Sabtu, 06 Oktober 2012

Akhir Minggu dan Ladang Timun


Akhir minggu terisi dengan hal-hal yang bermanfaat semenjak memegang status menjadi jomblowati. hehe
ah, tidak juga sebenarnya. Jomblo atau tidak jomblo ya sama saja. Tanggung jawab berkebun untuk semester ini ya tetap harus dilaksanakan ^_^

Tentu saja tahun lalu berbeda dengan tahun ini. Tahun lalu saat aku sedang mengambil mata kuliah Agronomi, semua mahasiswanya diharuskan untuk praktik menanam jagung, kacang tanah, dan ubi. Tapi tahun ini dengan mata kuliah yang berbeda yaitu Budi Daya Tanaman Tahunan dan Semusim, kami diharuskan menanam Timun dan beberapa tanaman semusim lainnya. Sedangkan untuk tanaman tahunan, kemungkinan kami akan langsung ke kebun kakao di Pidie atau di Aceh Tengah.

Tahun ini, dengan koordiator praktikum yang berbeda, maka sistemnya juga berbeda. Ada beberapa kelompok dengan komoditi yang berbeda. Tapi dua-dua kelompok akan mendapatkan komoditi tanam yang sama. Nah, kami harus bersaing dengan kelompok yang komoditinya sama demi mendapatkan hasil dan penilaian akhir yang baik. Agak menantang memang. Kami harus mencari senditi luas lahan yang harus digarap, takaran pupuk per lubang, bibit dan segala perlengkapan berkebun lainnya. Tapi semuanya aku ambil dengan pikiran positif. Mungkin ini adalah cara agar kami mandiri dan mampu mengatur semua hal yan berhubungan dengan penanaman, penyiraman, dll. Aneh kan kalau mahasiswa pertanian tidak bisa mencangkul dan tidak bisa berkebun sama sekali? hehe

Penampakan kebun Jagung dari kampus lantai 3

Ini adalah foto kebun jagung adik-adik kelas. Mereka sedang mengambil mata kuliah Dasar-Dasar Agronomi. Karena 3 sks, jadi untuk praktikumnya mereka diharuskan menanam jagung, ubi kayu, dan kacang tanah. Foto ini mungkiin umur jagungnya masih menuju minggu ke-2. Terlihat masih banyak rumput dan tanaman jagung memerlukan suplai air yang banyak.


Lahan Jagung adik kelas yang praktik matakuliah Agronomi
Nah,sedangkan yang dibawah ini, adalah kebun kami! kebun yang akan ditanami gambas, timun, dan kacang panjang! hehe. Terlihat beberapa teman sedang serius mengukur lahan, mencabut rumput dan yang lain asik bercengkrama dengan teman yang lain. peace~

Jumat, 05 Oktober 2012

Inovasi Si Ulat Bulu


Saat aku bernostalgia lagi dengan catatan di facebook, terlihat lah salah satu postingan terpanjang saat masih kuliah semester pertama. hehe
Ini kisah saat aku mengikuti ospek di Indra Puri, Aceh Besar. Setiap pengalaman yang aku dapat adalah hal yang tak akan terlupa. Setiap moment, setiap detik. Karena itulah aku repost di blog. Siapa tau bisa jadi hiburan dan tambahan pengalaman untuk orang lain ^_^


Judulnya mungkin terlihat aneh dan lucu, tapi sebenarnya judul catatan ini tidak asal-asalan. Banyak kenangan pahit dan manis terjadi sehingga timbul judul ‘inovasi si ulat bulu’. Jika tidak segera dirangkai dengan kata-kata, pengalaman yang sangat menarik ini rasanya akan terlupakan dan sia-sia. Oleh karena itu, saya minta maaf pada pihak tertentu, terutama untuk para senior di fakultas pertanian yang mungkin tidak sengaja membaca catatan saya ini.

Ini adalah kisah masa-masa pertama saya saat saya resmi menjadi mahasiswi fakultas pertanian. Kisah kedua yang tak akan terlupakan setelah kisah saya berkompetisi di Jakarta mewakili Aceh beberapa tahun lalu. Mungkin kata ‘ospek’ adalah kata yang sangat menakutkan di perguruan tinggi. Tapi inilah adanya… meski kata ‘ospek’ sudah diganti dengan kata-kata yang lebih halus, tapi bagi saya, ‘ospek’ tetaplah ‘ospek’ yang sudah menjadi tradisi untuk meresmikan mahasiswa baru.

Dimulai dengan si Ulat Bulu

Ulat Bulu yang siap metamorfosis

Awalnya aku diharuskan untuk mengikuti kegiatan ASAP (Ajang Silahturahmi Awak Pertanian). 
Aku sih enjoy-enjoy aja…toh pertama aku berpikir ini adalah kegiatan yang juga mendatangkan manfaat. Kami, mahasiswa baru di anjurkan untuk ikut berpartisipasi. Selain untuk lebih mengenal mahasiswa-mahasiswa lain diseluruh jurusan se-fakultas pertanian dan bertemu dengan para senior, tapi juga untuk kegiatan baksos (Bakti Sosial).

Sehari sebelum kegiatan dimulai, kami diharuskan membawa karton warna hijau, tali raffia, kacang hijau, bawang putih 8 siung, alat tulis, berpakaian putih hitam dan membawa sebotol air mineral merek ‘rencong’. Aku sibuk mencari semua bahan pada malam sebelum kegiatan. Sangat susah mencarinya!! Aku sempat putus asa dan dilema untuk ikut ASAP atau tidak. Padahal jadwal kuliah umum besok harus aku ikuti. Hari itu bersamaan dengan hari dimulainya ASAP. Disamping itu, kios-kios kecil untuk membeli segala perlengkapan untuk ASAP juga sangat jauh dari kos baruku. Aku bahkan sempat menangis putus asa. Akhirnya dengan segenap kemantapan hati dan ikhlas menjalaninya, aku pun siap mengikuti ASAP. Pada pukul 7.30 WIB, sambil membawa sebatang tumbuhan ( bunga rosella yang gak jelas didapatkan darimana..hehe ;D), aku pergi melangkahkan kaki menuju gedung fakultas pertanian.

Teman-temanku yang mengendarai sepeda motor ke kampus, tiba-tiba dicegat oleh abang-abang panitia ber-badge name. mereka dipaksa untuk berjalan kaki ke kampus tanpa ada kendaraan. Kendaraan mereka disita(Huuft, untung saja aku jalan kaki, jadi kan gak terlalu ribet!hohoo…)sesampai disana, aku mulai merasakan aura buruk di kegiatan ASAP itu. Ada salah seorang panitia (sampai sekarang aku tidak tahu namanya-_-) memukul salah seorang temanku. Pasalnya, kami semua harus memakai kaos oblong putih. Nah, temanku itu tidak melepaskan jaket yang dia pakai. padahal mungkin dia masih kedinginan karena harus datang pagi-pagi sekali. kasihan..

Setelah berapa lama menunggu, akhirnya dibuka juga kegiatan ASAP. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci AlQur-an yang dibacakan salah seorang panitia ASAP sendiri. awalnya aku sempat heran  mengapa abang yang bergaya nyentrik dan gaul itu mau membacakan ayat suci AlQur-an. Aneh juga sih…biasanya kan banyak anak muda sekarang apalagi yang metal-metal itu enggan membaca AlQur-an. Benar kata orang, don’t judge book by its cover! 

Kemudian ketua BEM, menyampaikan sepatah dua patah katanya. Setelah itu, barulah kata sambutan dari dekan III, Pak Muhammad Hatta. Kata beliau, kegiatan ini sama sekali tanpa ada unsur paksaan dan kekerasan. Beliau juga mengatakan, jika ada diantara kami yang jadwal kegiatan ASAP bersamaan dengan jadwal kuliah, lebih baik kami segera kuliah. Tapi dalam hatiku berkata lain, “ini bukan seperti yang bapak pikirkan!”.

Rabu, 03 Oktober 2012

Penggugah Hati Untuk Para Perantau




Orang berilmu dan beradap tidak akan diam di kampung halaman
tinggalkan negerimu & merantaulah ke negeri orang
merantaulah,kau akn dapatkan pengganti dari kerabat & kawan
berlelah-lelahlah,manis hidup terasa setelah lelah berjuang..
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
jika mengalir menjadi jernih,jika tidak,kan keruh menggenang..
Singa jika tidak tinggalkan sarang tak akn mendapat mangsa
anak panah jika tidak tinggalkn busur tak akan kena sasaran.
Jika matahari di orbitnya tidak bgerak & terus diam
tentu manusia bosan padanya & enggan mamandang
bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
jika didalam hutan.. 



Imam Syafii,
(refensi dari novel 'Negeri 5 Menara')

Kamis, 13 September 2012

DETaK dan Kewirausahaan



Tabloid DETaK Edisi 33


Finally, tabloid DETaK edisi 33 terbit juga!
Dengan segenap tenaga yang ada dan setelah berkeliling Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan, sekitar 26 tabloid terjual! Hehe. Alhamdulillah. Meskipun ada beberapa kendala yang membuat hati ini sedikit terjungkat-jangkit. Eh, salah. Serasa kacau deh. Tapi tetap saja. Semua aktivitas itu harus tetap dijalani dengan ikhlas ^_^

Tugas mendistribusikan detak ini bermula saat aku mengikuti rapat Open Recruitment anggota baru DETaK. Aku bertanggung jawab dengan tugas distribusi tabloid di Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Kedokteran Hewan. Yaa, sengaja aku bersedia ditempatkan di ketiga lokasi ini karena lokasinya memang tidak terlalu jauh.

Selasa, 11 September 2012

Budaya Baca Aneuk Aceh

Membaca buku di angkatan umum. Pernah coba?
Jangan heran. Banyak orang mungkin terkadang merasa illfeel karena kita terlihat ‘terlalu’ pintar karena membaca buku bahkan di angkutan umum.

Oke. Inilah contohnya. Ini hanya sebagian kecil potret yang berhasil aku abadikan dengan sebuah handphone ala kadarnya.
Foto ini diambil pada Jumat, 7 September 2012, pukul 7.45 WIB. Saat itu aku kebetulan se-labi-labi (Labi-labi = angkutan umum ala Aceh) dengan adik ini. Karena masih pagi, masih 3 penumpang yang ada. Yaa... selama ini aku naik labi-labi, kebanyakan penumpangnya adalah pelajar dan mahasiswa. Berbeda situasi jika ada labi-labi dari kota ke arah rumahku. Penumpang yang mendominasi adalah ibu-ibu rumah tangga yang membawa banyaaak sekali hasil belanja di pasar. Aroma di labi-labi menjadi sangat beragam. Apalagi dicapmpur dengan aroma kaus kaki dan peluh yang mengalir deras. Eww...

Membaca Buku di Atas Labi-Labi

Bukan ada maksud apa-apa. Bukan karena ingin memperkenalkan adik berseragam sekolah ini. Atau pun pamer cerita tentang labi-labi yang fenomenal di Aceh. Hehe..
Bukan, Cuma sekedar menyampaikan informasi lewat gambar. Bahwa inilah contoh generasi yang patut ditiru. Adik ini tidak meninggalkan kesempatan belajar, membaca buku. Dimana dan kapan pun ^_^
Yang salut nya adalah, adik ini bertahan membaca buku diatas labi-labi yang super labil. Sebeng kiri, sebeng kanan, dan bahkan bang sopir menginjak rem tiba-tiba. Siapa yang tahan coba? Haha

Karena ini menarik, maka diam-diam aku foto. Sebagai pelajaran untuk kita generasi bangsa. Ilmu selalu ada kapan dan dimana saja. Budaya membaca memang harus dilaksanakan dengan baik, tidak hanya dilestarikan dengan omong kosong.


Tapi cukuplah foto ini menjadi motivasiku. Setidaknya menyadarkanku untuk terus membaca. Dengan membaca kita seakan berkeliling dunia. Dengan membaca jendela dunia bisa terbuka. tunggu apa lagi, tidak kah kita tergugah? Lihat adik ini.. begitu mantap menatap masa depan. Subhanallah...
(maaf ya dik, fotonya masuk ke blog kakak.. semoga dapat rangking 1 di kelas ya. hehe)


Adakah waktu kita untuk terus mengeluh? Semangat! \(^_^

Rabu, 29 Agustus 2012

Yogjakarta dan Impian

Zehir, adik pertamaku, sudah memantapkan hati untuk melanjutkan sekolah di Jogyakarta. Tanggal 28 ia sudah harus meninggalkan Aceh dan merantau di negeri orang. Oleh karena itu, aku dan keluarga bergegas menuju Banda Aceh untuk mengantarkan kepergiannya. Syukurlah, perjalanan lancar meskipun ada sedikit hambatan saat menuju kota Calang.

Ada jalan yang hampir saja diblokir oleh warga. Aku juga sempat heran. Ternyata warga disekitar daerah tersebut protes akibat jalan tersebut sudah 8 tahun tidak ditangani oleh pemerintah. Akibatnya, selama ini masyarakat sekitra hanya makan debu. Padahal, jalan tersebut satu-satunya jalan penghubung dari Meulaboh ke Calang atau Banda Aceh.

Pukul 22.00, kami sekeluarga sampai di rumah. Begitu melelahkan. Keesokan harinya, Sekitar pukul 9.00, kami menuju Ulee Kareng untuk membeli sedikit oleh-oleh buat bang Popon. Bang Popon adalah anak kawan ayah yang juga berangkat bersama dengan adikku. Setelah berkeliling sekitar 1 jam, akhirnya sekilo bubuk kopi Ulee Kareng dan 2 buah pashmina cantik ditemukan juga.

Rabu, 22 Agustus 2012

Happy Eid Mubarak 1433 H!

Hari raya idul fitri 1433 H sudah terlewati 4 hari. Sayangnya baru bisa kembali curcol sekarang. Hehe. Banyak kejadian selama 4 hari ini yang menarik, tapi akibat koneksi internet yang terbatas, modem bermasalah, baru sekarang berani untuk blogging lagi..

Well, hari raya kali ini tidak ada yang berbeda. Sama seperti tahun lalu. Ada ketupat, tape, opor ayam, dan kue yang bervariasi di ruang tamu dan tengah. Yang berbeda hanya dekorasi dalam rumah. Gorden yang biasanya berwarna merah, lebaran ini diganti dengan warna hijau. Alasannya sih supaya lebih fresh dan lebih match dengan plafon rumah yang berwarna hijau. Betul juga ya, rumah yang bersih, rapi dan indah akan membuat tamu yang datang lebih terasa comfortable.

Kamis, 16 Agustus 2012

KRS Online Unsyiah Bermasalah (lagi)



Hari ini adalah hari ke-4 pengisian KRS Online menurut  kalender akademik Unsyiah. Berdasarkan pengalamanku selama 4 semester belakangan, pengurusan KRS Online ini tidak akan jelas kalau bukan kita sendiri yang mengurusnya. Apa-boleh-buat, akibatnya, aku kembali ke Banda Aceh selama 3 hari. Semua demi kejelasan KRS Online. Yah, namanya juga online. Sebenarnya bisa dimana saja mengisinya. Tapi karena onlinenya ini “online haw haw”, maka pengisiannya harus disekitar kampus. Alasannya karena jaringan kadang lelet. Hu uuh. Ribet ‘kan?

Sindiran Heboh: Yang Gaji Kamu Siapa?

Sejak video seorang Menteri Kominfo Rudiantara, beberapa waktu lalu beredar dan menghebohkan sejagat dunia maya dan dunia nyata, saya pun t...