Rabu, 31 Juli 2013

Kembali Untuk Pergi

Finally, I am coming back to Banda Aceh! 
Mungkin semuanya pada heran kenapa saya harus kembali kesini padahal seminggu lagi sudah lebaran. Yah, bukan untuk main-main sih. Tapi balik ke Banda disaat liburan ini karena perlu mempersiapkan sesuatu dan bertemu dengan beberapa orang “penting”. Kembali ke Banda Aceh, untuk persiapan pergi sesaat ^_^

Ternyata persiapan road to ILC UI tidak gampang. Tidak hanya dalam pengurusan proposal kegiatan ke pihak kampus dan instansi tertentu saja, tapi juga berpikir persiapan lain dari panitia pusat tentang kepengurusan proposal sosial project dan video budaya.

Pembuatan video yang bertemakan “Nusantara Berbudaya, Negeri Pemimpin Beridentitas Indonesia” sebenarnya tidak susah. At the first time, it’s just rather difficult to get ideas. But, after I had met with Aula who also become ILC delegate from Unsyiah, we create the idea!

Yap yap. Dengan membawakan kesenian khas Aceh, kami akan menampilkan sesuatu. InsyaAllah juga akan kami modifikasikan menjadi lebih menarik sehingga video terlihat lebih  yang mengagumkan.

Mau bagaimana pun, kami yang menjadi wakil Aceh harus tetap bisa menampilkan yang terbaik . Mulai dari tidak menghilangkan marwah aneuk muda Aceh yang pantang putus asa, dan sikap “dimana bumi dipijak, disitu langit di junjung”.

Audiensi dengan pihak biro juga sudah fix. Audiensi ke pihak rektorat akan kami lakukan esok hari. InsyaAllah saya dan Aula akan mendapatkan kabar baik sehingga perjalanan menuju Jakarta sukses. Sungguh, ini semua memerlukan pengorbanan. Tidak mudah sebenarnya saya seorang mahasiswa biasa yang masih belum berprestasi ini mempersiapkan sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan nasional. Disini lah lagi-lagi dibutuhkan relasi yang banyak.

Hidup itu seperti jaring laba-laba. Dia akan selalu terkait satu dengan yang lain. Jika sudah baik disatu sisi, maka akan ada sisi lain yang mengikuti. InsyaAllaih itu juga akan baik. tapi jika sebaliknya ada sisi yang tidak baik, maka akan ada sisi yang tidak baik juga. Menjadi tugas kita lagi karena butuh kesungguhan untuk mengubah semua jaring yang ada.

Semoga saja perjalanan ke-3 ke tanah jawa ku ini menjadi lebih berarti. Semoga selalu ada yang mendoakan. Seperti kamu, ya, kamu. Yang sedang membaca tulisan ini :D
mohon doanyaa...

Senin, 29 Juli 2013

ILC UI 2013, Tunggulah Aku di Jakartamu

Tiba-tiba HP berdering pertanda sms masuk..
“Selamat ya dek jadi peserta ILC 2013. I am so proud of you!”
Deg! aku jelas saja tersentak. Ada apa gerangan. Apa benar aku terpilih menjadi delegasi ILC (Indonesia Leadership Camp) tahun ini?

Sms itu dibaca baik-baik lagi. Semuanya terasa antara sadar dan tidak! Sambil bergegas membuka internet dengan jantung yang berdetak kencang, tersirat sedikit pengharapan untuk benar-benar lulus seleksi. Ah tapi, mana mungkin lulus. Toh, saat pengumuman 50 besar saja namaku tidak tertera disana. Meskipun demikian, rasa khawatir itu mengalahkan rasa penasaranku. Aku segera membuka website www.ildp.ui.ac.id.

Perlahan ku baca satu-satu nama yang diawali dengan huruf K. Wah ternyata nama-nama peserta yang lulus diurut secara acak. Seperti ada bunga-bunga yang beterbangan disekitar kepala, Alhamdulillah namaku berada di nomor urut 58.

Aku langsung membalas sms tadi dan mengucapkan terima kasih. Dia sudah menjadi orang pertama yang menyampaikan berita gembira ini. Aku girang sekali. Akhirnya ke Jakarta!


Ada Apa Dengan Jakarta?

Mungkin menjadi hal yang bodoh karena “maruk” bisa ke Jakarta. Orang lain juga malah sudah sangat sering ke Jakarta kan? Keluar kota dan pergi ke pulau lain bukan lah hal yang aneh lagi sekarang. Orang dengan mudah bisa kemana saja.

Tapi ada hal yang beda. Aku bisa berkesempatan mengunjungi UI karena ILC diadakan disana. Senang rasanya karena bisa mengikuti jejak orang-orang yang menginspirasi untuk lulus di program ini.

Jakarta memang bukan kota yang asing lagi. Tapi, bagiku kota ini menjadi tempat dimana bisa merajut impian. Ya, saat SMA, aku juga pernah mewakili Aceh untuk mengikuti perlombaan disana. Tapi sayang, kurang beruntung. Tim dari Aceh gagal meraih juara. Dari kisah kekalahan ini lah membuatku termotivasi lagi untuk kembali ke Jakarta. Seakan tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dan berharap bisa memperbaiki kesalahan yang dulu pernah terjadi.

Mungkin juga menjadi hal yang muluk karena bisa mengunjungi UI. UI adalah Universitas yang paling aku kagumi sebelum UGM dan IPB. Jadi, jangan heran aku kegirangan saat mendengar kelulusan seleksi. Ya, bahkan senangnya tidak habis sampai tulisan ini dibuat.

ILC (Indonesia Leadership Camp) 2013


ILDP memiliki program yang hendak dijalankan, yakni: Indonesia Leadership Camp. Indonesia Leadership Camp (ILC) 2013 merupakan program yang berskala nasional yang ditujukan untuk mengoptimalkan dan mengakselerasi potensi bibit-bibit unggul muda Indonesia yang memiliki beragam latar belakang, peminatan, dan keahlian. Program ini diharapkan dapat menjadi tools bagi para pemimpin muda Indonesia yang memiliki kemampuan dan wawasan yang luas dan komprehensif untuk menjawab berbagai tantangan nasional maupun global

Program ini pertama kali ku kenal sejak berkenalan dengan salah seorang senior di kampus. Dia adalah Mapres 2010 dari Fakultas Pertanian Unsyiah yang berkesempatan mengikuti ILC di tahun 2010. Dahulu, di tahun 2010, peserta yang mengikuti ILC adalah mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi di kampusnya. Jadi, mahasiswa yang berpotensi di tingkat fakultas atau universitas selanjutnya akan dikirim ke Jakarta.

Dengan sigap, aku pun sering bertanya tentang apa itu ILC. Aku tertarik karena serangkaian acaranya sangat bermanfaat dan bisa mendapatkan kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat.

Kamis, 18 Juli 2013

Si Bungong Ceudah

Wahe bungong ceudah hana ban. Tamse nyak dara nyang canden rupa. Diteuka bana dijak peuayang. Uroe ngon malam bungong didoda (Seulanga, Rafly)




Bunga Kamboja yang ternyata bukan berasal dari Negara Kamboja ini diam-diam bersemi di depan rumah beberapa minggu terakhir ^_^
It looks beautiful, doesn't it?

Bunga yang berasal dari Amerika ini mampu menepis anggapanku bahwa Kamboja adalah bunga yang angker. Tapi yaa, mau bunga secantik apa pun, kalau sudah ada di kuburan, pasti terkesan mengerikan! hehe

Padahal kesan angker itu 'kan relatif. Setiap bagian tumbuhan ini banyak gunanya untuk menyembuhkan penyakit. 
Batangnya bisa menyembuhkan pecah-pecah pada tumit dan dapat menurunkan panas badan. Tapi hati-hati dengan getahnya karena jika terkena mata, maka mata akan sakit.
Tak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia bukan?


Trims yang di Banda Aceh sudah mengirimkan bunga merahnya yang mempesona :D





Selasa, 25 Juni 2013

Nyan Kah Troh Linto!

Perjalanan Panjang
Kemarin, aku bersama Munzir dan ibu pergi ke kampung Meugat Meh, Nagan Raya, untuk menghadiri pesta pernikahan anak-ayah-istri-adik-ayahku (haha. Ribet). Meskipun kekerabatannya agak jauh, tapi hubungan kami antar keluarga sangat erat. Sekitar pukul 15.00 WIB, kami pun menuju kesana.
Untuk menuju sampai ke lokasi pernikahan, orang awam yang sudah biasa kesana hanya membutuhkan sekitar 30 menit. Tapi karena aku dibawah orang awam biasanya, hehe, perjalanan habis selama 100 menit! Waduh..
Perjalanan dari Meulaboh-Nagan Raya sebenarnya mulus-mulus saja. Tapi karena membonceng ibu dibelakang, jadi ada tuntutan untuk tidak boleh terlalu ngebut. Yah, alhasil, sampai disana pun kelamaan.
Sesampai disana, aku mencari tante dan memberitahu bahwa kami baru saja tiba. Wah, ternyata disana tante sibuk sekali! Sampai-sampai wajahku pun tak dikenali lagi :D
Suasana saat rombongan pengantin datang
         “Nyan kah troh linto!” seruan ini yang kudengar sampai berulang kali saat mencicipi es buah yang dihidangkan. Sejurus langsung kupalingkan wajah kearah jalan. Ternyata benar, “Pengantin  sudah tiba!”. Banyak sekali orang tua, anak-anak yang menyaksikan kedatangan pengantin baru ini. Seakan ikut tak ingin melepas moment penting ini, aku pun sigap dengan kamera ditangan.

Aceh dan Keragaman Budaya
                Aceh memiliki banyak suku. Ada suku asli Aceh, Gayo, Alas, Jamu, dan lain sebagainya. Adat dan budaya pun sedikit berbeda diantara beberapa daerah. Saat aku menghadiri resepsi pernikahan saudara, jelas terlihat bahwa mereka memakai adat yang biasa mereka lakukan. Sebelum rombongan linto (pengantin pria) memasuki rumah pengantin perempuan, sebelumnya tuan rumah dan rombongan saling berbalas pantun berbahasa daerah. Rombongan juga disambut dengan tarian tradisional Ranup Lampuan oleh penari-penari cilik.
Penari cilik kompromi sebelum tampil
Mereka menari dengan hari senang

Dan yang uniknya, saat sang linto masuk ke dalam rumah, linto tersebut digendong oleh 2 orang laki-laki dari kerabatnya. Entah apa artinya itu, tapi yang jelas, ini kejadian yang pertama sekali yang aku saksikan secara langsung. Hehe, maklum lah. Aku selalu malas untuk pergi ke resepsi pernikahan kecuali pernikahan kerabat dekat sendiri.
Sekitar hampir 1 jam berbincang-bincang dengan tante, aku mendengar semua curhatan tentang anaknya yang sekarang fokus dengan sepak bola. Yah, walau bagaimana pun, bakat itu tidak bisa dipaksa, dan sepertinya sekolah bola memang cocok untuk sepupuku, Khalil.



Waktu pun berjalan. Aku mengendarai si Vicky (Motorku) hati-hati, akhirnya kami pun tiba dirumah dengan selamat. Meskipun memakan waktu yang lama, setidaknya perjalanan ini sangat menyenangkan. Ada sisi positifnya. Salah satunya, menjadikan kita lebih peka dengan adat dan budaya daerah sendiri J
 Nah, sampai tulisan ini diketik pun, aku sedang membayangkan ada orang-orang yang berseru di depan rumahku nanti, “Nyan, kah troh linto!”. hehehe

Minggu, 23 Juni 2013

Target dan Rindu di Bumi Teuku Umar

Alhamdulillah, di hari senin ini adalah hari ke-4 berada di kampung tercinta, Bumi Teuku Umar, Meulaboh-Aceh Barat. Akhirnya bisa pulang kampung juga dengan seabrek kegiatan selama 6 bulan ini. Mulai dari KKN di Lhong, kegiatan sosial Sobat Bumi, program 2 Juta Bisa dan setiap detil kegiatan dalam kampus lainnya

Liburan memang asyik. Asyik jika memang diisi dengan hal yang menyenangkan. Nah, menyenangkan yang bagaimana? Hehe. Tentu saja mengerjakan sesuatu tanpa paksaan dan benar-benar dinikmati. Terutama yang berkaitan dengan hobi

Dengan hobi menulis ini, aku akan mencoba untuk fokus dan bisa lebih aktif lewat tulisan. Yaah, tulisan yang tidak terlalu “wah” sih. Tapi setidaknya aku bisa lebih komit untuk menulis tiap harinya dan berbagi cerita dengan para pembaca. Ingin rasanya membuat satu buku yang berisi semua tulisan yang ada di blog. Hingga akhirnya aku dapat kembali membaca semua kenangan itu saat usia terus berkurang. Semoga. Mari di-Amin-kan J

Nihongo, TOEFL dan ILDP UI

Selain aktif di blog, aku juga akan mempersiapkan diri dengan belajar hiragana dan katakana, TOEFL dan mencari refensi untuk proposal semester depan. Juga hingga Juli ini aku akan berusaha sebaiknya untuk menulis esai aplikasi XL Future Leader dan ILDP yang harus diselesaikan dalam bulan ini. Kita BISAA! Semoga target tercapai. Amin. Rasanya tidak ada waktu untuk terlambat. Hanya saja terkadang kita terlalu meremehkan dan mengulur waktu.




Yah, meskipun aku mengorbankan waktu KKP tahun ini, semoga saja bukan hal yang sia-sia. Yang penting jangan sampai kita membuang waktu. Liburan tapi tetap produktif. Biar mantap untuk semester depan! Yosh (sambil kepal tangan)

Keluarga, Harta yang Tak Ternilai

Melepas rindu di kampung juga diisi dengan mencicipi masakan ibu di rumah. Bisa dibayangkan selama ini kehidupan dirantau. Makanan pas-pasan, uang jajan pas-pasan, semuanya pas-pasan. Mari bersyukur bahwa kita masih diberikan keluarga yang lengkap, yang bisa diajak saling melepas rindu.


Pagi senin aku membuka pintu atas rumah kemudian lalu menghidupkan laptop kesayangan. Menghirup udara pagi Meulaboh yang segar. Aku bergegas mengambil handphone, dan jepret! Ini lah suasana rumahku yang gambarnya diambil dari lantai 2. Asri dan tenang J



Jadi sekarang, pantaskah kita terus hibernasi dengan kemalasan?
kalau mereka berjalan, pantaskah kita hanya berdiri?
kalau mereka berlari, pantaskah kita hanya berjalan?
kalau mereka berlari, kita harus terbang!  Melampaui semuanya. Salam Golden wings! Ganbatte

I fought to the limit to stand on the edge
What if today is as good as it gets
Don’t know where the future’s heading
But nothing’s gonna bring me down

So here I am — still holding on! (Kris Allen, No Boundaries)



Sabtu, 25 Mei 2013

Istimewakan Aceh dengan Pemuda Kreatif


Saya adalah mahasiswi semester 6 Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Unsyiah. Beberapa hari yang lalu saya mewakili Aceh untuk mengikuti salah satu forum kepemudaan pada tanggal 23-26 Mei di Bandung, Jawa Barat. Dari 1013 aplikan, saya dan Alyani Akramah Basar, partner dari Fakultas Kedokteran berhasil menjadi delegasi Aceh dari 200 peserta yang terpilih. IYF (Indonesia Youth Forum) memberikan pengalaman yang tak tergantikan karena saya dapat bertemu dengan orang-orang kreatif di seluruh Indonesia.

IYF merupakan forum yang mempertemukan para pemimpin muda Indonesia yang akan membahas peran pemuda dalam mengimplementasikan berbagai macam aktivitas untuk pencapaian MDGs, isu global dan lain-lain.  Di Forum ini saya banyak bertemu dengan tokoh inspirasi yang tentu saja membangkitkan semangat saya sebagai pemuda. Mulai dari pertemuan dengan Bupati Belitung Timur Basuri Tjahja Purnama, Dubes Indonesia, deputi Kemenkes, para CEO muda, bahkan bertemu langsung dengan Menpora RI, Roy Suryo.

Menjadi peserta untuk forum ini sama halnya dengan forum lainnya. Ada tahap seleksi esai dan wawancara. Namun, yang membuat forum ini berbeda dengan forum lainnya adalah masing-masing peserta harus sudah melakuan social project baik itu dibidang kesehatan, pendidikan, budaya, dan lain-lain di daerahnya masing-masing.

 Kegitan yang dilaksanakan oleh ISYF (Indonesia Student and Youth Forum) dan didukung oleh Menpora RI ini secara resmi dibuka di Gendung Merdeka Asia Afrika, Bandung. Pada acara pembukaan ini setiap delegasi dari masing-masing daerah diharuskan memakai pakaian adat. Saya sangat bangga bisa mewakili Nanggroe Aceh, menjadi provinsi paling barat Indonesia ternyata banyak menarik perhatian delegasi dari daerah lain.


Ternyata benar. Aceh adalah daerah yang istimewa di mata delegasi lain. Hal ini mulai terlihat karena saya memakain baju adat yang berbeda. Mereka sangat tertarik dengan motif baju adat yang unik. Selain itu, saya juga sering mendapatkan pertanyaan yang bertubi-tubi tentang tsunami, masjid Raya Baiturrahman, GAM, Bendera Aceh dan Syariat Islam. Banyak diantara mereka yang tidak tahu tentang fakta sebenarnya. Saya hanya bisa menjelaskan apa yang saya tahu agar mereka tidak salah paham. Terutama masalah Bendera.

Selama 4 hari di Bandung, kami lebih sering berdiskusi membahas tentang isu MDGs. Baik kesehatan, lingkungan, teknologi, globalisasi, dan pendidikan. Pada saat coaching clinic, saya memilih bidang social movement. Nah, di coaching clinic ini, saya berkesempatan bertemu langsung dengan Irfan Amalee, yang merupakan seorang penulis kreatif dan social entrepreneur. Diskusi bersama Irfan Amalee membahas bagaimana social project dilakukan dengan efisien dan efektif. Beliau juga menekankan bahwa pemuda zaman sekarang harus bisa menjadi penggerak. Hal ini salah satunya bisa dilakukan dengan menjadi seorang social entrepreneur.


Yang paling mengesankan adalah saat saya juga diberi kesempatan untuk bertemu dengan CEO muda yang sukses di Gedung Bank Indonesia, Bandung. Saya bertemu dengan Microsoft Community Affair Manager, President AIESEC Indonesia, penulis kreatif Founder AICT Indonesia dan Bapak Imam Gunawan sebagai Asdep Peningkatan SDM Pemuda dari Menpora RI. Melalui mereka, saya banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman baru. Ini membangkitkan saya untuk harus melakukan sesuatu untuk daerah saya sendiri, Aceh tercinta. Pemuda harus bergerak, pemuda harus beraksi!

Tidak hanya diskusi, saya dan delegasi lainnya juga berkesempatan ke Hutan Kota Bandung, Babakan Siliwangi. Kami menanam pohon untuk menjaga kelestarian hutan. Banyak wawasan yang tidak pernah saya dapatkan saat memasuki hutan kota ini. Hutannya masih  terlindungi, asri dan terlihat alami. Saya berpikir, bagaimana dengan Hutan Kota di Banda Aceh? kita tidak harus berpangku tangan menunggu tindakan dari pemerintah. Kita, para pemuda seharus lebih peka menjaga kelestarian.

Usai Car Free Day di Dago, deputi Kemenkes juga sangat senang saat saya menyinggung tentang Aceh didepan beliau. Pada saat Talk Show yang ditonton oleh seluruh masyarakat sepanjang jalan Dago, beliau membahas masalah pentingnya minum susu. Beliau berharap masyarakat Aceh juga tetap bisa menjaga kesehatan agar pemuda Aceh sehat dan siap menjadi pemimpin kelak.
Penutupan diadakan di Hotel Savoy Homann, Bandung. Lokasinya tidak jauh dari Gedung Merdeka Asia Afrika. Roy Suryo, selaku Menpora RI juga datang untuk memberikan motivasi yang sangat besar untuk semua delegasi. Kutipan beliau yang sangat saya tersentuh adalah “Think globally with local content”. Beliau memberitahukankepada seluruh generasi muda diseluruh penjuru Indonesia bahwa kita perlu  berpikir luas namun jangan meninggalkan nilai-nilai daerah. Seperti hal nya adat dan kesenian daerah. Globalisasi seharusnya tetap bisa menjaga nilai tradisional.

 Dari 200 perserta, terpilih lah Guntur Yanuar Astono, delegasi dari Malang yang programnyaa didukung penuh oleh Menpora. Social project guntur berhasil mendapatkan perhatian dari panitia dan Menpora. Ia akan mengikuti konferensi di Filipina beberapa waktu yang akan datang.

Pengalaman selama 4 hari sangat berkesan. Banyak hal baru yang saya dapatkan selama IYF. Tidak hanya sampai 4 hari saja, kami juga akan terus melaporkan social selama 6 bulan ke depan. Saya berharap, dengan adanya forum seperti ini, semangat perubahan untuk para pemuda, Aceh khususnya akan semakin meningkat. Tentu saja bukan untuk kepentingan pribadi, tapi juga untuk kepentingan kita bersama. Saya bangga bisa mewakili Aceh. Mulai sekarang, mari istimewakan Aceh dengan pemuda yang kreatif dan inovatif! Stand Up, Speak Up, Take Action!

Minggu, 14 April 2013

Praktikum Itu Bukan Sekedar Jalan-jalan


Kuliah di tingkat 3 ini memang tidak semudah yang dibayangkan. Banyak perjuangan yang harus dilalui menuju penelitian akhir. Masih banyak tantanggan praktikum yang terselip dibeberapa semester. 

Selain beternak ayam broiler, aku juga harus meneliti tentang budidaya perikanan dibeberapa tempat yang sudah direkomendasikan oleh dosen. Tambak ikan nila di Lampineung Aceh Besar, ya.. disana kami berkesempatan untuk mengunjungi lokasi dan bertanya pada petani tentang budidaya serta analisa usahanya. Nantinya kami akan membuat laporan karena menjadi salah satu kewajiban di dalam 3 sks.

Pada dasarnya kuliah itu hanya belajar teori. Saat praktikum dan terjun kelapangan lah pengetahuan itu akan diuji. Terkadang teori yang kita dapati di kelas tidak sama dengan realisasi saat berhadapan langsung dengan masyarakat. Itu lah pentingnya bersosialisasi. Ilmu itu akan terus berkembang.


Sekitar 4 kali pertemuan, aku dan teman lainnya banyak berdiskusi dengan Pak Jufri. Beliau adalah pemilik ikan nila yang juga kebetulan kenal dengan dosenku. Awalnya  aku merasa ragu dengan tempat praktikumnya. Tempatnya sunyi, dan tidak seperti lokasi usaha lainnya. Tapi, setelah disambut dengan antusias, baru aku sadar, ternyata suasana lokasi usaha ikan nila memang lengang. Ada puluhan tambak disana. Setelah beberapa kali pertemuan, ada banyak sekali ikan nila didalamnya.

Tidak hanya berdiskusi tentang manajemen berwirausaha ikan nila, produksi, tapi kami juga harus bertanya langsung dengan petani tentang analisa usahanya. Baik itu modal, biaya pekerja, sewa, harga pupuk, harga jual dan lain-lain. Kami juga berkesempatan untuk bisa menyaksikan langsung bagaimana proses pemanenan yang nantinya ikan-ikan itu akan dijual dibeberapa pasar.

“Beda alam, beda juga manajemennya. Baik itu menyangkut tanah, air, pupuk, penyakit dan sebagainya”, jelas pemilik usaha, Pak Jufri, di sela-sela diskusi.

Pak Jufri, Pemilik Usaha Ikan Nila

Senin, 08 April 2013

Peluang Peningkatan Pengembangan Agribisnis Jagung Indonesia



Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi jagung selama pada 2011 mencapai 17,23 juta ton pipilan kering atau turun 5,99% dibandingkan dengan 2010. Jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan. Daerah-daerah penghasil utama tanaman jagung di Indonesia adalah, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, D.I. Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Khususnya di Daerah Jawa Timur dan Madura, budidaya tanaman jagung dilakukan secara intensif karena kondisi tanah dan iklimnya sangat mendukung untuk pertumbuhannya. Di Indonesia pada tahun 2004 produksinya baru 11,225 juta ton, pada 2005 meningkat menjadi 12,52 juta ton. Dan prediksi untuk tahun 2006 diperkirakan 12,13 Juta ton.

Pada kesempatan ini didalam mewujudkan suatu sistem pertanian yang terpadu, bahwa perlunya peningkatan produksi agribinis jagung untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan apabila memungkinkan dengan kapasitas produksi yang besar dapat membuka jaringan pasar ekspor Internasional. Apabila dilihat dari kondisi lahan, iklim serta kapasitas produksinya Indonesia cukup mampu didalam peningkatan agribisnis jagung untuk memenuhi permintaan daripada konsumen domestik dan Internasional. Dalam hal ini bagaimana sttrategi dan pelaksanaan pertanian yang digalakkan dengan integritas dan pemanfaatan lahan serta budidaya dan pertumbuhannya. Menurut survey dan pencatatan USDA, Departemen Pertanian, USA tahun 2005 stoknya masih 122,6 juta ton. Namun, sampai Oktober 2006 yang lalu tinggal 88,1 juta ton.


Menurut analisa ternyata produksi jagung dalam negeri memang belum mampu mencukupi kebutuhan bahan baku industri pakan ternak, untuk itulah dengan berbagai upaya dalam memenuhi permintaan konsumen agribisnis jagung ini, Pemerintah Indonesia telah mencanangkan swasembada jagung pada 2007, dengan target produksi 15 juta ton dikarenakan kebutuhan konsumsi dan industri pakan ternak yang melonjak. Diharapkan dalam pencanangan swasembada agribisnis jagung 2007 dapat berjalan dengan baik sesuai dengan mutu bibit tanaman jagung yang berkualitas didalam pengembangannya.

Sindiran Heboh: Yang Gaji Kamu Siapa?

Sejak video seorang Menteri Kominfo Rudiantara, beberapa waktu lalu beredar dan menghebohkan sejagat dunia maya dan dunia nyata, saya pun t...