Kamis, 23 Juni 2016

Esensi PK – Sebuah Kenangan Balin Bahari

Menjadi suatu keberkahan yang tak terkira ketika akhirnya saya resmi bergabung di keluarga besar LPDP. Impian mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikan magister dikabulkan oleh Allah hanya dengan 3 bulan persiapan. Padahal sejak berjuang 4 tahun lebih di tingkat sarjana, saya sama sekali tidak mendapatkan beasiswa dari kampus. Allah memberikan jawaban melalui LPDP. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Saya bergabung diangkatan PK-69 setelah beberapa hari mendapatkan email kelulusan beasiswa LPDP. Saya pun mencari tahu apa itu PK. Seperti yang dijelaskan di website resmi PK LPDP, PK (Persiapan Keberangkatan) merupakan program pembekalan yang diselenggarakan oleh LPDP bagi para Calon Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia yang dilaksanakan selama enam (6) hari.

PK-69 Balin Bahari
Tujuan PK memberikan penguatan terhadap pola pikir dan penanaman nilai-nilai (values) bagi peserta agar dapat menjunjung tinggi idealisme, integritas, kemandirian dan memiliki pengaruh yang signifikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan memiliki komitmen untuk berusaha menjadi pemimpin masa depan bagi Indonesia yang mandiri dan bermartabat. 

Itu sih pengertian bakunya PK. Tapi, menurut saya PK lebih dari sekedar ajang berkumpulnya para awardee. Saya merasakan banyak nilai moral yang terselip disetiap momennya. Saya banyak belajar bagaimana caranya respect pada 3 hal. Time, People and System. Ini sudah saya rasakan sejak masa pra-PK yang berlangsung 2 bulan lamanya. Masa pra-PK mengharuskan saya berkomunikasi intens melalui IM Telegram karena ada banyak tugas yang harus dikerjakan jarak jauh. Kebayang gimana borosnya baterai handphone dan kuota internet. Hehe. But it was ok. It was a risk, a challenge.

Seperti kata Pak Kamil (Ketua PIC PK) di hari perdana PK, bahwa mengikuti PK harusnya seperti membiarkan gelas kosong dan kemudiaan diisi value yang diperoleh saat PK berlangsung. Saya sangat mengingat hal ini. Saya mengosongkan segala perasaan yang tidak penting, berpikiran positifm melepaskan segala beban dan membentuk diri saya yang baru. The real me. Dan ternyata benar, kesan PK berbeda dengan program kepemimpinan atau program persiapan lainnya. PK membiarkan setiap diri awardee menemukan jati dirinya sendiri tapi tetap mengikuti rule yang telah disepakati diawal.

Jumat, 20 Mei 2016

Bunga Cempaka Penuh Harapan


Tanggal 10 Maret 2016 menjadi sebuah hari yang tak akan terlupakan. Ketika sedang bersantai dirumah, Sebuah email masuk dan membuat saya terkejut tak terkira. Email tersebut menyatakan bahwa saya lulus menjadi salah seorang penerima beasiswa pendidikan Indonesia LPDP di Batch 1 tahun ini. Alhamdulillah.

Memang LPDP bukanlah satu-satunya sasaran saya saat itu. Saya juga sedang mempersiapkan diri dan berkas penting untuk aplikasi beasiswa AAS dengan tujuan InsyaAllah ke Melbourne University. Tekad untuk menjadi seorang scholarship hunter di sepanjang tahun 2016 sudah sangat bulat dan saya ikhlas melepaskan semua kesempatan emas untuk bekerja.

Meskipun berat karena harus berfokus pada aplikasi-aplikasi beasiswa, saya tetap harus menahan diri sekuat-kuatnya untuk tidak luluh dengan tawaran-tawaran pekerjaan yang menggiurkan. Melanjutkan studi adalah sebuah keputusan akhir. Tentu keinginan saya ini sangat didukung oleh kedua orang tua. Mereka mendukung dengan segala jerih payah serta doa mereka agar saya tetap mengutamakan pendidikan.

Tak dipungkiri memang ada harapan yang tinggi untuk bisa lulus di LPDP diawal tahun 2016. Allah memang selalu mendengar doa hambaNya. Alhamdulillah Allah memberikan jawaban itu sangat cepat di awal percobaan mengajukan aplikasi beasiswa LPDP. Allah memberikan saya kesempatan untuk segera bisa memulai perkuliahan tahun ini. InsyaAllah.

Lika-liku Proses Seleksi

LPDP, dengan lambangnya yang berbentuk kuncup bunga cempaka memberikan arti yang mendalam bagi siapa saja yang memahaminya. Yaitu fleksibel berkembang sesuai zaman dan dengan harapan mengharumkan nama bangsa Indonesia. Menjadi salah satu bagian dari awardee LPDP adalah sebuah kebanggan sekaligus karunia yang Allah berikan.

Semua hal yang kita dapatkan tak terlepas dari usaha dan doa. Dan ini lah yang sangat saya rasakan saat proses seleksi. Sejak lulus sarjana dari Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, saya segera mengikuti tes TOEFL ITP di Banda Aceh. Target skor yang harus dicapai adalah minimal 500. Sebenarnya saya agak ragu mencapai target itu. Pasalnya karena saya sudah sangat jarang mengulang-ngulang materi TOEFL. Tapi bismillah, dengan penuh keyakinan, harapan dan ketenangan, proses tes saya lalui dengan baik. Alhamdulillah, saya memperoleh skor TOEFL ITP 500! Sungguh diujung batas minimal. Saya percaya Allah mendengar doa-doa di shalat malam dan Allah mengijinkan saya untuk mencapai target skor minimal.

Dengan bantuan beberapa orang teman, saya meminta bantuan untuk mengoreksi tulisan esai yang akan menjadi salah satu penilaian aplikasi awal LPDP. Saya akui, mereka adalah orang-orang yang sangat berjasa membantu saya untuk melewati tahap seleksi administrasi. Dan benar saja, saya lulus tahap administrasi. Suatu syukur yang tak terkira.

Tahap seleksi substansi yang berlangsung di Gedung Keuangan Medan adalah tahap yang paling inti untuk menembus beasiswa LPDP ini. Banyak cerita berkesan yang hingga sekarang pun masing terpatri jelas di benak saya. Mulai dari bocornya ban motor 30 menit sebelum waktu tes sampai di fase menangis saat wawancara. Suatu pengalaman yang benar-benar menguji mental saya. Saat itu saya benar-benar drop dan penuh dengan rasa pesimis. Namun Allah menjawab lagi doa-doa saya. Tanggal 10 Maret menjadi hari yang membahagiakan di dalam hidup.

Dilema Tujuan Perkuliahan
Setelah ada beberapa teman yang tahu bahwa saya lulus beasiswa, mereka pun banyak bertanya kemana tujuan kuliah saya. Saya menjawab, IPB. Ya, kuliah di IPB adalah tujuan saya.

“Loh, kenapa gak kuliah ke luar negeri?”

Pertanyaan ini begitu banyak terlontar. Mulai dari teman terdekat, dosen bahkan saya juga bertanya ini di dalam hati. Kenapa?

Bagi saya, kuliah ke luar negeri bukanlah sekedar cerita hidup tentang jalan-jalan. Kuliah ke luar negeri adalah belajar dan mendapatkan pengalaman hidup sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu, perlu persiapan yang sangat matang untuk dapat hidup di negara yang sama sekali berbeda dengan Indonesia, terutama lagi berbeda dengan kampung halaman, Aceh. Baik bahasa, budaya, dsb. Itu semua tidak semudah membalikan telapak tangan dan hanya dengan modal “ingin”. Saya ingin belajar lebih banyak di pulau Jawa yang notabe menjadi sebuah pulau berkumpulnya berbagai suku yang heterogen. Toh, universitas di Indonesia juga tak kalah baiknya dengan universitas di luar negeri bukan?

Berkat izin, pengertian dan support dari orang tua, saya mantap memilih tujuan IPB dengan bidang ilmu sains agribisnis. Memang awalnya saya juga sempat berkeinginan untuk mengikuti program double degree ke Goettingen University selama setahun. Tapi mengingat bahwa LPDP sulit memperbolehkan pergantian program reguler Dalam Negeri ke program double degree, akhirnya saya ikhlas untuk tetap yakin pada pilihan awal untuk mengambil program regular di prodi Sains Agribisnis.

Saya percaya, dimana pun emas berada, maka emas tetap menjadi emas. Oleh karena itu, saya berusaha untuk ikhlas dari sekarang belajar mendalami agribisnis di Indonesia. Saya percaya, kesempatan ke luar negeri akan selalu ada kapanpun saya siap jika Allah mengijinkan. Saya juga yakin ketika orang tua sudah meridhai, maka Allah juga akan meridhai.

Dengan tulisan ini saya berterima kasih kepada semua teman-teman yang membantu dan mendoakan saya dalam proses seleksi LPDP. Dan terima kasih yang tak terkira pada kedua orang tua tercinta. Semoga LPDP menjadi jalan yang membantu saya untuk mewujudkan impian-impian saya kelak. Semoga di masa depan saya mempu menjadi sebuah bunga cempaka abadi yang membanggakan orang tua, agama, dan daerah serta mampu mengharumkan nama bangsa Indonesia.

Minggu, 01 November 2015

Ketika JENESYS Kembali Memberi Harapan

Saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman mengikuti seleksi JENESYS (Japan-East Asia of Exchange for Youth and Student) minggu lalu.  Agar jejak perjuangan ke Jepang tak hanya tersimpan di pikiran, tergerak lah hati dan jemari saya untuk menuliskan pengalaman ini di blog (setelah sekian lama vakum. Hehe). Bukan untuk niatan untuk showing-off, tapi saya berharap dengan pengalaman yang saya bagikan ini akan bermanfaat bagi siapa saja yang membaca. Terutama bagi yang berminat keluar negeri, especially going to Japan.

Sambil menulis ini, ya saya sebenarnya harap-harap cemas, karena pengumuman hasil interview JENESYS belum keluar. Hehe. Semoga dengan menulis ini, bisa mengalihkan kegelisahan hati saya menunggu hasil akhinya..

Well, informasi ini sebenarnya saya dapati pertama kali dari senior Fakultas Pertanian Unsyiah. Yang saya tahu, beliau adalah mahasiswa berprestasi di kampus dan pernah mengikuti exchange student di Jepang. Jadi, saya memang sudah tahu tentang program ini dari dulu. Hanya saja saya belum tergerak hati untuk mengetahui lebih lanjut.

Cerita ini bermula dari informasi yang tersebar dari salah satu group whatsapp. Karena JENESYS mengingatkan saya akan kenangan yang berhubungan Jepang (cieehh), makanya saya langsung mencari tahu dan bertanya lebih lanjut dengan beliau. Huwoo, ternyata deadline pendaftaran program ini hanya SATU HARI! Persyaratannya memang tidak susah. 3 buah esai dengan pertanyaan yang berbeda, scan paspor, dan CV. Awalnya saya masih bimbang untuk apply. Alasannya karena saya harus menulis esai dalam bahasa inggris dalam waktu sehari. OMG! Tahu diri sih sebenarnya. Karena saya paling tidak bisa bekerja dikejar waktu apalagi dalam keadaan mepet. Biasanya ide menulis saya hilang. Menguap entah kemana. Tapi setelah berkonsultasi dengan orangtua (ibu saya sangat menyemangati), akhirnya saya bertekad keras untuk segera menulis. Paspor sudah ada ditangan, tinggal menulis saja kan? Bisa. Pasti bisa! Motivasi dari orangtua saya lah yang semakin menguatkan niat saya. Senior saya juga bilang kalau “kepepet itu indah”. Haha.

Kepepet itu Indah
Setelah berkonsultasi dengan dua orang senior DETaK, dan mempertimbangkan ide menulis dari ayah saya, akhirnya ide datang juga. Tahun ini JENESYS memberikan tema program “Peace Building” (awalnya saya gak ngerti maksud tema ini apa). Saya pun memutar keras ide dikepala untuk mendapatkan ide tulisan yang cemerlang dan cerdas.

Dengan bantuan editor sekaligus translator terbaik saya (senior di kampus), akhirnya semua berkas berhasil dibereskan pada menit-menit terakhir, pukul 00.00 WIB. Benar-benar mepet! Setelah mengalami kesusahan dan kepanikan saat submit aplikasi, akhirnya semua berkas berhasil terkirim. Submitted! Lega, senang dan bersyukur. Akhirnya jadi submit juga.

Keesokan harinya saya mendapatkan informasi kalau deadline program ini berlangsung dua hari. Wah, berarti saya salah informasi dong ya. Bukan salah, tapi saya tidak mencari informasi lebih lanjut. Disatu sisi saya senang sudah submit, tapi disatu sisi lainnya, saya takut esai yang dikirim tidak bagus. Merasa tidak optimal karena dibuat dalam keadaan kepepet.

Rabu, 09 September 2015

Terbelenggu di Dunia lain

Zaman ini; zaman canggih. Zaman yang semakin melampaui batas kekurangan. Manusia semakin pintar mengolah, memprediksi, dan bahkan mengakses. Dahulu jarak adalah hal yang paling dicemaskan oleh orang-orang karena keterbatasan akses. Teknologi masih menjadi hal yang “mahal” dan sulit dijangkau. Tapi sekarang? Koneksi dan relasi kini tak ada lagi pembatas. Apa saja, siapa saja, dimana saja, kapan saja, semua orang bisa saling berbagi informasi. Penggunaan media sosial contohnya. Saking pesatnya pengguna media sosial,  timbul lah sindirian bagi mereka yang terlanjur kudet (kurang update), “hari gini gak punya media sosial?” helooow…
Saya salah satu dari sekian juta ribu pengguna media sosial di dunia ini. Saya tidak lagi seperti semut kecil semenjak adanya kemudahan menggunakan media sosial. Meski tak pernah berjumpa atau tak saling mengenal, media sosial menjadi alat “mendekatkan”. Baik anak, anak-anak, remaja bahkan orang dewasa sudah sangat familiar dengan media sosial. Media sosial menjadi wadah sharing. Tapi sayangnya, banyak orang sulit membedakan lagi mana yang sharing, mana yang showing off (pamer). Perbedaannya sangat tipis.
Dulu saya maniak dengan media sosial. Terutama saat jamannya friendster dan facebook. Karena ngebetnya dengan kedua akun ini, saya selalu update dan rela kerajingan ke warnet demi melihat notifikasi dari teman. Paraaah! Nah, sekarang sudah ada yang lebih kekinian lagi seperti twitter, instagram dan path. Coba Tanya deh, siapa yang belum punya ketiga akun terbaru ini? Rasanya kudet banget kalau belum ada. Fufufu..
Kalau segi positifnya medsos, kamu tau sendiri lah ya. Pertukaran informasi menjadi lebih cepat dan setiap orang bisa menunjukkan eksistensinya. Laluuu, jika kita tidak dapat mengontrol dampak positif ini, justru kita yang bakal terkena dampak negatifnya. Seperti apa? Terkesan pamer dan tidak ada lagi yang namanya privacy.
Path, misalnya. Saya bergabung di path lebih kurang baru satu bulan. Asik sih, tapi terlalu terkesan pamer. Ah gimana enggak? Tempat dan musik aja perlu di share. Buat apa coba? Okee, kalau untuk gaya-gayaan. Tapi kepikiran gak, kalau ada orang yang sedang mematai dengan cara terus memantau path kita? Kemudian si penjahat mengikuti kemana pun tempat yang sudah kita update. Iiih. Ngerii. Itulah mengapa saya tidak terlalu update di path. Kecuali memang ada hal-hal menarik yang ingin saya bagikan. Ya agar banyak teman yang tahu. Bukan sekedar pamer. Hmm, kadang pas galau juga ada sih (sedikit). haha
Begitu juga dengan instagram. Saya lebih suka ngeshare foto bersama teman-teman, keluarga, tempat bersejarah dan keindahan alam. Walau bagaimana pun, karena instagram adalah medsos yang bersifat pribadi, otomatis saya juga akan memasukkan foto saya dan keluarga saya sendiri. Itupun tidak terlalu banyak. Keindahan alam juga bagus untuk dipost. Bagus untuk pariwisata kan? Mana tau daerah kita menjadi terkenal karena foto yang kita ambil. #iloveAceh
Kasus yang menimpa beberapa artis seperti Ruben Onsu dan Ayu Ting-Ting juga karena instagram. Foto anak mereka kedapatan menjadi target anak yang diperjualbelikan melalui instagram. Mereka pun harus melaporkan kejadian ini ke kepolisian. Menurut saya itu karena si artis ini terlalu heboh publish keluarganya. Pamer. Maaf ya Om Ruben dan Kak Ayu..
Dan yang baru-baru ini terjadi adalah kasus KD dan anaknya, Aurel. Masak iya apa-apa curhatnya di medsos? Kenapa gak selesaikan masalah dengan cara bertatap muka? Ini nih yang salah kaprah dari medsos. Ternyata medsos justru memperpendek silahturami.
Menggunakan medsos jangan sampai membuat kita jadi lupa diri ya kawan. Tetap humble. Jangan deh terlalu pamer dan curhat kelewatan. Agak susah memang bedain yang mana pamer mana yang gak. Karena kalau dibilang jangan pamer, pasti jawabannya “Cuma ngeshare aja kok”. Haha. Iya iya deeh.
Kalau curhat, mending ke orangnya langsung. Kalau galau, juga ke orangnya langsung aja. Mau kode-kodean? Saya udah pengalaman. Dan kodenya nyangkut, ilang dan akhirnya gak kesampean. Miris kaaan?
Jangan sampai teknologi memperdayakan kita. Jangan sampai kita terbelenggu di dunia maya sehingga lupa bagaimana kelanjutan hidup di dunia nyata. Kalau di dunia nyata saja kita sudah hilang arah, bagaimana kita mempersiapkan di dunia akhir (akhirat) nanti. Hati-hati :)

*Tulisan ini juga di post di tumblr : http://keumaladedelala.tumblr.com/

Jumat, 26 Desember 2014

Tsunami : Bukan Sekedar Kenangan

Sudah sepuluh tahun kisah sedih di hari minggu berlalu. Ratusan ribu orang tewas meninggalkan harta benda dan sanak saudara. Tak ada yang tersisa kecuali puing-puing sisa gelombang air dan kepiluan disanubari. Tragedi Tsunami sungguh menjadi suatu valuable lesson yang masih kami rasakan sampai sekarang. Ya, bagi kami, orang Aceh.

Hari ini, bertepatan pada hari yang penuh berkah, Jumat (26 Desember 2014), seluruh masyarakat Aceh mengenang peristiwa tragedi Tsunami. Bencana alam yang fenomenal ini mampu menyedot perhatian dunia. Seperti yang kita ketahui bahwa dulu ketika Aceh terpuruk, begitu banyak warga negara asing yang berasal dari suku, ras, dan agama yang berbeda ikut memberikan bantuan berupa materi maupun semangat spiritual. Sehingga seiringnya waktu, Aceh kini menjadi provinsi yang dikenal oleh dunia luar.

Namun pertanyaannya, apa yang pantas untuk dikenang? Tak semua orang tahu. Ingatlah, bahwa ini bukan seremonial belaka. Ya, aku mengerti mengapa semua orang menjadi “mehmoh” ketika  masuk ke bulan Desember. Bukan karena hari ibu, hari ayah, hari natal atau hari semacamnya. Tapi karena pada 26 Desember 2004 Aceh pernah ditimpa musibah besar. Sungguhpun hari ini menjadi hari yang bersejarah untuk Aceh dan dunia, tapi hakikatnya dampak kesedihan bagi orang Aceh tidak hanya selesai dalam satu hari. Tapi melekat kuat hingga hari ini. Sepuluh tahun lamanya. And now, It is really our appropriate  time to contemplete.

Aku adalah seorang gadis yang berasal dari daerah pantai barat selatan. Alhamdulillah kami sekeluarga selamat dari ganasnya Tsunami. Masih terbekas erat dibenakku, dipagi hari itu aku masih saja bisa bersantai setelah gempa 9 SR merobohkan menara masjid. Aku masih saja melalang buana berkeliling kota. Padalah mungkin jika lalai sedikit lagi, tak tahu lah, mungkin aku tak ada lagi di dunia ini.

Waktu itu aku masih berumur 12 tahun. Masih berjiwa ABG dan sering acuh tak acuh dengan dunia luar. Tapi ketika Tsunami terjadi, aku merasakan rasa syukur yang tiada tara. Adikku, Dita yang berumur 7 tahun kebetulan pada hari itu tidak tinggal bersama kami. Ia tinggal bersama pengasuhnya jauh dari rumah dan dekat dengan bibir pantai. Aku masih jelas teringat, ayah dan ibu begitu resah gelisah dan sempat menangis karena anaknya yang ketiga tak tahu lagi nasibnya. Ternyata Allah masih sayang pada kami. Ketakutanku kehilangan adik perempuan akhirnya mereda ketika ayah berhasil menemukan Dita bersama pengasuhnya sedang melewati air tsunami yang saat itu sedang surut.

Beberapa hari pasca Tsunami banyak sekali mayat yang hitam legam menggembung disepanjang pinggir jalan. Bau busuk begitu menyengat hidungku. Begitu menyedihkan. Aku membayangkan betapa sedihnya keluarga yang ditinggalkan. Mungkin ia meninggal ketika asik lari pagi di hari minggu, sedang asik menonton film kartun favorit, atau bahkan masih dalam keadaan tertidur. Aku juga masih ingat, ketika ketersediaan bahan pangan sangat terbatas, aku rela berlari-lari mengejar helikopter. Helikopter tersebut memberikan bantuan dengan cara melempar beberapa kotak mie. Apa daya, beberapa bungkus mie berserakan dan hancur ketika sampai ditanah. Tapi tetap aku ambil dan aku  bawa pulang untuk dimakan.

Sabtu, 20 Desember 2014

Cerita dibalik Indrapuri


Pada masa kesultanan Sultan Ali Mughayat Syah, diawal masa pemerintahan kesultanan, Aceh Besar berasal dari tiga daerah bekas kekuasaan kerajaan hindu yaitu Indrapuri, Indrapatra, dan Indrapurwa yang kemudian dikenal dengan istilah Aceh Lhe Sagoe. Sebagai salah satu daerah yang termasuk dalam Aceh Lhe Sagoe, Indrapuri menjadi daerah yang tidak hanya menarik dalam segi sejarah, tapi juga disetiap lini kehidupan didalamnya.

Indrapuri adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Aceh Besar yang memproduksi padi terbesar setelah Kecamatan Montasik dan Kecamatan Seulimum. Hasil produksi padi di Kecamatan Indrapuri pada tahun 2012 adalah 28.188 ton (BPS). Hasil yang sangat fantastis, bukan? Ditambah lagi, menurut data dari Badan Ketahanan Pangan Aceh tahun 2011 menunjukkan bahwa Aceh mampu mencapai surplus beras hingga 497.457 ton. Kecamatan Indrapuri menjadi daerah yang memberikan kontribusi dalam hal produksi beras di Aceh.
Sekelumit cerita inspirasi muncul dari sebuah perkampungan kecil di Indrapuri. Daerah yang terkenal dengan hamparan sawah hijau ini ternyata menyimpan nilai kehidupan yang tak banyak diketahui orang. Dibalik panorama beludru padi hijau yang indah, banyak raut wajah berpeluh yang sedang berjuang hidup demi sesuap nasi. Aku, seorang mahasiswa pertanian merasa beruntung karena menemukan the real life dari tiap canda tawa dan kesedihan mereka, para petani padi.

Kata orang, skripsi memberikan “ruh” yang berbeda disetiap prosesnya. Memang benar. Skripsi hanyalah secuil dari tantangan besar yang akan muncul dimasa depan. Mengapa? Karena skripsi sebenarnya menyimpan pesan moral yang luar biasa jika prosesnya benar-benar dinikmati. Selama lebih dari satu bulan, akhirnya aku menyelesaikan tahap pengumpulan data primer disana. Penelitian akhir yang menguras waktu, biaya, dan tenaga ini memberiku pengalaman yang sangat berkesan.

Terdapat tiga kampung yang menjadi daerah penelitian. Kampung Cureh, Kampung Cot Kareung dan Kampung Mureu Bueng Ue. Kampung tersebut adalah kampung yang dinobatkan menjadi kampung dengan program Demapan (Desa Mandiri Pangan) oleh Kementerian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan provinsi. Mayoritas penduduk di daerah tersebut bisa dikatakan masih tergolong miskin.

Banyak sekali lika-liku berpeluh lelah ketika menjelajahi kampung-kampung ini. Proses pertama yang harus aku lalui sebelum berani memasuki perkampungan adalah mempersiapkan berkas seperti surat keterangan penelitian, kuesioner dan note book. Persiapan yang tak kalah pentingnya adalah persiapan finansial. Tentu saja dengan jarak daerah penelitian yang lumayan jauh dari Banda Aceh, aku tetap harus mempertimbangkan isi dompet. Untungnya aku selalu mencatat semua pengeluaran sehingga segala kebutuhan bisa aku pertimbangkan dengan baik.

Rabu, 24 September 2014

Dewi Sandra’s Wise Quote and Library


I love sitting here
I got used to reading some books at library if campus is getting so terrible for my mind. If I got a “hectic-campus-day” and I had finished all of campus duty already, I prefer going to campus library than boosting at canteen. Stay cool over there and enjoy browsing information from internet. Yes of course, staying at library is more complete if my laptop, note book, and a pen had been on my table. Not truly such a fascinating habit, but I love do it.

My favourite part of Unsyiah Library is Journal Corner. I would like to visit this corner because there are many books, journals, magazines, brochures, etc. On Monday (Sept 23th 2014), I went to Unsyiah library by myself. I felt sad because my lecture canceled appointment we made yesterday. Huft, I was very disappointed. Annoyed.


Weekender Magazine was my best alternative to read. Actually, on every chance to visit this corner, I wish I could read all of them. But because of limit time, I just read one or two journal. Well, Weekender Magazine catched my eyes. I looked Dewi Sandra on its cover (yeah, although she hasn’t wore hijab yet). I was interested with all the content in.

Minggu, 31 Agustus 2014

Refresh Your Brain!

What is your feeling when you are depressed? Do have high appetite? Singing by yourself or watching some movies?  Alright, I am used to having exercise like jogging to make my brain to be fresh again. Browsing and writing will make me better than before.

In fact, we will be depressed if we do not get what we want. Hopeless is the crucial thing that can make us to be unstable facing on all the problems. Some people do not take the positive side of depression. They make many negative things that very unuseful for their body and soul. Eating to much is one of the easiest example. And eventually their weight will increase. What then? They will be regret, they will feel guilty why they do not take care for their weight.

My special adviced me that if I am getting depressed for something, I have to make my brain to be fresh with jogging, going around and doing all my hobbies. I absolutely realize it. So that if I get some problems, I will solve it one by one and take a break to refresh my brain. Actually it is not all about my brain but also for my body and soul. I think having a simple exercise such as jogging or walking around is  the best way to refresh my brain. it is better than eat soft drink or fast food, isn’t it? Thanks my special.

Well, this amazing photos was taken at Krueng Aceh. I stopped riding motorcycle and immadiatelly took this landscape. My friend said, the blue sky is always relaxing. Exactly! I hope I can face on all my problems soon. Do the best!


Sindiran Heboh: Yang Gaji Kamu Siapa?

Sejak video seorang Menteri Kominfo Rudiantara, beberapa waktu lalu beredar dan menghebohkan sejagat dunia maya dan dunia nyata, saya pun t...