Kamis, 29 Mei 2014

Selamat Ulang Tahun, Ayah

Keluarga kami sejak dulu bukanlah keluarga “gaul” yang menggangap Hari Ulang Tahun adalah hari yang spesial dan perlu dirayakan besar-besaran. Tapi juga bukan keluarga yang terlalu fanatik dengan istilah “Hari Ulang Tahun”. Perayaan ulang tahun di keluarga kami hanya sebatas makan bersama dengan menu kesukaan. Not really a special day. We’d like to celebrate it with spending time together and going somewhere.

Masih teringat jelas di memori ini, ketika berumur 7 tahun akhirnya saya bisa merasakan bagaimana pesta ulang tahun. Dengan gaun jahitan berwarna perak, saya merasa sangat senang di hari itu. Teman-teman sepermainan (tetangga) dan teman-teman sekolah berdatangan sambil membawa kado. Mereka semua memakai gaun yang indah sambil menenteng kado masing-masing.

Tapi jujur saja, dulu saya masih sangat lugu. Merayakan ulang tahun itu hanya semata-mata ingin mendapatkan kado dari teman-teman. Hehe, asik ya, membayangkan masa kecil. Kita berpikir seperti tidak ada beban.

Nah pada akhirnya, 25 Mei yang lalu, ayah tercinta pun tiba giliran berulang tahun. Awalnya saya lupa dengan tanggal spesial itu. Tapi setelah adik saya, Dita, mengabari bahwa hari itu adalah hari spesial, saya pun kemudian segera mengabari ayah.

“Ayah tahu hari ini hari apa? Hari ini ulang tahun Ayah“, sambil cengengesan. haha
“Iya, Dita bilang seperti itu“ jawab ayah kalem.
(wah ini ayah santai aja ya. Gak ada yang spesial-spesialnya)
“Selamat ulang tahun ya yah. Panjang umur ayah, sehat juga“
“Iya, Amin, yang penting anak ayah semuanya sukses nanti" doa ayah.

Saya pun langsung terharu mendengar doa ayah ini. Karena meskipun ayah tidak terlalu menggangap hari itu adalah hari yang spesial. Tapi ayah mendoakan kami anak-anaknya agar sukses kedepan. Ya Rabb, semoga Engkau senantiasa menjaga kedua orang tuaku

Ayah, Sosok Orang Tua Yang Perhatian
Saya bersyukur karena ditakdirkan mempunyai seorang ayah yang (meskipun) hanya seorang guru. Ibu juga seperti itu. Jadi, selain mengajar di kelas, mereka masih mempunyai waktu yang cukup buat kami anak-anaknya. Bayangkan jika orang tua saya adalah orang tua karir yang terlalu sibuk dengan pekerjaan kantor, mana mungkin saya tahu cara berwudhu yang benar, bagaimana saya harus mengerti melihat jam, mengerti tajwid saat mengaji. Saya bersyukur karena orang tua menjadi guru terbaik dalam hidup. Yah, saya benar-benar bersyukur.

Ayah bukan lah sosok sangar yang ditakuti oleh orang banyak. Ayah terbiasa bergaul dan ramah dengan orang lain. Hal ini terlihat karena ayah punya relasi yang bagus dengna orang lain.Perhatian yang ia berikan tercurah pada anak-anaknya. Terutama saya, sebagai anak pertama. Saya banyak diajari oleh ayah tentang agama, dan wawasan umum selama dirumah. Meskipun Matematika bukanlah menjadi bidang andalan ayah, tapi saya sangat bisa mengerti perkalian dan mengenal cara baca jam analog.

Memang Ayah dan Ibu dulu tidak terlalu banyak mengajari saya tentang ini dan itu. Saya lebih senang belajar otodidak dan segera menanyakannya pada ayah dan ibu jika ada hal yang tidak saya mengerti. Lambat laun kemandirian saya pun tumbuh dari masa-masa ini.

Tidak Merokok Dan Senang Dengan Kebersihan
Ayah pernah bilang kalau Ayah bukan salah satu anak muda “gaul“ di masa mudanya. Istilah “gaul“ identik dengan perokok. Lah Ayah? Sampai sekarang ayah bukan perokok. Ini lah yang saya banggakan dari seorang Ayah.Beliau mampu memberikan contoh yang baik hingga tua pada anak-anaknya.
Ayah Saat Mengajar

dan Ibu Saat Mengajar
Pekerjaan rumah pada dasarnya sangat wajar jika dilakukan oleh perempuan. Tapi di keluarga kami, Ayah adalah satu-satu orang yang sangat responsive terhadap kebersihan. Dalam satu hari, setiap pagi dan sore jika tidak ada jadwal mengajar, ayah sering membersihkan rumah. Menyapu, menyiram bunga, dsb. Ini pekerjaan yag biasa dikerjakaan perempuan. Tapi ayah dan ibu seperti bisa membagi pekerjaan rumah. Sebaliknya, Ibu selalu dan hanya mengerti tentang seluk beluk di dapur. Masalah bikin kue, es krim, mie, dsb, wah itu jagonya ibu deh! hehe

Banyaknya peralatan dan perkakas pecah belah di rumah membuat ayah selalu overprotecting menjaganya. Ayah rajin membersihkannya dan sangat gamang tiap kali banyak sepupu dan keponakan yang berlari-lari dirumah. Saya sendiri jadi was-was. Huft.

Selamat Ulang Tahun , Yah
Bahkan ketika tulisan ini ditulis pun, ayah tidak pernah membacanya. Ya, ayah bukanlah orang yang melek teknologi. Hingga saat tulisan ini dipublish pun, saya masih memberitahukan pada ayah bagaiman membuka keumala-goldenwings.blogspot.com. hehe

Tapi tulisan ini tidak harus dibaca, saya ikhlas menuliskannya.


Perasaan sayang, gembira, dan respek pada orang tua jauh dari sekedar menulis kata-kata sederhana di blog ini. Meskipun demikian, saya merasa lega, karena meskipun jarak jauh, saya bisa berbuat sesuatu meski hanya dengan kata-kata.

Selamat hari lahir Yah, semoga keinginan Ayah agar anak-anaknya sukses terkabul. Panjang umur dan sehat selalu. Toga yang akan aku pakai tidak lama lagi kau lihat. Membanggakanmu sekarang dan masa depan. Amin


Jumat, 16 Mei 2014

Nasibku Malang, Ginjalku Lelang

Sugiyanto adalah satu dari sekian orang dinegeri ini yang terjepit dalam gemelut ekonomi sehingga bergantung pada keberuntungan menjual organ vital. Mendapatkan rupiah berpuluh juta dinegeri ini ternyata memutar pikiran dan perasaan masyarakat ekonomi kebawah untuk menjual salah satu ginjalnya. Suginyato, menjadi sosok yang kian dilirik media semenjak kasusnya menyinggung ekonomi dan pendidikan di negeri Zamrud Khatulistiwa.

Kenekatan menjual ginjal adalah jalan keluar terakhir untuk menebus ijazah anaknya yang ditahan oleh pihak Pasantren Al Asyiriah, Bogor. Biaya yang harus ia bayar untuk membayar ijazah SMP dan SMA anaknya adalah 17 juta ditambah biaya adminstrasi Rp 20.000,-/hari. Sungguh biaya yang sangat mahal, terutama untuk seorang ayah yang hanya berprofesi sebagai tukang jahit.


Mungkin kita semua juga tidak asing lagi dengan berita yang sempat melejit di pertengahan tahun lalu ini (Juni 2013). Kasus yang dengan sangat cepat dibeberkan oleh media ini diawali persoalan yang cukup simpel, “ijazah”. Rasanya kok ada sih kasus seperti ini terjadi di Negeri Meutuah)* kita? Negeri yang digadang-gadang dengan semboyan Gemah Ripah Loh Jinawi)*. Negeri yang punya sumber daya alam yang sungguh luar biasa melimpah.

Kasus penjualan ginjal ini mulai “menyenggol” saya lagi ketika mendengar update berita terbaru disalah satu stasiun televisi swasta (16/5/2014). Shara Meilanda Ayu, yang akrab disapa Ayu hilang dari rumah selama 1 bulan. Ada apa gerangan?  Pasalnya Ayu hilang bersama pacarnya dan tidak mengikuti kuliah beberapa kali. Ini sungguh mengecewakan ayahnya yang berjuang hingga rela hampir menjual ginjal berharganya.


Ayu mendapatkan sorotan dari media dan berhasil menggugah Moh. Nuh, Menteri Pendidikan RI, untuk membantu keluarga malang ini. Diterima sebagai salah satu mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta meski nilai tidak mencapai standar merupakan hal yang sangat disyukuri oleh Sugiyanto. Tapi kini ia hanya bisa menanggung malu karena merasa masih punya tanggung jawab moral pada Pak Menteri. Anak yang dulunya membuatnya rela berpanas-panasan mencari pembeli ginjal akhirnya hilang bersama pacar yang tidak jelas. Niat ikhlas yang ia abadikan di hati akhirnya sirna semenjak anaknya mulai menunjukkan keinginan tidak ingin melanjutkan sekolah.

Jual Ginjal adalah Life Style?
 Ya, bisa jadi. Karena pada dasarnya menjual ginjal terjadi akibat desakan tuntutan ekonomi. Sehingga masyarakat mencari jalan pintas untuk mendapatkan solusi permasalahan hidup. Menjual ginjal sebenarnya tidak hanya terjadi masyarakat kalangan bawah maupun menengah ke bawah. Ini bisa juga terjadi pada masyarakat kalangan atas yang prinsip “punya segalanya”. Tapi melihat tuntutan ekonomi dan zaman modern sekarang ini, masyarakat menjual ginjalnya karena life style yang penuh dengan gengsi semu. Demi membeli tas bermerek, baju mahal, dan perhiasan, tentu saja tidak menutup kemungkinan menjual ginjal untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Untungnya Indonesia masih tergolong negara yang masyarakatnya tidak terlalu nekat dibanding negara-negara lain. Persentasenya bisa dikira jika menjual ginjal dikarenakan faktor ekonomi. Meski merupakan organ yang paling vital, ternyata banyak orang yang mengorbankannya. Lalu, patutkah ini dijadikan suatu life style di negara kita? Think again.


Saya kira, banyak orang yang menjadikan ginjal sebagai pelarian karena mereka tidak tahu persis apa fungsi penting dari sebuah ginjal. Meskipun kita semua memiliki dua ginjal, rasanya akan berbeda hanya hidup dengan satu ginjal. Two is better than one.

Faktor tendensi ekonomi dan ketidaktahuan dalam masyarakat adalah penyebab mengapa seseorang memutuskan untuk menjual ginjal. Menjual ginjal dengan alasan faktor ekonomi jelas hanya jalan keluar jangka pendek. Beda halnya jika ginjal dibutuhkan untuk transplantasi untuk mereka yang membutuhkan.

Apa Rasanya Hidup dengan Satu Ginjal?
Setiap manusia memiliki 2 ginjal, dikanan dan dikiri tulang belakang. Sebagai organ vital ekskresi, ginjal berfungsi penting untuk menyeimbangkan cairan dan zat. Jika ginjal sudah tidak berfungsi normal dan dalam keadaan kronis stadium akhir, maka diperlukan transplantasi ginjal sehingga nantinya dapat meningkatkan kualitas hidup.

Hidup dengan satu ginjal, tentu ada yang berbeda. Jika seorang pendonor ginjal tidak sehat, maka sudah bisa dipastikan ginjalnya juga tidak sehat sehingga hidup dengan satu ginjal bisa membuat kesehatannya semakin memburuk. Seorang pendonor harus dipastikan kesehatannya terlebih dahulu jauh dari penyakit hipertensi dan diabetes.


Memang ada sebagian orang yang bisa hidup normal dengan satu ginjal. Tapi tetap saja ia harus bisa menjaga kesehatannya dengan baik karena jika terlalu lelah dan daya tahan tubuh melemah, justru ginjal tersebut akan ‘memberontak“. Jadi, sebelum sakit, mari kita jaga ginjal berharga ini dengan baik. Menjaga kadar gula, darah dan tentu saja menghindari rokok.

Relasi Kesehatan, Ekonomi dan Pendidikan
Apa benang merah yang bisa kita ambil dari semua kasus penjualan ginjal? Kasus Sugiyanto yang seakan-akan dipersulit hanya karena ijazah mengindikasikan bahwa ada yang tidak beres dalam sistem pendidikan. Sembari demikian, ini juga membuktikan bahwa ekonomi masyarakat tidak lah diatas rata-rata. Dan akhirnya memilih jalan  mengorbankan kesehatan demi sejumlah rupiah. Sungguh miris.

Setidaknya saya juga bisa menarik kesimpulan bahwa negara berperan penting dalam masalah ini. Negara juga harus berperan untuk memajukan demokrasi ekonomi. Jangan sampai alasan ekonomi dijadikan embel-embel untuk mengorbankan kesehatan dan memihak pada pendidikan yang serba riweuh)*.

Sungguh sangat disayangkan jika terlalu banyak anak seperti Ayu yang tidak bersyukur sudah diberikan ayah yang begitu bersemangat menyekolahkan anaknya, rela mengorbankan ginjal berharganya dan bahkan sudah mendapatkan perhatian dari kementerian pendidikan. Kecewa rasanya kok ada sih anak yang malah memilih lari ke pacarnya dan mengabaikan tanggung jawab moral pada ayahnya? Dapat beasiswa dari Pak Menteri pula untuk masuk kuliah.

Tapi ayah tetap lah ayah.

“Bapak rela jika kamu tidak mau kuliah lagi. Mungkin kamu malas untuk berpikir dengan kuliah. Bapak hanya ingin membahagiakan kamu. Jika kamu lebih bahagia dengan tidak kuliah, Bapak rela. Pulang lah, nak“. Ujar Sugiyanto, dengan nada tegar di stasiun televisi malam itu.

Tak lama kemudian Ayu menelepon ayahnya secara live. Ternyata ia sudah pulang kerumah saat tahu ayahnya diwawancarai. Ia mengaku malu jika ayahnya harus membeberan semuanya di media. Sangat disayangkan, niat ikhlas orang tua tidak dihargai pada anaknya.

Saya banyak belajar dari kasus ini. Hingga menggerakkan jari-jari saya untuk beropini lewat tulisan. Semoga kita semua bisa belajar dari pengalaman orang lain. Terutama hikmah bagaimana menghargai usaha dan niat ikhlas dari orang tua. Sungguh, orang tua memberikan terbaik untuk anaknya meski harus mengorbankan nyawa [].



Note :
Gemah Ripah Loh Jinawi : Tentram dan makmur serta subur tanahnya
Meutuah : (Bahasa Aceh) : Baik, damai, ten
Riweuh : (Bahasa Sunda), Ribet, Rumit, Repot

Selasa, 13 Mei 2014

Layang-layang dan Benangnya

Aku tidak pernah tahu makna dari sebuah layang-layang. Ya, yang aku tahu ia hanya sebuah permainan yang sering dimainkan adikku saat masih kecil. Tidak lebih. Pada saat itu adikku sibuk membuat layangan sederhana yang terbuat dari plastik dan lidi. Setelah selesai ia berlari sambil mencari angin yang tepat agar layang-layangnya bisa terbang tinggi. Hanya sebatas itu. Layang-layang tidak lah begitu spesial untukku.

Hingga akhirnya memori membawaku untuk berpikir lebih dalam tentang makna sebuah layang-layang. Pikiran tentang layang-layang membuatku melayang semenjak ibu menjelaskan mengapa perempuan harus menjaga hati dan kehormatannya. Lalu sepintas aku merasa malu. Aku mungkin belum sepenuhnya menjadi apa yang ia harapkan.

Sebuah layang-layang pastilah mempunyai benang yang berkualitas. Sangat mustahil jika layang-layang dapat terbang tinggi jika benangnya tidak kuat. Layang-layang membutuhkan benang untuk dapat terbang, tanpa benang ia hanya akan menjadi barang yang tak berguna dan menjadi sampah.


Benang berkualitas tentu saja berharga lebih mahal dari benang biasa, tak akan kalah meski diadu dengan benang yang lain. Tak ada benang lain yang memutuskannya. Layang-layang dan benang adalah sepasang jodoh yang dari sana telah ditakdirkan berpasangan.

Tapi ada juga layang-layang yang hanya mampu terbang rendah, benangnya tak cukup bagus untuk menahannya terbang lebih tinggi. Ada pula layang-layang yang kemudian putus, tak mampu benang menahan layang-layang itu untuk tetap terikat, kalah oleh kuatnya angin.

Ada juga yang bermain adu layangan, saling bergesekan benang dengan benang yang lain. Akhirnya lagi-lagi salah satunya putus, benang dan layang-layang terpisah. Layang-layang yang kalah tak akan lagi berharga, benang yang kalah tak akan lagi dipakai. Disimpan, menjadi usang, dan mungkin saja dibuang.

Namun, ada pula layang-layang yang mampu terbang tinggi. Benang mampu menjaganya terbang dengan tenang. Angin yang menerpa tidak lah seberapa selama layang-layang masih bisa dikendalikan dan benang masih bisa dipertahankan. Layang-layang ini lah yang tentu saja diharapkan.


Laki-laki adalah layang-layang dan perempuan adalah benang. Tanpa perempuan, laki-laki tak akan menjadi apa-apa. Dibalik ketinggian (kesuksesan) laki-laki, ada perempuan dibaliknya. Oleh karena itu, bagi perempuan, jadilah seperti benang yang berkualitas terbaik. Buatlah layang-layang kelak terbang setinggi-tingginya, karena setinggi apapun ia terbang, ia selalu terikat dan akan bergantung dengan perempuan. Jagalah layang-layang agar dia tidak putus dan hilang arah, ingatlah bahwa layang-layang selalu ingin terbang tinggi. Perempuan memang mengikat, tapi ia senantiasa tahu manakala harus bersikap (memanjang dan memendekkan sulurnya).

Begitulah analogi dari sebuah layang-layang. Mengagumkan bukan? Sungguh setiap hal yang ada didunia ini punya makna. Tergantung kita menilainya. Tergantung bagaimana kita bisa belajar dari setiap celah kehidupan ini. Baik benang, layang-layang, dan angin adalah tiga hal yang saling berhubungan. 

Ini bukan hanya dari cerita Ibunda, tapi juga dari tiap kata-kata yang pernah kubaca. Aku ingin menjadi sebaik-baiknya benang untuk layang-layangku. Menjadi perempuan yang kuat, sabar dan selalu bisa memotivasi sang terkasih mencapai kesuksesannya. Lalu kau mau jadi benang yang seperti apa? Layang-layang yang seperti apa?





Minggu, 04 Mei 2014

Benarkah Orang Tua adalah Guru Terbaik?

Tentu saja tiap orang akan memberikan respon yang berbeda dengan pertanyaan ini. Mereka akan menjawab berbeda berdasarkan dari karakter, emosional dan latar belakang pendidikan mereka masing-masing. Tapi, jika pertanyaan ini ditujukan kepada saya, maka saya akan menjawab - Iya,  benar, orang tua adalah guru terbaik.

Pada satu sisi, orang tua adalah orang terdekat dan paling mengerti tentang apa yang kita butuhkan. Oleh karena itu, orang tua adalah orang yang paling tahu disetiap perkembangan fisik maupun mental. Sebagai orang tua, mereka akan membagikan setiap kesulitan dan kebahagiannya pada kita. Mereka lah yang lebih tahu disetiap gerak-gerik yang kita miliki.

Orang tua akan mengajari semua hal tentang apa yang kita sukai dan apa yang kita tidak sukai. Misalnya, jika orang tua sering membelikan anaknya buku tentang binatang laut, maka perlahan anak tersebut akan lebih menyukai hal-hal yang berkaitan dengan laut. Mereka akan senantiasa menjelaskan semua hal yang berkaitan dengan binatang laut. Seperti bagaimana mereka berkembangbiak, dimana habitatnya, apa makanannya dll. Selain itu, secara langsung maupun tidak langsung, anak akan meniru orang tua selama memberikan didikan dirumah. Orang tua juga akan menurunkan sifat yang tidak baik pada anaknya jika orang tua tidak memberikan contoh perilaku yang terpuji.

Di sisi yang lain, di sekolah, kita akan di ajari oleh guru yang berpengalaman dalam hal ilmu pengetahuan. Tapi apakah seorang guru bisa seutuhnya bisa mengajarkan kita bagaimana berkomunikasi yang baik antar sesama? bagaimana menghadapi orang yang tidak dikenal? bagaimana berperilaku sopan, dan bagaimana membuat keputusan yang tepat untuk hidup kita? Hanya orang tua yang akan menghabiskan hidup mereka untuk bisa mencintai kita. Kepedulian yang mereka berikan adalah suatu cara agar kita bisa mengarungi hidup tanpa pertimbangan egois semata.

Meskipun orang tua tidak specialized di pendidikan, tapi peran mereka untuk menunjang pengetahuan anak-anak sangat lah besar. Orang tua mungkin tidak bisa mengajari kita Matematika, Kimia atau Biologi, tapi mereka sangat bisa memberikan kita pelajaran hidup tentang bagaimana harus mandiri, kuat dan percaya pada diri sendiri.

Tak Hanya Karena Orang Tua

Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri. Namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991). 

Lingkungan adalah faktor penting untuk membentuk kepribadian anak/remaja. Menjadi remaja berarti menjalani masa penemuan jati diri yang membuat psikologis menjadi lebih terlihat secara signifikan. Selain perubahan fisik, lambat laun akan terjadi perubahan psikologis  sehingga kepribadian dan sosial remaja juga akan terbentuk.

Oleh karena itu, peran teman dan guru disekolah juga ikut terlibat dalam perkembangan anak. Bagaimana anak terlibat dalam pergaulan teman sebaya, mandiri dengan peraturan sekolah dll. Perkembangan perilaku anak/remaja lambat laun akan terbentuk dari tiap interaksi yang terjalin.

Dengan adanya nasihat dari teman maupun guru di sekolah, kita bisa jadi akan lebih mudah menerima dan mengikuti saran dari mereka. Tapi itu semua tidak akan menggantikan sosok dari orang tua. Bagi saya, hanya orang tua yang akan menghabiskan waktunya untuk kita. Mereka yang akan menjadi guru hidup terbaik kita. Tidak hanya untuk sekarang, tapi juga untuk seluruh hidup kita nanti.


I believe that parents are the best teachers because their lessons last forever. My parents have the most role in my education during my life and I will always be grateful for everything they have taught me.
Saya bersama ayah dan ibu saat masih balita
Ayah dan Ibu saat saya berumur 20 tahun
Lihat, sofa yang ayah dan ibu duduki itu masih awet sampai sekarang. Semoga cinta adinda pada ayah dan ibu lebih dari awetnya sofa itu. Sepanjang masa :)

Minggu, 27 April 2014

Gampong Pande, The Most Historical Site in Banda Aceh

On Tuesday (April 22 2014), My community Turun Tangan, attended to Napak Tilas History of Banda Aceh. The theme was “Wisata Titik Nol Gampong Pande”. This tour was not only followed by a communities in Banda Aceh, but also followed by senior high school students and the prominent people in goverment. It had begun in the morning and finished in noon.

The Program which was sponsored by Disbudpar and KNPI Aceh was held to celebrate 809 anniversary of Banda Aceh city. There were many other communities which also supported this program such as Agam Inong Banda Aceh, BEM Teknik Serambi Mekkah, Diwana Institute, HMI, and Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah).  Actually, this program was the second time after goverment had held it last year. Despite of second time, society was still enthusiastic to attend it.

Honestly, I have never visited Gampong Pande before. My friends too. I have known about this historical site since horrendous discovery of 3000 dirham (gold coins) last year. News in media said that Gampong Pande was the center of Banda Aceh where empire of Aceh built. For that reason, I thought going to Gampong Pande was great chance to know more about history of Banda Aceh.

My friends and I arrived at 9.00 WIB at Gampong Pande. We were rather confused because there were no many visitors there. But, several minutes later, they came. Many of them were students and civil servants. For the first agenda, among the others, we went to Tuanku Dikandang tomb. Tuanku Dikandang was one of the evidences in the past. Gampong Pande has been ever  became a center of Islamic empire. He was a in charge in that era.

Based on the informations I got, Gampong Pande was a the original name of Banda Aceh. Many Sultan tombs were found there. These were the evidences that Islamic Empire had ever stayed at Gampong Pande. Why did it call as Pande (Acehnese language: Clever)? Was that place inhabited by clever (expert) people on that time? Obviously, not only there were many Sultan and Lakseumana tombs were found there but also it was the place where the expert goldsmiths lived. The handicrafts they made were sold to Turkey, Malaysia, French, and UK. HencHHence, it called as Gampong Pande. Base on these discoveries, Banda Aceh had become the oldest city in South-East Asia. Aceh Empire was very famous when it was in leadership era of  Iskandar Muda and also in others Sultan era.

Illiza Sa’aduddin Djamal, who has responsible for government in Banda Aceh city said that for celebrate this 809 Kota Banda Aceh anniversary, there were 2 things that we have to do. First, we must have a good “Acehnese” manners. The manners were how to  “peumulia jamee”, how to dress-well as a moslem, and so on. Second, we must keep our cultural heritage due to it was our precious thing. Gampong Pande is one of the most historical site which we have to keep. So who will keep our cultural heritage if we do not?


After we had listened and discussed with Aceh Historian, we had luch and talked to each others. I was glad  to attend this historical tourism. I think this progam was very useful, especially for youth. Gampong Pande is not the only one historical site in Banda Aceh, but also there are Putroe Phang Park, Keumala Hayati Harbor and many others site. We have to know more about our historical site. The most quote which makes me impressed is “Mate Aneuk Meupat Jeurat, Gadoh Adat pat Tamita”. I hope we can learn everything about Aceh’s heritage and know how to keep our heritage well.

Minggu, 20 April 2014

Simposium yang Membawa Berkah

Di pagi hari Kamis lalu (17/4/2014), saya sedang asik menonton “Rush” sendirian di rumah. Pada saat itu saya benar-benar sedang tegang melihat aksi Niki Lauda (Daniel Bruhl). Ia mempertaruhkan 20% resiko hidupnya di arena F1, Jepang, melawan rival nya yang paling berat, James Hunt (Chris Hemsworth). Tiba-tiba handphone saya berdering  tanda ada panggilan masuk. Saya agak ragu sebenarnya karena harus “me-pause” adegan yang paling keren itu. Hehe. Akhirnya pun saya menjawab panggilan. Wah ternyata itu adalah panggilan dari dosen saya, Pak Baihaqi. Kira-kira begini lah pembicarannya.
“Keumala, kamu sedang dimana? Apa ada di kampus?”, tanya beliau.
“Gak pak, kebetulan keumala sedang dirumah”...(dan belum mandi), *haha
“Bisa kamu segera ke kampus untuk meliput berita? Saya perlu rilis beritanya dan kalau bisa kamu kirimkan beritanya nanti ke media”, jelasnya
Wah, keumala kok gak tau informasinya ya pak? Acaranya sudah dimulai pak?”, saya bertanya dengan nada agak gugup.
“Belum, ini masih pembukaan. Segera datang ke kampus ya”
“Baik pak...”
Jeng jereeng. Dengan keadaan masih bau asem karena belum mandi, akhirnya saya mengalah untuk tidak lanjut menonton Niki Lauda yang super keren itu. Ke kampus  saya memakai baju DETaK. Baju itu memang saya pakai tiap kali meliput berita. Saya juga membawa identitas diri sebagai wartawan.

Tiba di kampus, tepatnya di ruang MPR (Multi Room Purpose) saya agak kelabakan melihat banyak sekali orang-orang berbaju dinas dan dosen-dosen diluar ruangan. Sebaliknya, tidak banyak mahasiswa yang terlihat. Hingga akhirnya acara dimulai, saya pun memberanikan diri masuk ke ruangan dan mencatat apa yang perlu dicatat.
Simposium Pangan
Dan ternyata, Fakultas Pertanian mengadakan Simposium Pangan dengan tema “Mengembalikan Aceh Sebagai Lumbung Pangan Nasional”. Simposium ini diadakan untuk menyambut ulang tahun ke-50 tahun Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.
Simposum Pangan yang berlangsung dari pagi hingga sore hari mengundang beberapa pembicara yaitu Hasballah Bin M. Thaib (Bupati Aceh Timur), Agus Bambang (Kabid Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan), Muhammad Tanwier Mahdi (Wakil Ketua I DPR Aceh), Perwakilan Kementerian Pertanian, perwakilan PT. Sygenta Indonesia dan Bank Mandiri.
Simposium ini sebenarnya adalah serangkaian acara dalam rangka menyambut ulang tahun emas (50 tahun) Fakultas Pertanian. Ini adalah simposium pertama sebelum 3 simposium lain yang akan dilaksanakan pada bulan 6,8, dan 11.
Setelah mewawancarai Bu Yuliani Aisyah, selaku ketua panitia simposium yang juga Ketua Jurusan THP (Teknologi Hasil Pertanian), di simposium ini diundang beberapa stakeholder seperti Pemberi Kebijakan, Pemberi Anggaran dan Pelaksana.
Yang saya dapatkan selama duduk diruangan adalah Aceh dalam 10 tahun terakhir ini mengalami penurunan dalam hal pembangunan pertanian dan kontribusinya terhadap nasional.  Persentasenya 3,79% di tahun 2004 menjadi 2,18% di tahun 2012. Aceh bukan lagi menjadi lumbung pangan karena banyak hasil produksi didistribusi ke luar daerah, ke Medan contohnya.
Namun sebenarnya Aceh memiliki potensi untuk menjadi lumbung pangan, terutama jika lahan yang ada benar-benar di optimalkan untuk pertanian. Aceh Timur merupakan kabupaten yang diharapkan menjadi lumbung pangan untuk komoditi Jagung, Padi dan Kedelai.
“Kita butuh lahan produktif, yaitu lahan abadi yang berfungsi untuk menciptakan benih-benih unggul nantinya. Lahan tersebut bisa kita tanami dengan tanaman palawija. Jadi, ketersedian lahan adalah hal yang terpenting saat ini”, ungkap Hasballah Bin M. Thaib, Bupati Aceh Timur dalam penyampaiannya.
Mengembalikan Aceh sebagai lumbung pangan dapat dilakukan dengan cara mengoptimalkan areal dan membuka areal baru untuk tanaman yang berpotensi baik untuk ekonomi rakyat. Meskipun banyak faktor pembatas seperti varietas benih, dan bantuan anggaran, namun tantangan ini harus siap dihadapi oleh tiap stakeholder agar muncul solusi.
Harapan menjadikan Aceh sebagai lumbung pangan tidak akan terwujud jika mekanisme antar stakeholder selama ini tidak diperbaiki. Baik dari pemeritah pusat, provinsi maupun kabupaten. Lahan yang sudah ada harus dioptimalkan dan jika perlu dibuka areal khusus untuk pertanian termasuk lengkap dengan irigasi dan kebutuhan lain yang mendukung.
Sebagai pendengar yang baik dengan polpen dan kertas yang ada ditangan, saya menangkap ada emosi yang mucul diantara pembicara. Hal ini terbukti saat Bupati Aceh Timur, Rocky (Panggilan gaul Bupati Aceh Timur) seperti memojokkan pihak DPR dan Dinas yang menganggap kucuran dana untuk program di kabupaten banyak “disembunyikan”. Tapi Alhamdulillah simposium masih tetap berjalan dengan lancar karena pada akhirnya emosi mereka tidak menimbulkan suat permasalahan. Emosi hanya sedikit terpancing karena masing-masing memberikan opini yang berbeda.
“Yang paling penting sekarang ini adalah ketersedian benih”, ujar Agus Bambang, perwakilan dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Aceh. Sedangkan Bupati Aceh Timur mengatakan bahwa yang paling penting itu adalah ketersediaan lahan. Jika lahan produktif sudah ada, maka akan mudah bagi kita untuk menciptakan benih. Pendapat boleh beda sih, tapi tujuan tetap sama kan? Setuju?
Ngobrol Bareng “Petinggi”
Coba pikir, apa enaknya sih jadi Wartawan? Jalan kesana kesini, panas-panasan, dll. Tapi tahukah kamu? Sebagai pihak yang paling netral, sebenarnya wartawan adalah profesi yang paling keren. Kenapa? Karena kita dapat bertemu dengan orang-orang hebat dan saling bertukar pikiran. Ya, ini lah yang saya rasakan.
Pukul 12.00, setelah simposium berakhir, saya mencari ketua panitia simposium untuk menanyakan hal-hal lain yang menunjang rilis. Ketika saya bertemu dengan ketua panitia, saya malah disuruh bergabung dengan rombongan yang terdiri dari Dekan, Ketua Jurusan, Bupati Aceh Timur beserta staff, perwakilan dari PT.Sygenta Indonesia dan  Kementerian Pertanian. (Wah ada apa ini? Saya kan cuma mau nanya sedikit saja. Kan gak mesti ikut rombongan orang hebat itu kan? Haduh. Saya kan jadi maluuu) Dengan perasaan agak gugup, akhirnya saya masuk ke mobil Pak Dekan. Agar tidak terlalu kaku, saya mencoba bersikap “luwes” dan memulai pembicaraan dengan Bu Yuliani, Ketua Jurusan THP.
Akhirnya setelah makan siang (ditempat yang saya kira agak elit), saya pun akhirnya dipersilahkan untuk “ngobrol” dengan Pak Bupati dan perwakilan dari Kementerian Pertanian. Yaah, sebenarnya saya masih amatiran. Tapi saya berusaha profesional. Mencoba bertanya, mengerti dan kembali bertanya agar tidak terlihat kaku.
Setelah bertanya panjang lebar, akhirnya saya beserta rombongan kembali lagi ke kampus dan melanjutkan sesi siang.  Pada malam hari, akhirnya berita berhasil terpublish di DETaK. Beritanya bisa baca di sini. Tapi sayangnya saya belum sempat mengirim ke Serambi karena tulisan saya terlalu telat dikirim.
So, saya merasa bahwa “Do what you love and love what you do” adalah benar adanya. Saya menyukai jurnalistik dan akhirnya saya bisa bertemu langsung dengan narasumber secara langsung. Berkahnya bukan karena saya bisa menikmati makan gratis. Tapi karena saya bisa membawa pekerjaan yang saya sukai ini bermanfaat untuk orang lain melalui tulisan. Wawasan saya pun kian bertambah karena berdiskusi langsung dengan orang-orang yang sudah ahli dibidangnya. Semua pekerjaan adalah baik jika kita melaksanakannya dengan ikhlas, benar kan?






Jumat, 18 April 2014

Agriculture is My Choice

On one day, I asked something to my mom enthusiasticallly, “Mom, if we eat spinach, what nutrient we will get? Is it a vitamin? Which vitamin is it? Is it useful for my eyes?”. I was so curious. As a Biology teacher, my mom anwered my questions. That is why I like to ask everything to her. I am not a relax if something makes me anxious. When I was a student in senior high school, I was ambitious to be a nutrient specialist. I loved to find out the nutrient of food. At the weekend after school, besides writting the poems, I used to collect all references about nutrient of food. Week by week, I searched them on the internet and made a collection. There were some photos and the explanation of consumption effects in it. My friends borrowed my collection bind and I was really pleasure. I hoped that I would continue my study to famous university.

In fact, several years later, I failed to continue my study to the nutrious departement. Finally my destiny was being accepted in Agricultural of Economic of Syiah Kuala University. It was unpredictable! Because I had absolutely never thought about agriculture before. However, my parents and my senior always support me even if I had to forget my dream as nutrient specialist. They made me sure that agriculture is a God choice. “Agriculture will be your passion if you love it so much, you had better go with it”, said Bang Toga, one of my motivator senior.

Year by year, I go through my life as an agriculture student in Unsyiah. At first and second year, I did not join any organisations in campus because I had to prove to my beloved parent that I could study well and made them proud. And you know? I successed to get GPA over 3,5. My parent was proud of me. I was so grateful and blessing. I said thanks to Allah.

On my third and fourth study year in campus, I started to join some student organisations such as DETaK, BEM, Himasep, Kophi, Sobat Bumi and vounterring in Turun Tangan Aceh. I also joined IYF and ILC representative from Aceh. I think what I have gotten until this time are not my true succsess. I just want to feel free and get many friends. I have been learning everything about leadership, success, love, hopeful, spirit and modesty from inspiring people. Because we can learn everything anywhere, anytime and by anyone.

Accepting choice to be an Agriculture student is my destiny. I believe that my dreams are started by this choice. I wish I could continue my study abroad and get master degree. Germany and Australia are my country where I will visit and study later. I would like to take Food Safety or Agricultural Economics and Rural Development major. I want to be a lecturer instead of nutrient specialist. “Homo proponit, seud zeus disporit”. Man proposes but God disposes, does not it? Dream is our prayer. I trust it.

So guys, have you taken the choice? Have you dreamt the dreams? Never be pessimist. I had ever watched a movie “Forrest Gump”. Forrest as a main actor. He said, ”Life is like a box of chocolates. You never know what you are gonna get”. If you are an Agriculture student, it is ok! It is great! Agriculture is the best field. Indonesia, especially Aceh, expects that it will be the best future chance. So, do you dare to choose? Yes you do ^_^

Minggu, 06 April 2014

Dilema Industri Kelapa Sawit

Ketika Fakta Berbicara
            Tak dipungkiri lagi, kini kelapa sawit menjadi tanaman yang memiliki prospek tinggi dalam hal ekonomi. Indonesia adalah salah satu negara penghasil minyak kelapa sawit dan menjadikan minyak kelapa sawit sebagai penyumbang devisa terbesar.
           Meskipun perkebunan kelapa sawit menyerap 2,5 juta tenaga kerja sedangkan bisnisnya menyerap 3,06 juta tenaga kerja, pendapat pro dan kontra terhadap industri kelapa sawit ini tetap timbul. Ada yang pro dengan alasan dapat meningkatkan perekonomian, ada juga yang kontra karena kelapa sawit membawa isu lingkungan yang negatif. Berikut beberapa fakta yang memaparkan bahwa kelapa sawit tidak selamanya memberikan dampak negatif dan “mengerikan” bagi lingkungan.
1.      Sebagai Bahan Baku Diesel
Emisi gas rumah kaca dar minyak kelapa sawit lebih rendah dibandingkan dengan komoditas lain. Emisi rumah kaca kedelai adalah 1387 kg karbon sedangkan kelapa  sawit hanya setara dengan 835 kg karbon
2.      Menyerap Karbon Lebih Banyak
Kelapa sawit memiliki daur hidup 25-30 tahun yang mampu menyerap karbon lebih banyak seperti hutan alam. Oleh karena itu kelapa sawit sangat ramah lingkungan karena menjadi kanopi alami.
3.      Sebagai Bahan Baku Energi yang Ramah Lingkungan
Penggunaan minyak kelapa sawit dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sehingga mengurangi emisi gas rumah kaca
4.      Limbah Kelapa Sawit dapat Dimanfaatkan
Selain produk utama CPO (Crude Palm Oil) yang dapat diolah menjadi beberapa produk, limbah kelapa sawit juga dapat digunakan untuk pupuk cair dan pupuk padat (kompos), mulsa pakan ternak, arang aktif, dsb. Pemanfaatan limbah ini menjadikan industri kelapa sawit menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan.


Fakta yang disebutkan diatas hanya beberapa dari fakta-fakta yang bersumber dari Ditjen Perkebunan dan Dinas Kehutanan. Meskipun kenyataan ini sudah terbukti, namun masih ada pihak yang menganggap bahwa perencanaan industri sawit adalah suatu bencana, terutama jika industri kelapa sawit di optimalkan di Aceh. Mengapa? Seorang alumni Fakultas Pertanian Unsyiah berpendapat, “Kelapa sawit di Aceh tidak perlu intensif. Masih ada industri olahan tanaman perkebunan yang bisa diintensifikasikan seperti industri olahan kopi, kakao, dan karet. Selain itu, perkebunan di Aceh juga sulit dilakukan karena belum ditetapkan sistem kebun plasma sehingga berefek pada bahan baku dan olahan” (Suryadi, 3/4/2014).

Pendapat lain mengatakan, “Dampak negatif dari kebun sawit itu ada 5 hal, yaitu : penyorobotan lahan penduduk, tergusurnya plasma nutfah, persaingan sumber pangan, pengurasan air tanah, dan pemanasan global” (Heri Djuned, 3/4/2014)

Baik, saya tidak mengatakan pendapat ini salah, tapi pendapat ini adalah pendapat yang timbul dari perspektif individu yang berbeda. Jika Aceh menjadi contoh yang spesifik, wajar saja, karena banyak hal yang dapat dijadikan bukti. Seperi kasus rawa tripa dan perebutan hak tanah antara warga dengan salah satu perusahaan kelapa sawit di Aceh.

Lalu, Industri Kelapa Sawit Intensif di Aceh, Amankah?
Menurut Sekjen Apkasindo (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) dalam Lokakarya “Industri Perkebunan Kelapa Sawit yang Berkelanjutan dan Menyejahterakan” di Banda Aceh, Asmar Arsjad mengatakan bahwa industri perkebunan kelapa sawit sangat strategis diusahakan karena penghasilannya cukup besar, baik untuk PAD (Pendapatan Hasil Daerah) maupun untuk menyejahterakan masyarakat.
Ya, saya setuju dengan pendapat ini. Tapi, lagi-lagi , isu terhadap lingkungan tidak akan reda. Bagi saya ini juga diakibatkan karena komunikasi. Ada media dan jurnalis yang terlalu “lebay” memberitakan isu kelapa sawit sehingga memberikan respon yang signifikan terhadap aktivis maupun komunitas lingkungan. Seharusnya, jika memang kelapa sawit bersifat merusak karena menyerap banyak air tanah, maka menurut Asmar Asjad, wartawan harus langsung ke lapangan dan jangan terlalu ekstrim memberitakan sesuatu. Lalu, amankah? Bagi saya semuanya akan aman jika perusahan, masyarakat, dan pemerintah satu pikiran. Dan tentu saja ada yang harus dikorbankan demi suatu tujuan. Namun perlu dipikirkan lagi bagaimana pengorbanan tersebut tidak sebelah pihak dan resiko yang diperoleh adalah resiko yang paling kecil.

3P, Implementasi Industri Kelapa Sawit Berkelanjutan
            Nah, apa yang harus diperhatikan agar tercipta “Principle Of Sustainable Development” untuk industri kelapa sawit? Kita perlu mengingat prinsip 3P (People, Planet, Profit). People (Socially Acceptable), disini maksudnya suatu pembangunan industri yang ideal itu harus bisa menjaga hubungan sosial dengan masyarakat. Caranya   yaitu dengan menghargai hak-hak penduduk setempat, tidak menentang hukum adat, dan memanfaatkan sumber daya sehingga muncul agribinis yang diterima oleh masyarkat. Kemudian Planet (Environtmentally Friendly), disini industri dituntut untuk bisa menjadi Eco-Industry yaitu dengan cara optimum penggunaan pupuk, pengendalian hayati hama dan penyakit, konservasi energi (bisa dijadikan biodiesel), dan meminimalisir limbah. Dan yang terakhir adalah Profit (Economically Viable), yaitu perbaikan produktivitas, peningkatan efisiensi SDA/SDM dan pemasaran. Pemasaran yang dimaksud adalah perluasan pasar dan diversifikasi produk.
Jika 3 ini sudah bisa kita optimalkan, tidak ada masalah kan? Masalahnya sekarang adalah kita sebagai masyarakat terlalu banyak beropini dan selalu menyalahkan pemerintah. Pemerintah memang pihak yang mempunyai andil dalam suatu peraturan. Tapi yang menjalankannya adalah masyarakat dan perusahaan tertentu. Jika 3 stakeholder ini saling beradu pendapat dan menyalahkan, tentu tidak ada untungnya. Malaysia dengan SDM yang lebih baik dari Indonesia akan tetap merajai produksi CPO dan mensejahterakan bangsanya. Kita? Tentu juga bisa.
Saya hanya menyatukan perbedaan pendapat yang sering saya dengar. Mudah-mudahan negeri kita ini terus terjaga dengan bangsanya yang mau membangun negeri. Yaitu bangsanya yang mau berpikir positif dan bijak menyelesaikan suatu permasalahan. Dilema perkebunan dan industri sawit ini mungkin memang tidak akan habisnya sampai dimasa depan. Tapi setidaknya kita tahu apa yang terjadi dan berharap kita lebih optimis menyikapi ini. Bagaimana? Siap membangun industri yang suistainable?




Sindiran Heboh: Yang Gaji Kamu Siapa?

Sejak video seorang Menteri Kominfo Rudiantara, beberapa waktu lalu beredar dan menghebohkan sejagat dunia maya dan dunia nyata, saya pun t...