Minggu, 20 April 2014

Simposium yang Membawa Berkah

Di pagi hari Kamis lalu (17/4/2014), saya sedang asik menonton “Rush” sendirian di rumah. Pada saat itu saya benar-benar sedang tegang melihat aksi Niki Lauda (Daniel Bruhl). Ia mempertaruhkan 20% resiko hidupnya di arena F1, Jepang, melawan rival nya yang paling berat, James Hunt (Chris Hemsworth). Tiba-tiba handphone saya berdering  tanda ada panggilan masuk. Saya agak ragu sebenarnya karena harus “me-pause” adegan yang paling keren itu. Hehe. Akhirnya pun saya menjawab panggilan. Wah ternyata itu adalah panggilan dari dosen saya, Pak Baihaqi. Kira-kira begini lah pembicarannya.
“Keumala, kamu sedang dimana? Apa ada di kampus?”, tanya beliau.
“Gak pak, kebetulan keumala sedang dirumah”...(dan belum mandi), *haha
“Bisa kamu segera ke kampus untuk meliput berita? Saya perlu rilis beritanya dan kalau bisa kamu kirimkan beritanya nanti ke media”, jelasnya
Wah, keumala kok gak tau informasinya ya pak? Acaranya sudah dimulai pak?”, saya bertanya dengan nada agak gugup.
“Belum, ini masih pembukaan. Segera datang ke kampus ya”
“Baik pak...”
Jeng jereeng. Dengan keadaan masih bau asem karena belum mandi, akhirnya saya mengalah untuk tidak lanjut menonton Niki Lauda yang super keren itu. Ke kampus  saya memakai baju DETaK. Baju itu memang saya pakai tiap kali meliput berita. Saya juga membawa identitas diri sebagai wartawan.

Tiba di kampus, tepatnya di ruang MPR (Multi Room Purpose) saya agak kelabakan melihat banyak sekali orang-orang berbaju dinas dan dosen-dosen diluar ruangan. Sebaliknya, tidak banyak mahasiswa yang terlihat. Hingga akhirnya acara dimulai, saya pun memberanikan diri masuk ke ruangan dan mencatat apa yang perlu dicatat.
Simposium Pangan
Dan ternyata, Fakultas Pertanian mengadakan Simposium Pangan dengan tema “Mengembalikan Aceh Sebagai Lumbung Pangan Nasional”. Simposium ini diadakan untuk menyambut ulang tahun ke-50 tahun Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.
Simposum Pangan yang berlangsung dari pagi hingga sore hari mengundang beberapa pembicara yaitu Hasballah Bin M. Thaib (Bupati Aceh Timur), Agus Bambang (Kabid Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan), Muhammad Tanwier Mahdi (Wakil Ketua I DPR Aceh), Perwakilan Kementerian Pertanian, perwakilan PT. Sygenta Indonesia dan Bank Mandiri.
Simposium ini sebenarnya adalah serangkaian acara dalam rangka menyambut ulang tahun emas (50 tahun) Fakultas Pertanian. Ini adalah simposium pertama sebelum 3 simposium lain yang akan dilaksanakan pada bulan 6,8, dan 11.
Setelah mewawancarai Bu Yuliani Aisyah, selaku ketua panitia simposium yang juga Ketua Jurusan THP (Teknologi Hasil Pertanian), di simposium ini diundang beberapa stakeholder seperti Pemberi Kebijakan, Pemberi Anggaran dan Pelaksana.
Yang saya dapatkan selama duduk diruangan adalah Aceh dalam 10 tahun terakhir ini mengalami penurunan dalam hal pembangunan pertanian dan kontribusinya terhadap nasional.  Persentasenya 3,79% di tahun 2004 menjadi 2,18% di tahun 2012. Aceh bukan lagi menjadi lumbung pangan karena banyak hasil produksi didistribusi ke luar daerah, ke Medan contohnya.
Namun sebenarnya Aceh memiliki potensi untuk menjadi lumbung pangan, terutama jika lahan yang ada benar-benar di optimalkan untuk pertanian. Aceh Timur merupakan kabupaten yang diharapkan menjadi lumbung pangan untuk komoditi Jagung, Padi dan Kedelai.
“Kita butuh lahan produktif, yaitu lahan abadi yang berfungsi untuk menciptakan benih-benih unggul nantinya. Lahan tersebut bisa kita tanami dengan tanaman palawija. Jadi, ketersedian lahan adalah hal yang terpenting saat ini”, ungkap Hasballah Bin M. Thaib, Bupati Aceh Timur dalam penyampaiannya.
Mengembalikan Aceh sebagai lumbung pangan dapat dilakukan dengan cara mengoptimalkan areal dan membuka areal baru untuk tanaman yang berpotensi baik untuk ekonomi rakyat. Meskipun banyak faktor pembatas seperti varietas benih, dan bantuan anggaran, namun tantangan ini harus siap dihadapi oleh tiap stakeholder agar muncul solusi.
Harapan menjadikan Aceh sebagai lumbung pangan tidak akan terwujud jika mekanisme antar stakeholder selama ini tidak diperbaiki. Baik dari pemeritah pusat, provinsi maupun kabupaten. Lahan yang sudah ada harus dioptimalkan dan jika perlu dibuka areal khusus untuk pertanian termasuk lengkap dengan irigasi dan kebutuhan lain yang mendukung.
Sebagai pendengar yang baik dengan polpen dan kertas yang ada ditangan, saya menangkap ada emosi yang mucul diantara pembicara. Hal ini terbukti saat Bupati Aceh Timur, Rocky (Panggilan gaul Bupati Aceh Timur) seperti memojokkan pihak DPR dan Dinas yang menganggap kucuran dana untuk program di kabupaten banyak “disembunyikan”. Tapi Alhamdulillah simposium masih tetap berjalan dengan lancar karena pada akhirnya emosi mereka tidak menimbulkan suat permasalahan. Emosi hanya sedikit terpancing karena masing-masing memberikan opini yang berbeda.
“Yang paling penting sekarang ini adalah ketersedian benih”, ujar Agus Bambang, perwakilan dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Aceh. Sedangkan Bupati Aceh Timur mengatakan bahwa yang paling penting itu adalah ketersediaan lahan. Jika lahan produktif sudah ada, maka akan mudah bagi kita untuk menciptakan benih. Pendapat boleh beda sih, tapi tujuan tetap sama kan? Setuju?
Ngobrol Bareng “Petinggi”
Coba pikir, apa enaknya sih jadi Wartawan? Jalan kesana kesini, panas-panasan, dll. Tapi tahukah kamu? Sebagai pihak yang paling netral, sebenarnya wartawan adalah profesi yang paling keren. Kenapa? Karena kita dapat bertemu dengan orang-orang hebat dan saling bertukar pikiran. Ya, ini lah yang saya rasakan.
Pukul 12.00, setelah simposium berakhir, saya mencari ketua panitia simposium untuk menanyakan hal-hal lain yang menunjang rilis. Ketika saya bertemu dengan ketua panitia, saya malah disuruh bergabung dengan rombongan yang terdiri dari Dekan, Ketua Jurusan, Bupati Aceh Timur beserta staff, perwakilan dari PT.Sygenta Indonesia dan  Kementerian Pertanian. (Wah ada apa ini? Saya kan cuma mau nanya sedikit saja. Kan gak mesti ikut rombongan orang hebat itu kan? Haduh. Saya kan jadi maluuu) Dengan perasaan agak gugup, akhirnya saya masuk ke mobil Pak Dekan. Agar tidak terlalu kaku, saya mencoba bersikap “luwes” dan memulai pembicaraan dengan Bu Yuliani, Ketua Jurusan THP.
Akhirnya setelah makan siang (ditempat yang saya kira agak elit), saya pun akhirnya dipersilahkan untuk “ngobrol” dengan Pak Bupati dan perwakilan dari Kementerian Pertanian. Yaah, sebenarnya saya masih amatiran. Tapi saya berusaha profesional. Mencoba bertanya, mengerti dan kembali bertanya agar tidak terlihat kaku.
Setelah bertanya panjang lebar, akhirnya saya beserta rombongan kembali lagi ke kampus dan melanjutkan sesi siang.  Pada malam hari, akhirnya berita berhasil terpublish di DETaK. Beritanya bisa baca di sini. Tapi sayangnya saya belum sempat mengirim ke Serambi karena tulisan saya terlalu telat dikirim.
So, saya merasa bahwa “Do what you love and love what you do” adalah benar adanya. Saya menyukai jurnalistik dan akhirnya saya bisa bertemu langsung dengan narasumber secara langsung. Berkahnya bukan karena saya bisa menikmati makan gratis. Tapi karena saya bisa membawa pekerjaan yang saya sukai ini bermanfaat untuk orang lain melalui tulisan. Wawasan saya pun kian bertambah karena berdiskusi langsung dengan orang-orang yang sudah ahli dibidangnya. Semua pekerjaan adalah baik jika kita melaksanakannya dengan ikhlas, benar kan?






Jumat, 18 April 2014

Agriculture is My Choice

On one day, I asked something to my mom enthusiasticallly, “Mom, if we eat spinach, what nutrient we will get? Is it a vitamin? Which vitamin is it? Is it useful for my eyes?”. I was so curious. As a Biology teacher, my mom anwered my questions. That is why I like to ask everything to her. I am not a relax if something makes me anxious. When I was a student in senior high school, I was ambitious to be a nutrient specialist. I loved to find out the nutrient of food. At the weekend after school, besides writting the poems, I used to collect all references about nutrient of food. Week by week, I searched them on the internet and made a collection. There were some photos and the explanation of consumption effects in it. My friends borrowed my collection bind and I was really pleasure. I hoped that I would continue my study to famous university.

In fact, several years later, I failed to continue my study to the nutrious departement. Finally my destiny was being accepted in Agricultural of Economic of Syiah Kuala University. It was unpredictable! Because I had absolutely never thought about agriculture before. However, my parents and my senior always support me even if I had to forget my dream as nutrient specialist. They made me sure that agriculture is a God choice. “Agriculture will be your passion if you love it so much, you had better go with it”, said Bang Toga, one of my motivator senior.

Year by year, I go through my life as an agriculture student in Unsyiah. At first and second year, I did not join any organisations in campus because I had to prove to my beloved parent that I could study well and made them proud. And you know? I successed to get GPA over 3,5. My parent was proud of me. I was so grateful and blessing. I said thanks to Allah.

On my third and fourth study year in campus, I started to join some student organisations such as DETaK, BEM, Himasep, Kophi, Sobat Bumi and vounterring in Turun Tangan Aceh. I also joined IYF and ILC representative from Aceh. I think what I have gotten until this time are not my true succsess. I just want to feel free and get many friends. I have been learning everything about leadership, success, love, hopeful, spirit and modesty from inspiring people. Because we can learn everything anywhere, anytime and by anyone.

Accepting choice to be an Agriculture student is my destiny. I believe that my dreams are started by this choice. I wish I could continue my study abroad and get master degree. Germany and Australia are my country where I will visit and study later. I would like to take Food Safety or Agricultural Economics and Rural Development major. I want to be a lecturer instead of nutrient specialist. “Homo proponit, seud zeus disporit”. Man proposes but God disposes, does not it? Dream is our prayer. I trust it.

So guys, have you taken the choice? Have you dreamt the dreams? Never be pessimist. I had ever watched a movie “Forrest Gump”. Forrest as a main actor. He said, ”Life is like a box of chocolates. You never know what you are gonna get”. If you are an Agriculture student, it is ok! It is great! Agriculture is the best field. Indonesia, especially Aceh, expects that it will be the best future chance. So, do you dare to choose? Yes you do ^_^

Minggu, 06 April 2014

Dilema Industri Kelapa Sawit

Ketika Fakta Berbicara
            Tak dipungkiri lagi, kini kelapa sawit menjadi tanaman yang memiliki prospek tinggi dalam hal ekonomi. Indonesia adalah salah satu negara penghasil minyak kelapa sawit dan menjadikan minyak kelapa sawit sebagai penyumbang devisa terbesar.
           Meskipun perkebunan kelapa sawit menyerap 2,5 juta tenaga kerja sedangkan bisnisnya menyerap 3,06 juta tenaga kerja, pendapat pro dan kontra terhadap industri kelapa sawit ini tetap timbul. Ada yang pro dengan alasan dapat meningkatkan perekonomian, ada juga yang kontra karena kelapa sawit membawa isu lingkungan yang negatif. Berikut beberapa fakta yang memaparkan bahwa kelapa sawit tidak selamanya memberikan dampak negatif dan “mengerikan” bagi lingkungan.
1.      Sebagai Bahan Baku Diesel
Emisi gas rumah kaca dar minyak kelapa sawit lebih rendah dibandingkan dengan komoditas lain. Emisi rumah kaca kedelai adalah 1387 kg karbon sedangkan kelapa  sawit hanya setara dengan 835 kg karbon
2.      Menyerap Karbon Lebih Banyak
Kelapa sawit memiliki daur hidup 25-30 tahun yang mampu menyerap karbon lebih banyak seperti hutan alam. Oleh karena itu kelapa sawit sangat ramah lingkungan karena menjadi kanopi alami.
3.      Sebagai Bahan Baku Energi yang Ramah Lingkungan
Penggunaan minyak kelapa sawit dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sehingga mengurangi emisi gas rumah kaca
4.      Limbah Kelapa Sawit dapat Dimanfaatkan
Selain produk utama CPO (Crude Palm Oil) yang dapat diolah menjadi beberapa produk, limbah kelapa sawit juga dapat digunakan untuk pupuk cair dan pupuk padat (kompos), mulsa pakan ternak, arang aktif, dsb. Pemanfaatan limbah ini menjadikan industri kelapa sawit menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan.


Fakta yang disebutkan diatas hanya beberapa dari fakta-fakta yang bersumber dari Ditjen Perkebunan dan Dinas Kehutanan. Meskipun kenyataan ini sudah terbukti, namun masih ada pihak yang menganggap bahwa perencanaan industri sawit adalah suatu bencana, terutama jika industri kelapa sawit di optimalkan di Aceh. Mengapa? Seorang alumni Fakultas Pertanian Unsyiah berpendapat, “Kelapa sawit di Aceh tidak perlu intensif. Masih ada industri olahan tanaman perkebunan yang bisa diintensifikasikan seperti industri olahan kopi, kakao, dan karet. Selain itu, perkebunan di Aceh juga sulit dilakukan karena belum ditetapkan sistem kebun plasma sehingga berefek pada bahan baku dan olahan” (Suryadi, 3/4/2014).

Pendapat lain mengatakan, “Dampak negatif dari kebun sawit itu ada 5 hal, yaitu : penyorobotan lahan penduduk, tergusurnya plasma nutfah, persaingan sumber pangan, pengurasan air tanah, dan pemanasan global” (Heri Djuned, 3/4/2014)

Baik, saya tidak mengatakan pendapat ini salah, tapi pendapat ini adalah pendapat yang timbul dari perspektif individu yang berbeda. Jika Aceh menjadi contoh yang spesifik, wajar saja, karena banyak hal yang dapat dijadikan bukti. Seperi kasus rawa tripa dan perebutan hak tanah antara warga dengan salah satu perusahaan kelapa sawit di Aceh.

Lalu, Industri Kelapa Sawit Intensif di Aceh, Amankah?
Menurut Sekjen Apkasindo (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) dalam Lokakarya “Industri Perkebunan Kelapa Sawit yang Berkelanjutan dan Menyejahterakan” di Banda Aceh, Asmar Arsjad mengatakan bahwa industri perkebunan kelapa sawit sangat strategis diusahakan karena penghasilannya cukup besar, baik untuk PAD (Pendapatan Hasil Daerah) maupun untuk menyejahterakan masyarakat.
Ya, saya setuju dengan pendapat ini. Tapi, lagi-lagi , isu terhadap lingkungan tidak akan reda. Bagi saya ini juga diakibatkan karena komunikasi. Ada media dan jurnalis yang terlalu “lebay” memberitakan isu kelapa sawit sehingga memberikan respon yang signifikan terhadap aktivis maupun komunitas lingkungan. Seharusnya, jika memang kelapa sawit bersifat merusak karena menyerap banyak air tanah, maka menurut Asmar Asjad, wartawan harus langsung ke lapangan dan jangan terlalu ekstrim memberitakan sesuatu. Lalu, amankah? Bagi saya semuanya akan aman jika perusahan, masyarakat, dan pemerintah satu pikiran. Dan tentu saja ada yang harus dikorbankan demi suatu tujuan. Namun perlu dipikirkan lagi bagaimana pengorbanan tersebut tidak sebelah pihak dan resiko yang diperoleh adalah resiko yang paling kecil.

3P, Implementasi Industri Kelapa Sawit Berkelanjutan
            Nah, apa yang harus diperhatikan agar tercipta “Principle Of Sustainable Development” untuk industri kelapa sawit? Kita perlu mengingat prinsip 3P (People, Planet, Profit). People (Socially Acceptable), disini maksudnya suatu pembangunan industri yang ideal itu harus bisa menjaga hubungan sosial dengan masyarakat. Caranya   yaitu dengan menghargai hak-hak penduduk setempat, tidak menentang hukum adat, dan memanfaatkan sumber daya sehingga muncul agribinis yang diterima oleh masyarkat. Kemudian Planet (Environtmentally Friendly), disini industri dituntut untuk bisa menjadi Eco-Industry yaitu dengan cara optimum penggunaan pupuk, pengendalian hayati hama dan penyakit, konservasi energi (bisa dijadikan biodiesel), dan meminimalisir limbah. Dan yang terakhir adalah Profit (Economically Viable), yaitu perbaikan produktivitas, peningkatan efisiensi SDA/SDM dan pemasaran. Pemasaran yang dimaksud adalah perluasan pasar dan diversifikasi produk.
Jika 3 ini sudah bisa kita optimalkan, tidak ada masalah kan? Masalahnya sekarang adalah kita sebagai masyarakat terlalu banyak beropini dan selalu menyalahkan pemerintah. Pemerintah memang pihak yang mempunyai andil dalam suatu peraturan. Tapi yang menjalankannya adalah masyarakat dan perusahaan tertentu. Jika 3 stakeholder ini saling beradu pendapat dan menyalahkan, tentu tidak ada untungnya. Malaysia dengan SDM yang lebih baik dari Indonesia akan tetap merajai produksi CPO dan mensejahterakan bangsanya. Kita? Tentu juga bisa.
Saya hanya menyatukan perbedaan pendapat yang sering saya dengar. Mudah-mudahan negeri kita ini terus terjaga dengan bangsanya yang mau membangun negeri. Yaitu bangsanya yang mau berpikir positif dan bijak menyelesaikan suatu permasalahan. Dilema perkebunan dan industri sawit ini mungkin memang tidak akan habisnya sampai dimasa depan. Tapi setidaknya kita tahu apa yang terjadi dan berharap kita lebih optimis menyikapi ini. Bagaimana? Siap membangun industri yang suistainable?




Minggu, 30 Maret 2014

Weekend Keren ala Anak Muda

Ngobras, Ngobrol Asik Ala Anak Muda Aceh

(Jumat malam, 28/3/2014), Untuk pertama kalinya, relawan Turun Tangan Aceh membuat diskusi publik  yang bertema “Anak Muda, Melakukan apa?” di 3 in 1 Coffee Shop, Lampineung, Banda Aceh. Ngobras berhasil menarik perhatian beberapa media dan aktivis sosial malam itu. Pernah nonton ILC (Indonesia Lawyers Club) yang ada di stasiun TV Merah Putih kan? Nah, Forum diskusi ini dikemas sedemikian rupa sehingga tampak dan berjalan seperti sistem diskusi di ILC. Diskusi terasa lebih asik dan tidak terkesan kaku.

Kegiatan yang dilakukan oleh relawan Turun Tangan Aceh  ini mengundang 4 pembicara yaitu Saifuddin Bantasyam (Dosen Fakultas Hukum Unsyiah), Muda Bentara (Pegiat Isu Sosial dan IT), Askalani (Aktivis Anti Korupsi) dan Hijrah Saputra Yunus (Entrepreneur Muda-Owner Piyoh). Ngobras  dihadiri beberapa komunitas serta perwakilan dari OSIS sekitar Banda Aceh. Selain itu juga hadir anak muda dari beberapa kota di Aceh maupun dari pulau Jawa yang sedang studi di Banda Aceh.


Ngobras malam itu mendiskusikan tentang peran serta kriteria anak muda Indonesia dapat yang membangun negeri, Aceh khususnya. Forum berlangsung selama tidak lebih dari 2,5 jam. Ngobras menjadi kegiatan yang produktif dan asik karena diskusi diselangi canda tawa dan para peserta saling memberikan argumen positif yang ingin menjadikan Aceh menjadi lebih baik.

Ya, Kegiatan rutin mingguan dari Turun Tangan ini membuat saya juga harus ikut turun tangan. Ada beberapa kegiatan yang harus saya ikuti dan saya korbankan. Tapi rasanya sangat puas jika kita sudah mampu menyelesaikan satu kegiatan. Ada hasil kepuasan yang kita dapatkan meskipun pada akhirnya hanya lelah yang tertinggal. Lelah bukan apa-apa jika dibandingkan dengan pengalaman dan berkumpul dengan teman-teman.



Malam itu diskusi terasa sangat lancar. Prediksi sih maksimal hanya 70 an orang yang hadir di acara ngobras. Tapi ternyata mungkin karena publikasi dan aspirasi, akhirnya acara ini berhasil mengundang 100 lebih orang tua dan anak muda yang hadir. Alhamdulillah

“Ini peran kita untuk mewujudkan perubahan. Turun tangan berarti kita tidak boleh diam”, ujar Juwita Fitra Sari, Relawan Turun Tangan Ciasem yang juga ikut hadir di malam acara.

Fairuziana Humam, selaku Alumni Pencerah Nusantara dan juga menjadi moderator acara mengungkapkan bahwa menjadi seorang anak muda Aceh berarti harus bisa membuat Aceh lebih maju. Hal ini bisa dilakukan dengan cara turun tangan bersama serta menekuni bakat dan minat masing-masing. Menjadi anak muda yang menginspirasi bisa dilakukan dari hal-hal kecil, contohnya dengan menulis. Baiquni Hasbi, salah seorang anggota Komunitas Gaminong Blogger juga berkata, “Tidak ada komunitas yang tidak baik. semuanya bergerak dibidang masing-masing. Hal kecil yang dapat kita lakukan adalah dengan cara menulis hal-hal yang positif”.
Di dalam diskusi, banyak dibahas tentang peran warung kopi di Aceh yang kini menjadi tempat berkumpulnya anak muda. Dengan fakta yang terjadi, warung kopi seharusnya bisa melahirkan gerakan movement tanpa harus menyalahkan fasilitas (wifi).

 “Masyarakat Aceh yang sering nongkrong di warung kopi jangan dijadikan suatu kelemahan, tapi kelebihan dari sebuah kultur”, ujar salah satu peserta dalam diskusi. Oleh karena itu, inisiasi dari gerakan turun tangan diharapkan menjadi motivasi semua kalangan khususnya generasi muda agar bisa segera take action demi perubahan untuk negeri.

GIB dan Disbudpar Aceh, untuk #CharmingBandaAceh
Keesokan harinya, (Sabtu, 29/3/2014), di NA Coffe, Banda Aceh, Saya bertemu dengan teman-teman di komunitas GIB (Gaminong Blogger). Kami bertemu untuk sekedar sharing tentang suka, cita, tips, trik dan berkah dari ngeblog. Banyak hal yang saya dapatkan. Terutama motivasi untuk terus menulis. 

Kita menulis tidak untuk dipahami, tetapi untuk memahami.

Sebenarnya saya sudah lama di Komunitas GIB ini. Hanya saja karena saya jarang kopdar (kopi darat) dengan anggota yang lain, jadi nama anggota yang lain saja saya masih lupa-lupa ingat. Hehe.

Gam Inong Blogger (GIB) yang pada awalnya sebagai wadah bertemu nya para blogger, kini menjadi salah satu senjata ampuh promosi wisata yang mensupport Dinas Budaya dan Pariwisata Banda Aceh. Hal ini terbukti sejak GIB pertama kalinya diberi kesempatan memberikan pelatihan blog kepada finalis Duta Wisata Banda Aceh 2014 beberapa waktu lalu. Kini, GIB dipercayakan sebagai komunitas yang memberikan sosialisasi tentang kompetisi blog yang diselenggarakan oleh  Dinas Budaya dan pariwisata Banda Aceh.

Jadi intinya, blog kini dilirik sebagai wadah jitu untuk mempromosikan kekayaan wisata yang ada di Banda Aceh. Baik wisata alam, bahari, kuliner, budaya, sejarah, religi, maupun wisata belanja. Menarik bukan? Kalau bukan anak Aceh sendiri yang meng-ekspos, apa harus tunggu orang luar dulu yang mengagumi negeri (Aceh) kita ini? Think again!

Wah, kalau bahas ngeblog, saya sih bakal bersyukur sekali kerena diberikan kemampuan untuk menulis. Apalagi menulis dalam 1 malam! Haha. Meski kalimatnya jadi amburadul dan gak nyambung sama sekali, saya tetap bersyukur. Mudah-mudah menulis menjadi suatu konsistensi yak. *peace*. Yuk mari menulis apa saja :)

Pembekalan dari Relawan Turun Tangan Ciasem



Siang harinya, saya berlanjut ke gedung TDMRC. Tempat dimana para relawan Turun Tangan Aceh dibekali oleh Relawan Turun Tangan Ciasem. Pada saat sampai disana, memang kegiatannya sudah hampir selesai. Hehe. Tapi saya tetap mengikutinya dengna baik kok.
Mbak Gina, Anggun dan Juwita memberikan games, pengarahan dan diskusi kepada seluruh relawan. Ada beberapa relawan baru yang datang. Mereka terlihat antusias dan senang bergabung untuk pertama kalinya.


Yah, akhirnya weekend ini sangat full terisi. Hehe
Yang paling penting kebersamaan. Disaat kita bisa berbagi wawasan, ilmu, dan pengalaman, maka lelah semuanya bisa terbayarkan. Eh btw busway, saya juga sebenarnya melewatkan beberapa kegiatan yang lain di hari Sabtu dan Minggu. Ada rapat Sobat Bumi dan acara akbar Earth Hour di Hermes Hotel. Wah wah, I am sorry so bad lah yaa. Life is choice. Kita punya 2 kaki, tapi kita hanya punya 1 jalan. Pilih lah! Coblos no 7. Eh :p

Kamis, 13 Maret 2014

Garuda Berkulit Hijau

Seorang bapak berkaca mata dengan santai berbicara di depan sekitar 120 orang mahasiswa terbaik dari seluruh Indonesia, Malaysia dan Thailand. Tak ada yang bergeming mendengarkan beliau berbicara. Mereka mendengar dengan seksama dan entah mengerti atau tidak, mereka terlihat mangut-mangut serius. Beliau berbicara penuh karisma, dan sangat menginspirasi.

Alhamdulillah, Saya, pada saat itu beruntung bisa duduk diantara mereka semua. Saya menjadi salah satu delegasi asal Aceh yang berhasil lolos di ILC (Indonesia Leadership Camp) di UI, Depok, pada September 2013 lalu. Banyak hal yang saya dapatkan selama 4 hari kegiatan disana. Salah satunya berkesempatan untuk bertemu dengan CEO Rumah Perubahan, Rhenald Kasali. Saya dan teman lainnya belajar bagaimana menjadi seoarng Social Entrepreneur.


Ditengah-tengah diskusi, beliau bertanya kepada seluruh mahasiswa. “Siapa diantara kalian semua yang sudah pernah keluar negeri?”

Deg. Banyak diantara mereka yang mengangkat tangan. Mereka sepertinya senang dengan pertanyaan ini. Tapi saya hanya bisa malu-malu. Pasalnya saya belum pernah ke luar negeri. Hehe.

Kemudian Pak Rhenald bertanya lagi. “Yang sudah pernah keluar negeri setidaknya ke Malaysia, ada?”. Ternyata banyak juga yang angkat tangan. Kali ini saya pasrah saja. *kalem*
“Yang punya paspor ada berapa orang?”

Saya! Saya akhirnya menjadi salah satu orang yang mengangkat tangan. Dengan rasa percaya diri saya mengangkat tangan sambil tersenyum. *Laen hana cara*

“Nah, begitu dong. Kalian harus udah punya paspor dari sekarang. Jangan pas mau keluar negeri baru urus paspor”, tambahnya. Tak lama beliau kembali berbicara.

“Seperti halnya hujan. Sudah pasti yang perlu kalian persiapkan adalah payung. Bukan yang lain. Tapi alangkah baiknya kalian mempersiapkannya dari awal. Sama hal nya seperti keinginan ke luar negeri. Kenapa tidak kita persiapkan paspor dari sekarang? Banyak mahasiswa sekarang dimana mau pergi, disitu urus paspor”, jelasnya.

Spontan pikiran saya langung menerawang. Tentang kisah paspor yang dulu sempat diurus. Saya jadi teringat percakapan dengan salah satu senior di chat facebook yang kini hampir menyelesaikan studinya di Taiwan, Chung Hsing University.

Saya sempat down dan pesimis dengan mimpi yang satu ini. We are what we think. Mungkin ini juga menjadi salah satu faktor kenapa saya belum berhasil menjadikannya nyata.

Kecil, tapi Ada Karena Mimpi
Sejarah saya punya paspor adalah saat saya menggebu-gebu ingin ke Jepang melalui pertukaran mahasiswa ke Fukui selama 2 semester di tahun 2012. Tapi saya gagal mengikuti seleksi karena ada faktor penghambat. Agak lama juga saya harus benar-benar meyakinkan hati untuk ikhlas menerima kenyataan. Saya gagal ke Jepang mengikuti salah satu teman yang sekarang sudah menyelesaikan programnya di Fukui. Cerita awal tentang pengalaman saya dalam kepengurusan paspor ini ada di tulisan sebelumnya.

Saya rasa, menginjakkan kaki ke negeri lain adalah impian (kebanyakan) orang. Jadi untuk meraih keinginan ini tentu tidak mudah. Seperti pengalaman beberapa teman dan orang terdekat saya, mereka menginjakkan kaki keluar negeri  harus menempuh perjalanan dan penantian yang panjang. Pun demikian, butuh juga persiapan lain. Mulai dari IPK, kemampuan berbahasa inggris, dsb. Yaah, Paspor memang penting, masing tapi banyak lagi yang perlu dipersiapkan. Sampai sekarang, paspor menjadi motivasi saya.

Sekarang ini ada banyak sekali beasiswa yang menawarkan pertukaran pelajar ataupun studi lanjutan ke luar negeri. Mulai dari PPAN, Fulbright dan ADS (Australia Development Shcolarship). Ada juga beasiswa daerah yang memberikan kesempatan kepada putra putri daerah dengan persyaratan tertentu. Seperti ke Taiwan, Malaysia, dsb. Dan masih ada lagi beasiswa yang mungkin sangat banyak jika harus disebutkan satu persatu.

Ke Luar Negeri Boleh, Asal...
Tapi ada hal yang sebenarnya luput untuk kita pahami. Bahwa ke luar negeri adalah jalan kita untuk melihat dunia luar, melihat kehidupan di luar. Dibalik itu semua tentu ada efek positi dan negatif yang kita dapat. Apa kita sanggup menjaga diri? Apa benar kita bisa belajar dengan baik selama di luar negeri? Apa kita tetap bisa menjaga marwah daerah dan negara asal kita? Dan juga, jika saya dan kamu sudah dan akan keluar negeri tentu kita perlu sadar bahwa menjaga diri dan iman adalah hal yang terpenting. Jangan sampai kita terpengaruh dan terseret ke hal-hal yang buruk.

Semuanya ada dalam niat dan pribadi masing-masing. Apakah ke luar negeri hanya sekedar jalan-jalan dan gengsi? Pastinya, jangan sampai kita menjadi katak dalam tempurung.
Jika memang sudah mantap, persiapkan diri dengan baik. Seperti pengalaman teman saya, Armijal, yang berhasil menembus ADS dengan persiapan yang matang (Humble is Beauty). Saya juga membaca pengalaman salah satu anggota NYL (Nusantara Young Leaders) dari Divisi Media yang berhasil ke Singapura dan Kuala Lumpur dengan usaha keras, Yedhesiani

Jadi, Sampai Kapan?
Sampai Allah mengizinkan. Saya percaya bahwa Allah tidak pernah tidur. Saya percaya suatu saat nanti Ia akan mengizinkan dan pada akhirnya saya bisa membanggakan orang yang saya sayangi dan saya cintai.

Kini, semangat ini kembali muncul karena sering membaca dan mendengar cerita-cerita mereka yang sudah berhasil keluar negeri. Kini, terutama dipenghujung masa mahasiswa, semangat saya terasa semakin membara. Saya juga ingin berburu beasiswa dan melirik kesempatan-kesempatan yang lain. 


Tapi disamping itu semua, saya juga harus menyelesaikan skripsi. Yah, mudah-mudah ini bukan sekedar mimpi ya. Perlu banyak persiapan yang matang. Garuda berkulit Hijau ini akan terus saya simpan dengan baik. Hingga akhirnya ia bisa menemani saya terbang menggapai mimpi menuju negara 2J yang paling ingin saya kunjungi. Jepang dan Jerman. Yaa, seperti keinginan Golden Wings, judul blog saya ini. “Terbang dan merengkuh purnama mimpi” ~

Selasa, 11 Maret 2014

Turun Tangan, Bukan Lipat Tangan!

Di hari minggu pagi, Blang padang tetap ramai seperti biasanya. Banyak masyarakat dari berbagai kalangan yang datang untuk berolahraga, berkumpul dengan sahabat dan komunitasnya. Ada juga yang bahkan ke blang padang hanya sekedar menyicipi kuliner. Terlihat  begitu ramai masyarakat disana. Masing-masing dari mereka mempunyai aktivitas sendiri.

Pagi pukul 08.00, sekelompok pemuda pemudi terlihat sedang sibuk mengutip sampah yang berserakan direrumputan maupun di sekitaran lokasi kuliner Blang Padang. Ada tulisan “Turun Tangan” dikaos mereka. Ada juga kaos yang bertuliskan “Aku Relawan, Bukan Bayaran”, “Relawan Rp.0” dan sebagainya. Mereka berkeliling lapangan sambil membawa kantong plastik merah besar yang berisi banyak sampah kering. Lalu kantong plastik berisi sampah itu mereka dibuang ke konteiner sampah yang ada di sudut lapangan.


Ya, saya tergabung kedalam salah satu dari mereka. Saya dan teman-teman adalah relawan Turun Tangan. Berdasarkan agenda yang sudah ada, pagi Minggu adalah jadwal kami mengutip sampah-sampah yang dibuang sembarangan di Blang Padang. Niat sih memang murni bersih-bersih lingkungan. Sambil menyelam minum air. Sambil mengutip sampah saya juga bisa kenalan dengan orang baru di blang padang. #eh

Setelah bersih-bersih, para relawan pun menuju Black Jack, salah satu warkop terdekat dari Blang Padang. Saya bersama teman-teman mengadakan diskusi dengan para orang tua dari komunitas Awak Awai. Komunitas Awak Awai adalah komunitas penggemar sepeda ontel. Visi misi komunitas ini bertujuan untuk berolahraga, rekreasi dan silahturahmi. Kami saling bertukar pendapat tentang politik, komunikasi, Anis Baswedan, dan Turun Tangan.

Diskusi berjalan sangat asik diselangi canda dan tawa. Di diskusi ini kami bukan mempromosikan habis-habisan bahwa Anies Baswedan harus bisa menjadi Capres nantinya, tapi kami sekedar bersilahturahmi. Pada akhir diskusi diambil kesimpulan bahwa komunitas Relawan Turun Tangan dan Komunitas Ontel Awak Awai saling mendukung dalam hal sosial. Bukan politik. Mereka juga mewanti-wanti bahwa jika Anies orang baik, maka ia harus baik juga pada masa kepemimpinannya. Terlebih lagi jika sudah menceburkan diri di dunia politik yang terlanjur berlabelkan kotor.



Bagi kamu yang belum tau apa itu komunitas relawan Turun Tangan, komunitas ini adalah komunitasnya para relawan yang bergerak turun tangan secara langsung dan berusaha menggerakkan orang lain dalam kegiatan sosial, pendidikan maupun lingkungan. Prinsip dari komunitas ini adalah suatu perubahan tidak akan terjadi jika banyak orang yang urun tangan pada suatu permasalahan. Turun tangan, sekaligus arti dari namanya mengajak orang lain agar bisa terlibat dan ikut campur (dalam hal baik). Sebagian orang akan menganggap Turun Tangan adalah kampanye dari Anies Baswedan. Tapi kampanye ini dipastikan lebih baik dari pada harus mengeluarkan kocek yang mahal karena spanduk, baliho. Apa lagi bagi-bagi uang yang terkesan boros dibumbui janji-janji manis.

Kenapa saya sampai bisa menjadi relawan? Jawabannya karena “penasaran”. Haha. Iya benar, penasaran. Ada salah seorang senior saya dikampus pernah berulang kali ingin bertemu dengan saya. Katanya ia mau membicarakan sesuatu dan ingin mengajak saya untuk bergabung dikomunitasnya, komunitas Turun Tangan namanya. Pada waktu itu saya menolak tawarannya karena saya harus punya persiapan baik untuk berangkat ke Nagan Raya dalam rangka KKP (Kuliah Kerja Praktik) di PT. Fajar Baizury and Brothers. Nah, setelah sebulan pulang dari KKP, senior saya ini tetap keukeuh mengajak saya ikut bergabung. Saya pun akhirnya luluh. Untuk pertama kali saya duduk bersama relawan Turun Tangan lainnya. Kami berdiskusi untuk membicarakan agenda yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

Sedikit gambaran tentang Turun tangan, Turun Tangan sebenarnya adalah komunitas yang di anisiasi oleh Anies Baswedan. Turun Tangan adalah komunitas penggerak agar pemuda pemudi cepat tanggap pada suatu permasalahan. Bukan lipat tangan dan tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi.

Sebagai peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat, Anis Baswedan ingin menjadi salah satu capres pada pemilu 2014 mendatang. Anies Baswedan ingin sekali mengubah habit orang Indonesia untuk bisa ikut turun tangan bukan hanya diam dan mendiamkan. Jadi, relawan yang masuk ke komunitas Turun Tangan adalah pendukung Anies Baswedan, namun tidak menutup kemunkinan jika ada salah satu relawan yang berbeda pilihannya. Anies sendiri tidak mempermasalahkan siapa pun yang menjadi pemimpin untuk Indonesia nanti. Yang penting siapapun yang menjadi pemimpin nanti adalah orang baik dan baik juga pada masa kepemimpinanannya.



Sabtu (8/3/2014) yang lalu, saya dan beberapa relawan Turun Tangan lainnya juga melakukan aksi langsung seperti membagikan brosur, VCD, koran Turun Tangan, Stiker dan Kalender Turun Tangan di Simpang 5 Banda Aceh. Wah, ini adalah pengalaman saya pertama kalinya turun dijalan raya pada saat lampu merah! Jantung saya berdegup kencang. Bayangkan, untuk menyebrang ke jalan raya saja saya sudah ngeri, apalagi saya harus berlama-lama selama lampu merah menyala. Sekali-kali saya melihat lampu lalu lintas apakah sudah hijau atau belum. Saya khawatir kendaraan mulai membunyikan klakson sedangkan saya masih berleha-leha di lampu merah. Huft. Saya benar-benar panik!

Tapi moment membagikan brosur, VCD dan sebagainya di lampu merah ternyata memberikan arti bagi saya. Teriknya sinar matahari pada saat itu sudah tidak lagi terasa karena saya benar-benar enjoy dengan kegiatan tersebut. Saya tidak sendiri pada saat aksi. Banyak juga teman saya yang perempuan dan laki-laki membagikan brosur. Kami tersebar di titik simpang yang berbeda.

Setelah aksi di simpang 5, kami pun beristirahat di dekat Taman Makam Pahlawan. Nikmat rasanya ketika minuman dingin melewati tenggorakan saya yang kering. Sialnya akibat bandel, minuman dingin tersebut malah membuat saya belum fit total sampai sekarang. Batuk dan pilek seakan menggangu.


 Pukul 12 kami para relawan menuju MIN Masjid Raya untuk mengajarkan ibu-ibu guru disana belajar komputer. Sesampai disana, kami disambut hangat oleh para dewan guru. Mas rimba, sebagai koordinator Turun Tangan Aceh menjadi pemandu untuk pelatihan komputer. Para guru diajarkan tentang bagaimana membuat slide presentasi melalui Microsoft Power Point. Memang, masih banyak diantar guru MIN Masjid Raya yang belum akrab dengan laptop mereka sendiri. Masih banyak guru yang belum mengerti bagaimana menggunakan Power Point. Kami pun mengajari mereka dengan ikhlas dan sabar. Bukankah lebih baik Turun Tangan daripada hanya sekedar membiarkan, bukan?

Hanya dalam hitungan 2 hari mengikuti kegiatan Turun Tangan, saya merasakan “aura” yang berbeda. Saya memang tidak terlalu mengerti dan mengenal dunia politik lebih dalam. Tapi rasanya sangat miris jika saya menutup mata, telinga dan pikiran tentang politik. Bagi saya, warga negara yang baik adalah mereka yang mengerti tentang permasalahan negara mereka sendiri dan turun tangan untuk menyelesaikannya.

Persis seperti yang dikatakan Pak Anies Baswedan dalam pidatonya, “Kita harus memuculkan kepemimpinan yang bisa mengajak  semua orang untuk turun tangan, terlibat dan melunasi bersama janji kemerdekaan. Indonesia ini adalah Indonesia kita semua, milik kita bersama. Mari kita miliki masalah yang ada di negeri ini, lalu kita turun tangan ramai-ramai menyelesaikan masalah yang ada”.

Namun, sadar atau tidak Turun Tangan tetap merupakan gerakan politik karena ada di belakang sosok yang sedang berkompetisi di dunia politik. Tapi, saya rasa gerakan politik Anies Baswedan berbeda. Anies mengajak kita untuk berkomunikasi politik gaya baru, yang hemat, ramah, dan tepat sasaran.
Siapapun kamu dan mereka, tetaplah memilih hal yang baik-baik. termasuk memilih calon pemimpin yang baik. Sebelum dipimpin nantinya, pastikan kita sendiri bisa memimpin diri sendiri.  Apa yang bisa kita lakukan? Ya turun tangan rame-rame!

Oya, Anies Baswedan and team akan datang ke Aceh beberapa hari yang akan datang. Relawan turun tangan Aceh siap menyambut! Turun Tangan Aceh akan terus melakukan aksi yang menginspirasi :)

Sindiran Heboh: Yang Gaji Kamu Siapa?

Sejak video seorang Menteri Kominfo Rudiantara, beberapa waktu lalu beredar dan menghebohkan sejagat dunia maya dan dunia nyata, saya pun t...