Jumat, 23 Agustus 2013

Ospek, Bermanfaatkah?

Nah, mumpung sekarang mahasiswa baru akan mulai kuliah, saya akan bercerita sedikit tentang ospek. Mungkin ada diantara kamu yang sudah pernah merasakan ospek saat baru masuk ke universitas. Ospek itu pada dasarnya sama aja sih. “Perkenalan”. Ya, perkenalan dengan para senior dan teman-teman sesama Maba (Mahasiswa Baru). Hanya caranya saja yang membedakan.

Every campus has different way to orientate their students. Ada yang halus banget, sampai yang betul-betul ekstrim cara nge-ospeknya. Terbukti setiap sudah tahun ajaran baru, pasti ada aja berita di media yang tidak mengenakkan. Ospek yang ter-publish membuat peserta ospeknya jadi malah dirugikan. Seperti pemerkosaan, penganiayaan, bahkan berujung ke kasus pembunuhan. How poor! Sungguh disayangkan kalau esensi ospek malah dijadikan negatif.

Ini wajah pas marah beda loh ya!
Sebagai contoh nih ya, kali ini saya akan sedikit sharing tentang masa-masa ospek saya sendiri di kampus pada zaman dulu. Hwehehe :p
Ini kejadian 3 tahun yang lalu, saat saya masih muda. Haha. Foto-foto di tulisan ini menunjukkan saya menjalani ospek oleh jurusan Agribisnis. Wajah saya masih imuut. Masih mulus, tanpa jerawat dan flak itam.. sama sekali tidak ada perasaan takut sama sekali untuk mengikuti ospek. Biasa saja. Malah saya senang karena bisa berjumpa dengan banyak orang. Terutama senior. Hehe

Sumpek banget. Ketakutan
Nama cantik saya waktu itu adalah “Inovasi”. Nama yang tidak terlalu jelek juga Alhamdulillah. Alhasil tidak ada masalah dengan nama. Tapi masalahnya, entah karena saya terlalu berani atau apa, para senior semakin sering menjahili saya. Mulai dari disuruh nanyi, lari-lari keliling barak sampai 5 kali, dan bahkan juga di lelang! Oh.. *tutupmuka*

Banyak sekali hal seru yang saya dapatkan selama di ospek. Jujur saja, saya bahkan jatuh hati pertama kali dengan salah seorang mentor (senior) saat itu. Quite handsome, kind man, friendly, love to smile and he was my mentor! Wah wah. Saya kegirangan sekali saat tahu kalau dia adalah mentor saya. Hehe

Wajah saya ikut bete
Yaah, malah kena hukuman
Di ospek ini lah saya mendapatkan hal baru. Mulai dari kejujuran, kedisplinan, kebersamaan. Saat opek ini juga saya pernah berikrar untuk mulai kuliah dengan sebaik-baiknya. Mendapatkan nilai baik, teman baik, dan prestasi yang baik. alhamdulillah itu terbukti diawal-awal tahun kuliah di kampus hijau, pertanian Unsyiah.

Tak ketinggalan juga pengalaman saat jurik malam. Wah, benar-benar menakutkan. Saya dan tim berjalan ditengahnya malam di hutan belantara entah dimana hanya dengan seutas tali dan sebatang lilin. Disetiap pos ada pertanyaan yang diajukan oleh para senior. Ya harus di jawab! Bisa atau tidak bisa, ya terima saja. Mereka sangar, cerewet minta ampun! Bisa dihitung saya menangis 3 kali di situasi yang berbeda. Huft


Terakhir, ada sesi peusijuk. Disini MaBa akan di peusijuk (di dinginkan). Ini bukan arti sesungguhnya. Peusijuk itu adalah salah satu budaya daerah Aceh. dengan menggunakan nasi kuning (pulot) dan beberapa macam dedaunan. Upacara ini dilakukan untuk meresmikan sesuatu atau memberkati sesuatu. Saya dengan nama cantik inovasi terpilih sebagai peserta yang dipeusijuk. Saya sih santai saja. Bahkan saya menggunakan moment ini untuk berdoa sebaik-baiknya. *kalem*

Saat di peusijuk dengan bang dedek (senior), saya niatkan untuk menjadi orang sukses dimasa depan. Dimulai dengan belajar sebaik mungkin di kampus, berprestasi dan membanggakan orang-orang yang sayangi.  Hasilnya? Mungkin sangat lama hasil dari tekad ini. Tapi saya yakin, saya sedang menjalani proses itu. InsyaAllah. *kepaltangan*

Di peusijuk sama senior



Ini lah mungkin sekelumit flash back pengalaman saya saat di ospek. Ospek itu tidak selamanya buruk kok. Asal kita pintar dan tahu membawa diri. Perkenalan dan berbaur dengan orang-orang baru itu sangat penting. OSpek penting untuk membentuk pribadi kita yang ekstrovert dan supel. Ingat Berbaur lah. Tapi jangan membaur kalau itu tidak baik. That’s the meaning of ospek to me. How about you?

Rabu, 21 Agustus 2013

Kemanjaan Pugu


Si Pugu memang kucing yang manja. Saking manjanya, setiap ada tamu yang datang, dia pasti suka mendekat dan menyundul kepalanya di kaki-kaki orang. Tidak ketinggalan juga sambil mengibas ekor imutnya. Meski suka risih karena kemanjaannya ini, tapi dia cukup baik kok. Ya, baik. Sampe pup diatas tempat tidur! #ups -_-
really annoyed...
Ini nih, lihat saja gaya tidurnya yang sok manis. Sampe lidahnya juga ikutan melet. hihi. Pugu ini kuncing jantan. Tapi kalau manja, ampun deh manjaanya! Kalah sama yang betina :D

My cute sleeping cat

kalau di gendong, dia juga gak akan menolak. Paling pewe tuh dia dipangku. Saya sih sebenarnya jarang pengang kucing. Kadang-kadang saja. Suka kepikiran aneh-aneh kalau lagi dekat kucing. Terutama dengan penyakit yang bisa aja dibawa kucing. "Bisa mandul nanti!". Beeuuh. Jangan deh
Makanya, kalau ada yang bilang saya ini maniak kucing, tidak juga. Kalau ada yang bilang saya takut kucing, ah tidak juga. Biasa-biasa saja. Saya suka semua binatang, kecuali yang melata dan merayap. Hwuidiih! 

What are you looking,huh?



17 Agustus, Antara Kekecawaan dan Harapan

Kita semua tentu tahu kapan hari kemerdekaan negara kita sendiri. Kebangetan kalau ada yang lupa atau bahkan gak tahu sama sekali. Seperti biasa, di kampung saya, tanggal 17 Agustus diwarnai dengan serba “merah-putih”. Mulai dari bendera yang ada dijalanan, baju-baju dan sebagainya.

Tapi sayangnya, saya merasa aneh. 17 Agustus kali ini tidak terlalu “wah” dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Dulu acara-acara menyambut hari kemerdakaan sangat marak dilaksanakan di kampung saya, di Meulaboh, Aceh Barat. Mulai dari panjat pinang, pukul bantal, lomba lari sambil bawa pingpong dan sebagainya. Entah saya saja yang tidak ikut membuka mata melihat perayaan di Hari Kemerdekaan, entah juga memang kampung saya mulai tidak kreatif lagi -_-

Sedikit Cerita Tentang Paskibra

Yah, sebenarnya ada sedikit kenangan disetiap tanggal 17 Agustus. Sejak SMA, saya sudah merantau ke Aceh Selatan. Di Bangku SMA, saya pernah terpilih menjadi anggota paskibra kabupaten. Awalnya saya begitu menikmati perjuangan menjadi seorang paskibra. Tapi setelah seminggu menjalani latihan yang begitu lelah, akhirnya saya menyerah. Saya keluar dari tim dan melapor ke pihak sekolah.
Dengan merasa bersalah, saya murni memberi alasan keluar karena ingin fokus dengan sekolah. SMA saya itu boarding school. Asrama! Wah, bisa gawat kalau nilai saya jadi anjlok hanya karena ikut latihan paskibra. Pada saat itu juga kegiatan ekstrakurikuler tidak terlalu didukung oleh pihak sekolah. Singkat cerita, saya bukan anggota paskribra. Menyedihkan.
Itulah mengapa disetiap tanggal 17 Agustus saya merasa agak sedih. Sedih karena dulu tidak bisa ikut berjuang seperti teman-teman yang lain. Padahal saat iut saya optimis bisa terpilih mewakili kabupaten ke provinsi. Hmm, tapi saya bangga kok bisa memutuskan pilihan dan dengan pertimbangan sendiri. Mulai saat itulah saya merasa lebih dewasa karena bisa berpikir jangka panjang dan bisa memilah mana yang baik dilakukan mana yang tidak.

Deadline Proposal dan Video Malam Budaya ILC 2013

Di tanggal ini panitia ILC kembali menekankan bahwa pengiriman proposal social entrepreneur dan social project harus sudah terkirim sebelum pukul 00.00. Aku pun dengan sangat panik mempersiapkan video.  Saya berusaha video bisa terselesaikan sore itu. Untung proposal sudah terkirim sehari sebelum deadline. Meskipun masih ada yang belum maksimal. Cukup berdoa saja lah mudah-mudahan terpilih 10 besar proposal terbaik.




Video budaya ini memang sudah dari dulu ingin saya buat. Yaitu dengan menampilkan tarian Ranup Lampuan. Tari ini memang khas berasal dari Aceh. Saya sengaja tidak menampilkan Tari Saman. Tari Saman memang sudah terkenal dan familiar oleh banyak orang.
Meskipun terkesan terburu-buru, tapi akhirnya video ini selesai juga dengan beberapa kali latihan dan tukar kostum. Huft. Melelahkan. Tidak terbayangkan sudah berapa kalori saya terbakar. Eeh, berharap bisa kurus. Hehe

Perjuangan tidak berhenti sampai disitu. Saya harus meng-upload video yang cukup berat itu ke You Tube dan mengirimkannya ke partner saya. Benar-benar melelahkan! L

Singkat cerita lagi, video karya saya gagal dikirimkan. Jadi hanya mengandalkan video hasil karya teman. Wajar saja banyak yang komplain kenapa saya tidak ikut tampil di video itu.

2 hari selanjutnya tiba-tiba ada pemberitahuan panitia bahwa memperpanjang waktu pengiriman proposal dan video. Helloow! yang benar saja, sudah susah-susah, ehh ternyata diperpanjang lagi. Ini kan tidak disiplin namanya. Ditanya baik-baik ke panitia, eh panitia malah balik marah. Katanya peserta tidak disiplin mengirim video dan proposal. Loh, kalau memang mau disiplin, ya deadline jangan diperpanjang juga. Grr. Kesal deh

Nah, untuk teman-teman yang ingin melihat video tarian  ranup lampuan saya, bisa klik link ini : http://www.youtube.com/watch?v=sTH3W37r33c&feature=youtu.be
harapannya, semoga bisa bermanfaat untuk teman-teman sekalian yang ingin belajar tarian tradisonal Aceh. Kita pun tetap bisa menjaga kesenian daerah ^_^



Rabu, 31 Juli 2013

Kembali Untuk Pergi

Finally, I am coming back to Banda Aceh! 
Mungkin semuanya pada heran kenapa saya harus kembali kesini padahal seminggu lagi sudah lebaran. Yah, bukan untuk main-main sih. Tapi balik ke Banda disaat liburan ini karena perlu mempersiapkan sesuatu dan bertemu dengan beberapa orang “penting”. Kembali ke Banda Aceh, untuk persiapan pergi sesaat ^_^

Ternyata persiapan road to ILC UI tidak gampang. Tidak hanya dalam pengurusan proposal kegiatan ke pihak kampus dan instansi tertentu saja, tapi juga berpikir persiapan lain dari panitia pusat tentang kepengurusan proposal sosial project dan video budaya.

Pembuatan video yang bertemakan “Nusantara Berbudaya, Negeri Pemimpin Beridentitas Indonesia” sebenarnya tidak susah. At the first time, it’s just rather difficult to get ideas. But, after I had met with Aula who also become ILC delegate from Unsyiah, we create the idea!

Yap yap. Dengan membawakan kesenian khas Aceh, kami akan menampilkan sesuatu. InsyaAllah juga akan kami modifikasikan menjadi lebih menarik sehingga video terlihat lebih  yang mengagumkan.

Mau bagaimana pun, kami yang menjadi wakil Aceh harus tetap bisa menampilkan yang terbaik . Mulai dari tidak menghilangkan marwah aneuk muda Aceh yang pantang putus asa, dan sikap “dimana bumi dipijak, disitu langit di junjung”.

Audiensi dengan pihak biro juga sudah fix. Audiensi ke pihak rektorat akan kami lakukan esok hari. InsyaAllah saya dan Aula akan mendapatkan kabar baik sehingga perjalanan menuju Jakarta sukses. Sungguh, ini semua memerlukan pengorbanan. Tidak mudah sebenarnya saya seorang mahasiswa biasa yang masih belum berprestasi ini mempersiapkan sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan nasional. Disini lah lagi-lagi dibutuhkan relasi yang banyak.

Hidup itu seperti jaring laba-laba. Dia akan selalu terkait satu dengan yang lain. Jika sudah baik disatu sisi, maka akan ada sisi lain yang mengikuti. InsyaAllaih itu juga akan baik. tapi jika sebaliknya ada sisi yang tidak baik, maka akan ada sisi yang tidak baik juga. Menjadi tugas kita lagi karena butuh kesungguhan untuk mengubah semua jaring yang ada.

Semoga saja perjalanan ke-3 ke tanah jawa ku ini menjadi lebih berarti. Semoga selalu ada yang mendoakan. Seperti kamu, ya, kamu. Yang sedang membaca tulisan ini :D
mohon doanyaa...

Senin, 29 Juli 2013

ILC UI 2013, Tunggulah Aku di Jakartamu

Tiba-tiba HP berdering pertanda sms masuk..
“Selamat ya dek jadi peserta ILC 2013. I am so proud of you!”
Deg! aku jelas saja tersentak. Ada apa gerangan. Apa benar aku terpilih menjadi delegasi ILC (Indonesia Leadership Camp) tahun ini?

Sms itu dibaca baik-baik lagi. Semuanya terasa antara sadar dan tidak! Sambil bergegas membuka internet dengan jantung yang berdetak kencang, tersirat sedikit pengharapan untuk benar-benar lulus seleksi. Ah tapi, mana mungkin lulus. Toh, saat pengumuman 50 besar saja namaku tidak tertera disana. Meskipun demikian, rasa khawatir itu mengalahkan rasa penasaranku. Aku segera membuka website www.ildp.ui.ac.id.

Perlahan ku baca satu-satu nama yang diawali dengan huruf K. Wah ternyata nama-nama peserta yang lulus diurut secara acak. Seperti ada bunga-bunga yang beterbangan disekitar kepala, Alhamdulillah namaku berada di nomor urut 58.

Aku langsung membalas sms tadi dan mengucapkan terima kasih. Dia sudah menjadi orang pertama yang menyampaikan berita gembira ini. Aku girang sekali. Akhirnya ke Jakarta!


Ada Apa Dengan Jakarta?

Mungkin menjadi hal yang bodoh karena “maruk” bisa ke Jakarta. Orang lain juga malah sudah sangat sering ke Jakarta kan? Keluar kota dan pergi ke pulau lain bukan lah hal yang aneh lagi sekarang. Orang dengan mudah bisa kemana saja.

Tapi ada hal yang beda. Aku bisa berkesempatan mengunjungi UI karena ILC diadakan disana. Senang rasanya karena bisa mengikuti jejak orang-orang yang menginspirasi untuk lulus di program ini.

Jakarta memang bukan kota yang asing lagi. Tapi, bagiku kota ini menjadi tempat dimana bisa merajut impian. Ya, saat SMA, aku juga pernah mewakili Aceh untuk mengikuti perlombaan disana. Tapi sayang, kurang beruntung. Tim dari Aceh gagal meraih juara. Dari kisah kekalahan ini lah membuatku termotivasi lagi untuk kembali ke Jakarta. Seakan tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dan berharap bisa memperbaiki kesalahan yang dulu pernah terjadi.

Mungkin juga menjadi hal yang muluk karena bisa mengunjungi UI. UI adalah Universitas yang paling aku kagumi sebelum UGM dan IPB. Jadi, jangan heran aku kegirangan saat mendengar kelulusan seleksi. Ya, bahkan senangnya tidak habis sampai tulisan ini dibuat.

ILC (Indonesia Leadership Camp) 2013


ILDP memiliki program yang hendak dijalankan, yakni: Indonesia Leadership Camp. Indonesia Leadership Camp (ILC) 2013 merupakan program yang berskala nasional yang ditujukan untuk mengoptimalkan dan mengakselerasi potensi bibit-bibit unggul muda Indonesia yang memiliki beragam latar belakang, peminatan, dan keahlian. Program ini diharapkan dapat menjadi tools bagi para pemimpin muda Indonesia yang memiliki kemampuan dan wawasan yang luas dan komprehensif untuk menjawab berbagai tantangan nasional maupun global

Program ini pertama kali ku kenal sejak berkenalan dengan salah seorang senior di kampus. Dia adalah Mapres 2010 dari Fakultas Pertanian Unsyiah yang berkesempatan mengikuti ILC di tahun 2010. Dahulu, di tahun 2010, peserta yang mengikuti ILC adalah mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi di kampusnya. Jadi, mahasiswa yang berpotensi di tingkat fakultas atau universitas selanjutnya akan dikirim ke Jakarta.

Dengan sigap, aku pun sering bertanya tentang apa itu ILC. Aku tertarik karena serangkaian acaranya sangat bermanfaat dan bisa mendapatkan kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat.

Kamis, 18 Juli 2013

Si Bungong Ceudah

Wahe bungong ceudah hana ban. Tamse nyak dara nyang canden rupa. Diteuka bana dijak peuayang. Uroe ngon malam bungong didoda (Seulanga, Rafly)




Bunga Kamboja yang ternyata bukan berasal dari Negara Kamboja ini diam-diam bersemi di depan rumah beberapa minggu terakhir ^_^
It looks beautiful, doesn't it?

Bunga yang berasal dari Amerika ini mampu menepis anggapanku bahwa Kamboja adalah bunga yang angker. Tapi yaa, mau bunga secantik apa pun, kalau sudah ada di kuburan, pasti terkesan mengerikan! hehe

Padahal kesan angker itu 'kan relatif. Setiap bagian tumbuhan ini banyak gunanya untuk menyembuhkan penyakit. 
Batangnya bisa menyembuhkan pecah-pecah pada tumit dan dapat menurunkan panas badan. Tapi hati-hati dengan getahnya karena jika terkena mata, maka mata akan sakit.
Tak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia bukan?


Trims yang di Banda Aceh sudah mengirimkan bunga merahnya yang mempesona :D





Selasa, 25 Juni 2013

Nyan Kah Troh Linto!

Perjalanan Panjang
Kemarin, aku bersama Munzir dan ibu pergi ke kampung Meugat Meh, Nagan Raya, untuk menghadiri pesta pernikahan anak-ayah-istri-adik-ayahku (haha. Ribet). Meskipun kekerabatannya agak jauh, tapi hubungan kami antar keluarga sangat erat. Sekitar pukul 15.00 WIB, kami pun menuju kesana.
Untuk menuju sampai ke lokasi pernikahan, orang awam yang sudah biasa kesana hanya membutuhkan sekitar 30 menit. Tapi karena aku dibawah orang awam biasanya, hehe, perjalanan habis selama 100 menit! Waduh..
Perjalanan dari Meulaboh-Nagan Raya sebenarnya mulus-mulus saja. Tapi karena membonceng ibu dibelakang, jadi ada tuntutan untuk tidak boleh terlalu ngebut. Yah, alhasil, sampai disana pun kelamaan.
Sesampai disana, aku mencari tante dan memberitahu bahwa kami baru saja tiba. Wah, ternyata disana tante sibuk sekali! Sampai-sampai wajahku pun tak dikenali lagi :D
Suasana saat rombongan pengantin datang
         “Nyan kah troh linto!” seruan ini yang kudengar sampai berulang kali saat mencicipi es buah yang dihidangkan. Sejurus langsung kupalingkan wajah kearah jalan. Ternyata benar, “Pengantin  sudah tiba!”. Banyak sekali orang tua, anak-anak yang menyaksikan kedatangan pengantin baru ini. Seakan ikut tak ingin melepas moment penting ini, aku pun sigap dengan kamera ditangan.

Aceh dan Keragaman Budaya
                Aceh memiliki banyak suku. Ada suku asli Aceh, Gayo, Alas, Jamu, dan lain sebagainya. Adat dan budaya pun sedikit berbeda diantara beberapa daerah. Saat aku menghadiri resepsi pernikahan saudara, jelas terlihat bahwa mereka memakai adat yang biasa mereka lakukan. Sebelum rombongan linto (pengantin pria) memasuki rumah pengantin perempuan, sebelumnya tuan rumah dan rombongan saling berbalas pantun berbahasa daerah. Rombongan juga disambut dengan tarian tradisional Ranup Lampuan oleh penari-penari cilik.
Penari cilik kompromi sebelum tampil
Mereka menari dengan hari senang

Dan yang uniknya, saat sang linto masuk ke dalam rumah, linto tersebut digendong oleh 2 orang laki-laki dari kerabatnya. Entah apa artinya itu, tapi yang jelas, ini kejadian yang pertama sekali yang aku saksikan secara langsung. Hehe, maklum lah. Aku selalu malas untuk pergi ke resepsi pernikahan kecuali pernikahan kerabat dekat sendiri.
Sekitar hampir 1 jam berbincang-bincang dengan tante, aku mendengar semua curhatan tentang anaknya yang sekarang fokus dengan sepak bola. Yah, walau bagaimana pun, bakat itu tidak bisa dipaksa, dan sepertinya sekolah bola memang cocok untuk sepupuku, Khalil.



Waktu pun berjalan. Aku mengendarai si Vicky (Motorku) hati-hati, akhirnya kami pun tiba dirumah dengan selamat. Meskipun memakan waktu yang lama, setidaknya perjalanan ini sangat menyenangkan. Ada sisi positifnya. Salah satunya, menjadikan kita lebih peka dengan adat dan budaya daerah sendiri J
 Nah, sampai tulisan ini diketik pun, aku sedang membayangkan ada orang-orang yang berseru di depan rumahku nanti, “Nyan, kah troh linto!”. hehehe

Minggu, 23 Juni 2013

Target dan Rindu di Bumi Teuku Umar

Alhamdulillah, di hari senin ini adalah hari ke-4 berada di kampung tercinta, Bumi Teuku Umar, Meulaboh-Aceh Barat. Akhirnya bisa pulang kampung juga dengan seabrek kegiatan selama 6 bulan ini. Mulai dari KKN di Lhong, kegiatan sosial Sobat Bumi, program 2 Juta Bisa dan setiap detil kegiatan dalam kampus lainnya

Liburan memang asyik. Asyik jika memang diisi dengan hal yang menyenangkan. Nah, menyenangkan yang bagaimana? Hehe. Tentu saja mengerjakan sesuatu tanpa paksaan dan benar-benar dinikmati. Terutama yang berkaitan dengan hobi

Dengan hobi menulis ini, aku akan mencoba untuk fokus dan bisa lebih aktif lewat tulisan. Yaah, tulisan yang tidak terlalu “wah” sih. Tapi setidaknya aku bisa lebih komit untuk menulis tiap harinya dan berbagi cerita dengan para pembaca. Ingin rasanya membuat satu buku yang berisi semua tulisan yang ada di blog. Hingga akhirnya aku dapat kembali membaca semua kenangan itu saat usia terus berkurang. Semoga. Mari di-Amin-kan J

Nihongo, TOEFL dan ILDP UI

Selain aktif di blog, aku juga akan mempersiapkan diri dengan belajar hiragana dan katakana, TOEFL dan mencari refensi untuk proposal semester depan. Juga hingga Juli ini aku akan berusaha sebaiknya untuk menulis esai aplikasi XL Future Leader dan ILDP yang harus diselesaikan dalam bulan ini. Kita BISAA! Semoga target tercapai. Amin. Rasanya tidak ada waktu untuk terlambat. Hanya saja terkadang kita terlalu meremehkan dan mengulur waktu.




Yah, meskipun aku mengorbankan waktu KKP tahun ini, semoga saja bukan hal yang sia-sia. Yang penting jangan sampai kita membuang waktu. Liburan tapi tetap produktif. Biar mantap untuk semester depan! Yosh (sambil kepal tangan)

Keluarga, Harta yang Tak Ternilai

Melepas rindu di kampung juga diisi dengan mencicipi masakan ibu di rumah. Bisa dibayangkan selama ini kehidupan dirantau. Makanan pas-pasan, uang jajan pas-pasan, semuanya pas-pasan. Mari bersyukur bahwa kita masih diberikan keluarga yang lengkap, yang bisa diajak saling melepas rindu.


Pagi senin aku membuka pintu atas rumah kemudian lalu menghidupkan laptop kesayangan. Menghirup udara pagi Meulaboh yang segar. Aku bergegas mengambil handphone, dan jepret! Ini lah suasana rumahku yang gambarnya diambil dari lantai 2. Asri dan tenang J



Jadi sekarang, pantaskah kita terus hibernasi dengan kemalasan?
kalau mereka berjalan, pantaskah kita hanya berdiri?
kalau mereka berlari, pantaskah kita hanya berjalan?
kalau mereka berlari, kita harus terbang!  Melampaui semuanya. Salam Golden wings! Ganbatte

I fought to the limit to stand on the edge
What if today is as good as it gets
Don’t know where the future’s heading
But nothing’s gonna bring me down

So here I am — still holding on! (Kris Allen, No Boundaries)



Sindiran Heboh: Yang Gaji Kamu Siapa?

Sejak video seorang Menteri Kominfo Rudiantara, beberapa waktu lalu beredar dan menghebohkan sejagat dunia maya dan dunia nyata, saya pun t...