Minggu, 30 Maret 2014

Weekend Keren ala Anak Muda

Ngobras, Ngobrol Asik Ala Anak Muda Aceh

(Jumat malam, 28/3/2014), Untuk pertama kalinya, relawan Turun Tangan Aceh membuat diskusi publik  yang bertema “Anak Muda, Melakukan apa?” di 3 in 1 Coffee Shop, Lampineung, Banda Aceh. Ngobras berhasil menarik perhatian beberapa media dan aktivis sosial malam itu. Pernah nonton ILC (Indonesia Lawyers Club) yang ada di stasiun TV Merah Putih kan? Nah, Forum diskusi ini dikemas sedemikian rupa sehingga tampak dan berjalan seperti sistem diskusi di ILC. Diskusi terasa lebih asik dan tidak terkesan kaku.

Kegiatan yang dilakukan oleh relawan Turun Tangan Aceh  ini mengundang 4 pembicara yaitu Saifuddin Bantasyam (Dosen Fakultas Hukum Unsyiah), Muda Bentara (Pegiat Isu Sosial dan IT), Askalani (Aktivis Anti Korupsi) dan Hijrah Saputra Yunus (Entrepreneur Muda-Owner Piyoh). Ngobras  dihadiri beberapa komunitas serta perwakilan dari OSIS sekitar Banda Aceh. Selain itu juga hadir anak muda dari beberapa kota di Aceh maupun dari pulau Jawa yang sedang studi di Banda Aceh.


Ngobras malam itu mendiskusikan tentang peran serta kriteria anak muda Indonesia dapat yang membangun negeri, Aceh khususnya. Forum berlangsung selama tidak lebih dari 2,5 jam. Ngobras menjadi kegiatan yang produktif dan asik karena diskusi diselangi canda tawa dan para peserta saling memberikan argumen positif yang ingin menjadikan Aceh menjadi lebih baik.

Ya, Kegiatan rutin mingguan dari Turun Tangan ini membuat saya juga harus ikut turun tangan. Ada beberapa kegiatan yang harus saya ikuti dan saya korbankan. Tapi rasanya sangat puas jika kita sudah mampu menyelesaikan satu kegiatan. Ada hasil kepuasan yang kita dapatkan meskipun pada akhirnya hanya lelah yang tertinggal. Lelah bukan apa-apa jika dibandingkan dengan pengalaman dan berkumpul dengan teman-teman.



Malam itu diskusi terasa sangat lancar. Prediksi sih maksimal hanya 70 an orang yang hadir di acara ngobras. Tapi ternyata mungkin karena publikasi dan aspirasi, akhirnya acara ini berhasil mengundang 100 lebih orang tua dan anak muda yang hadir. Alhamdulillah

“Ini peran kita untuk mewujudkan perubahan. Turun tangan berarti kita tidak boleh diam”, ujar Juwita Fitra Sari, Relawan Turun Tangan Ciasem yang juga ikut hadir di malam acara.

Fairuziana Humam, selaku Alumni Pencerah Nusantara dan juga menjadi moderator acara mengungkapkan bahwa menjadi seorang anak muda Aceh berarti harus bisa membuat Aceh lebih maju. Hal ini bisa dilakukan dengan cara turun tangan bersama serta menekuni bakat dan minat masing-masing. Menjadi anak muda yang menginspirasi bisa dilakukan dari hal-hal kecil, contohnya dengan menulis. Baiquni Hasbi, salah seorang anggota Komunitas Gaminong Blogger juga berkata, “Tidak ada komunitas yang tidak baik. semuanya bergerak dibidang masing-masing. Hal kecil yang dapat kita lakukan adalah dengan cara menulis hal-hal yang positif”.
Di dalam diskusi, banyak dibahas tentang peran warung kopi di Aceh yang kini menjadi tempat berkumpulnya anak muda. Dengan fakta yang terjadi, warung kopi seharusnya bisa melahirkan gerakan movement tanpa harus menyalahkan fasilitas (wifi).

 “Masyarakat Aceh yang sering nongkrong di warung kopi jangan dijadikan suatu kelemahan, tapi kelebihan dari sebuah kultur”, ujar salah satu peserta dalam diskusi. Oleh karena itu, inisiasi dari gerakan turun tangan diharapkan menjadi motivasi semua kalangan khususnya generasi muda agar bisa segera take action demi perubahan untuk negeri.

GIB dan Disbudpar Aceh, untuk #CharmingBandaAceh
Keesokan harinya, (Sabtu, 29/3/2014), di NA Coffe, Banda Aceh, Saya bertemu dengan teman-teman di komunitas GIB (Gaminong Blogger). Kami bertemu untuk sekedar sharing tentang suka, cita, tips, trik dan berkah dari ngeblog. Banyak hal yang saya dapatkan. Terutama motivasi untuk terus menulis. 

Kita menulis tidak untuk dipahami, tetapi untuk memahami.

Sebenarnya saya sudah lama di Komunitas GIB ini. Hanya saja karena saya jarang kopdar (kopi darat) dengan anggota yang lain, jadi nama anggota yang lain saja saya masih lupa-lupa ingat. Hehe.

Gam Inong Blogger (GIB) yang pada awalnya sebagai wadah bertemu nya para blogger, kini menjadi salah satu senjata ampuh promosi wisata yang mensupport Dinas Budaya dan Pariwisata Banda Aceh. Hal ini terbukti sejak GIB pertama kalinya diberi kesempatan memberikan pelatihan blog kepada finalis Duta Wisata Banda Aceh 2014 beberapa waktu lalu. Kini, GIB dipercayakan sebagai komunitas yang memberikan sosialisasi tentang kompetisi blog yang diselenggarakan oleh  Dinas Budaya dan pariwisata Banda Aceh.

Jadi intinya, blog kini dilirik sebagai wadah jitu untuk mempromosikan kekayaan wisata yang ada di Banda Aceh. Baik wisata alam, bahari, kuliner, budaya, sejarah, religi, maupun wisata belanja. Menarik bukan? Kalau bukan anak Aceh sendiri yang meng-ekspos, apa harus tunggu orang luar dulu yang mengagumi negeri (Aceh) kita ini? Think again!

Wah, kalau bahas ngeblog, saya sih bakal bersyukur sekali kerena diberikan kemampuan untuk menulis. Apalagi menulis dalam 1 malam! Haha. Meski kalimatnya jadi amburadul dan gak nyambung sama sekali, saya tetap bersyukur. Mudah-mudah menulis menjadi suatu konsistensi yak. *peace*. Yuk mari menulis apa saja :)

Pembekalan dari Relawan Turun Tangan Ciasem



Siang harinya, saya berlanjut ke gedung TDMRC. Tempat dimana para relawan Turun Tangan Aceh dibekali oleh Relawan Turun Tangan Ciasem. Pada saat sampai disana, memang kegiatannya sudah hampir selesai. Hehe. Tapi saya tetap mengikutinya dengna baik kok.
Mbak Gina, Anggun dan Juwita memberikan games, pengarahan dan diskusi kepada seluruh relawan. Ada beberapa relawan baru yang datang. Mereka terlihat antusias dan senang bergabung untuk pertama kalinya.


Yah, akhirnya weekend ini sangat full terisi. Hehe
Yang paling penting kebersamaan. Disaat kita bisa berbagi wawasan, ilmu, dan pengalaman, maka lelah semuanya bisa terbayarkan. Eh btw busway, saya juga sebenarnya melewatkan beberapa kegiatan yang lain di hari Sabtu dan Minggu. Ada rapat Sobat Bumi dan acara akbar Earth Hour di Hermes Hotel. Wah wah, I am sorry so bad lah yaa. Life is choice. Kita punya 2 kaki, tapi kita hanya punya 1 jalan. Pilih lah! Coblos no 7. Eh :p

Kamis, 13 Maret 2014

Garuda Berkulit Hijau

Seorang bapak berkaca mata dengan santai berbicara di depan sekitar 120 orang mahasiswa terbaik dari seluruh Indonesia, Malaysia dan Thailand. Tak ada yang bergeming mendengarkan beliau berbicara. Mereka mendengar dengan seksama dan entah mengerti atau tidak, mereka terlihat mangut-mangut serius. Beliau berbicara penuh karisma, dan sangat menginspirasi.

Alhamdulillah, Saya, pada saat itu beruntung bisa duduk diantara mereka semua. Saya menjadi salah satu delegasi asal Aceh yang berhasil lolos di ILC (Indonesia Leadership Camp) di UI, Depok, pada September 2013 lalu. Banyak hal yang saya dapatkan selama 4 hari kegiatan disana. Salah satunya berkesempatan untuk bertemu dengan CEO Rumah Perubahan, Rhenald Kasali. Saya dan teman lainnya belajar bagaimana menjadi seoarng Social Entrepreneur.


Ditengah-tengah diskusi, beliau bertanya kepada seluruh mahasiswa. “Siapa diantara kalian semua yang sudah pernah keluar negeri?”

Deg. Banyak diantara mereka yang mengangkat tangan. Mereka sepertinya senang dengan pertanyaan ini. Tapi saya hanya bisa malu-malu. Pasalnya saya belum pernah ke luar negeri. Hehe.

Kemudian Pak Rhenald bertanya lagi. “Yang sudah pernah keluar negeri setidaknya ke Malaysia, ada?”. Ternyata banyak juga yang angkat tangan. Kali ini saya pasrah saja. *kalem*
“Yang punya paspor ada berapa orang?”

Saya! Saya akhirnya menjadi salah satu orang yang mengangkat tangan. Dengan rasa percaya diri saya mengangkat tangan sambil tersenyum. *Laen hana cara*

“Nah, begitu dong. Kalian harus udah punya paspor dari sekarang. Jangan pas mau keluar negeri baru urus paspor”, tambahnya. Tak lama beliau kembali berbicara.

“Seperti halnya hujan. Sudah pasti yang perlu kalian persiapkan adalah payung. Bukan yang lain. Tapi alangkah baiknya kalian mempersiapkannya dari awal. Sama hal nya seperti keinginan ke luar negeri. Kenapa tidak kita persiapkan paspor dari sekarang? Banyak mahasiswa sekarang dimana mau pergi, disitu urus paspor”, jelasnya.

Spontan pikiran saya langung menerawang. Tentang kisah paspor yang dulu sempat diurus. Saya jadi teringat percakapan dengan salah satu senior di chat facebook yang kini hampir menyelesaikan studinya di Taiwan, Chung Hsing University.

Saya sempat down dan pesimis dengan mimpi yang satu ini. We are what we think. Mungkin ini juga menjadi salah satu faktor kenapa saya belum berhasil menjadikannya nyata.

Kecil, tapi Ada Karena Mimpi
Sejarah saya punya paspor adalah saat saya menggebu-gebu ingin ke Jepang melalui pertukaran mahasiswa ke Fukui selama 2 semester di tahun 2012. Tapi saya gagal mengikuti seleksi karena ada faktor penghambat. Agak lama juga saya harus benar-benar meyakinkan hati untuk ikhlas menerima kenyataan. Saya gagal ke Jepang mengikuti salah satu teman yang sekarang sudah menyelesaikan programnya di Fukui. Cerita awal tentang pengalaman saya dalam kepengurusan paspor ini ada di tulisan sebelumnya.

Saya rasa, menginjakkan kaki ke negeri lain adalah impian (kebanyakan) orang. Jadi untuk meraih keinginan ini tentu tidak mudah. Seperti pengalaman beberapa teman dan orang terdekat saya, mereka menginjakkan kaki keluar negeri  harus menempuh perjalanan dan penantian yang panjang. Pun demikian, butuh juga persiapan lain. Mulai dari IPK, kemampuan berbahasa inggris, dsb. Yaah, Paspor memang penting, masing tapi banyak lagi yang perlu dipersiapkan. Sampai sekarang, paspor menjadi motivasi saya.

Sekarang ini ada banyak sekali beasiswa yang menawarkan pertukaran pelajar ataupun studi lanjutan ke luar negeri. Mulai dari PPAN, Fulbright dan ADS (Australia Development Shcolarship). Ada juga beasiswa daerah yang memberikan kesempatan kepada putra putri daerah dengan persyaratan tertentu. Seperti ke Taiwan, Malaysia, dsb. Dan masih ada lagi beasiswa yang mungkin sangat banyak jika harus disebutkan satu persatu.

Ke Luar Negeri Boleh, Asal...
Tapi ada hal yang sebenarnya luput untuk kita pahami. Bahwa ke luar negeri adalah jalan kita untuk melihat dunia luar, melihat kehidupan di luar. Dibalik itu semua tentu ada efek positi dan negatif yang kita dapat. Apa kita sanggup menjaga diri? Apa benar kita bisa belajar dengan baik selama di luar negeri? Apa kita tetap bisa menjaga marwah daerah dan negara asal kita? Dan juga, jika saya dan kamu sudah dan akan keluar negeri tentu kita perlu sadar bahwa menjaga diri dan iman adalah hal yang terpenting. Jangan sampai kita terpengaruh dan terseret ke hal-hal yang buruk.

Semuanya ada dalam niat dan pribadi masing-masing. Apakah ke luar negeri hanya sekedar jalan-jalan dan gengsi? Pastinya, jangan sampai kita menjadi katak dalam tempurung.
Jika memang sudah mantap, persiapkan diri dengan baik. Seperti pengalaman teman saya, Armijal, yang berhasil menembus ADS dengan persiapan yang matang (Humble is Beauty). Saya juga membaca pengalaman salah satu anggota NYL (Nusantara Young Leaders) dari Divisi Media yang berhasil ke Singapura dan Kuala Lumpur dengan usaha keras, Yedhesiani

Jadi, Sampai Kapan?
Sampai Allah mengizinkan. Saya percaya bahwa Allah tidak pernah tidur. Saya percaya suatu saat nanti Ia akan mengizinkan dan pada akhirnya saya bisa membanggakan orang yang saya sayangi dan saya cintai.

Kini, semangat ini kembali muncul karena sering membaca dan mendengar cerita-cerita mereka yang sudah berhasil keluar negeri. Kini, terutama dipenghujung masa mahasiswa, semangat saya terasa semakin membara. Saya juga ingin berburu beasiswa dan melirik kesempatan-kesempatan yang lain. 


Tapi disamping itu semua, saya juga harus menyelesaikan skripsi. Yah, mudah-mudah ini bukan sekedar mimpi ya. Perlu banyak persiapan yang matang. Garuda berkulit Hijau ini akan terus saya simpan dengan baik. Hingga akhirnya ia bisa menemani saya terbang menggapai mimpi menuju negara 2J yang paling ingin saya kunjungi. Jepang dan Jerman. Yaa, seperti keinginan Golden Wings, judul blog saya ini. “Terbang dan merengkuh purnama mimpi” ~

Selasa, 11 Maret 2014

Turun Tangan, Bukan Lipat Tangan!

Di hari minggu pagi, Blang padang tetap ramai seperti biasanya. Banyak masyarakat dari berbagai kalangan yang datang untuk berolahraga, berkumpul dengan sahabat dan komunitasnya. Ada juga yang bahkan ke blang padang hanya sekedar menyicipi kuliner. Terlihat  begitu ramai masyarakat disana. Masing-masing dari mereka mempunyai aktivitas sendiri.

Pagi pukul 08.00, sekelompok pemuda pemudi terlihat sedang sibuk mengutip sampah yang berserakan direrumputan maupun di sekitaran lokasi kuliner Blang Padang. Ada tulisan “Turun Tangan” dikaos mereka. Ada juga kaos yang bertuliskan “Aku Relawan, Bukan Bayaran”, “Relawan Rp.0” dan sebagainya. Mereka berkeliling lapangan sambil membawa kantong plastik merah besar yang berisi banyak sampah kering. Lalu kantong plastik berisi sampah itu mereka dibuang ke konteiner sampah yang ada di sudut lapangan.


Ya, saya tergabung kedalam salah satu dari mereka. Saya dan teman-teman adalah relawan Turun Tangan. Berdasarkan agenda yang sudah ada, pagi Minggu adalah jadwal kami mengutip sampah-sampah yang dibuang sembarangan di Blang Padang. Niat sih memang murni bersih-bersih lingkungan. Sambil menyelam minum air. Sambil mengutip sampah saya juga bisa kenalan dengan orang baru di blang padang. #eh

Setelah bersih-bersih, para relawan pun menuju Black Jack, salah satu warkop terdekat dari Blang Padang. Saya bersama teman-teman mengadakan diskusi dengan para orang tua dari komunitas Awak Awai. Komunitas Awak Awai adalah komunitas penggemar sepeda ontel. Visi misi komunitas ini bertujuan untuk berolahraga, rekreasi dan silahturahmi. Kami saling bertukar pendapat tentang politik, komunikasi, Anis Baswedan, dan Turun Tangan.

Diskusi berjalan sangat asik diselangi canda dan tawa. Di diskusi ini kami bukan mempromosikan habis-habisan bahwa Anies Baswedan harus bisa menjadi Capres nantinya, tapi kami sekedar bersilahturahmi. Pada akhir diskusi diambil kesimpulan bahwa komunitas Relawan Turun Tangan dan Komunitas Ontel Awak Awai saling mendukung dalam hal sosial. Bukan politik. Mereka juga mewanti-wanti bahwa jika Anies orang baik, maka ia harus baik juga pada masa kepemimpinannya. Terlebih lagi jika sudah menceburkan diri di dunia politik yang terlanjur berlabelkan kotor.



Bagi kamu yang belum tau apa itu komunitas relawan Turun Tangan, komunitas ini adalah komunitasnya para relawan yang bergerak turun tangan secara langsung dan berusaha menggerakkan orang lain dalam kegiatan sosial, pendidikan maupun lingkungan. Prinsip dari komunitas ini adalah suatu perubahan tidak akan terjadi jika banyak orang yang urun tangan pada suatu permasalahan. Turun tangan, sekaligus arti dari namanya mengajak orang lain agar bisa terlibat dan ikut campur (dalam hal baik). Sebagian orang akan menganggap Turun Tangan adalah kampanye dari Anies Baswedan. Tapi kampanye ini dipastikan lebih baik dari pada harus mengeluarkan kocek yang mahal karena spanduk, baliho. Apa lagi bagi-bagi uang yang terkesan boros dibumbui janji-janji manis.

Kenapa saya sampai bisa menjadi relawan? Jawabannya karena “penasaran”. Haha. Iya benar, penasaran. Ada salah seorang senior saya dikampus pernah berulang kali ingin bertemu dengan saya. Katanya ia mau membicarakan sesuatu dan ingin mengajak saya untuk bergabung dikomunitasnya, komunitas Turun Tangan namanya. Pada waktu itu saya menolak tawarannya karena saya harus punya persiapan baik untuk berangkat ke Nagan Raya dalam rangka KKP (Kuliah Kerja Praktik) di PT. Fajar Baizury and Brothers. Nah, setelah sebulan pulang dari KKP, senior saya ini tetap keukeuh mengajak saya ikut bergabung. Saya pun akhirnya luluh. Untuk pertama kali saya duduk bersama relawan Turun Tangan lainnya. Kami berdiskusi untuk membicarakan agenda yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

Sedikit gambaran tentang Turun tangan, Turun Tangan sebenarnya adalah komunitas yang di anisiasi oleh Anies Baswedan. Turun Tangan adalah komunitas penggerak agar pemuda pemudi cepat tanggap pada suatu permasalahan. Bukan lipat tangan dan tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi.

Sebagai peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat, Anis Baswedan ingin menjadi salah satu capres pada pemilu 2014 mendatang. Anies Baswedan ingin sekali mengubah habit orang Indonesia untuk bisa ikut turun tangan bukan hanya diam dan mendiamkan. Jadi, relawan yang masuk ke komunitas Turun Tangan adalah pendukung Anies Baswedan, namun tidak menutup kemunkinan jika ada salah satu relawan yang berbeda pilihannya. Anies sendiri tidak mempermasalahkan siapa pun yang menjadi pemimpin untuk Indonesia nanti. Yang penting siapapun yang menjadi pemimpin nanti adalah orang baik dan baik juga pada masa kepemimpinanannya.



Sabtu (8/3/2014) yang lalu, saya dan beberapa relawan Turun Tangan lainnya juga melakukan aksi langsung seperti membagikan brosur, VCD, koran Turun Tangan, Stiker dan Kalender Turun Tangan di Simpang 5 Banda Aceh. Wah, ini adalah pengalaman saya pertama kalinya turun dijalan raya pada saat lampu merah! Jantung saya berdegup kencang. Bayangkan, untuk menyebrang ke jalan raya saja saya sudah ngeri, apalagi saya harus berlama-lama selama lampu merah menyala. Sekali-kali saya melihat lampu lalu lintas apakah sudah hijau atau belum. Saya khawatir kendaraan mulai membunyikan klakson sedangkan saya masih berleha-leha di lampu merah. Huft. Saya benar-benar panik!

Tapi moment membagikan brosur, VCD dan sebagainya di lampu merah ternyata memberikan arti bagi saya. Teriknya sinar matahari pada saat itu sudah tidak lagi terasa karena saya benar-benar enjoy dengan kegiatan tersebut. Saya tidak sendiri pada saat aksi. Banyak juga teman saya yang perempuan dan laki-laki membagikan brosur. Kami tersebar di titik simpang yang berbeda.

Setelah aksi di simpang 5, kami pun beristirahat di dekat Taman Makam Pahlawan. Nikmat rasanya ketika minuman dingin melewati tenggorakan saya yang kering. Sialnya akibat bandel, minuman dingin tersebut malah membuat saya belum fit total sampai sekarang. Batuk dan pilek seakan menggangu.


 Pukul 12 kami para relawan menuju MIN Masjid Raya untuk mengajarkan ibu-ibu guru disana belajar komputer. Sesampai disana, kami disambut hangat oleh para dewan guru. Mas rimba, sebagai koordinator Turun Tangan Aceh menjadi pemandu untuk pelatihan komputer. Para guru diajarkan tentang bagaimana membuat slide presentasi melalui Microsoft Power Point. Memang, masih banyak diantar guru MIN Masjid Raya yang belum akrab dengan laptop mereka sendiri. Masih banyak guru yang belum mengerti bagaimana menggunakan Power Point. Kami pun mengajari mereka dengan ikhlas dan sabar. Bukankah lebih baik Turun Tangan daripada hanya sekedar membiarkan, bukan?

Hanya dalam hitungan 2 hari mengikuti kegiatan Turun Tangan, saya merasakan “aura” yang berbeda. Saya memang tidak terlalu mengerti dan mengenal dunia politik lebih dalam. Tapi rasanya sangat miris jika saya menutup mata, telinga dan pikiran tentang politik. Bagi saya, warga negara yang baik adalah mereka yang mengerti tentang permasalahan negara mereka sendiri dan turun tangan untuk menyelesaikannya.

Persis seperti yang dikatakan Pak Anies Baswedan dalam pidatonya, “Kita harus memuculkan kepemimpinan yang bisa mengajak  semua orang untuk turun tangan, terlibat dan melunasi bersama janji kemerdekaan. Indonesia ini adalah Indonesia kita semua, milik kita bersama. Mari kita miliki masalah yang ada di negeri ini, lalu kita turun tangan ramai-ramai menyelesaikan masalah yang ada”.

Namun, sadar atau tidak Turun Tangan tetap merupakan gerakan politik karena ada di belakang sosok yang sedang berkompetisi di dunia politik. Tapi, saya rasa gerakan politik Anies Baswedan berbeda. Anies mengajak kita untuk berkomunikasi politik gaya baru, yang hemat, ramah, dan tepat sasaran.
Siapapun kamu dan mereka, tetaplah memilih hal yang baik-baik. termasuk memilih calon pemimpin yang baik. Sebelum dipimpin nantinya, pastikan kita sendiri bisa memimpin diri sendiri.  Apa yang bisa kita lakukan? Ya turun tangan rame-rame!

Oya, Anies Baswedan and team akan datang ke Aceh beberapa hari yang akan datang. Relawan turun tangan Aceh siap menyambut! Turun Tangan Aceh akan terus melakukan aksi yang menginspirasi :)

Jumat, 28 Februari 2014

YKB. Yuk Keep Blogging!

“Hari ini banyak peristiwa yang menyenangkan! Ada kejutan yang tak terkira juga hari ini. Wah, ngeblog ah.. kan seru bisa jadi tulisan!”
(Ini nih, semangat pembuka pas mau mulai ngeblog)
*Buka laptop* #SemangatMenulis
“Eh, tapi ada yang seru pasti di facebook. Oh iya, informasi tentang ini-itu. Lihat sebentar ah, nanti baru mulai menulis” :D
........
(Ternyata udah 1 jam beralih ke browsing, baca buku, buka email, ngemil, fesbukan,dll)
*tanpa mulai menulis*
*New Document*
.......
*Sadar*
(Blog masih belum terisi dengan tulisan terbaru)
Kemudian gak sengaja baca tulisan bagus karya orang lain. Dalam hati berkata, “kapan ya bisa ngeblog lagiii?”
*Terdiam*
*Sedih*
(Blog masih juga belum terisi dengan tulisan terbaru)
.......

Yah, itu habit saya selama ini. Susaaah sekali mulai menulis lagi. Ada aja alasan yang mengurung niat untuk yang satu ini. Dulu saya pernah mengeluh karena keyboard laptop sedang bermasalah. Karena rusak, saya pun malas mulai menulis. Nah, faktanya, setelah laptop ada solusi jadi bagus lagi, alasan-alasan malah semakin banyak. Contohnya ya seperti kejadian tulisan diatas.

Untuk perkara ini, sebenarnya kita sudah kalah dengan habit yang jelek. Kita sering sekali menunda-nunda pekerjaan dan mencari alasan. Hingga akhirnya kita keasikan dengan hal lain sehingga niat utama jadi teralihkan. Saya pernah membaca buku yang berjudul “How to Master Your Habtit” oleh Ust. Felix. Siauw. Setelah saat itulah, saya baru sadar bahwa saya sering tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Untuk memulai sesuatu perubahan, kita ambil hal yang mudah, yaitu Kembali ke Dunia Blogging. Teman-teman juga tahu kalau menulis itu sebenarnya adalah urusan kesenangan. Jika sudah niat, tapi jika kita sendiri tidak enjoy dan menyenangi kegiatan itu, saya yakin tidak ada hasil sedikit pun.


Felix Siauw dalam bukunya menjelaskan bahwa hal penting untuk membuat suatu perubahan baru itu bukan dari motivasi semata. Tapi dari habits (kebiasaan). Habits ini lah yang akan mengatur segalanya. Caranya yaitu Practice dan Repetition.
Oke jika kita sudah menulis (practice). Tapi apa kita sanggup komitmen dengan terus menjaganya dengan pengulangan (repetition). Hayo? apa kita berani komit untuk terus menulis?

Agar niat perubahan ini terus terjaga, maka kita bisa mencari hal hal yang membuat menulis menjadi menyenangkan. Saya punya cara sederhana agar saya tidak lalai menulis. Saya mengajak seseorang untuk ikut menulis dan bersama untuk saling mengingatkan. Jadikan orang tersebut menjadi motivasi. Simple but meaningful! hehe. Let's try :D

Oleh karena itu, mari kita ubah habits yang tidak baik menjadi lebih baik. Practice and Repetiton! Memulai menulis sesegera mungkin, lakukan terus secara teratur dan menyenangkan!
Tak ada yang tak bisa diubah jika kita punya keinginan yang kuat dan komit. Mulai detik ini yaa, Yuuk Keep Blogging! :)

Kamis, 05 Desember 2013

Blue Gold

Kemarin saya mengikuti mata kuliah Ekonomi Pengairan di kampus. Terasa sangat menarik pembahasan kali ini. Dosen membahas tentang Sumber Daya Air dan hubungannya dengan ketahanan pangan suatu negara.

Istilah lain air adalah Blue Gold. Si biru yang berharga. Berharga karena memang tanpa air kita tidak akan dapat hidup. Namun kita sering acuh tak acuh denga SDA satu ini. Kita sering boros pemakaian air, tidak menyadari akan penting kebersihan air, tidak menjaga setiap sumber mata air, dan mengganggu saluran air.


Air adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan. Sekarang ini, air menjadi sumber daya alam yang lambat laun akan semakin langka. Ini terbukti persedian air bersih dibeberapa belahan bumi lain masih sangat kurang. Seperti di Sudan dan Somalia. Masyarakat di negera tersebut rela berjalan berkilo-kilo untuk sekedar mendapatkan hanya sekitar 1 liter air. Sedangkan kita? Indonesia merupakan negara yang termasuk mempunyai sumber daya air yang berlimpah.

Tapi kawan, pernahkah kita sadari nikmat yang Tuhan berikan itu? Justru dengan semakin berlimpah, banyak dari kita yang malah boros menggunakan air, mencemari air. Kita sama sekali tidak menyadari bahwa air adalah sesuatu yang penting!


Sama seperti halnya udara. Udara yang sedang kita hirup sekarang ini masih gratis. Tapi ada beberapa negara lain yang terpaksa melakukan perdagangan karbon akibat suplai oksigen yang semakin kurang. Pernah menonton film Wall-e? Terlihat secara animasi bagaimana keadaan bumi tanpa sebatang pohon. Saya rasa film ini sangat mendidik para generasi muda untuk bisa melestarikan lingkungan lewat menanam pohon.

Air pada dasarnya mempunyai siklus hidrologi yang sama sekali tidak merugikan manusia. Mulai dari evaporasi, kondensasi, dan presipitasi. Namun jika setiap siklus tersebut menjadi macet dan prosesnya menjadi lebih cepat terjadi, maka air justru akan menjadi suatu bencana. Misalnya banjir, erosi, dan bencana lain. Hal ini akibat ulah manusia yang tidak dapat mengendalikan secara balance.

Sekarang ini, permintaan air bersih semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi dan ekonomi. Selama 10 tahun, maka akan tumbuh 3 Milyar penduduk. Bayangkan saja, apa yang terjadi beberapa puluh tahun yang akan datang? Di Banda Aceh saja penduduk semakin banyak. Namun suplai air berkurang.

Seperti yang kita rasakan sekarang, pertumbuhan ekonomi masyarakat juga semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan adanya perubahan pendapatan. Perubahan pendapatan yang ada pada masyarakat akhirnya akan mempengaruhi  tingkat konsumsi masyarakat juga. Berdasarkan hukum Maslow, bahwa semakin tinggi pendapatan seseorang, maka akan semakin tinggi dan bervariasi konsumsi orang tersebut.

Populasi dan ekonomi masyarakat yang semakin meningkat mengakibatkan air semakin berkurang. Apa jadinya jika air terus berkurang? Mungkin kita bisa mengambil analogi lebay seperti salah satu iklan di televisi. Untuk minum kopi saja, malah kopinya yang menempel di gigi.

Nah, menjadi hal yang mengerikan bukan? Untuk mencuci baju tidak ada air, untuk mandi tidak ada air, dan yang paling parah kita tidak bisa minum air bersih! Bersyukurlah bahwa sebenarnya Indonesia memiliki SDA air yang melimpah. Hanya saja sayangnya kita tidak menjaga salah satu free goods tersebut. Di jawa, banyak sekali tempat yang tidak memiliki air bersih, mereka mencuci baju di sungai bahkan juga menjadikan sungai sebagai MCK mereka. Sangat menyedihkan.

Selasa, 22 Oktober 2013

Ketika Budaya Mengikat Cinta di Pelaminan


Berhubung selama tiga hari media sedang marak dengan berita Pernikahan Agung Keraton Yogyakarta, saya pun tidak ketinggalan berbagi cerita tentang perhelatan akbar ini. Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tentang Yogyakarta, tapi karena memang sedang hot moment, ya saya coba menulis semampunya. Bisa galau juga kan kalau terus memendam ide menulis di kepala? Hehe

 Ini bermula atas ketertarikan saya pada masyarakat Yogyakarta yang masih sangat menjaga budaya daerahnya. Sebulan yang lalu saya ke Yogyakarta untuk menjenguk adik yang kuliah disana. Saya berkesempatan kesana setelah selesai mengikuti ILC (Indonesia Leadership Camp) UI 2013 di Depok.

Masyarakat disana sangat ramah dan santun. Saat naik taxi saja sudah terasa berbeda. Sopirnya berbicara dengan lembut dan sopan sambil berulang terdengar kata “Nggeh”. “Nggeh” berarti mengiyakan sesuatu. Bahkan orang jawa rela membungkukkan badan untuk mempersilahkan seseorang.

Yogyakarta bagi saya adalah kota yang tentram dan tenang. Kenapa? Di jalan raya pun masyakarat disana jarang yang terlihat melanggar peraturan lalu lintas. Bagi pengendara motor, jarang sekali terlihat bahkan tidak ada yang tidak memakai helm. Dan jika ada yang menyebrang, kendaraan akan berhenti dan mempersilahkan mereka untuk segera menyebrang. Ini yang saya rasakan sendiri.


Selain itu mereka juga tetap mempertahankan kebiasan daerah seperti memakai blankon bagi laki-laki. Kebanyakan dari mereka juga banyak yang memakai batik. Mereka menggunakan batik tidak hanya dipakai di hari Jumat atau pada acara tertentu. Mungkin karena itulah Yogja menjadi daerah yang terkenal dengan batiknya. Masyarakat Yogja terlihat sangat santun dan ramah dengan siapa saja. Keramahtamahan dan kebudayaannya lah yang membuat saya tertarik.

Senin, 14 Oktober 2013

Kapan Kita Berkurban?


Sebelum melanjutkan postingan, saya mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha 1434 H. Moon maaf lahir dan batin. Selamat berpuasa Arafah juga untuk menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun berikutnya. Seperti diriwayatkan pada hadist berikut :

Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR. Muslim)

Semoga keluarga kita yang sedang naik haji sehat-sehat yah disana. Semoga ketika pulang ke Indonesia, bisa menjadi haji mabrur, amin yaa rabbal 'alamin.

Seperti tahun sebelumnya, Alhamdulillah saya selalu bersama dengan keluarga tercinta untuk merayakan Hari Raya Idul Adha. Memang ada hal yang berbeda dari biasanya. Tidak ada adik laki-laki saya di hari raya ini. Dia memilih untuk merantau ke negeri orang, menuntut ilmu bidang perkebunan sawit disalah satu universitas swasta di Jogjakarta. Meski harus sedih mendengar kabarnya di malam takbiran ini, tidak ada yang berkurang sedikit pun. Tetap merindukan kebersamaan ^_^

Lalu, coba kita kembali mengintropeksi diri, apa yang sudah kita lakukan selama setahun ini? setelah Idul Adha tahun lalu apa rasa di malam takbiran ini terasa sama? Apa ada hal terpuji yang meningkat dari diri kita? 

Di malam ini saya merasa bersalah, karena mungkin terlalu remeh dengan suatu kesempatan. Salah satunya kesempatan untuk memperbaiki diri. Kita terkadang terus saja menganggap "wah" suatu peristiwa tapi tidak pernah belajar dari hikmah yang ada.

Ada hal yang sebenarnya membuat saya malu. Setiap menjelang Hari Raya Idul Adha, selalu saja ada berita tentang orang-orang naik haji dan berkurban. Mungkin orang naik haji dan berkurban bagi yang sudah mampu itu memang sudah biasa. Tiap kali saya mendengar berita tentang ada seseorang yang tidak mampu secara fisik dan finansial tapi bisa berkurban, saya terharu. Tertegun. Merasa malu sendiri. Apa saya bisa seperti mereka? Mereka yang cinta dan patuh pada Allah.

Kalau sudah moment seperti ini, saya jadi ingat film “Emak Ingin Naik Haji”. Kenapa? Karena rasanya ayah dan ibu ingin sekali mengunjungi Ka’bah tapi terkendala dengan biaya. Dengan profesi PNS dan gaji yang ala kadarnya, rasanya harus bertahun-tahun menabung demi bisa naik haji. Begitu juga dengan kurban. Saya bertanya, “Kita ada berkurban, bu?”, “Gak ada”. Saya jadi tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena memang faktor finansial.

Huhu, andaikan nanti saya sudah bekerja dan memperoleh penghasilan sendiri, InsyaAllah saya juga berkurban. Malu rasanya kalau Dhuafa saja bisa berkurban dan ikhlas menyisihkan uangnya. Kenapa kita yang mungkin sudah mampu tidak sedikit pun berniat untuk berkurban?

Padahal esensi berkurban itu sendiri karena rasa cinta pada Allah. Terlihat dari bagaimana Nabi Ibrahim as rela menyembelih anaknya, Nabi Ismail. Ini bukti bahwa tidak ada tawar menawar dalam beribadah kepada Allah. Sama seperti seorang ibu yang saya tonton di salah satu stasiun TV. Beliau hanya pembantu rumah tangga tapi bisa menyisihkan uangnya jutaan rupiah dan bisa berkurban. Subhanallah. Kalau memang sudah cinta pada Allah, apapun bisa dilakukan. Ini lah takwa seorang hamba pada penciptanya.

Nah, untuk kita semua. Apa sudah memasang niat untuk berkurban nantinya? Apa sudah berniat untuk naik haji atau menghajikan orang tua? Apa sudah mantap ibadah dan intropeksi dirinya? Ya, saya juga sedang berusaha. Semoga kita semua juga begitu.

Di malam takbiran ini saya menulis apa yang bisa saya tulis. Saya pun sekedar mengingatkan diri melalui tulisan, bahwa selalu ada waktu untuk berubah dan meluruskan niat. Terlebih lagi hari ini adalah hari kelahiran ibunda. Kini ibu sudah termasuk kedalam kategori lanjut usia. Ketika tahu hari spesial ini, saya langsung memeluk ibu dan berdoa agar ibu selalu dalam lindunganNya. Meski dengan tubuh yang sudah melemah dan wajah yang keriput, bagi saya ibu tetap yang tercantik di dunia.

Semoga dari hari Idul Adha ini kita menjadi pribadi yang lebih baik ya. Menjadi lebih ikhlas dan sabar. Berkurban sebenarnya adalah ikhlas, merelakan sesuatu karena Allah. Nah, menurut saya, jika kini saya belum mampu membeli kambing dan sapi, mungkin suatu hari nanti saya harus bisa ikhlas dengan yang hal lain. Misalnya ikhlas berbagi dengan sesama, sosial dan saling membantu untuk mereka yang kesusahan. Tidak perlu hal besar, tapi bisa dimulai dari hal yang kecil. Jangan sampai seperti artis-artis jaman sekarang, membeli hewan kurban termahal, eh malah jadi riya.

Baiklah, sudahkah kita memantapkan hati? Apa cuma mau melihat dan mendengar orang berkurban? Kita nya kapan? Hehe. InsyaAllah…
Untuk menutup tulisan ini, sekali lagi saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1434 H. Mohon maaf lahir dan batin ^_^

Sindiran Heboh: Yang Gaji Kamu Siapa?

Sejak video seorang Menteri Kominfo Rudiantara, beberapa waktu lalu beredar dan menghebohkan sejagat dunia maya dan dunia nyata, saya pun t...