Sabtu, 05 Oktober 2013

Ditegur. “Kenapa kamu jauh dari-Ku?”

Allah memberikan teguran kepada hambanya dengan berbagai cara. Dan saya mendapatkan teguran lewat kecelakaan kecil hari ini. Ini mungkin menjadi teguran agar saya lebih berhati-hati di jalan dan juga lebih bisa menjaga hati.

Pagi tadi, sekitar pukul 08.30, saya keluar dari rumah menuju AAC Dayan Dawood. Sebenarnya hari ini memang tidak ada jadwal kuliah. Tapi karena saya sudah bertekad mengikuti seminar AMYLC, saya pun bersiap diri.

Hari ini memang terasa beda dari hari sebelumnya. Hati menjadi tidak nyaman dan gelisah terus-menerus. Saya tahu ini tidak baik terus dibiarkan. Saya pun menyempatkan diri untuk shalat Dhuha sebelum keluar rumah. Sebelum ke AAC, saya juga terlebih dahulu membeli nasi bungkus di tempat biasanya. Mungkin karena keluar dari rumah dengan perut kosong, saya menjadi tidak konsentrasi membawa motor. Naas pun menimpa.

Saat berbelok ke arah kampus (Pertanian), saya terkejut dengan klakson keras sebuah mobil yang sedang melaju kencang. Mungkin saya akan langsung terseret jika tidak mengerem. Tapi disini lah kesalahannya. Sambil berbelok, saya terlalu kuat mengerem. Alhasil saya pun terjatuh. Mobil hitam melewati saya tanpa rasa berdosa. Ya, saya tertabrak dengan aspal!


Astagfirullah. Saya mengucap berulang kali. Apa yang salah dengan saya hari ini? Sepintas saya berpikir. Bukankah tadi sudah shalat sunat Dhuha? Bukankah seharusnya saya sudah tenang? Saya berhusnuzan pada Allah. Ternyata ini teguran. Teguran untuk tidak hanya mengingat Allah pada saat duka. Kemana saya saat suka?

Sambil meringis kesakitan dan mengeluarkan kaki yang terhimpit motor, saya melihat sekeliling. Tidak ada yang peduli. Saya sudah pasrah. Di hari Sabtu tidak terlalu banyak mahasiswa di kampus.

Perlahan saya mencoba mengeluarkan kaki yang terhimpit dan berdiri. Tapi tidak bisa. Akhirnya satpam di kampus pertanian berlari menghampiri dan diikuti teman-teman saya yang lain. Saya menjadi lebih bingung saat teman-teman ikut meramaikan dan semua bertanya, “kenapa Del?”, “Apa yang sakit?”, “Coba duduk dulu”, “Buka dulu tasnya”.. ya Allah, saya bahkan tidak sanggup merespon pertanyaan dan saran mereka. Yang saya tahu, saya merasa sakit seluruh badan. Melemah.

Alhamdulillah, banyak teman-teman yang menghampiri dan membawa saya ke RS terdekat. Jujur saja, saya tidak sanggup menahan tangis. Sedih, sakit, malu, lemah... terasa sangat sakit sekali saat dokter membersihkan luka saya dengan alkohol dan memoleskan salap. Air mata terus jatuh. Sakit.

Apalagi luka ditangan harus dibersihkan sebelum infeksi. Ada banyak pasir yang masuk ke dalam luka. Saya harus menahan sakit yang lumayan itu tanpa berani melihat apa yang sedang dikerjakan dokter. Ah, kaki, tangan, badan, kepala, semuanya lemas.

 Saya berterima kasih sekali atas bantuan teman-teman yang sudah mau membantu. Si kembar Lena Leni, Kak Julaini, Iin, Azwar, Muri, dan Zainuddin. Alhamdulillah masih punya teman-teman yang baik hatinya. Saya pun tidak lupa memberi tahu berita kecelakaan ini pada ayah dan ibu di rumah. Sabar, karena harus dimarahi akibat tidak hati-hati di jalan.

Sekarang betul-betul harus istirahat total di rumah. Rapat di UKM Pers DETaK terpaksa tidak saya hadiri mengingat kondisi badan yang masih terasa nyeri. But, the wounded is not too seriously, I can typing. Alhamdulilllah, I can share this terrible story for you all.

Koleksi obat juga semakin bertambah. Padahal baru saja kemarin 2 kali ke pukesmas. Hah, memang badan ini sudah tidak fit. Bahkan sampai sekarang kata-kata ibu ditelepon masih teringat, 
“kalau ada ibu disamping, gak akan ibu kasih ijin kemana-mana. Seminar lah, rapat lah, ikut ini lah itu lah. Ini karena gak ada ibu, jadi dela suka-suka aja kemana-mana”..
huhu.. ibu memang yang paling perhatian. Merasa bersalah karena tidak bisa menjaga kesehatan diri sendiri dengan baik. Wah, saya harus ekstra perhatian dengan luka-luka ini. Berpikir tentang bekasnya. Oh no..


Apa yang bisa menjadi hikmah dari kisah ini?
Tetap berhati-hati saat berkendara. Tidak ada yang tahu kapan kecelakaan itu terjadi. Tapi setidaknya kita bisa menjaga diri dengan baik. Selalu gunakan helm!
Dan bagi perempuan, memakai kaos kaki itu penting. Ini terbukti saat kecelakaan, saya tidak terluka tidak terlalu parah. Ada kaos kaki yang melindungi. Selain itu kaos kaki juga melindungi kaki dari sengatan matahari yang terik kan? J

Yang terpenting, jangan lupa untuk membaca doa ketika hendak berpergian. Shalat sunat Dhuha lah jika ada waktu. Tetap berhusnuzan pada Allah. saya mengganggap ini adalah teguran. Mungkin selama ini saya sibuk dengan diri sendiri. Mungkin juga karena kurang sabar.

Jangan lupakan Allah sedikit pun.Allah selalu dekat dengan kita. Jika kita kurang beribadah, mungkin Allah akan berkata, “Kenapa kau jauh dari-Ku?”....
Semoga saya, kamu dan mereka selalu mendekatkan diri pada Allah dan dilindungi oleh Allah. Amin.






Jumat, 04 Oktober 2013

Depok, ILC UI 2013 (2)


ILC adalah program besar Universitas Indonesia yang dilakukan tiap tahun. Tahun ini merupakan tahun ke-4 dilaksanakannya ILC sejak selama 3 tahun sebelumnya. Tapi banyak yang berbeda untuk kegiatan tahun ini. ILC kini berkolaborasi dengan ILeaD  (Institute of Leadership Development) UI dan STC (Serantau Transformasi Center) Malaysia. Oleh karena itu, tahun ini bukan ILC UI saja, tapi juga ada NLC (Nusantara Leadership Camp). NLC mengundang 25 mahasiswa berprestasi dari Malaysia dan Thailand. Jadi total peserta ILC-NLC UI tahun ini adalah 125 orang. Wowow! Tentu saja pengalaman yang berkesan bagi saya.

1 st Day


Setelah sempat tersesat di kawasan UI, saya dan Aula akhirnya tiba di Wisma Makara UI sekitar pukul 10 an dengan menggunakan bikun (Bis Kuning). Memang tidak terlalu banyak peserta yang tiba saat itu. Panitia juga tidak banyak terlihat. Setelah ditanya, ternyata mereka sedang sibuk menjemput peserta lain di beberapa hot spot penjemputan. Karena kontrakan Ninis tidak terlalu jauh dari UI, ya kami kami hanya cukup berjalan kaki. Cukup hanya perlu berwajah tebal ketika berjalan di gang menuju stasiun kereta UI. Banyak mahasiswa memandang keheranan pada kami karena harus membawa koper sepanjang jalan.


Sesampai di Hotelnya UI ini, rasa lelah menjadi sangat terasa ketika saya dan teman-teman lainnya belum bisa chek-in. Agak kecewa sebenarnya karena panitia terkesan tidak siap dengan kedatangan kami. Bayangkan saja, berpuluh peserta yang datang dari jauh, tapi ketika ingin beristirahat di wisma, mereka terpaksa menunggu lagi. Capek deh.

Menuju siang, setelah mengganti pakaian yang lebih formal, semua peserta ILC siap menuju Balai Sidang UI. Kami akan mengikuti Grand Opening yang dibuka oleh Direktur Kemahasiswaan UI, Direktur IleaD, Menteri Dalam Negeri Malayasia dan orang penting UI lainnya. Padahal jujur saja, saya merasa tidak fit. Terasa lelah sekali. Meski demikian harus tetap semangat karena ini adalah hari pertama ILC. Masak hari pertama udah KO kan? Gak lucu. hehe



Setelah grand opening yang cukup meriah, acara dilanjutkan dengan seminar Nusantara dengan tema “Refleksi Sejarah dan Kepemimpinan Nusantara”. Yah, seperti seminar lainnya. Ada diskusi dan tentu saja pembahasannya masih berkaitan dengan pemuda dan Nusantara.


Intinya, dari pagi hingga sore kami semua disuguhi dengan berbagai seminar. Seminar ini mengundang beberapa tokoh yang juga tidak sesuai dengan bayang-bayang saat pertama sekali mendaftar ILC. Tidak ada Dahlan Iskan, tidak ada Habibie dan masih ada tokoh yang “tidak ada” lainnya. Very dissappointed

Hanya saja saya merasa sedikit terhibur dengan acara pada malam harinya. Ada Softside Leadership Development Training oleh Pak Arif Munandar. Beliau sangat inspiratif. Memberikan pencerahan kepada kami semua tentang sikap kepemimpinan yang baik dan hal-hal lainnya yang saya anggap SERU. Wah, tidak bisa ditulis dengan kata-kata. Saya jadi kembali rindu jika mengenang masa-masa inspiratif ini.

Pukul 12 malam kami kembali ke Wisma Makara. Memasuki kamar dengan wajah lesu. Tapi tidak menggoyahkan niat saya untuk berkenalan dengan teman sekamar. Ada Yessi dari Lampung dan Nadirah dari Malaysia. Nice to meet you all gals!



Di postingan selanjutnya saya akan bercerita di hari ke-2. Keep it update! hehe

Perlu dicicil nih tulisan. Banyak tugas lainnya. See ya!

Kamis, 03 Oktober 2013

Depok, ILC UI 2013 (1)

Akhirnya saya memberanikan diri dan membunuh rasa malas untuk blogging lagi. Setelah dipikir-pikir, rasanya akan sia-sia kalau pengalaman ini tidak saya tulisan. Yah, setidaknya semoga kamu yang membaca jadi sedikit terhibur dan terinspirasi dari cerita perjalanan ini.

Pada tanggal 4 September yang lalu, seperti tulisan sebelumnya Alhamdulillah saya mewakili jurusan, fakultas, universitas, dan Aceh, untuk berangkat ke Jakarta dalam rangka menjadi delegasi di kegiatan ILC UI 2013. ILC UI ini adalah salah satu program tahunan dari rektorat Universitas Indonesia. Jadi, setelah melewati seleksi berkas yang terdiri dari CV, dan rancangan social project, saya dan teman saya, Aula, pun terpilih. Alhamdulillah.

Ini adalah pengalaman saya stay di Jakarta selama lebih dari seminggu. ILC UI memang  dilaksanakan pada tanggal 4 September 2013. Tapi karena saya takut telat sampai kesana dan juga karena didorong keinginan jalan-jalan terlebih dahulu, saya dan Aula pun memutuskan untuk berangkat pada tanggal 1 September. Serunya keberangkatan dimulai pada saat di Bandara Sultan Iskandar Muda. Kebetulan pada saat itu saya juga berangkat dengan ibu dan adik. Si adik kuliah di Jogya. Sudah hampir sebulan dia di Meulaboh. Jadi ibu juga ikut mengantarkan dia kembali ke Jogja. Berangkatnya sekalian. Hehe  J

Wah, ternyata penerbangannya delay! Sungguh membosankan.
Akhirnya sekitar pukul 15.00 dari bandara Sultan Iskandar Muda, saya dan Aula menuju Jakarta. Perjalanan alhamdulillah aman terkendali. Hanya saja saat transit di Bandara Kuala Namu saya juga harus ekstra sabar lagi karena harus menunggu keberangkatan ke Jakarta dalam waktu 30 menit! Itu pun harus menunggu di pesawat. Bayangkan saja. Bosan selama 30 menit gak bisa lakuin apa-apa.


Akhirnya saya tiba di Jakarta sekitar pukul 20.00. Sebelumnya saya sudah mempunyai LO. Ninis namanya. Selama ini kami hanya berkomunikasi via sms dan whatsapp. Dengan bantuannya juga, Alhamdulillah saya bisa tinggal di rumahnya sampai tanggal 4.

Dari Bandara Soekarno-Hatta, kami menuju pasar minggu. Menjadi hal yang sangat tak terlupakan karena kami berdua turun lebih cepat sebelum tempat pemberhentian bus. Ya alhasil kami harus menarik koper yang cukup berat sampai ke pangkalan ojek dan angkot. Hehe

Karena keadaan perut yang cukup keroncongan, akhirnya kami singgah di warteg. Setelah beberapa lama kemudian, saya bertemu dengan Ninis. Ternyata benar, sosok Ninis adalah orang yang sederhana, alim dan ramah. Tidak disangka akhirnya saya bisa bertemu langsung dengannya. Di Jakarta J

Kami pun menggunakan angkot ke jalan kober, tempat tinggal Ninis. Cukup jauh juga. Haha. Apalagi kami harus berjalan kaki ke arah rumahnya dari ujung jalan besar . Angkot tentu saja hanya mengantarkan kami didepan jalan. Ternyata harus jalan kaki juga ke lorong rumahnya. Jauuh..

Jumat, 23 Agustus 2013

Ospek, Bermanfaatkah?

Nah, mumpung sekarang mahasiswa baru akan mulai kuliah, saya akan bercerita sedikit tentang ospek. Mungkin ada diantara kamu yang sudah pernah merasakan ospek saat baru masuk ke universitas. Ospek itu pada dasarnya sama aja sih. “Perkenalan”. Ya, perkenalan dengan para senior dan teman-teman sesama Maba (Mahasiswa Baru). Hanya caranya saja yang membedakan.

Every campus has different way to orientate their students. Ada yang halus banget, sampai yang betul-betul ekstrim cara nge-ospeknya. Terbukti setiap sudah tahun ajaran baru, pasti ada aja berita di media yang tidak mengenakkan. Ospek yang ter-publish membuat peserta ospeknya jadi malah dirugikan. Seperti pemerkosaan, penganiayaan, bahkan berujung ke kasus pembunuhan. How poor! Sungguh disayangkan kalau esensi ospek malah dijadikan negatif.

Ini wajah pas marah beda loh ya!
Sebagai contoh nih ya, kali ini saya akan sedikit sharing tentang masa-masa ospek saya sendiri di kampus pada zaman dulu. Hwehehe :p
Ini kejadian 3 tahun yang lalu, saat saya masih muda. Haha. Foto-foto di tulisan ini menunjukkan saya menjalani ospek oleh jurusan Agribisnis. Wajah saya masih imuut. Masih mulus, tanpa jerawat dan flak itam.. sama sekali tidak ada perasaan takut sama sekali untuk mengikuti ospek. Biasa saja. Malah saya senang karena bisa berjumpa dengan banyak orang. Terutama senior. Hehe

Sumpek banget. Ketakutan
Nama cantik saya waktu itu adalah “Inovasi”. Nama yang tidak terlalu jelek juga Alhamdulillah. Alhasil tidak ada masalah dengan nama. Tapi masalahnya, entah karena saya terlalu berani atau apa, para senior semakin sering menjahili saya. Mulai dari disuruh nanyi, lari-lari keliling barak sampai 5 kali, dan bahkan juga di lelang! Oh.. *tutupmuka*

Banyak sekali hal seru yang saya dapatkan selama di ospek. Jujur saja, saya bahkan jatuh hati pertama kali dengan salah seorang mentor (senior) saat itu. Quite handsome, kind man, friendly, love to smile and he was my mentor! Wah wah. Saya kegirangan sekali saat tahu kalau dia adalah mentor saya. Hehe

Wajah saya ikut bete
Yaah, malah kena hukuman
Di ospek ini lah saya mendapatkan hal baru. Mulai dari kejujuran, kedisplinan, kebersamaan. Saat opek ini juga saya pernah berikrar untuk mulai kuliah dengan sebaik-baiknya. Mendapatkan nilai baik, teman baik, dan prestasi yang baik. alhamdulillah itu terbukti diawal-awal tahun kuliah di kampus hijau, pertanian Unsyiah.

Tak ketinggalan juga pengalaman saat jurik malam. Wah, benar-benar menakutkan. Saya dan tim berjalan ditengahnya malam di hutan belantara entah dimana hanya dengan seutas tali dan sebatang lilin. Disetiap pos ada pertanyaan yang diajukan oleh para senior. Ya harus di jawab! Bisa atau tidak bisa, ya terima saja. Mereka sangar, cerewet minta ampun! Bisa dihitung saya menangis 3 kali di situasi yang berbeda. Huft


Terakhir, ada sesi peusijuk. Disini MaBa akan di peusijuk (di dinginkan). Ini bukan arti sesungguhnya. Peusijuk itu adalah salah satu budaya daerah Aceh. dengan menggunakan nasi kuning (pulot) dan beberapa macam dedaunan. Upacara ini dilakukan untuk meresmikan sesuatu atau memberkati sesuatu. Saya dengan nama cantik inovasi terpilih sebagai peserta yang dipeusijuk. Saya sih santai saja. Bahkan saya menggunakan moment ini untuk berdoa sebaik-baiknya. *kalem*

Saat di peusijuk dengan bang dedek (senior), saya niatkan untuk menjadi orang sukses dimasa depan. Dimulai dengan belajar sebaik mungkin di kampus, berprestasi dan membanggakan orang-orang yang sayangi.  Hasilnya? Mungkin sangat lama hasil dari tekad ini. Tapi saya yakin, saya sedang menjalani proses itu. InsyaAllah. *kepaltangan*

Di peusijuk sama senior



Ini lah mungkin sekelumit flash back pengalaman saya saat di ospek. Ospek itu tidak selamanya buruk kok. Asal kita pintar dan tahu membawa diri. Perkenalan dan berbaur dengan orang-orang baru itu sangat penting. OSpek penting untuk membentuk pribadi kita yang ekstrovert dan supel. Ingat Berbaur lah. Tapi jangan membaur kalau itu tidak baik. That’s the meaning of ospek to me. How about you?

Rabu, 21 Agustus 2013

Kemanjaan Pugu


Si Pugu memang kucing yang manja. Saking manjanya, setiap ada tamu yang datang, dia pasti suka mendekat dan menyundul kepalanya di kaki-kaki orang. Tidak ketinggalan juga sambil mengibas ekor imutnya. Meski suka risih karena kemanjaannya ini, tapi dia cukup baik kok. Ya, baik. Sampe pup diatas tempat tidur! #ups -_-
really annoyed...
Ini nih, lihat saja gaya tidurnya yang sok manis. Sampe lidahnya juga ikutan melet. hihi. Pugu ini kuncing jantan. Tapi kalau manja, ampun deh manjaanya! Kalah sama yang betina :D

My cute sleeping cat

kalau di gendong, dia juga gak akan menolak. Paling pewe tuh dia dipangku. Saya sih sebenarnya jarang pengang kucing. Kadang-kadang saja. Suka kepikiran aneh-aneh kalau lagi dekat kucing. Terutama dengan penyakit yang bisa aja dibawa kucing. "Bisa mandul nanti!". Beeuuh. Jangan deh
Makanya, kalau ada yang bilang saya ini maniak kucing, tidak juga. Kalau ada yang bilang saya takut kucing, ah tidak juga. Biasa-biasa saja. Saya suka semua binatang, kecuali yang melata dan merayap. Hwuidiih! 

What are you looking,huh?



17 Agustus, Antara Kekecawaan dan Harapan

Kita semua tentu tahu kapan hari kemerdekaan negara kita sendiri. Kebangetan kalau ada yang lupa atau bahkan gak tahu sama sekali. Seperti biasa, di kampung saya, tanggal 17 Agustus diwarnai dengan serba “merah-putih”. Mulai dari bendera yang ada dijalanan, baju-baju dan sebagainya.

Tapi sayangnya, saya merasa aneh. 17 Agustus kali ini tidak terlalu “wah” dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Dulu acara-acara menyambut hari kemerdakaan sangat marak dilaksanakan di kampung saya, di Meulaboh, Aceh Barat. Mulai dari panjat pinang, pukul bantal, lomba lari sambil bawa pingpong dan sebagainya. Entah saya saja yang tidak ikut membuka mata melihat perayaan di Hari Kemerdekaan, entah juga memang kampung saya mulai tidak kreatif lagi -_-

Sedikit Cerita Tentang Paskibra

Yah, sebenarnya ada sedikit kenangan disetiap tanggal 17 Agustus. Sejak SMA, saya sudah merantau ke Aceh Selatan. Di Bangku SMA, saya pernah terpilih menjadi anggota paskibra kabupaten. Awalnya saya begitu menikmati perjuangan menjadi seorang paskibra. Tapi setelah seminggu menjalani latihan yang begitu lelah, akhirnya saya menyerah. Saya keluar dari tim dan melapor ke pihak sekolah.
Dengan merasa bersalah, saya murni memberi alasan keluar karena ingin fokus dengan sekolah. SMA saya itu boarding school. Asrama! Wah, bisa gawat kalau nilai saya jadi anjlok hanya karena ikut latihan paskibra. Pada saat itu juga kegiatan ekstrakurikuler tidak terlalu didukung oleh pihak sekolah. Singkat cerita, saya bukan anggota paskribra. Menyedihkan.
Itulah mengapa disetiap tanggal 17 Agustus saya merasa agak sedih. Sedih karena dulu tidak bisa ikut berjuang seperti teman-teman yang lain. Padahal saat iut saya optimis bisa terpilih mewakili kabupaten ke provinsi. Hmm, tapi saya bangga kok bisa memutuskan pilihan dan dengan pertimbangan sendiri. Mulai saat itulah saya merasa lebih dewasa karena bisa berpikir jangka panjang dan bisa memilah mana yang baik dilakukan mana yang tidak.

Deadline Proposal dan Video Malam Budaya ILC 2013

Di tanggal ini panitia ILC kembali menekankan bahwa pengiriman proposal social entrepreneur dan social project harus sudah terkirim sebelum pukul 00.00. Aku pun dengan sangat panik mempersiapkan video.  Saya berusaha video bisa terselesaikan sore itu. Untung proposal sudah terkirim sehari sebelum deadline. Meskipun masih ada yang belum maksimal. Cukup berdoa saja lah mudah-mudahan terpilih 10 besar proposal terbaik.




Video budaya ini memang sudah dari dulu ingin saya buat. Yaitu dengan menampilkan tarian Ranup Lampuan. Tari ini memang khas berasal dari Aceh. Saya sengaja tidak menampilkan Tari Saman. Tari Saman memang sudah terkenal dan familiar oleh banyak orang.
Meskipun terkesan terburu-buru, tapi akhirnya video ini selesai juga dengan beberapa kali latihan dan tukar kostum. Huft. Melelahkan. Tidak terbayangkan sudah berapa kalori saya terbakar. Eeh, berharap bisa kurus. Hehe

Perjuangan tidak berhenti sampai disitu. Saya harus meng-upload video yang cukup berat itu ke You Tube dan mengirimkannya ke partner saya. Benar-benar melelahkan! L

Singkat cerita lagi, video karya saya gagal dikirimkan. Jadi hanya mengandalkan video hasil karya teman. Wajar saja banyak yang komplain kenapa saya tidak ikut tampil di video itu.

2 hari selanjutnya tiba-tiba ada pemberitahuan panitia bahwa memperpanjang waktu pengiriman proposal dan video. Helloow! yang benar saja, sudah susah-susah, ehh ternyata diperpanjang lagi. Ini kan tidak disiplin namanya. Ditanya baik-baik ke panitia, eh panitia malah balik marah. Katanya peserta tidak disiplin mengirim video dan proposal. Loh, kalau memang mau disiplin, ya deadline jangan diperpanjang juga. Grr. Kesal deh

Nah, untuk teman-teman yang ingin melihat video tarian  ranup lampuan saya, bisa klik link ini : http://www.youtube.com/watch?v=sTH3W37r33c&feature=youtu.be
harapannya, semoga bisa bermanfaat untuk teman-teman sekalian yang ingin belajar tarian tradisonal Aceh. Kita pun tetap bisa menjaga kesenian daerah ^_^



Rabu, 31 Juli 2013

Kembali Untuk Pergi

Finally, I am coming back to Banda Aceh! 
Mungkin semuanya pada heran kenapa saya harus kembali kesini padahal seminggu lagi sudah lebaran. Yah, bukan untuk main-main sih. Tapi balik ke Banda disaat liburan ini karena perlu mempersiapkan sesuatu dan bertemu dengan beberapa orang “penting”. Kembali ke Banda Aceh, untuk persiapan pergi sesaat ^_^

Ternyata persiapan road to ILC UI tidak gampang. Tidak hanya dalam pengurusan proposal kegiatan ke pihak kampus dan instansi tertentu saja, tapi juga berpikir persiapan lain dari panitia pusat tentang kepengurusan proposal sosial project dan video budaya.

Pembuatan video yang bertemakan “Nusantara Berbudaya, Negeri Pemimpin Beridentitas Indonesia” sebenarnya tidak susah. At the first time, it’s just rather difficult to get ideas. But, after I had met with Aula who also become ILC delegate from Unsyiah, we create the idea!

Yap yap. Dengan membawakan kesenian khas Aceh, kami akan menampilkan sesuatu. InsyaAllah juga akan kami modifikasikan menjadi lebih menarik sehingga video terlihat lebih  yang mengagumkan.

Mau bagaimana pun, kami yang menjadi wakil Aceh harus tetap bisa menampilkan yang terbaik . Mulai dari tidak menghilangkan marwah aneuk muda Aceh yang pantang putus asa, dan sikap “dimana bumi dipijak, disitu langit di junjung”.

Audiensi dengan pihak biro juga sudah fix. Audiensi ke pihak rektorat akan kami lakukan esok hari. InsyaAllah saya dan Aula akan mendapatkan kabar baik sehingga perjalanan menuju Jakarta sukses. Sungguh, ini semua memerlukan pengorbanan. Tidak mudah sebenarnya saya seorang mahasiswa biasa yang masih belum berprestasi ini mempersiapkan sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan nasional. Disini lah lagi-lagi dibutuhkan relasi yang banyak.

Hidup itu seperti jaring laba-laba. Dia akan selalu terkait satu dengan yang lain. Jika sudah baik disatu sisi, maka akan ada sisi lain yang mengikuti. InsyaAllaih itu juga akan baik. tapi jika sebaliknya ada sisi yang tidak baik, maka akan ada sisi yang tidak baik juga. Menjadi tugas kita lagi karena butuh kesungguhan untuk mengubah semua jaring yang ada.

Semoga saja perjalanan ke-3 ke tanah jawa ku ini menjadi lebih berarti. Semoga selalu ada yang mendoakan. Seperti kamu, ya, kamu. Yang sedang membaca tulisan ini :D
mohon doanyaa...

Senin, 29 Juli 2013

ILC UI 2013, Tunggulah Aku di Jakartamu

Tiba-tiba HP berdering pertanda sms masuk..
“Selamat ya dek jadi peserta ILC 2013. I am so proud of you!”
Deg! aku jelas saja tersentak. Ada apa gerangan. Apa benar aku terpilih menjadi delegasi ILC (Indonesia Leadership Camp) tahun ini?

Sms itu dibaca baik-baik lagi. Semuanya terasa antara sadar dan tidak! Sambil bergegas membuka internet dengan jantung yang berdetak kencang, tersirat sedikit pengharapan untuk benar-benar lulus seleksi. Ah tapi, mana mungkin lulus. Toh, saat pengumuman 50 besar saja namaku tidak tertera disana. Meskipun demikian, rasa khawatir itu mengalahkan rasa penasaranku. Aku segera membuka website www.ildp.ui.ac.id.

Perlahan ku baca satu-satu nama yang diawali dengan huruf K. Wah ternyata nama-nama peserta yang lulus diurut secara acak. Seperti ada bunga-bunga yang beterbangan disekitar kepala, Alhamdulillah namaku berada di nomor urut 58.

Aku langsung membalas sms tadi dan mengucapkan terima kasih. Dia sudah menjadi orang pertama yang menyampaikan berita gembira ini. Aku girang sekali. Akhirnya ke Jakarta!


Ada Apa Dengan Jakarta?

Mungkin menjadi hal yang bodoh karena “maruk” bisa ke Jakarta. Orang lain juga malah sudah sangat sering ke Jakarta kan? Keluar kota dan pergi ke pulau lain bukan lah hal yang aneh lagi sekarang. Orang dengan mudah bisa kemana saja.

Tapi ada hal yang beda. Aku bisa berkesempatan mengunjungi UI karena ILC diadakan disana. Senang rasanya karena bisa mengikuti jejak orang-orang yang menginspirasi untuk lulus di program ini.

Jakarta memang bukan kota yang asing lagi. Tapi, bagiku kota ini menjadi tempat dimana bisa merajut impian. Ya, saat SMA, aku juga pernah mewakili Aceh untuk mengikuti perlombaan disana. Tapi sayang, kurang beruntung. Tim dari Aceh gagal meraih juara. Dari kisah kekalahan ini lah membuatku termotivasi lagi untuk kembali ke Jakarta. Seakan tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dan berharap bisa memperbaiki kesalahan yang dulu pernah terjadi.

Mungkin juga menjadi hal yang muluk karena bisa mengunjungi UI. UI adalah Universitas yang paling aku kagumi sebelum UGM dan IPB. Jadi, jangan heran aku kegirangan saat mendengar kelulusan seleksi. Ya, bahkan senangnya tidak habis sampai tulisan ini dibuat.

ILC (Indonesia Leadership Camp) 2013


ILDP memiliki program yang hendak dijalankan, yakni: Indonesia Leadership Camp. Indonesia Leadership Camp (ILC) 2013 merupakan program yang berskala nasional yang ditujukan untuk mengoptimalkan dan mengakselerasi potensi bibit-bibit unggul muda Indonesia yang memiliki beragam latar belakang, peminatan, dan keahlian. Program ini diharapkan dapat menjadi tools bagi para pemimpin muda Indonesia yang memiliki kemampuan dan wawasan yang luas dan komprehensif untuk menjawab berbagai tantangan nasional maupun global

Program ini pertama kali ku kenal sejak berkenalan dengan salah seorang senior di kampus. Dia adalah Mapres 2010 dari Fakultas Pertanian Unsyiah yang berkesempatan mengikuti ILC di tahun 2010. Dahulu, di tahun 2010, peserta yang mengikuti ILC adalah mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi di kampusnya. Jadi, mahasiswa yang berpotensi di tingkat fakultas atau universitas selanjutnya akan dikirim ke Jakarta.

Dengan sigap, aku pun sering bertanya tentang apa itu ILC. Aku tertarik karena serangkaian acaranya sangat bermanfaat dan bisa mendapatkan kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat.

Sindiran Heboh: Yang Gaji Kamu Siapa?

Sejak video seorang Menteri Kominfo Rudiantara, beberapa waktu lalu beredar dan menghebohkan sejagat dunia maya dan dunia nyata, saya pun t...