Rabu, 07 Desember 2016

Muslimah Mutiara Generasi

Apa perbedaan antara talenta dan skill?
Ibu Ummu Salamah, seorang Entrepreuner, di acara talkshow Muslimah Day (3/12/2016) menjelaskan perbedaan kata “talenta” dan “skill”. Talenta bermakna sesuatu anugerah yang diberikan oleh Allah yang ada pada diri setiap manusia bahkan sejak kita bangun dari tidur. Kebalikannya, skill adalah sesuatu yang tidak serta merta ada disetiap diri manusia. Skill perlu diasah dan dipelajari agar potensi diri bisa muncul. Nah, beruntungnya, perempuan dianugerahi talenta yang sungguh luar biasa. Sebagai muslimah, saya bersyukur. Alhamdulillah

Perempuan, baiknya jeli dalam melangkah. Ya tentu melangkah menuju masa depan yang baik. Muslimah perlu memperbaiki akhlak dan pendidikan menjadi lebih baik, menyeimbangkan kesehatan fisik dan mental, bahkan perempuan juga perlu cerdas dalam memilih calon pendamping hidup. Naah loh. Hubungannya dengan jodoh apa? Oh jelas ada dong.

Sebelum seorang perempuan menjadi seorang ibu untuk anak-anaknya, tentu perlu pendamping hidup yang bisa mengayomi dan bersama-sama melangkah di masa depan. Jodoh adalah cerminan diri kita sendiri. Maka jika ingin mendapat jodoh yang baik, kita perlu memperbaiki diri menjadi lebih baik. 

“Makna sukses tidak hanya sebatas di dunia tapi juga harus sukses di akhirat”, ujar Bu Agusniar, seorang social worker sekaligus Direktur Yayasan Ruhamaa

Benar,cantik! 
Selama ini kita hampir lupa bahwa masih ada kehidupan setelah di dunia, yaitu kehidupan di akhirat. Mungkin karena itu juga acara talkshow ini tidak hanya mengundang akademisi dan entrepreneur, tapi juga social worker. Tidak hanya berfokus pada peningkatan profit semata atau indeks prestasi. Tapi seorang social worker akan memberikan kontribusinya untuk masyarakat yang pahalanya terus mengalir untuk tabungan amal. Muslimah yang tidak hanya melakukan suatu perubahan untuk dirinya sendiri, tapi juga memberikan manfaat untuk orang lain.

Muslimah sebagai mutiara generasi akan meningglkan banyak hal yang bermanfaat untuk keluarga, bangsa dan negara jika dipahami betul esensinya. Mengikuti acara ini saya~sebagai muslimah, banyak belajar bagaimana seharusnya rasa syukur~yang berlimpah~ ditanamkan dan bagaimana menjadi pribadi yang berakhlakul karimah.

Muslimah Day adalah agenda besar yang dilaksanakan oleh Himmpas (Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana) IPB dengan mengusung tagline “Muslimah Mutiara Generasi”. Saya menyempatkan diri menghadiri acara ini meski hanya duduk dan mendengar selama beberapa jam.

Baidewei, pulang dari talkshow, saya diberi kerudung syar'i cuma-cuma nih dari panitia. Wah, lumayan nambah koleksi kaan. Hehe. Selain membuka wawasan, ada manfaat lain yang didapatkan. Weekend pun menjadi bermanfaat. Alhamdulillah. Trims Himmpas IPB!


Minggu, 27 November 2016

Balindroponik, Menyapa Indonesia Lebih Baik

You’ve never know before you try. TRY, sebuah kata yang sekarang nongkrong dipikiran sehingga saya menunda tidur untuk menulis ini. Pengalaman hari ini begitu menggugah saya agar lebih believe. Ya, The Power of Mindset.

Hari ini, Minggu, 27 November 2016, saya dan beberapa teman seangkatan PK-69 LPDP melaksanakan kegiatan perdana Menyapa Indonesia “BalinDroponik” di kampung Bojong, Dusun Pasir Madang, Kecamatan Tenjo, Bogor. Program Menyapa Indonesia bisa dikatakan adalah kegiatan wajib yang diserahkan pada setiap PK (Persiapan Keberangkatan) untuk melakukan pengabdian masyarakat. Kecamatan Tenjo, adalah target daerah pengabdian masyarakat yang menjadi bagian dari program PK-69.
Kampung Piknik, begitu kami menyebutnya, berlokasi lumayan jauh jika ditempuh dari Kota Bogor. Jika menggunakan transportasi commuter line, waktu tempuh menuju Dusun Pasir Madang justru tidak terlalu lama. Saya dan bersama 2 orang dosen dari IPB dan 4 orang teman menggunakan mobil menuju kesana. Sedangkan sebagian teman lainnya menggunakan commuter line dan jasa angkot.


Pak Agus dan Pak Zul adalah 2 orang dosen IPB yang bersedia menjadi mentor kami selama melakukan program. Kami memilih hidroponik sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat disana. Tentu peningkatan kesejahteraan tersebut dimulai dari peningkatan pendapatan. Pendapatan yang ditingkatkan melalui usaha mandiri masing-masing keluarga. Hidroponik menjadi pilihan terbaik karena cara aplikasinya mudah dan ramah lingkungan.
Saya sendiri sangat tertarik dengan inovasi hidroponik. Memang hidroponik sudah sering terdengar, tapi sampai sekarang saya belum pernah melihat langsung aplikasinya. Alhamdulillah bersama Menyapa Indonesia saya dan beberapa teman lainnya berkesempatan untuk banyak belajar dan bahkan memberikan pengaruh pada masyarakat untuk maju bersama meningkatkan kemandirian.

 

“Kalau kita mau, tentu kita akan bisa”. Kata-kata Pak Agus ini terus terngiang ditelinga saya. Beliau memberikan motivasi pada ibu-ibu desa agar mengubah mindset “bodoh”, “tidak bisa” dan “malas”. Sungguh, beliau sangat banyak menyuntik motivasi, termasuk juga saya. Sebelum melakukan satu perubahan, motivasi dan mindset harus bisa terbentuk dari awal. Ini yang kami lakukan untuk memperkenalkan sesuatu yang baru pada suatu masyarakat.
Ibu-ibu yang mayoritas berprofesi rumah tangga mendengarkan motivasi dari beliau dengan antusias. Beberapa dari mereka semakin penasaran dengan hidroponik. Ini tentu feedback yang baik karena keinginan untuk lebih banyak tahu menjadi pintu membuka mindset. Kepolosan mereka pada sebuah inovasi baru terkadang membuat saya tertawa geli sekaligus kagum. Ternyata masih banyak orang-orang yang menginginkan sebuah perubahan.


Pertemuan perdana bertatap muka secara langsung dengan masyarakat berlangsung lancar. Meski sumber daya baik alam maupun manusia Dusun Pasir Madang ini kurang memadai, tapi kami yakin perubahan mindset akan mengubah nasib mereka agar lebih mandiri dan terbuka akan inovasi baru. Mencoba sesuatu hal yang baru perlu praktik, perlu dikerjakan langsung. Semoga program yang akan berjalan selama 2 tahun ini benar-benar memberikan efek positif pada masyarakat. Amin

Rabu, 16 November 2016

Hari Lahir

Keumala dalam bahasa Aceh berarti batu yang indah dan bercahaya. Sedangkan Fadhiela berasal dari bahasa arab “fadhilah” yang berarti keutamaan. Keumala Fadhiela, nama seorang gadis yang kembali berada di hari kelahirannya 24 tahun silam. Kedua orang tuanya memberikan nama dengan harapan agar ia tumbuh menjadi seseorang yang senantiasa bersinar dan memberikan manfaat pada orang lain. Tak banyak hal yang terlalu spesial darinya. Tapi semoga nama ini menjadi sebuah doa. Semoga.


Seperti hal nya orang lain ketika berada di hari kelahirannya, selalu ada doa yang terselip. Ada target yang diharap dan ada mimpi yang di rancang. Tapi itu semua akan menguap bebas di udara ketika tak ada niat yang tertanam kuat. Keumala hari ini meyakinkan dirinya bahwa apapun yang diberikan olehNya merupakan sebuah rahmat, rezeki, dan proses yang perlu diambil hikmahnya. Mudah saja jika Allah mengatakan “Kun Fa Yakun”. Tapi Allah memberikan sebuah proses. Sehingga tak semua yang diinginkan terkabul. Ada proses yang membuat diri harus punya fight dan improvement.

Kebahagiaan bukan dari seberapa banyak yang mengucapkan selamat. Bukan lilin yang menyala dan kado bercorak warna. Bahagia adalah ketika mampu memberikan kebahagian pada orang lain, membuat orang lain tersenyum dan senang hatinya. Semoga selalu ada syukur yang kita panjatkan disetiap helaan napas. Karena kita tak pernah tahu kapan ajal menjemput. “Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam: 15)


Sabtu, 22 Oktober 2016

Change

“If it doesn’t challenge you, it does’t change you”

Ini salah satu quote yang paling saya favoritkan hingga sekarang. Apalagi quote ini relevan dengan keadaan sekarang, yaitu menjadi seorang perantau. Perantau yang kini berjuangan menuntut ilmu agar ada peningkatan kualitas hidup.

Hal yang paling saya khawatirkan adalah ketika saya tidak bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Maka karena itu perlu adanya tantangan hidup agar timbul suatu perubahan. Merantau adalah salah satu cara untuk merasakan sebuah “perubahan”. Jika kita tidak memberi tantangan untuk diri sendiri, tentu tidak akan mengubah suatu apapun dari diri kita.

Dua bulan berlalu sudah dan kini menjadi warga (sementara) di kota Bogor. Saya menjadi mahasiswa pada program studi Agribisnis IPB sejak awal September 2016. Terpilih menjadi penerima beasiswa LPDP juga anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT. Alhamdulillah, suatu syukur yang tak terkira bisa mewujudkan mimpi menuntut ilmu ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Allah memberikan saya peluang untuk bisa melihat lebih kehidupan yang lebih nyata melalui perbedaan adat, kultur, bahasa dan cuaca daerah lain selain di Aceh.

Sejak memperoleh kepastian berkuliah di IPB, saya sengaja tidak ingin mencari tahu deskripsi riil terkait situasi dan kondisi Kota Bogor. Saya membiarkan pengetahuan dan segala sesuatu tentang Bogor berjalan seiring waktu secara natural. Hanya garis besarnya saja yang saya kepoin dari senior yang terlebih dulu tinggal di Bogor. Mengapa demikian? karena menurut saya, itulah yang membuat sebuah tantangan dan petualangan hijrah ke daerah baru menjadi semakin bermakna. Terkadang pun apa  yang kita dengar dari orang lain akan berbeda feel nya dengan apa yang kita lihat dan kita rasakan secara nyata. Eciee. Haha. Let it be to be a wild world! I was really excited to get a new experience.

Kamis, 23 Juni 2016

Esensi PK – Sebuah Kenangan Balin Bahari

Menjadi suatu keberkahan yang tak terkira ketika akhirnya saya resmi bergabung di keluarga besar LPDP. Impian mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikan magister dikabulkan oleh Allah hanya dengan 3 bulan persiapan. Padahal sejak berjuang 4 tahun lebih di tingkat sarjana, saya sama sekali tidak mendapatkan beasiswa dari kampus. Allah memberikan jawaban melalui LPDP. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Saya bergabung diangkatan PK-69 setelah beberapa hari mendapatkan email kelulusan beasiswa LPDP. Saya pun mencari tahu apa itu PK. Seperti yang dijelaskan di website resmi PK LPDP, PK (Persiapan Keberangkatan) merupakan program pembekalan yang diselenggarakan oleh LPDP bagi para Calon Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia yang dilaksanakan selama enam (6) hari.

PK-69 Balin Bahari
Tujuan PK memberikan penguatan terhadap pola pikir dan penanaman nilai-nilai (values) bagi peserta agar dapat menjunjung tinggi idealisme, integritas, kemandirian dan memiliki pengaruh yang signifikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan memiliki komitmen untuk berusaha menjadi pemimpin masa depan bagi Indonesia yang mandiri dan bermartabat. 

Itu sih pengertian bakunya PK. Tapi, menurut saya PK lebih dari sekedar ajang berkumpulnya para awardee. Saya merasakan banyak nilai moral yang terselip disetiap momennya. Saya banyak belajar bagaimana caranya respect pada 3 hal. Time, People and System. Ini sudah saya rasakan sejak masa pra-PK yang berlangsung 2 bulan lamanya. Masa pra-PK mengharuskan saya berkomunikasi intens melalui IM Telegram karena ada banyak tugas yang harus dikerjakan jarak jauh. Kebayang gimana borosnya baterai handphone dan kuota internet. Hehe. But it was ok. It was a risk, a challenge.

Seperti kata Pak Kamil (Ketua PIC PK) di hari perdana PK, bahwa mengikuti PK harusnya seperti membiarkan gelas kosong dan kemudiaan diisi value yang diperoleh saat PK berlangsung. Saya sangat mengingat hal ini. Saya mengosongkan segala perasaan yang tidak penting, berpikiran positifm melepaskan segala beban dan membentuk diri saya yang baru. The real me. Dan ternyata benar, kesan PK berbeda dengan program kepemimpinan atau program persiapan lainnya. PK membiarkan setiap diri awardee menemukan jati dirinya sendiri tapi tetap mengikuti rule yang telah disepakati diawal.

Jumat, 20 Mei 2016

Bunga Cempaka Penuh Harapan


Tanggal 10 Maret 2016 menjadi sebuah hari yang tak akan terlupakan. Ketika sedang bersantai dirumah, Sebuah email masuk dan membuat saya terkejut tak terkira. Email tersebut menyatakan bahwa saya lulus menjadi salah seorang penerima beasiswa pendidikan Indonesia LPDP di Batch 1 tahun ini. Alhamdulillah.

Memang LPDP bukanlah satu-satunya sasaran saya saat itu. Saya juga sedang mempersiapkan diri dan berkas penting untuk aplikasi beasiswa AAS dengan tujuan InsyaAllah ke Melbourne University. Tekad untuk menjadi seorang scholarship hunter di sepanjang tahun 2016 sudah sangat bulat dan saya ikhlas melepaskan semua kesempatan emas untuk bekerja.

Meskipun berat karena harus berfokus pada aplikasi-aplikasi beasiswa, saya tetap harus menahan diri sekuat-kuatnya untuk tidak luluh dengan tawaran-tawaran pekerjaan yang menggiurkan. Melanjutkan studi adalah sebuah keputusan akhir. Tentu keinginan saya ini sangat didukung oleh kedua orang tua. Mereka mendukung dengan segala jerih payah serta doa mereka agar saya tetap mengutamakan pendidikan.

Tak dipungkiri memang ada harapan yang tinggi untuk bisa lulus di LPDP diawal tahun 2016. Allah memang selalu mendengar doa hambaNya. Alhamdulillah Allah memberikan jawaban itu sangat cepat di awal percobaan mengajukan aplikasi beasiswa LPDP. Allah memberikan saya kesempatan untuk segera bisa memulai perkuliahan tahun ini. InsyaAllah.

Lika-liku Proses Seleksi

LPDP, dengan lambangnya yang berbentuk kuncup bunga cempaka memberikan arti yang mendalam bagi siapa saja yang memahaminya. Yaitu fleksibel berkembang sesuai zaman dan dengan harapan mengharumkan nama bangsa Indonesia. Menjadi salah satu bagian dari awardee LPDP adalah sebuah kebanggan sekaligus karunia yang Allah berikan.

Semua hal yang kita dapatkan tak terlepas dari usaha dan doa. Dan ini lah yang sangat saya rasakan saat proses seleksi. Sejak lulus sarjana dari Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, saya segera mengikuti tes TOEFL ITP di Banda Aceh. Target skor yang harus dicapai adalah minimal 500. Sebenarnya saya agak ragu mencapai target itu. Pasalnya karena saya sudah sangat jarang mengulang-ngulang materi TOEFL. Tapi bismillah, dengan penuh keyakinan, harapan dan ketenangan, proses tes saya lalui dengan baik. Alhamdulillah, saya memperoleh skor TOEFL ITP 500! Sungguh diujung batas minimal. Saya percaya Allah mendengar doa-doa di shalat malam dan Allah mengijinkan saya untuk mencapai target skor minimal.

Dengan bantuan beberapa orang teman, saya meminta bantuan untuk mengoreksi tulisan esai yang akan menjadi salah satu penilaian aplikasi awal LPDP. Saya akui, mereka adalah orang-orang yang sangat berjasa membantu saya untuk melewati tahap seleksi administrasi. Dan benar saja, saya lulus tahap administrasi. Suatu syukur yang tak terkira.

Tahap seleksi substansi yang berlangsung di Gedung Keuangan Medan adalah tahap yang paling inti untuk menembus beasiswa LPDP ini. Banyak cerita berkesan yang hingga sekarang pun masing terpatri jelas di benak saya. Mulai dari bocornya ban motor 30 menit sebelum waktu tes sampai di fase menangis saat wawancara. Suatu pengalaman yang benar-benar menguji mental saya. Saat itu saya benar-benar drop dan penuh dengan rasa pesimis. Namun Allah menjawab lagi doa-doa saya. Tanggal 10 Maret menjadi hari yang membahagiakan di dalam hidup.

Dilema Tujuan Perkuliahan
Setelah ada beberapa teman yang tahu bahwa saya lulus beasiswa, mereka pun banyak bertanya kemana tujuan kuliah saya. Saya menjawab, IPB. Ya, kuliah di IPB adalah tujuan saya.

“Loh, kenapa gak kuliah ke luar negeri?”

Pertanyaan ini begitu banyak terlontar. Mulai dari teman terdekat, dosen bahkan saya juga bertanya ini di dalam hati. Kenapa?

Bagi saya, kuliah ke luar negeri bukanlah sekedar cerita hidup tentang jalan-jalan. Kuliah ke luar negeri adalah belajar dan mendapatkan pengalaman hidup sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu, perlu persiapan yang sangat matang untuk dapat hidup di negara yang sama sekali berbeda dengan Indonesia, terutama lagi berbeda dengan kampung halaman, Aceh. Baik bahasa, budaya, dsb. Itu semua tidak semudah membalikan telapak tangan dan hanya dengan modal “ingin”. Saya ingin belajar lebih banyak di pulau Jawa yang notabe menjadi sebuah pulau berkumpulnya berbagai suku yang heterogen. Toh, universitas di Indonesia juga tak kalah baiknya dengan universitas di luar negeri bukan?

Berkat izin, pengertian dan support dari orang tua, saya mantap memilih tujuan IPB dengan bidang ilmu sains agribisnis. Memang awalnya saya juga sempat berkeinginan untuk mengikuti program double degree ke Goettingen University selama setahun. Tapi mengingat bahwa LPDP sulit memperbolehkan pergantian program reguler Dalam Negeri ke program double degree, akhirnya saya ikhlas untuk tetap yakin pada pilihan awal untuk mengambil program regular di prodi Sains Agribisnis.

Saya percaya, dimana pun emas berada, maka emas tetap menjadi emas. Oleh karena itu, saya berusaha untuk ikhlas dari sekarang belajar mendalami agribisnis di Indonesia. Saya percaya, kesempatan ke luar negeri akan selalu ada kapanpun saya siap jika Allah mengijinkan. Saya juga yakin ketika orang tua sudah meridhai, maka Allah juga akan meridhai.

Dengan tulisan ini saya berterima kasih kepada semua teman-teman yang membantu dan mendoakan saya dalam proses seleksi LPDP. Dan terima kasih yang tak terkira pada kedua orang tua tercinta. Semoga LPDP menjadi jalan yang membantu saya untuk mewujudkan impian-impian saya kelak. Semoga di masa depan saya mempu menjadi sebuah bunga cempaka abadi yang membanggakan orang tua, agama, dan daerah serta mampu mengharumkan nama bangsa Indonesia.

Minggu, 01 November 2015

Ketika JENESYS Kembali Memberi Harapan

Saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman mengikuti seleksi JENESYS (Japan-East Asia of Exchange for Youth and Student) minggu lalu.  Agar jejak perjuangan ke Jepang tak hanya tersimpan di pikiran, tergerak lah hati dan jemari saya untuk menuliskan pengalaman ini di blog (setelah sekian lama vakum. Hehe). Bukan untuk niatan untuk showing-off, tapi saya berharap dengan pengalaman yang saya bagikan ini akan bermanfaat bagi siapa saja yang membaca. Terutama bagi yang berminat keluar negeri, especially going to Japan.

Sambil menulis ini, ya saya sebenarnya harap-harap cemas, karena pengumuman hasil interview JENESYS belum keluar. Hehe. Semoga dengan menulis ini, bisa mengalihkan kegelisahan hati saya menunggu hasil akhinya..

Well, informasi ini sebenarnya saya dapati pertama kali dari senior Fakultas Pertanian Unsyiah. Yang saya tahu, beliau adalah mahasiswa berprestasi di kampus dan pernah mengikuti exchange student di Jepang. Jadi, saya memang sudah tahu tentang program ini dari dulu. Hanya saja saya belum tergerak hati untuk mengetahui lebih lanjut.

Cerita ini bermula dari informasi yang tersebar dari salah satu group whatsapp. Karena JENESYS mengingatkan saya akan kenangan yang berhubungan Jepang (cieehh), makanya saya langsung mencari tahu dan bertanya lebih lanjut dengan beliau. Huwoo, ternyata deadline pendaftaran program ini hanya SATU HARI! Persyaratannya memang tidak susah. 3 buah esai dengan pertanyaan yang berbeda, scan paspor, dan CV. Awalnya saya masih bimbang untuk apply. Alasannya karena saya harus menulis esai dalam bahasa inggris dalam waktu sehari. OMG! Tahu diri sih sebenarnya. Karena saya paling tidak bisa bekerja dikejar waktu apalagi dalam keadaan mepet. Biasanya ide menulis saya hilang. Menguap entah kemana. Tapi setelah berkonsultasi dengan orangtua (ibu saya sangat menyemangati), akhirnya saya bertekad keras untuk segera menulis. Paspor sudah ada ditangan, tinggal menulis saja kan? Bisa. Pasti bisa! Motivasi dari orangtua saya lah yang semakin menguatkan niat saya. Senior saya juga bilang kalau “kepepet itu indah”. Haha.

Kepepet itu Indah
Setelah berkonsultasi dengan dua orang senior DETaK, dan mempertimbangkan ide menulis dari ayah saya, akhirnya ide datang juga. Tahun ini JENESYS memberikan tema program “Peace Building” (awalnya saya gak ngerti maksud tema ini apa). Saya pun memutar keras ide dikepala untuk mendapatkan ide tulisan yang cemerlang dan cerdas.

Dengan bantuan editor sekaligus translator terbaik saya (senior di kampus), akhirnya semua berkas berhasil dibereskan pada menit-menit terakhir, pukul 00.00 WIB. Benar-benar mepet! Setelah mengalami kesusahan dan kepanikan saat submit aplikasi, akhirnya semua berkas berhasil terkirim. Submitted! Lega, senang dan bersyukur. Akhirnya jadi submit juga.

Keesokan harinya saya mendapatkan informasi kalau deadline program ini berlangsung dua hari. Wah, berarti saya salah informasi dong ya. Bukan salah, tapi saya tidak mencari informasi lebih lanjut. Disatu sisi saya senang sudah submit, tapi disatu sisi lainnya, saya takut esai yang dikirim tidak bagus. Merasa tidak optimal karena dibuat dalam keadaan kepepet.

Rabu, 09 September 2015

Terbelenggu di Dunia lain

Zaman ini; zaman canggih. Zaman yang semakin melampaui batas kekurangan. Manusia semakin pintar mengolah, memprediksi, dan bahkan mengakses. Dahulu jarak adalah hal yang paling dicemaskan oleh orang-orang karena keterbatasan akses. Teknologi masih menjadi hal yang “mahal” dan sulit dijangkau. Tapi sekarang? Koneksi dan relasi kini tak ada lagi pembatas. Apa saja, siapa saja, dimana saja, kapan saja, semua orang bisa saling berbagi informasi. Penggunaan media sosial contohnya. Saking pesatnya pengguna media sosial,  timbul lah sindirian bagi mereka yang terlanjur kudet (kurang update), “hari gini gak punya media sosial?” helooow…
Saya salah satu dari sekian juta ribu pengguna media sosial di dunia ini. Saya tidak lagi seperti semut kecil semenjak adanya kemudahan menggunakan media sosial. Meski tak pernah berjumpa atau tak saling mengenal, media sosial menjadi alat “mendekatkan”. Baik anak, anak-anak, remaja bahkan orang dewasa sudah sangat familiar dengan media sosial. Media sosial menjadi wadah sharing. Tapi sayangnya, banyak orang sulit membedakan lagi mana yang sharing, mana yang showing off (pamer). Perbedaannya sangat tipis.
Dulu saya maniak dengan media sosial. Terutama saat jamannya friendster dan facebook. Karena ngebetnya dengan kedua akun ini, saya selalu update dan rela kerajingan ke warnet demi melihat notifikasi dari teman. Paraaah! Nah, sekarang sudah ada yang lebih kekinian lagi seperti twitter, instagram dan path. Coba Tanya deh, siapa yang belum punya ketiga akun terbaru ini? Rasanya kudet banget kalau belum ada. Fufufu..
Kalau segi positifnya medsos, kamu tau sendiri lah ya. Pertukaran informasi menjadi lebih cepat dan setiap orang bisa menunjukkan eksistensinya. Laluuu, jika kita tidak dapat mengontrol dampak positif ini, justru kita yang bakal terkena dampak negatifnya. Seperti apa? Terkesan pamer dan tidak ada lagi yang namanya privacy.
Path, misalnya. Saya bergabung di path lebih kurang baru satu bulan. Asik sih, tapi terlalu terkesan pamer. Ah gimana enggak? Tempat dan musik aja perlu di share. Buat apa coba? Okee, kalau untuk gaya-gayaan. Tapi kepikiran gak, kalau ada orang yang sedang mematai dengan cara terus memantau path kita? Kemudian si penjahat mengikuti kemana pun tempat yang sudah kita update. Iiih. Ngerii. Itulah mengapa saya tidak terlalu update di path. Kecuali memang ada hal-hal menarik yang ingin saya bagikan. Ya agar banyak teman yang tahu. Bukan sekedar pamer. Hmm, kadang pas galau juga ada sih (sedikit). haha
Begitu juga dengan instagram. Saya lebih suka ngeshare foto bersama teman-teman, keluarga, tempat bersejarah dan keindahan alam. Walau bagaimana pun, karena instagram adalah medsos yang bersifat pribadi, otomatis saya juga akan memasukkan foto saya dan keluarga saya sendiri. Itupun tidak terlalu banyak. Keindahan alam juga bagus untuk dipost. Bagus untuk pariwisata kan? Mana tau daerah kita menjadi terkenal karena foto yang kita ambil. #iloveAceh
Kasus yang menimpa beberapa artis seperti Ruben Onsu dan Ayu Ting-Ting juga karena instagram. Foto anak mereka kedapatan menjadi target anak yang diperjualbelikan melalui instagram. Mereka pun harus melaporkan kejadian ini ke kepolisian. Menurut saya itu karena si artis ini terlalu heboh publish keluarganya. Pamer. Maaf ya Om Ruben dan Kak Ayu..
Dan yang baru-baru ini terjadi adalah kasus KD dan anaknya, Aurel. Masak iya apa-apa curhatnya di medsos? Kenapa gak selesaikan masalah dengan cara bertatap muka? Ini nih yang salah kaprah dari medsos. Ternyata medsos justru memperpendek silahturami.
Menggunakan medsos jangan sampai membuat kita jadi lupa diri ya kawan. Tetap humble. Jangan deh terlalu pamer dan curhat kelewatan. Agak susah memang bedain yang mana pamer mana yang gak. Karena kalau dibilang jangan pamer, pasti jawabannya “Cuma ngeshare aja kok”. Haha. Iya iya deeh.
Kalau curhat, mending ke orangnya langsung. Kalau galau, juga ke orangnya langsung aja. Mau kode-kodean? Saya udah pengalaman. Dan kodenya nyangkut, ilang dan akhirnya gak kesampean. Miris kaaan?
Jangan sampai teknologi memperdayakan kita. Jangan sampai kita terbelenggu di dunia maya sehingga lupa bagaimana kelanjutan hidup di dunia nyata. Kalau di dunia nyata saja kita sudah hilang arah, bagaimana kita mempersiapkan di dunia akhir (akhirat) nanti. Hati-hati :)

*Tulisan ini juga di post di tumblr : http://keumaladedelala.tumblr.com/

Sindiran Heboh: Yang Gaji Kamu Siapa?

Sejak video seorang Menteri Kominfo Rudiantara, beberapa waktu lalu beredar dan menghebohkan sejagat dunia maya dan dunia nyata, saya pun t...