Selasa, 01 Januari 2013
Kepompong Menjadi Kupu-Kupu
Seseorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Suatu hari sebuah lubang kecil muncul pada kepompong itu. Orang itu duduk dan mengamati kupu-kupu itu selama beberapa jam ketika ia berjuang memaksa dirinya melewati lubang kecil itu.
Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya, dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.
Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil dan sayap-sayap yang mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya dan berharap bahwa, pada suatu saat , sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu.
Tetapi semuanya tak pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap yang mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa ‘kepompong yang menghambat’ dan ‘perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu itu untuk melewati lubangan kecil’ adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebesan dari kepompong tersebut.
Kamis, 27 Desember 2012
Diskusi Umum Mahasiswa Unsyiah “Pemira untuk Siapa?”
Tempat dan Waktu
Aula Fakultas Hukum Unsyiah, Kamis (29 November 2012), 09.00 s/d 10.00
WIB
Notulen
Keumala Fadhiela. ND
Peserta
1. Ketua/perwakilan
BEM seluruh fakultas di lingkungan Unsyiah
2. Ketua/perwakilan
UKM di lingkungan Unsyiah
3. Ketua/perwakilan
DPM seluruh fakultas di lingkungan Unsyiah
4. Ketua/perwakilan
DPM Universitas
5. Mahasiswa
Unsyiah
Narasumber
1. Fauzi
(Ketua KPR Unsyiah 2012)
2. Syafrizal
(Ketua MPM Unsyiah)
3. Hermanto
(Ketua BEM FH)
4. Effendi
Hasan (Pakar politik, dosen Ilmu Politik Fisip Unsyiah)
Pemilihan raya adalah pesta demokrasi
mahasiswa di Unsyiah yang digelar tiap tahunnya. Seluruh elemen mahasiswa
selayaknya mendapatkan informasi dan mengungkapkan pendapatnya agar terciptanya
komunikasi yang bersinergi antar semua pihak yang terlibat di Pemira.
Menurut jadwal yang telah ditentukan
oleh KPR (Komisi Pemilihan Raya), pemilihanan akan berlangsung 5 Desember 2012.
Jadwal ini dinilai terlalu mendesak sebagian kalangan. Pemira terkesan
terburu-buru dan dipaksakan dalam pelaksanaannya.
Sosialisasi dan publikasi pemira baru
dilakukan pada akhir November. Rentang waktu itu dianggap tidak ideal untuk
mempersiapkan pemilihan pemimpin organisasi mahasiswa tertinggi di Unsyiah.
Namun demikian, KPR telah menentukan
jadwal pemilihan dalam Sidang Umum Keluarga Besar Mahasiswa beberapa waktu lalu
sehingga tidak ada alasan lain untuk memundurkan atau membatalkan waktu
pemilihan.
Bpk. Effendi Hasan :
Gerakan
mahasiswa dulu dan sekarang sudah berbeda. Pada tahun 1998, gerakan mahasiswa
sangat banyak melakukan perubahan. Namun gerakan mahasiswa kini terkesan
bertindak sendiri tanpa adanya isu bersama. Mahasiswa kini terlalu ego
sektoral, memunculkan ide yang sama dan lebih bersifat sosial.
Kuncinya
sekarang ada pada persoalan pemira. Pemira merupakan bagian dari partisipasi
politik. Oleh karena itu, pemira harus dipersiapkan dengan matang, tanpa ada
paksaan. Karena jika tidak, maka pemira hanya akan menjadi kepentingan
tertentu. Bukan untuk kepentingan seluruh mahasiswa Unsyiah. Presma yang
terpilih nantinya harus bersifat demokratis dan inspiratif sehingga ada rasa
memiliki antara fakultas dan Pema.
Penanya :
1. DPM
FKIP (Fakhrurrazi)
-
Kenapa bentrok selalu saja terjadi tiap pemira?
-
Di PGSD, kebanyakan mahasiswa akan golput akibat
ketidakpastian pada kampus, kenapa hal ini bisa terjadi?
2. BEM
Fisip (Akmaal Faraas)
-
Kenapa sosialisasi pemira terburu-buru?
-
Kenapa pemira tidak berpasangan?
-
Kenapa mahasiswa banyak yang tidak tahu siapa
calon presma?
Pernyataan DPM Unsyiah (M. Reza Maulana)
-
DPM tidak pernah terlibat pada setiap kegiatan.
-
Pada saat SU, fakultas Teknik tidak diijinkan
mengikuti SU dengan alasan tidak melengkapi surat rekomendasi dari PD III. DPM
menganggap hal ini adalah cara untuk mempersulit keadaan dan Pema bisa
mengambil keputusan sepihak.
Tanggapan Pak Effendi
-
Demokrasi di Unsyiah sudah sangat menurun
dibandingkan tahun sebelumnnya. Seharusnya kampus menjadi sebuah katalisator.
-
Seharusnya pemira menjadi kepentingan untuk
seluruh mahasiswa unsyiah. Bukan untuk kepentingan kelompok tertentu.
-
Persoalan
mahasiswa sekarang adalah saat mahasiswa menjadi undergo dari suatu partai
politik tertentu.
-
Solusinya tergantung dengan PR III yang
menentukan pemira tetap dijalankan atau dibatalkan. Audiensi dengan PR III
harus mendapat sebuah kesepakatan
-
Pemillihan harus tetap dijalankan secara
demokratis, terbuka, jurdil dan hanya untuk kepentingan mahasiswa.
Tanggapan BEM Hukum
-
BEM Hukum berharap pemira tidak dilaksanakan
karena dianggap hanya untuk kepentingan tertentu. Selain itu juga
sosialisasinya tidak efektif dan terkesan terburu-buru sehingga mencederai
demokrasi di Unsyiah
-
BEM Hukum menghimbau BEM fakultas lain
menghentikan pemira agar tidak hanya untuk kepentingan golongan tertentu.
SESI KEDUA
Tanggapan :
1. Mahasiswa
-
Seharusnya Pema, KPR dan MPR dipisahkan dan
diharapkan dapat saling kontrol
-
Karena Pema, MPM itu dikuasai LDK, maka itu juga
dianggap salah satu cara untuk mempertahankan golongan mereka. Contoh lainnya
dengan kegiatan UP3AI. Jika Pema dipimpin selain LDK, maka kemungkinan program
UP3AI akan hilang. Sedangkan UP3AI adalah program dari pusat.
1.
Mahasiswa Fisip
-
Untuk menjadi kampus yang baik, maka kita juga
harus membenahi tataran mahasiswa yang baik. Untuk memilih presma, berarti kita
harus mengikuti jajaran tingkat fakultas. Namun kenyataannya, hanya ada dua
fakultas yang menyetujui adanya presma, yaitu FK dan FMIPA.
-
Setiap golongan pasti mempunyai kepentingan dan
program kerja tersendiri sehingga bisa saja baik atau buruk untuk pihak lain.
Oleh karena itu, ada baiknya dibentuk adanya MK sehingga tidak ada bentrok dan
sistem pemerintahan menjadi sistem desentralisasi
-
KPR sebaiknnya mengangkat anggota-anggotanya
dari tiap fakultas yang berbeda.
-
Pemilihan presma sebaiknya dipasangkan dengan
wakilnya
2.
Mahasiswa FH (M. Reza)
-
Menyetujui bahwa persoalan Pemira harus
diaudiensi dengan PR III terlebih dahulu.
-
Banyak mahasiswaa yang tidak mau memilih karena
mereka sudah lebih dahulu siapa dibalik kandidat sehingga akhirnya mereka tidak
tahu lagi siapa yang harus dipilih. Mahasiswa pun tidak ingin peduli lagi
dengan adanya Pemira
-
Banyak mahasiswa lupa dengan tujuan awalnya,
yaitu demi kepentingan mahasiswa itu sendiri.
3.
BEM FT (Ryan)
-
Pemira menimbulkan kesan hanya untuk kepentingan
tertentu
-
BEM FT sepakat untuk memboikot Pemira
-
DPM fakultas tidak terlibat pada Sidang Umum.
4.
BEM Fkip (Edi Gusman)
-
Menyetujui bahwa persoalan Pemira harus
diaudiensi dengan PR III terlebih dahulu, tidak langsung diboikot
5.
BEM FK
-
Menyetujui pemira diboikot
6.
BEM Fisip
-
Audiensi ke PR III sudah biasa. Bukan diboikot,
tapi ditunda terlebih dahulu. Jangan saling menyalahkan antara beberapa
golongan tertentu.
-
Sebaiknya dilakukan intervensi sehingga
mahasiswa terlihat lebih bermatabat
-
Pendidikan demokrasi dari dosen juga tidak baik,
sehingga mahasiswa lebih memilih golput daripada membakar kotak suara.
7.
BEM FH Non Reg
-
Menyetujui dengan BEM Fkip, yaitu harus
diaudiensi dengan PR III. Jika tidak ada tanggapan, maka pemira akan diboikot.
Pendapat salah satu audiens : jika memang audiensi dengan PR III
tidak membuahkan hasil, maka lebih baik dilakukan pedekatan dengan pihak
dekanan masing-masing fakultas dan melibatkan HMJ dan BEM.
"Brave" Ketika Takdir Ditentukan oleh Keberanian
Setelah sukses menghadirkan Cars dan Toy Story yang
menghibur jutaan penonton di seluruh dunia, Studio Animasi Pixar dan Walt
Disney kembali memukau penonton. Tak seperti animasi Pixar sebelumnya, kali ini
Pixar menghadirkan suasana yang lebih kolosal dan merakyat. Film yang
berjudul Brave ini menjadi animasi terbaik dengan grafis yang
mendekati sempurna.
Tak banyak orang yang berani menentang tradisi. Risiko
melawan sesuatu yang sudah berakar kuat terlalu besar untuk kebanyakan orang.
Hanya mereka yang punya keberanian tinggi saja yang sanggup melakukannya. Putri
Merida (Kelly Macdonald), pewaris
kerajaan Dunbroch adalah satu dari sedikit orang dengan keberanian tinggi itu.
Kamis, 22 November 2012
Indonesia Tak Butuh Fakultas Pertanian
“Anda tahu tidak mengapa lulusan
Fakultas Pertanian tidak mau menjadi petani setelah lulus?.” Tanya Bob Sadino
pada salah seorang peserta seminar PTPN 7 (12/0) di Gedung Saburai PKOR, Way
Halim.
“Karena di ainigin mengaembangkan
ilmunya dibidang pendidikan, Om,” jawab Sugeng (54) yang berprofesi sebagai
guru.
“Salah! Lulusan Fakultas
Pertanian tidak ada yang mau menjadi petani karena gurunya, dosennya itu bukan
petani,” jawab laki-laki yang 9 Maret lalu merayakan ulang tahunnya itu.
Jawaban yang tegas itu mengundang
tepuk tangan dari hampir seluruh peserta seminar.
Bob yang sempat keliling dunia
itu menjelaskan, kondisi di Indonesia berbeda dengan Jepang dan Jerman. Jika di
Negara Jepang dan Jerman, Dosen FP adalah seorang petani, tapi di Indonesia,
pengajar FP bergelar doktor atau insinyur, bukanlah petani.
Inilah yang menyebabkan banyak
lulusan Fakultas Pertanian yang ogah menjadi Petan. Tak ada guru yang
mengajarkan indahnya menjadi seorang petani, karena gurunya tak pernah menjadi
petani.
Menurutnya, pola pembelajaran di
Jepang dan di Jerman soal pertanian sangat mengedepankan praktek dan
pengalaman. Ia menyimpukan, sebenarnya Indonesia tak butuh Fakultas Pertanian. “Tak
ada petani yang dihasilkan dari Fakultas Pertanian, jadi untuk apa Fakultas
Pertanian dibuar?” ujar Bob yang disusul gelak tawa oleh para peserta seminar.
Bob melanjutkan , jika lulusan
Fakultas Kedokteran setelah lulus menjadi dokter seharusnya lulusan Fakultas Pertanian juga
sama. Namun, kenyataannya sangat jarang mahasiswa yang menyandang gelar Sarjana
Pertanian bersedia terjun langsung menjadi petani.
Dalam seminar yang berlangsung
selama dua jam itum Bob juga mengkritisi orang-orang yang bergelar namun tidak
berhasil menjadi seorang wirausahawan. Kata “goblok” yang mulai menjadi ciri
khas Bob setelah ‘celana pendek’-nya sering membahana di ruang seminar. Ia tak
segan melontarkan kata itu kepada peserta seminar yang bertanya soal kunci
sukses berwirausaha, ini karena ia tak mengenal istilah sukses.
Menurutnya, jika ingin
berwirausaha setiap orang hanya perlu kemauan, komitmen, pandai mencari peluan,
serta pantang menyerah. Yang terpenting menurut Bob adalah ‘lakukan saja’.
Ia juga tak mengenal istilah
analisis. Ia menilai, saat ini orang justru sibuk mengurusi masalah analisis
untung dan rugi. Hal itu justru membuat bnayak orang takut untuk memulai sebuah
usaha.
Kegagalan adalah pelajaran untuk
menjadi seorang pengusaha kaya. “jika tak pernah gagal, tak akan pernah
berhasil,” ujar Bob saat menjawab pertanyaan di akhir seminar.
Sumber : Teknokra, Tabloid Mahasiswa Universitas Lampung
No. 120 Tahun XII Edisi 01-21 Maret 2012
Lulus S2-bukan Jaminan Gampang Dapat Kerja
Jumlah mahasiswa pascasarjana sejak 10 tahun terkahir
mengalami lonjakan 78 persen dari sekira 100 ribu menjadi lebih 180 ribu. Padahal,
gelar master ini ternyata sering tidak menjadi kriteria pertama yang dipertimbangkan
oleh perushaan saat berburu karyawan baru.
Menurut Job Bank, sebesar 66 persen
dari perusahaan yang disurvei menyatakan, gelar master tidak akan secara
signifikan menguntungkan pencari kerja. “Tingkat gelar seseorang biasanya bukan
sesuatu yang paling dipedulikan oleh perusahaan. Kami lebih suka memiliki
seseorang yang memiliki kepemimpinan yang baik sejalan dengan visi perusahaan kami.”
Kata Publi Affairs Officer Carrefour Manajer Margery Ho, seperti dikutip dari
China Post, Minggu (21/10)
Namun, menurut Job Bank, masih ada
cukup banyak industri yang memberikan bobot tinggi untuk gelar master terutama
di sektor-sektor yang memerlukan keahlian profesional, seperti teknologi
informasi dan biokimia. “Apakah suatu industri membutuhkan karyawan bergelar
master atau tidak, itu tergantung pada jenis industri tersebut,” ujar Ho.
Deputy General Manager Job Bank
mengungkapkan, banyak lulusan perguruan tinggi memutuskan untuk mencoba meraih
gelar master karena takut manjadi pengangguran segera setelah lulus. Hal ini
terjadi akibat adanya laporan pada Agustus lalu bahwa sebesar 4,4 persen
pengangguran adalah bergelar sarjana.
“sebuah gelar master memang bernilai
dan diakui. Namun yang lebih penting, kita harus mencari tahu apa jenis
kemampuan yang akan membuat industri tertarik pada kita sebelum akhirnya terjun
ke pendidikan tinggi, “ papar Ho.
Untuk beberapa industri seperti
komunikasi dan pelayanan, Hor menyarankan agar para luluasan untuk masuk ke
lingkungan kerja sebelum kembali melanjutkan gelar master. Sebab, pada bidang
ini, pengalaman kerja sangat dibutuhkan. “Setelah beberapa tahun, Anda dapat
kembali dan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi untuk kesempatan gaji
yang lebih tinggi pula,” tukasnya.
Berdasarkan survei tersebut,
rata-rata gaji awal untuk lulusan bergelar master adalah TWD35.132 atau sekira Rp
11,5 juta (Rp 328 per New Taiwan Dollar). Namun, sebesar 26,9 persen perusahaan
mengatakan, mereka diminta untuk menghindari mempekerjakan para lulusan S-2
untuk mengurangi biaya. Selain itu, sejumlah perusahaan ini mengaku,
tugas-tugas yang diberikan kepada karyawan tidak membutuhkan pendidikan tinggi
dan mereka mengkhawatirkan jika para lulusan S-2 memiliki sifat arogan.
“kami pernah memiliki orang-orang
dengan glar master yang ingin melewati bagian dasar sebuah pekerjaan dan ingin
langsung melompat ke tingkat manajer. Mereka tidak mengerti jika level dasar
adalah tempat untuk memulai bagi setiap orang. Apalagi jika dibandingkan dengan
mereka yang langsung mulai bekerja setelah lulus, maka para lulusan S-2 ini
sudah dua tahun tertinggal mengenai pengalaman pekerjaan.” Kata Margery Ho.
Sumber :
Serambi News
Minggu, 11 November 2012
Kebahagian Munzir, Kebahagiaanku Juga
Foto-foto ini sebenarnya sudah
lama diambil saat aku pulang kampung Hari Raya Idul Adha di Meulaboh. Saat itu
Munzir, adik terkecilku ingin sekali bermain di FunLand. Karena memang ingin
membuat Munzir senang, aku pun mengajaknya untuk bermain ria disana.
Tak sia-sia. Munzir
senang bukan main. Serasa keinginannya terpenuhi malam itu. Aku jadi ikut
senang, akhirnya bisa menemaninya dan melihatnya tertawa gembira.
ini lah beberapa foto yang berhasil aku ambil...
ini lah beberapa foto yang berhasil aku ambil...
Kakak sayang
Munzir ^_^
Sabtu, 03 November 2012
Fakultas Pertanian Unsyiah Selenggarakan Workshop Peningkatan Skill Mahasiswa
Fakultas Pertanian Unsyiah
menyelenggarakan workshop kewirausahaan dengan tema “Peningkatan Softskill
Mahasiswa Pertanian di ruang MPR FP, Sabtu (3/11/2012). Workshop yang berlangsung
hingga sore hari dibuka oleh PD3, Ir. Edy Marsudi selaku ketua pelaksana acara.
Worshop tersebut mengundang
beberapa narasumber pengusaha sukses seperti H.Abubakar Usman (CEO dan Founder
PT.Pante Pirak Sejahtera), Idrus Usman (Personal Staff PT.Pante Pirak), dan
Sampirlan S.Ag (Direktur CA. LA Garden). Para narasumber tersebut memberikan
pembekalan kepada para mahasiswa agar mampu menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan
mengubah mindset bahwa menjadi PNS bukan satu-satunya cara untuk sukses setelah
menyelesaikan kuliah.
“Berwirausaha itu tidak sulit,
tinggal bagaimana kita berani mengambil resiko. Tanpa keberanian, semua tidak
akan ada artinya apa-apa”, ujar Abubakar Usman. Abubakar Usman sebagai CEO
PT.Pante Pirak Sejahtera mengaku bahwa dulu usahanya masih kecil dan banyak
tantangan. Namun, berkat pengembangan usaha dan pelayanan yang baik, sekarang
Pante Pirak mampu membuka 40 titik usaha dibeberapa kota dengan omset yang
besar.
Selain itu, narasumber juga
menambahkan bahwa sebenarnya sektor pertanian di Aceh memiliki peluang besar
untuk merintis usaha. Tenaga kerja yang melimpah, dan masih banyaknya lahan
marginal adalah faktor yang sangat mendukung. Oleh karena itu, diharapkan jiwa
usaha terbentuk sejak masih kuliah sehingga tidak susah mencari pekerjaan lagi
setelah menyelesaikan kuliah.
![]() |
| Panitia Wokshop |
Kamis, 01 November 2012
Munzir on Action!
Hampir seminggu di Meulaboh untuk
menghabiskan waktu bersama keluarga. 30 Oktober, tepatnya hari selasa, aku
bersiap kembali ke Banda Aceh. Hari raya kurban tahun ini kami rayakan
sekeluarga tanpa kehadiran Zehir, adik pertamaku. Mungkin dia juga merasakan
kesedihan karena tidak bisa berkumpul bersama. Dia sadar, merantau ke
Jogyakarta adalah pilihan yang terbaik. Overall, lebaran aku masih bisa
bersenda gurau dengan keponakan yang centil, makan lontong dan makan es krim
buatan ibu, dan yang paling asik, nonton tivi lagi! :p
Kepergianku ke Banda Aceh untuk
kembali kuliah lagi ternyata membuat Munzir bersedih. Gak ada lagi kawan main
PS, gak ada lagi kawan berantem, gak ada lagi yang bisa mendongeng sebelum
tidur. (ntah iya) Hehe
Lagi asik-asiknya packing,
tiba-tiba Munzir melihat selempangku di dalam tas. Kemudian memakainya. Padahal selempang ini sudah lama tidak aku pakai. Bahkan belum direparasi. Wakil II, padahal sebenarnya wakil I :p
Lucu,
sambil berpose, buru-buru aku foto Munzir. Begini lah jadinya. Mentel! haha
Jangan heran kalau setiap kali
melihat foto ini, aku jadi rindu dia.
Rindu kepolosannya, rindu
keceriaannya...
Belajar yang rajin disana dek ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)
Sindiran Heboh: Yang Gaji Kamu Siapa?
Sejak video seorang Menteri Kominfo Rudiantara, beberapa waktu lalu beredar dan menghebohkan sejagat dunia maya dan dunia nyata, saya pun t...
-
“Hari ini banyak peristiwa yang menyenangkan! Ada kejutan yang tak terkira juga hari ini. Wah, ngeblog ah.. kan seru bisa jadi tulisan!” (I...
-
Sebelum melanjutkan postingan, saya mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha 1434 H . Moon maaf lahir dan batin. Selamat berpuasa Arafah ...
-
Keluarga kami sejak dulu bukanlah keluarga “gaul” yang menggangap Hari Ulang Tahun adalah hari yang spesial dan perlu dirayakan besar-besar...













