Menemukan Peluang Lewat Edufair
Bagi Scholarship Hunter, LPDP tentu menjadi salah satu list beasiswa yang diincar. Masih jelas dibenak saya ketika masih sibuk mempersiapkan diri mendapatkan beasiswa, ayah pernah berkata, “Zaman sekarang ini gak susah nyari beasiswa. Beasiswa itu seperti ikan di laut. Masalahnya hanya ada di kita aja. Apa kita mampu mendapatkannya”.

Benar juga. Kini pemerintah dalam negeri maupun luar negeri memberikan peluang yang cukup besar pada masyarakat untuk mendapatkan beasiswa pendidikan. Tapi itu semua tergantung pada SDM masing-masing kita. Apakah kita benar-benar layak menjadi salah satu kriteria yang dicari.

Beberapa waktu lalu (31 Januari 2017), saya menjadi panitia pada sebuah pameran beasiswa dan pendidikan yang dilaksanakan oleh LPDP di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta. Di ajang ini, LPDP bersama universitas mitra dan beberapa penyedia layanan beasiswa lainnya melakukan “promosi”, talkshow, prediction test TOEFL-IELTS-TOEIC dan art performances. Terlibat dalam sebuah agenda besar LPDP yang dihadiri lebih dari 12.000 pendaftar merupakan sebuah kebanggaan. Bagi saya, ajang pameran pendidikan seperti Edufair ini adalah sebuah peluang yang sangat baik untuk masyarakat luas agar mengenal lebih dekat berbagai beasiswa pendidikan dan kampus ternama di penjuru dunia.

Pada acara Edufair tahun ini, saya menjadi panitia di bagian Information Desk. Saya mengira jobdesc dibagian ini tidak begitu rumit dan sibuk. Tapi pada kenyataanya, saya harus siap siaga menjawab beberapa pertanyaan dari pengunjung yang membludak dan melayani keluhan-keluhan exhibitors yang kebanyakan seorang bule.

Saat pameran berlangsung, seorang ibu bertanya pada saya, “Apakah ada beasiswa lain selain LPDP? Anak saya ingin ke Amerika”. Lalu saya menjawab, “Ada bu, untuk beasiswa ke Amerika selain LPDP, anak ibu bisa mengambil beasiswa Fulbright”. Ada sisi menarik dari pengalaman melayani ibu dan anak tersebut. Saya melihat sosok seorang ibu yang bersusah payah dan rela menemani anaknya masuk dalam kerumunan para pencari beasiswa lainnya. Orang tua yang begitu bersemangat dan menginginkan yang terbaik untuk anaknya agar mendapatkan beasiswa.

Antusias para pengunjung Edufair yang pun sangat tinggi. Kebanyakan dari mereka bertanya, “Kapan beasiswa LPDP akan dibuka kembali?”. Saya menyimpulkan peminat beasiswa LPDP begitu dinanti oleh banyak orang.

Dulu, saya pun pernah berada di dalam kerumunan orang-orang pencari beasiswa tiap kali diadakan pameran pendidikan. Berdesak-desakan, memborong leafleat informasi beasiswa dan brosur kampus luar negeri serta mengoleksi banyak goodie bag. Saya terharu karena pernah merasakan hal yang sama seperti mereka. Mencari informasi sebanyak-banyaknya adalah bagian dari preparation. Victory loves preparation.

Kebijakan Baru LPDP 2017
Sejak Februari 2017, LPDP kembali membuka pendaftaran dengan ketentuan terbaru. Ada beberapa ketentuan yang berubah dibandingkan tahun lalu. Dulu LPDP membuka pendaftaran 4 kali dalam setahun. Kini LPDP hanya membuka 2 kali. Satu kali untuk peminat studi Dalam Negeri dan satu kali untuk peminat studi Luar Negeri. Terdapat tambahan tahap seleksi Assesment Online, dan beberapa perubahan ketentuan lainnya.

Membidik beasiwa tidak lah gampang. Perlu perjuangan dan pengorbanan untuk mendapatkannya. Termasuk tenaga dan biaya. Ini yang saya rasakan ketika berusaha mendapatkan beasiswa LPDP setahun yang lalu. Saya mempersiapkan segala administrasi pendaftaran dan berusaha meningkatkan skor TOEFL.

Banyak adik-adik kelas dan teman saya begitu tergugah dengan kesempatan yang LPDP berikan. Tapi itu terasa sia-sia jika usaha yang dilakukan masih setengah-setengah. Seperti apa? Seperti masih ragu dapat meningkatkan nilai TOEFL, masih ragu memilih kampus tujuan, masih ragu untuk hidup diluar negeri, masih ragu memilih antara kuliah atau menikah, dan keraguan-keraguan lain yang menghantui.

Benar kata teman saya. Setiap fase hidup ini, kita harus punya tujuan. Dan keyakinan adalah modal dari segalanya. Usaha akan melengkapi keyakinan dan doa akan menyempurnakannya. Begitu banyak yang ingin mendapatkan beasiswa, tapi mereka tidak tahu mengapa mereka “harus” mendapatkannya.

Dalam rangka mengulang memori masa-masa perjuangan mendapatkan beasiswa hingga saya menjadi seorang perantau, saya bertekad menulis ini agar menjadi motivasi untuk para scholarship hunters. Ini juga menjadi pembelajaran bagi saya agar lebih banyak berusaha, yakin, dan bersyukur. Telah menjadi awardee bukan semata-mata menikmati beasiswa saja atau memamerkan foto-foto yang instagramable. Tapi ada beban moral yang harus dipegang teguh untuk Indonesia lebih baik. Mengabdi untuk Indonesia ketika selesai studi dan berkontribusi sebaik-baiknya untuk pembangunan daerah. Setia dengan nilai LPDP; berintegitasi, professional, bersinergi, melayani dan sempurna.

Persis juga seperti harapan Ibu Menteri Keuangan, Ibu Sri Mulyani pada acara Welcoming Alumni pada 4 dan 6 Februari lalu. “Agar seluruh awardee LPDP merupakan bagian dari SOLUSI bagi Bangsa Indonesia untuk mencapai cita-cita Indonesia yang adil, makmur, beradab dan bermatabat”. Semoga seluruh awardee baik LPDP maupun awardee dari beasiswa lain menyadari bahwa mendapatkan beasiswa merupakan suatu rezeki yang patut disyukuri karena tidak semua orang diluar sana beruntung mendapatkannya [KF]

Minggu, 11 Desember 2016

Training of Trainer Tim Balindroponik

Siapa bilang bercocok tanam itu sulit? Sempit perkarangan rumah? Tanah kurang subur? Atau karena terlalu sibuk? Waah. Ini sama sekali bukan alasan untuk enggan menanam! Tanah bukan satu-satunya media menanam loh. Ada buaanyak alternatif media lain agar tanaman dapat tumbuh dengan subur. Caranya gimana? Hidroponik!

Hidroponik adalah fokus kegiatan yang sedang saya tekuni bersama tim MI (Menyapa Indonesia) PK-69 LPDP. Menyapa Indonesia adalah program community development (pengembangan masyarakat) yang dikelola oleh para penerima beasiswa pendidikan LPDP. Program MI dari PK-69 ini kami beri nama “Balindroponik”, yaitu pembinaan masyarakat melalui budidaya tanaman secara hidroponik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Lokasi pembinaan MI terdapat di Dusun Pasir Madang, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Jawa Barat. Program MI yang kami laksanakan ini InsyaAlah berlangsung dalam jangka waktu selama 2 tahun.



Minggu lalu (11/12/2016), saya bersama tim Menyapa Indonesia PK-69 LPDP bersilahturahmi dengan Pak Zulfikar Moesa, salah satu dosen dari Fakultas Peternakan IPB yang kini aktif membudidayakan tanaman hidroponik. Semacam TOT (Training of Trainer), saya dan beberapa rekan tim MI lainnya mendapat banyak ilmu dan wawasan sebelum diaplikasikan langsung pada masyarakat di Pasir Madang. 


Sosoknya yang ramah dan bersahaja terlihat begitu bersemangat ketika berbagi ilmu pada kami. Meski jalannya sudah tertatih, ia masih aktif kesana kemari sambil memperlihatkan beberapa media tanam dan alat bekas yang berfungs sebagai wadah tanam. Sesekali ia terbatuk-batuk sambil memperlihatkan presentasi dari slide powerpointnya.



Setelah selesai meng-eksplor sisi kreatif merancang wadah dan media tanaman hidroponik secara langsung, kami menikmati makan siang bersama. Candaan ringan melengkapi percakapan siang itu. Beliau juga berbagi kisah masa mudanya pada kami. Beliau mengatakan bahwa masa muda perlu untuk dinikmati dan dijalani dengan memberi manfaat pada orang lain. Beliau juga menyampaikan rasa salutnya pada kami karena mempunyai ide untuk membantu masyarakat pedalaman melalui hidroponik.

“Saya sangat bangga pada kalian anak muda karena sudah mau ikut membantu mensejahterakan masyarakat”, ungkap beliau dengan sedikit terbatuk.

Beliau mengatakan bahwa mempelajari hidroponik memerlukan modal sisi kreatif dan kesabaran. Sisi kreatif diperlukan saat merancang wadah agar hidroponik menjadi lebih menyenangkan dan tidak monoton. Sisi kesabaran dibutuhkan karena tanaman responsif  dengan suhu dan lingkungan. Oleh karena itu tanaman hidroponik perlu diperhatikan secara intensif, termasuk mulai dari penyemaian, penyiraman hingga pemupukan yang tepat.

"Ketika merancang wadah tanam hidroponik, kita harus mengetahui beberapa sifat fisika dan sifat dari tumbuhan yang kita tanam. Ada tanaman yang sensitfi dengan cahaya matahari, ada yang tidak. Ada yang perlu banyak air, dan juga sebaliknya", jelas Pak Zul.

Tenyata memulai hidroponik menyenangkan! Apalagi jika nantinaya berhasil membina masyarakat desa dengan sistem ini. Jika masyarakat sudah terbiasa dengan sistem baru menanam ini,  mungkin tak ada alasan lagi untuk masyarakat pedalaman kekurangan gizi dan sulit meningkatkan kesejahteraan keluarga. 

Insya Allah, mudah-mudahan kami dapat memberikan yang terbaik untuk masyarakat Pasir Madang. Belajar hidroponik juga bisa dimulai dari dirumah sendiri kan? Yuk menaman!

Sabtu, 10 Desember 2016

Aceh di “Mata” Garuda

           Tanah rencong lagi-lagi menjadi fokus perhatian seluruh penjuru negeri ketika digemparkan dengan berita bencana alam. Gempa di Pidie Jaya membuat masyarakat berbondong-bondong memberikan doa dan bantuan. Sejak dulu musibah menguji mental orang-orang Aceh. Ternyata Allah tak berhenti memberi cobaan setelah tragedi Tsunami 26 Desember. 

Sebagai awardee LPDP yang berasal dari Aceh, sudah sepantasnya saya dan beberapa teman lainnya melakukan sesuatu untuk Aceh. Saleum (Solidaritas Awardee LPDP Aceh Darussalam) menggalang dana untuk korban gempa di Pidie Jaya. Kami mencoba berkontribusi meski hanya lewat lembaran-lembaran rupiah yang terkumpul dari para awardee. Hingga Sabtu (10/12/2016), dana yang terkumpul melalui rekening Saleum mencapai Rp20.953.360. Alhamdulillah. Mudah-mudahan ini meringankan beban korban gempa disana.

Selain melakukan sesuatu untuk Aceh melalui penggalangan dana, saya dan beberapa teman lainnya dari Saleum juga melakukan “sesuatu” untuk Aceh dalam hal advokasi daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar). Ada beberapa daerah yang secara logika seharusnya masuk sebagai daerah terluar namun hanya 3 daerah di Provinsi Aceh yang tercatat sebagai daerah 3T versi LPDP yaitu Singkil, Aceh Besar dan Sabang.

Bagi kami, ini patut dikomunikasikan lagi dengan pemerintah karena SDM di daerah perkotaan dan pedesaan dibeberapa kabupaten di Aceh tidaklah merata. Tentu ini bukan lah sebuah harapan bahwa banyak kabupaten di Aceh masuk ke dalam daerah 3T. Bukan! Tapi ini sebuah aksi memperjuangan sebuah kata “pemerataan”.

Peran Mata Garuda Daerah

Mungkin sebagian orang masih belum familiar dengan nama ini. Terdengar masih asing bagi beberapa orang. Tapi banyak juga yang sudah melihat karya nyata dari sebuah  Mata Garuda. Lalu apa Mata Garuda?

Mata Garuda adalah ikatan penerima beasiswa LPDP dan berfungsi sebagai pusat kontribusi para anggotanya dalam pembangunan Indonesia sebagai wujud dharma bakti atas ilmu dan jiwa kepemimpinannya untuk Indonesia. Saleum sebagai wadah berkumpulnya para awardee asal Aceh adalah bagian dari Mata Garuda Daerah yang akan melebarkan sayapnya di kancah nasional.

Saya dan beberapa orang pengurus dari Saleum bertolak ke Bappenas (9/12/2016), Jakarta, untuk mendiskusikan solusi penentuan daerah 3T Kabupaten Simeulue dan penyampaian update informasi nominal dana yang terkumpul untuk korban gempa di Pidie Jaya. Mas Danang Rizki Ginanjar selaku ketua Mata Garuda Pusat yang juga bertugas sebagai Special Advisor Minister di Bappenas meluangkan waktunya untuk membahas hal ini secara face to face dengan kami.


Pembahasan intensif bersama Mas Danang Rizki berlangsung lancar dengan suasana serius tapi renyah santai. Siapa kira sosok yang selalu mendampingi menteri ini ternyata masih berperawakan muda, berkarisma dan gerak geriknya seakan memancarkan energi positif ketika berbicara. Sebagai awardee LPDP jebolan MBA Cambridge, ia banyak memberikan saran-saran positif, termasuk ide-ide untuk meningkatkan SDM awardee (terutama) yang sudah menyelesaikan studinya.

Terkait dengan status daerah terluar Kabupaten Simeulue, beliau mengatakan bahwa perlu waktu yang panjang untuk meluruskan hal ini karena harus berkomunikasi lagi dengan beberapa kementerian. Tapi syukurlah, salah satu awardee yang kini sedang berada di Simeulue sudah melakukan audiensi secara langsung dengan pihak Pemerintah Daerah Simeulue. Pemerintah Daerah Kabupaten Simeulue merespon dengan baik dan berharap akan ada kerja sama dengan pihak LPDP yang diikat dengan sebuah MoU. Hal ini akan terus diproses dengan bantuan beberapa pihak-termasuk Mata Garuda, sehingga percepatan Pengembangan SDM di Kabupaten Simeulue terwujud. Ini yang saya dan teman-teman Saleum sangat harapkan.

LPDP memberikan kesempatan untuk kawula muda mejadi pemimpin yang berintergritas dan profesional melalui penyaluran dana beasiswa pendidikan. Tentu sebagai awardee, saya mensyukuri kesempatan ini. Sebagai sebuah wadah, Mata Garuda mengumpulkan potensi-potensi yang ada pada awardee yang terpencar diseluruh dunia agar bermanfaat untuk bangsa dan negara. Oleh karena itu, adanya Mata Garuda di tingkat Daerah sangat diharapkan bisa aktif merangkul dan membangun daerahnya sendiri. Saleum menjadi promotor yang mengawali harapan ini.

Aceh Bangkit melalui Cendikia Muda

Pendidikan yang tinggi tidak lah berarti apa-apa tanpa memberikan manfaat bagi orang lain. Sukses bukanlah tentang seberapa tinggi prestise dan prestasi yang dicapai. Tapi sukses adalah ketika bisa memberikan kontribusi yang kontinu meski hanya berupa langkah-langkah kecil. Para cendikiawan Aceh mestinya mampu menjadikan Aceh lebih baik. Saya percaya, banyak potensi dalam diri generasi muda Aceh yang kini masih “malu-malu” untuk muncul. Salah satu cara memberikan manfaat pada masyarakat dapat dimulai dengan cara menulis. Kata Mas Rizki, “Buktikan dengan karya nyata. Misal, dengan menulis ide-ide tentang bidang keilmuan yang kamu tekuni. Mata Garuda akan menfasilitasi itu”.

Jika Aceh di “mata” Garuda sedang berduka karena  musibah Gempa Pidie Jaya, maka disisi lain sudah saatnya Aceh bangkit. Dilihat dari sejarah jauh sebelum Indonesia lahir, Pidie Jaya (Meureudu) menjadi basis heroik para panglima perang di zaman Sultan Iskandar Muda. Meureudu menjadi daerah penting pada masa itu karena merupakan pusat lumbung  beras bahkan  menjadi pusat akademi militer kerajaan

Berawal dari Meuredu, Kuta Raja, Samudera Pasai, atau sampai di bumi Teuku Umar, Aceh sejak dulu memiliki potensi yang luar biasa. Spirit ini yang seharusnya melekat pada diri insan Aceh agar bisa bangkit, berkarya dan optimis membangun masa depan yang lebih baik. Bersama Mata Garuda, potensi cendikiawan yang ada pada diri awardee LPDP diharapkan mampu menjadi modal penting dalam membangun daerah. Aceh di “mata” Garuda yang berkarya dan bermental kuat meski banyak ujian yang melanda.

Minggu, 27 November 2016

Balindroponik, Menyapa Indonesia Lebih Baik

You’ve never know before you try. TRY, sebuah kata yang sekarang nongkrong dipikiran sehingga saya menunda tidur untuk menulis ini. Pengalaman hari ini begitu menggugah saya agar lebih believe. Ya, The Power of Mindset.

Hari ini, Minggu, 27 November 2016, saya dan beberapa teman seangkatan PK-69 LPDP melaksanakan kegiatan perdana Menyapa Indonesia “BalinDroponik” di kampung Bojong, Dusun Pasir Madang, Kecamatan Tenjo, Bogor. Program Menyapa Indonesia bisa dikatakan adalah kegiatan wajib yang diserahkan pada setiap PK (Persiapan Keberangkatan) untuk melakukan pengabdian masyarakat. Kecamatan Tenjo, adalah target daerah pengabdian masyarakat yang menjadi bagian dari program PK-69.
Kampung Piknik, begitu kami menyebutnya, berlokasi lumayan jauh jika ditempuh dari Kota Bogor. Jika menggunakan transportasi commuter line, waktu tempuh menuju Dusun Pasir Madang justru tidak terlalu lama. Saya dan bersama 2 orang dosen dari IPB dan 4 orang teman menggunakan mobil menuju kesana. Sedangkan sebagian teman lainnya menggunakan commuter line dan jasa angkot.


Pak Agus dan Pak Zul adalah 2 orang dosen IPB yang bersedia menjadi mentor kami selama melakukan program. Kami memilih hidroponik sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat disana. Tentu peningkatan kesejahteraan tersebut dimulai dari peningkatan pendapatan. Pendapatan yang ditingkatkan melalui usaha mandiri masing-masing keluarga. Hidroponik menjadi pilihan terbaik karena cara aplikasinya mudah dan ramah lingkungan.
Saya sendiri sangat tertarik dengan inovasi hidroponik. Memang hidroponik sudah sering terdengar, tapi sampai sekarang saya belum pernah melihat langsung aplikasinya. Alhamdulillah bersama Menyapa Indonesia saya dan beberapa teman lainnya berkesempatan untuk banyak belajar dan bahkan memberikan pengaruh pada masyarakat untuk maju bersama meningkatkan kemandirian.

 

“Kalau kita mau, tentu kita akan bisa”. Kata-kata Pak Agus ini terus terngiang ditelinga saya. Beliau memberikan motivasi pada ibu-ibu desa agar mengubah mindset “bodoh”, “tidak bisa” dan “malas”. Sungguh, beliau sangat banyak menyuntik motivasi, termasuk juga saya. Sebelum melakukan satu perubahan, motivasi dan mindset harus bisa terbentuk dari awal. Ini yang kami lakukan untuk memperkenalkan sesuatu yang baru pada suatu masyarakat.
Ibu-ibu yang mayoritas berprofesi rumah tangga mendengarkan motivasi dari beliau dengan antusias. Beberapa dari mereka semakin penasaran dengan hidroponik. Ini tentu feedback yang baik karena keinginan untuk lebih banyak tahu menjadi pintu membuka mindset. Kepolosan mereka pada sebuah inovasi baru terkadang membuat saya tertawa geli sekaligus kagum. Ternyata masih banyak orang-orang yang menginginkan sebuah perubahan.


Pertemuan perdana bertatap muka secara langsung dengan masyarakat berlangsung lancar. Meski sumber daya baik alam maupun manusia Dusun Pasir Madang ini kurang memadai, tapi kami yakin perubahan mindset akan mengubah nasib mereka agar lebih mandiri dan terbuka akan inovasi baru. Mencoba sesuatu hal yang baru perlu praktik, perlu dikerjakan langsung. Semoga program yang akan berjalan selama 2 tahun ini benar-benar memberikan efek positif pada masyarakat. Amin

Sabtu, 22 Oktober 2016

Change

“If it doesn’t challenge you, it does’t change you”

Ini salah satu quote yang paling saya favoritkan hingga sekarang. Apalagi quote ini relevan dengan keadaan sekarang, yaitu menjadi seorang perantau. Perantau yang kini berjuangan menuntut ilmu agar ada peningkatan kualitas hidup.

Hal yang paling saya khawatirkan adalah ketika saya tidak bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Maka karena itu perlu adanya tantangan hidup agar timbul suatu perubahan. Merantau adalah salah satu cara untuk merasakan sebuah “perubahan”. Jika kita tidak memberi tantangan untuk diri sendiri, tentu tidak akan mengubah suatu apapun dari diri kita.

Dua bulan berlalu sudah dan kini menjadi warga (sementara) di kota Bogor. Saya menjadi mahasiswa pada program studi Agribisnis IPB sejak awal September 2016. Terpilih menjadi penerima beasiswa LPDP juga anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT. Alhamdulillah, suatu syukur yang tak terkira bisa mewujudkan mimpi menuntut ilmu ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Allah memberikan saya peluang untuk bisa melihat lebih kehidupan yang lebih nyata melalui perbedaan adat, kultur, bahasa dan cuaca daerah lain selain di Aceh.

Sejak memperoleh kepastian berkuliah di IPB, saya sengaja tidak ingin mencari tahu deskripsi riil terkait situasi dan kondisi Kota Bogor. Saya membiarkan pengetahuan dan segala sesuatu tentang Bogor berjalan seiring waktu secara natural. Hanya garis besarnya saja yang saya kepoin dari senior yang terlebih dulu tinggal di Bogor. Mengapa demikian? karena menurut saya, itulah yang membuat sebuah tantangan dan petualangan hijrah ke daerah baru menjadi semakin bermakna. Terkadang pun apa  yang kita dengar dari orang lain akan berbeda feel nya dengan apa yang kita lihat dan kita rasakan secara nyata. Eciee. Haha. Let it be to be a wild world! I was really excited to get a new experience.

Kamis, 23 Juni 2016

Esensi PK – Sebuah Kenangan Balin Bahari

Menjadi suatu keberkahan yang tak terkira ketika akhirnya saya resmi bergabung di keluarga besar LPDP. Impian mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikan magister dikabulkan oleh Allah hanya dengan 3 bulan persiapan. Padahal sejak berjuang 4 tahun lebih di tingkat sarjana, saya sama sekali tidak mendapatkan beasiswa dari kampus. Allah memberikan jawaban melalui LPDP. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Saya bergabung diangkatan PK-69 setelah beberapa hari mendapatkan email kelulusan beasiswa LPDP. Saya pun mencari tahu apa itu PK. Seperti yang dijelaskan di website resmi PK LPDP, PK (Persiapan Keberangkatan) merupakan program pembekalan yang diselenggarakan oleh LPDP bagi para Calon Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia yang dilaksanakan selama enam (6) hari.

PK-69 Balin Bahari
Tujuan PK memberikan penguatan terhadap pola pikir dan penanaman nilai-nilai (values) bagi peserta agar dapat menjunjung tinggi idealisme, integritas, kemandirian dan memiliki pengaruh yang signifikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan memiliki komitmen untuk berusaha menjadi pemimpin masa depan bagi Indonesia yang mandiri dan bermartabat. 

Itu sih pengertian bakunya PK. Tapi, menurut saya PK lebih dari sekedar ajang berkumpulnya para awardee. Saya merasakan banyak nilai moral yang terselip disetiap momennya. Saya banyak belajar bagaimana caranya respect pada 3 hal. Time, People and System. Ini sudah saya rasakan sejak masa pra-PK yang berlangsung 2 bulan lamanya. Masa pra-PK mengharuskan saya berkomunikasi intens melalui IM Telegram karena ada banyak tugas yang harus dikerjakan jarak jauh. Kebayang gimana borosnya baterai handphone dan kuota internet. Hehe. But it was ok. It was a risk, a challenge.

Seperti kata Pak Kamil (Ketua PIC PK) di hari perdana PK, bahwa mengikuti PK harusnya seperti membiarkan gelas kosong dan kemudiaan diisi value yang diperoleh saat PK berlangsung. Saya sangat mengingat hal ini. Saya mengosongkan segala perasaan yang tidak penting, berpikiran positifm melepaskan segala beban dan membentuk diri saya yang baru. The real me. Dan ternyata benar, kesan PK berbeda dengan program kepemimpinan atau program persiapan lainnya. PK membiarkan setiap diri awardee menemukan jati dirinya sendiri tapi tetap mengikuti rule yang telah disepakati diawal.

Jumat, 20 Mei 2016

Bunga Cempaka Penuh Harapan


Tanggal 10 Maret 2016 menjadi sebuah hari yang tak akan terlupakan. Ketika sedang bersantai dirumah, Sebuah email masuk dan membuat saya terkejut tak terkira. Email tersebut menyatakan bahwa saya lulus menjadi salah seorang penerima beasiswa pendidikan Indonesia LPDP di Batch 1 tahun ini. Alhamdulillah.

Memang LPDP bukanlah satu-satunya sasaran saya saat itu. Saya juga sedang mempersiapkan diri dan berkas penting untuk aplikasi beasiswa AAS dengan tujuan InsyaAllah ke Melbourne University. Tekad untuk menjadi seorang scholarship hunter di sepanjang tahun 2016 sudah sangat bulat dan saya ikhlas melepaskan semua kesempatan emas untuk bekerja.

Meskipun berat karena harus berfokus pada aplikasi-aplikasi beasiswa, saya tetap harus menahan diri sekuat-kuatnya untuk tidak luluh dengan tawaran-tawaran pekerjaan yang menggiurkan. Melanjutkan studi adalah sebuah keputusan akhir. Tentu keinginan saya ini sangat didukung oleh kedua orang tua. Mereka mendukung dengan segala jerih payah serta doa mereka agar saya tetap mengutamakan pendidikan.

Tak dipungkiri memang ada harapan yang tinggi untuk bisa lulus di LPDP diawal tahun 2016. Allah memang selalu mendengar doa hambaNya. Alhamdulillah Allah memberikan jawaban itu sangat cepat di awal percobaan mengajukan aplikasi beasiswa LPDP. Allah memberikan saya kesempatan untuk segera bisa memulai perkuliahan tahun ini. InsyaAllah.

Lika-liku Proses Seleksi

LPDP, dengan lambangnya yang berbentuk kuncup bunga cempaka memberikan arti yang mendalam bagi siapa saja yang memahaminya. Yaitu fleksibel berkembang sesuai zaman dan dengan harapan mengharumkan nama bangsa Indonesia. Menjadi salah satu bagian dari awardee LPDP adalah sebuah kebanggan sekaligus karunia yang Allah berikan.

Semua hal yang kita dapatkan tak terlepas dari usaha dan doa. Dan ini lah yang sangat saya rasakan saat proses seleksi. Sejak lulus sarjana dari Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, saya segera mengikuti tes TOEFL ITP di Banda Aceh. Target skor yang harus dicapai adalah minimal 500. Sebenarnya saya agak ragu mencapai target itu. Pasalnya karena saya sudah sangat jarang mengulang-ngulang materi TOEFL. Tapi bismillah, dengan penuh keyakinan, harapan dan ketenangan, proses tes saya lalui dengan baik. Alhamdulillah, saya memperoleh skor TOEFL ITP 500! Sungguh diujung batas minimal. Saya percaya Allah mendengar doa-doa di shalat malam dan Allah mengijinkan saya untuk mencapai target skor minimal.

Dengan bantuan beberapa orang teman, saya meminta bantuan untuk mengoreksi tulisan esai yang akan menjadi salah satu penilaian aplikasi awal LPDP. Saya akui, mereka adalah orang-orang yang sangat berjasa membantu saya untuk melewati tahap seleksi administrasi. Dan benar saja, saya lulus tahap administrasi. Suatu syukur yang tak terkira.

Tahap seleksi substansi yang berlangsung di Gedung Keuangan Medan adalah tahap yang paling inti untuk menembus beasiswa LPDP ini. Banyak cerita berkesan yang hingga sekarang pun masing terpatri jelas di benak saya. Mulai dari bocornya ban motor 30 menit sebelum waktu tes sampai di fase menangis saat wawancara. Suatu pengalaman yang benar-benar menguji mental saya. Saat itu saya benar-benar drop dan penuh dengan rasa pesimis. Namun Allah menjawab lagi doa-doa saya. Tanggal 10 Maret menjadi hari yang membahagiakan di dalam hidup.

Dilema Tujuan Perkuliahan
Setelah ada beberapa teman yang tahu bahwa saya lulus beasiswa, mereka pun banyak bertanya kemana tujuan kuliah saya. Saya menjawab, IPB. Ya, kuliah di IPB adalah tujuan saya.

“Loh, kenapa gak kuliah ke luar negeri?”

Pertanyaan ini begitu banyak terlontar. Mulai dari teman terdekat, dosen bahkan saya juga bertanya ini di dalam hati. Kenapa?

Bagi saya, kuliah ke luar negeri bukanlah sekedar cerita hidup tentang jalan-jalan. Kuliah ke luar negeri adalah belajar dan mendapatkan pengalaman hidup sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu, perlu persiapan yang sangat matang untuk dapat hidup di negara yang sama sekali berbeda dengan Indonesia, terutama lagi berbeda dengan kampung halaman, Aceh. Baik bahasa, budaya, dsb. Itu semua tidak semudah membalikan telapak tangan dan hanya dengan modal “ingin”. Saya ingin belajar lebih banyak di pulau Jawa yang notabe menjadi sebuah pulau berkumpulnya berbagai suku yang heterogen. Toh, universitas di Indonesia juga tak kalah baiknya dengan universitas di luar negeri bukan?

Berkat izin, pengertian dan support dari orang tua, saya mantap memilih tujuan IPB dengan bidang ilmu sains agribisnis. Memang awalnya saya juga sempat berkeinginan untuk mengikuti program double degree ke Goettingen University selama setahun. Tapi mengingat bahwa LPDP sulit memperbolehkan pergantian program reguler Dalam Negeri ke program double degree, akhirnya saya ikhlas untuk tetap yakin pada pilihan awal untuk mengambil program regular di prodi Sains Agribisnis.

Saya percaya, dimana pun emas berada, maka emas tetap menjadi emas. Oleh karena itu, saya berusaha untuk ikhlas dari sekarang belajar mendalami agribisnis di Indonesia. Saya percaya, kesempatan ke luar negeri akan selalu ada kapanpun saya siap jika Allah mengijinkan. Saya juga yakin ketika orang tua sudah meridhai, maka Allah juga akan meridhai.

Dengan tulisan ini saya berterima kasih kepada semua teman-teman yang membantu dan mendoakan saya dalam proses seleksi LPDP. Dan terima kasih yang tak terkira pada kedua orang tua tercinta. Semoga LPDP menjadi jalan yang membantu saya untuk mewujudkan impian-impian saya kelak. Semoga di masa depan saya mempu menjadi sebuah bunga cempaka abadi yang membanggakan orang tua, agama, dan daerah serta mampu mengharumkan nama bangsa Indonesia.

Sindiran Heboh: Yang Gaji Kamu Siapa?

Sejak video seorang Menteri Kominfo Rudiantara, beberapa waktu lalu beredar dan menghebohkan sejagat dunia maya dan dunia nyata, saya pun t...